Pahlawan hanya dalam sejarah 0

Rabu, 11 Nov '09 23:37

Sejarah yang sudah terjadi tidak dapat terulang kembali hanya menjadi sebuah renungan dalam pelajaran sejarah dan juga cerita pengantar tidur, inilah yang terjadi di Indonesia saat ini (menurut saya ^^). Pahlawan dalam kamus Bahasa Indonesia memiliki arti “orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran” atau “pejuang yang gagah berani.” Berdasarkan arti kata tersebut saya menjadi merasa bingung siapakah pahlawan bangsa pada era yang serba modern ini, apakah para Facebooker yang menghimpun kekuatan untuk melawan ketidak berdayaan hukum? Namun apakah dengan bersatunya para Facebooker dapat merubah keadaan itu? Saya rasa tidak.

Bukan bermaksud merendahkan pengetahuan intelektual masyarakat Indonesia, namun berdasarkan pengamatan saya yang sempat menanyakan kepada para maniak Facebook.com tentang permasalahan “Chandra dan Bibit” tapi yang saya dapatkan hanya-lah senyum dan juga ucapan lembut manis “Saya ndak ngingutin kok mas” (“asem” batinku). Jadi dengan begitu saya menarik kesimpulan bahwa para Facebooker tidak memiliki makna apa-apa, melainkan hanya menjadi media pemberitaan beberapa media karena kekurang liputan (Ngawur iki).

Saat ini yang menjadi tren adalah berusaha menjadi Pahlawan (Kesiangan). Seperti pada bait-bait lagu yang dinyanyikan oleh Iwan Fals dalam lagunya “Celoteh Sang Camar”. Pada bait-bait lagunya ia menceritakan betapa bobroknya instansi yang diharapkan dapat menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang sedang terdesak dan terjepit dalam keadaan bahaya, namun yang terjadi adalah terlambatnya pertolongan dengan berjuta alasan yang menjadi perisai bagi para pahlawan kita. Apakah  instansi-instansi pemerintah ini yang dapat dinyatakan sebagai pahlawan kita? Sedangkan lagu “Celoteh Sang Camar” sudah menjadi santapan masyarakat Indonesia sejak tahun 1983 (aq aja lom lahir), berarti kebobrokan instansi pemerintah sudah terbilang cukup lama (bukan cukup lagi tapi lama banget).

            Cicak-cicak di dinding diam-diam merayap dan menyadap semua para crocodile yang melakukan konspirasi untuk melakukan tindakan kriminal, sambil merayap mencicipi sedikit aroma wangi wine yang sedang disugukan para crocodile untuk para tikus-tikus buncit yang sedang kelaparan. Saya memiliki pandangan bahwa di Indonesia sudah sulit sekali mencari oknum penegak hukum seperti Pak Wibawa (patung polisi di perempatan, kalau gak percaya baca aja namanya) yang selalu mengawasi lalu lintas tanpa memperdulikan cuaca dan keadaan disekililingnya.

Kenapa saya menuliskan sambil merayap mencicipi sedikit aroma wangi wine, ini karena adanya keraguan dan kegundahan yang terjadi pada kepercayaan saya terhadap kinerja Pak dan Bu Cicak. Bukannya bermaksud menjatuhkan atau menjelekkan, namun saat ini saya mengamati Cicak sedang mencoba membela diri dari sergapan pasukan perang yang dipimpin oleh para tikus buncit lalu melupakan tugasnya sebagai penguak korupsi. Dikondisi inilah banyak para tikus-tikus lain sedang mengatur skenario sinetron “Cicak dan Buaya Bagian II” yang bias saja menjadikan KPK sebagai tokoh utama kembali, dengan Cicak memerankan peran antagonis.

Tapi saya masih memiliki kepercayaan terhadap kinerja KPK (Kumpulan Pembongkar Korupsi). Mengapa saya menjabarkan KPK = Kumpulan Pembongkar Korupsi, ini disebabkan karena ia hanya bisa melaporkan para tikus buncit kepada kepolisian dan jaksa agung saja (jadi prihatin aq). Disinilah terjadinya kendala peradilan di Indonesia, karena apabila tiks mampu membungkam pihak kepolisian dan kejaksaan maka amanlah posisinya (huff…)

Pada kasus Cicak dan Buaya Episode I ini saja sudah melibatkan mantan ketua KPK Anatasi yang ternyata juga masuk dalam rentetan cerita ini. Kemarin saya juga menyaksikan siaran disalah satu stasiun televise yang menampilkan sumpah-sumpah dengan membawa-bawa nama Tuhan seakan-akan Tuhan menjadi barang obralan penguat kepercayaan publik. Kira-kira siapakah yang menjadi sutradara pada Episode ini dan selanjutnya? Apakah pemerintahan SBY juga ada di baliknya? Mari kita saksikan di stasiun televise kesayangan anda.

 

 


Tag: pahlawan, Sosial

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Media Terkait:

    Siapa saja yang merating artikel ini:

    Komentar:

    Silahkan login untuk memberikan pendapat