Ujian Nasional dan Menteri Baru; Mengecewakan 56
Sabtu, 14 Nov '09 03:43
Ternyata terjadi juga, Mendiknas baru tak berani menghapus Ujian Nasional (UN). Bahkan beberapa hari yang lalu diberitakan UN dimajukan bulan Maret 2010. Praktis kegiatan belajar efektif di kelas akhir tinggal 4 bulan lagi. Sisa bahan ajar yang ada harus dimampatkan, harus diselesaikan bulan Februari.
Mulailah kesibukan di kelas-kelas akhir. Siswa didril soal-soal latihan, pagi hingga sore. Bila masih tahan, malamnya didril lagi di bimbingan belajar. Kerja keras, harus begitu, insan Indonesia masa depan harus mampu melakukannya.
Tapi tak semuanya demikian. Ada yang santai-santai saja. Mereka sudah tahu dari kakak kelasnya; UN tak perlu dirisaukan. Guru-guru akan membantu, saat ujian nanti. Meski belajar ala kadarnya, nanti akan lulus juga. Pengalaman membuktikan demikian.
Pejabat diknas biasanya juga akan tutup mata. Mereka tak mau dipermalukan, dengan tingkat kelulusan rendah di daerahnya. Bila kelulusan mendekati 100% mereka akan sangat bangga. Itu bukti bahwa mereka telah mengurus pendidikan dengan benar. Menurut keyakinan mereka tentunya.
Ini kisah yang membosankan, sekaligus menyedihkan. Kisah anak-anak bangsa yang dibunuh karakternya, oleh para pendidik mereka. Kisah kebijakan bodoh yang dibuat oleh kementrian yang justru punya tugas memberantas kebodohan.
Pak Nuh yang baik, tak perlulah saya banyak berkata-kata. Banyak pakar pendidikan telah menyampaikan argumennya tentang UN dan permasalahannya. Anda tentu sanggup merangkumnya, menarik kesimpulan dari seluruh argument yang ada, dan mengambil sikap secara benar dan cerdas.
Tapi jika anda tetap tak menggubrisnya (karena nampaknya demikian) pertimbangkan satu permintaan saya. Buatlah satu paket soal UN dan wajibkan para guru mengerjakannya layaknya siswa ujian. Jika nilainya memuaskan (rata-rata 10 atau 9 boleh juga) silakan lanjutkan rencana anda. Tapi jika nilainya cukup (rata-rata 7) atau kurang (rata-rata di bawah 7) bahkan sangat kurang (rata-rata di bawah 5) masihkah anda bersedia mempertimbangkan kembali kebijakan anda ?
Ah apalah artinya saya, anda tentu tak akan mempedulikannya. Suara satu guru tak akan ada harganya. Tidak layak untuk didengar. Apalagi oleh orang sepenting anda. Jika pun tulisan ini mampir di meja anda, ia tak akan berlama-lama, karena kotak sampah di ruangan anda lebih pantas menerimanya. Benarkah demikian, pak Nuh yang baik ?
Terkait:
-
UN, Persoalan Pokok Dunia Pendidikan Kita ?
Kamis, 26 Nov '09 07:52 -
KOMINFO (Berapa Banyak Yang Tiada)
Sabtu, 24 Okt '09 12:30 -
Menkominfo Harus Sering-Sering Buka Internet
Kamis, 22 Okt '09 11:26
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
mbeling: Penting
-
ndableg: Penting
-
hendijo: Menarik
-
warnapastel: Penting
-
Agus PW: Terkini
-
YHE: Penting
-
Veuillez entrer: Penting
-
iloenx: Penting
-
yusro: Penting
-
Smart: Bagus
-
hamatamu: Penting
-
palata: Penting
-
SanKo: Menarik
-
tejo: Penting
-
Apprayo: Penting
-
ISK: Penting
-
boiga: Bagus
-
indira: Penting
-
arsyad: Menarik
-
Olas: Menarik
-
perempuan api: Penting
-
curiosity: Penting
-
Logical Fallacy: Penting
-
sire: Terkini
-
kinanthi: Menarik
-
ramaparasu: Penting
-
dandist: Menarik
-
narwidya: Keren
-
wongcilik: Bagus
-
Red-White Eagle: Penting
-
conscientizacao: Penting



KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
*)sori pakde, pagi2 dah lempar batu ....
karena ukuran berhasi atau tidak adalah seberapa besar nilai proyek yang didapat, itu saja
*kata seorang pegawai diknas di sebuah warung"
kirim sekarang juga boleh, mumpung napsu makan dah balik normal
Eh, tentang UN betul kami menolak. Alasannya jelas diskriminasi anak. Pernah kami sampaikan ke KPAI melalui organisasi, tapi pemerintah ogah-ogahan, ngotot-ototan, dasar!!
Eh tapi kami yakin anak-anak pintar dan cerdas meskipun tidak lulus UN.
http://lenguhansa…10/duren.jpg
Agus PW: UN ulang, akhirnya hanya untuk cuci gudang, kayak tahun 2005.
kayak dulu.. Nah pa gak kasihan ama anak-anak.. diperas... setelah itu.. (silahkan ditanggapi dulu)
kebijakan anti logika bukan ?
apa ya anak itu mesti dibuat overload pengetahuannya
sehingga meluber kemana mana
sampai sampai hanya sedikit yang tersisa ketika dia dewasa
"Sederhananya begini, jika ingin cepat kerja atau kuliah maka ia harus segera lulus sekolah"
Mungkin pertanyaan saya yang kurang tepat. Yang saya ingin tahu adalah, apakah tinggi rendahnya nilai hasil UN berkorelasi pada kesuksesan seseorang?
Maksudnya gini, dari antara semua anak yang lulus UN, apakah yang nilainya tinggi memiliki kecenderungan lebih sukses ketimbang yang lain? Dari pengalaman dan pengamatan saya pada teman2 saya, tidak ada korelasi. Yang mungkin ada korelasinya adalah, kreativitas seorang anak dalam menghadapi segala masalah di lingkungannya (entah di sekolah atau di rumah) itu berkorelasi dengan kesuksesannya di masa depan. Dan anak yang kreatif tidak mesti lulus dengan nilai2 yang terbaik, atau bahkan dengan nilai yang baik. Dengan kata lain, anak yang memiliki life skill yang baik, cenderung untuk berhasil.
Jika korelasinya semata dikaitkan hanya dengan bila lulus tidak, itu tidak mengukur apapun. Bisa dianalogikan begini, ujian SIM sangat berkorelasi dengan kemampuan seseorang dalam mengemudi nantinya. Kenapa? Ya karena kalo tidak lulus ujian SIM, mana bisa ia mengemudi?
Bukan hanya murid, ternyata gurupun mungkin sudah tidak mampu mengatur waktunya.
Coba perhatikan mimik wajah anak ketika pulang sekolah ternyata PR yang dikerjakannya tadi malam tidak diperiksa oleh gurunya, betapa kecewanya dia dan semangatnyapun mengendor...
setelah lulus sma, saya melamar ke universitas negeri terkemuka di indonesia. setelah tes masuk, saya diterima. sewaktu daftar ulang tetap saja diminta memperlihatkan ijazah sma. bukankah (dengan lulus tes masuk universitas) universitas tersebut sudah mengakui kemampuan saya? tp tetap saja cap formal itulah yg diminta
Itu yang dulu saya singgung di http://tinyurl.com/ycfde5g
penguasaan materi ajar masuk kompetensi profesional kan, alat ukurnya tentu lebih tinggi lagi standarnya dari sekedar soal UN, dari pada ribet nah test saja dulu pakai soal UN, kalau dengan soal UN yang standarnya lebih rendah saja sudah keok, mau apa lagi coba
kembali ke UN, masih adilkah menuntut anaknya lulus UN, jika kondisi gurunya demikian
Tapi saya juga sepakat kalo UN bukan cara terbaik, apabila ingin diganti, tentu harus disiapkan sistem yang baru secara bertahap, nah,,supaya ga berlarut-larut, mungkin ada usulan dari warga P, sistem seperti apa yang bisa dilakukan, dan langkah-langkah kongkritnya bagaimana ??
Yg jadi masalah di UN adalah teknis dan kebijakan dalam implementasinya, bukan di UN itu sendiri. Itu yg perlu dicari solusinya, tapi bukan dgn menghapus UN. Menghapus UN juga membawa konsekuensi yg bisa jadi malah lebih buruk dari adanya UN.
DSLR
semi pro
pocket
sama juga dengan UN, harusnya bukan disamaratakan, kasian sekolah2 yang belum layak standardnya.
sudah 10 tahunan saya berkendaraan nggak pakai sim, sekarang pulang pergi antar kota. malas ngasih uang ke negara pemalak. mending nyumbang ke orang miskin langsung. nyata nggak dikorupsi.
un ?
kenapa nggak mengukur akhlak dan iman juga.
murid-2 baru saya dengan mudah bersumpah demi Allah saya nggak kentut pak, saya nggak bawa hp pak, nggak nyimpan foto dan video porno pak.
seperti para cecak, buaya dan godzilla yang dengan mudah bersumpah menjual nama Tuhan. Tuhan saja dijual apalagi negara.
makanya korupsi indonesia nomor 1 di asean dan peringkat besar dunia
harusnya ada ujian agama, tapi bukan pengetahuan tetapi perilaku keseharian.
Dengan UN, setidaknya kita bisa meyakini lulusannya tidak buta huruf...
klo gak ada UN ,, para siswa malas2
dan jk ak liat,,setelah ada UN ,,tingkat belajar siswa jd bertambah
karena bukan keledai, ya bisa jatuh ke lubang yg sama berkali-kali
abis itu masih pula harus ikut UM/SIMAK/SNMPTN. saya yang baru lulus dan baru masuk kuliah ini tau betul rasa tertekannya menjelang bulan maret-april-mei-juni gitu.pantes lah kalo banyak anak2 yang stres.
lulus UN tapi trus nganggur juga apa gunanya? lulus UN tapi gak bisa kuliah juga apa gunanya?
Boleh nyoba berpendapat?
Menurut saya UN sampai saat ini masih diperlukan.
Adapun tujuan dari UN sendiri adalah untuk mengetahui tingkat pendidikan yang telah dicapai dan menjadi suatu tujuan nyata untuk para siswa dan guru.
Namun, mungkin maksud ini masih belum dimengerti oleh sebagian besar para guru dan siswa, sehingga UN merupakan sebuah beban bagi mereka yang harus dilewati dengan berbagai cara.
Sebagai masyarakat yg pedulia, lebih baik kita bergandengan tangan. kita gali semua informasi dan pengetahuan terkait masalah UN ini. kita telusuri letak permasalahannya dgn bergagai ilmu pengetahuan, jgn melihat dr satu sisi saja. (kita lihat fungsinya UN scr hakiki). memang semuanya akan terasa sulit/berat pd awalnya, tp ini semua bagian dr suatu proses. dibalik masalah ada hikmah, dengan ujian kita diingatkan...
Silahkan login untuk memberikan pendapat