Take Me Out Tayangan yang tidak mendidik ! 128

Minggu, 15 Nov '09 01:09

sudah lama ingin menulis ini, tetapi baru sempet sekarang. tergugah dengan tulisannya amanda tentang persepsi ukuran kesuksesan wanita maka saya teringat kembali keinginan untuk membuat atau mengkritisi sebuah tayangan yang "maaf menurut saya tidak layak".

Tayangan ini sudah saya kritisi ke KPI, melalui web nya dan melalui no telp SMS nya sudah saya laporkan beserta alasannya, mengapa tayangan ini tidak mendidik?. alih2 dihentikan, tayangan ini malah semakin gila, dengan membungkus tayangan dibumbui "ustad cinta" yang "notabene" bagi saya hanya merupakan bumbu kamuflase untuk "membenarkan" apa yang mereka lakukan dan tayangkan dengan menambahkan polesan "kedok" agama.

Kita harus akui jika mental dan moral bangsa ini diambang kehancuran (kebobrokan), dimana nilai2 kejujuran dan tanggung jawab menjadi sesuatu barang yang amat langka dan terlalu mahal harganya, sehingga korupsi yang jelas2 menghancurkan bangsa ini secara aklamasi "diakui" sebagai bagian dari budaya masyarakat indonesia. Lalu apa hubungannya dengan tayangan take me out ?, sangat erat sekali : sehubungan dengan komitmen kita dalam membenahi SDM anak bangsa yang berbudaya dan berjati diri, take me out seharusnya menjadi tayangan yang memberikan pendidikan positif "bukan semata2 hiburan" yang memprofokasi anak muda yang belum menikah untuk "mencontoh" cara2 menentukan jodoh seperti yang ditayangkan oleh "take me out".

Karena diakui atau tidak, Tayangan take me out akan mempengaruhi persepsi dan pola fikir generasi bangsa ini. Ah, kan banyak juga tontonan lain semacam sinetron yang sama2 tidak mendidik ?

Saya khusus mengkritisi tayangan take me out karena "menyerang" sendi-sendi moral dan pendidikan yang menyangkut PONDASI pembangunan SDM yang berkualitas, yang berbudaya, yang bertanggung jawab.
Sedangkan sinetron2 tetap merupakan tayangan2 yang harus dikritisi juga, yang tidak membuka ruang publik pendidikan yang bagus kepada generasi muda, tetapi kadar serangannya tidak akan "terlalu" dahsyat seperti efek "take me out", namun tetap harus kita awasi dan kita kritisi.

Menikah adalah sebuah "pencapaian yang sakral", gampang2 susah, susah2 gampang untuk merengkuhnya. Persepsi, visi, misi, kesadaran dan keyakinan diri menjadi pintu pencapaian mahligai pernikahan. Dalam berbagai agama "pernikahan" merupakan "perikatan sakral" yang menjadi simbol pencapaian KESEMPURNAAN kehidupan seorang(dua) anak manusia. Kesiapan keduanya merupakan ikrar kesiapan mengikat untuk saling "bertanggung jawab" dan "saling berlapang dada menerima" kelebihan dan kekurangan apapun dari pasangan hidupnya.

Menikah adalah gerbang pertama dalam membangun rumah tangga, membangun keluarga. Sedangkan keluarga merupakan pondasi lingkungan terkecil yang diharapkan memberikan kontribusi positif terhadap pembangunan bangsa.

Bisa dibayangkan jika keluarga indonesia banyak yang seperti pernikahannya (maaf mengambil contoh) : cici paramida?,Kurang apa mereka?, umur sudah lebih dari dewasa ?, pendidikan apakah masih kurang ?, harta berlimpah, mobil mewah, rumah sendiri, ketenaran (artis), popularitas.... apakah jadi jaminan sebuah rumah tangga yang harmonis?. Nikah di mekkah al mukaromah, dihadiri orang2 saleh... di tempat yang suci.... apa itu jaminan ? [*maaf mba cici, kejadian yang menimpa rumah tanggamu biar menjadi cermin dan pelajaran bagi yang lai]

Boro2 membangun sebuah keluarga yang bisa memberikan kontribusi positif bagi pembangunan bangsa, yang ada sibuk dengan rumah tangga yang "amburadul"
Maka jangan berharap banyak pada perbaikan SDM anak bangsa melalui lingkup kecil keluarga, jika komitmen kita dalam mengawal "pewujudan pembangunan keluarga(menikah)" seperti yang ditayangkan oleh acara Take me out.

Kenal lama melalui pacaran bukan jaminan pernikahan akan lancar2 saja, karena ujian dan cobaan dalam mahligai rumah tangga datang dari berbagai arah...
Saling mengenal bukan jaminan untuk lulus ujian..
Gelar sarjana juga bukan jaminan untuk lulus rintangan...
Banyak harta, popularitas, kecantikan, ketampanan, dll... malah hanya akan menjadi pintu tambahan ujian dalam mengarungi "rumah tangga"

Jadi sangat menyakitkan dan sangat mengkhawatirkan bagi saya, ketika melihat tayangan "take me out" yang mengadang2 para perawan dan perjaka ada juga sebagian janda dan duda... yang dengan "pongah" nya mencari pasangan melalui take me out. Komentar tidak suka, komentar suka, cara perkenalan (dating), sungguh menyajikan tayangan yang membuat hati ini miris, benarkah sudah sebobrok ini mental anak bangsa?, ciuman, pelukan, kemesaraan... bukannya tidak boleh ditunjukan, tapi siapa yang mempertontonkan dan dimana dipertontonkan juga pada siapa dipertontonkan menjadi pertanyaan besar...
oke lah jika : sudah suami istri, silahkan...mesara2 an sun sun an...peluk2 an mesra2 an, dan tidak ditayangkan di televisi....

Ini televisi men !!!, semua orang bisa lihat, dari anak bau cikur sampe aki2 bau tanah bisa lihat. Maka tayangan take me out membuat persefsi yang menyesatkan bagi anak bangsa dalam mencari pasangan hidupnya....
Ukuran RUPA, HARTA, dan KEDUDUKAN disamping juga TINGKAT PENDIDIKAN menjadi standar mereka kelak dalam mencari pasangan. dan yang tidak kalah mengerikan adalah bahwa gaya "pacaran" atau "mengenal pasangan" dengan pendekatan "seperti itu" menjadi sesuatu yang lazim, lumrah, dan sangat biasa : NAUDZUBILLAH.....
Pantas saja rekaman2 video sex bebas merajalela dari handphone ke handphone, dari komputer ke komputer, dimana para pelakunya kebayakan masih ABG, sekolahnya masih SMP, masih SMA, jika pada diri sendiri saja nilai kehormatan dan tanggung jawab sudah tidak diutamakan... bagaimana kita berharap mereka memberikan kontribusi tanggung jawab dan kehormatan terhadap martabat bangsa?

Memang gempuran budaya ini sangat "dahsyat" dari sana sini, pornograpi sebelum dan sesudah acara take me out pun tetap menjadi ancaman besar, tapi tolong : please deh... sama produser dan juga penanggung jawab acara "take me out" apa kalian gak ada ide lain lagi selain mengadopsi acara tersebut?
itu acara kan awalnya dari amerika sono, yang jelas2 latar budaya dan sosialnya sangat berbeda dengan Indonesia, tolong hentikan acara itu......
Kalian membuat tayangan yang tidak memberi solusi pada perbaikan mental dan moral anak bangsa.

Menikah itu butuh pondasi utama kesiapan tanggung jawab dan kerelaan menerima kelebihan dan kekurangan dari pasangan hidup kita. RUPA, HARTA, TAHTA/KEDUDUKAN, PENDIDIKAN, dan nilai2 materi duniawi lainya SANGAT TIDAK MENJADI JAMINAN sebuah mahligai rumah tangga akan berhasil. Lihat sebagai cermin : rumah tangganya para selebriti (artis) Indonesia, mereka pacaran dan saling mengenal lebih dari cukup, berpendidikan, rupawan (cantik2, ganteng2), kaya,... dan kemewahan2 lainnya... TAPI LIHAT !!! mereka gagal !!!
*selain yang saya contohkan, masih banyak yang lainnya. pada tau kan?

semua foto-foto saya ambil dari sini.


Tag: media watch

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Media Terkait:

    Siapa saja yang merating artikel ini:

    Komentar:

    wawajie 0 0
    pas banget ki baraja, mb amanda jhie juga dah buat artikel lanjutannya http://politikana…p-bag-2.html
    ki baraja 0 0
    bagi yang mau menikah, tapi takut dan khawatir dengan sesuatu "yang tidak jelas"
    1. takut nggak bisa nafkahi
    2. takut gak bisa rumahi
    3. takut nggak bisa bahagiain
    4. dan takut2 lainnya...

    kalian harus belajar dan survey ke komunitas kumuh seperti di lokasi pembuangan sampah bantar gebang misalnya.

    di sana mereka hanya pemulung !!!
    di sana mereka bukan orang2 terpelajar !!!
    di sana mereka makan seadanya !!
    di sana mereka tidur seadanya !!!

    tapi buat mereka hal itu tidak menjadi halangan untuk menikah, banyak pasangan yang hidup "membahagiakan diri mereka" dengan berbagai keterbatasan nya di sana.

    lalu kalian kurang apa?, sudahlah... bulshit itu pacaran2 lama2.... ngejar karir, ngejar gaji, ngejar sesuatu yang tidak jelas !!!

    akui saja kalau kalian itu "pengecut", tidak berani dan tidak berniat untuk segera memikul kepercayaan dan tanggung jawab, tidak siap rela menerima kenyataan kekurangan pasangan hidup kalian kelak.....

    manusia tidak ada yang sempurna men !!!

    Komen ini khusus dipersembahkan untuk soodaraku bung cibro : ))

    kalau untuk abu ghazi beda kasusnya boss, ente niat gak menyegerakan menikah?, kalau niat ubah segera perangai mu. Wanita terlalu takut dengan model perangai seperti dirimu, atau kecuali status bujangan yang ente publish di internet palsu padahal kenyataannya sudah berkeluarga itu lain lagi ceritanya : )), berarti ente lagi nyari selingkuhan di internet hehehe
    ki baraja 0 0
    wawajie: oh ya?, siap meluncur ke lokasi hehehe

    gimana tanggapan sampeyan terhadap acara take me out ini ??????
    muhammad abdullah al amin 0 0
    media memang harus diawasi, kita sangat prihatin sama KPI, belakangan pernyataannya tentang live show sidang tidak boleh ditayangkan membuat tanda tanya besar, emang ada apa?

    sementara tayangan tayangan konyol seperti sinetron2, variety show, dan show2 tidak mutu lainnya luput dari perhatian, termasuk take me out ini... wah memang gawat kalau dibiarkan ni acara
    cleoparti 0 0
    ki baraja: sudah punya istri belum?, hihihi saya jadi tertarik untuk daftar nih ... sepertinya aki boleh juga tuh.
    ki baraja 0 0
    muhammad abdullah al amin: kalau mendorong KPI supaya bisa jalan sesuai koridor nya kira2 gimana ya bro?
    ki baraja 0 0
    cleoparti: baru satu : D
    saya tidak siap memberikan harapan kepada anda untuk dipoligami : D, kecuali istri saya yang menginginkan : )) mungkin saya dengan ridho akan memenuhi permintaannya : D
    anianjani 0 0
    biasa aja ki baraja ani juga seneng nontonnya lho, apalgi kalo para pesertanya ganteng-ganteng, tajir-tajir : p, jadi pengen ikutan audisi nih...

    cuma gak pede....
    iwan ardiansyah 0 0
    gak punya tv
    gak suka nonton
    gak tau

    tapi memang kebanyakan tontonan di televisi sudah tidak bisa dijadikan tuntunan

    siap siap film miyabi menghiasi layar kaca anda
    ki baraja 0 0
    anianjani: yoyoi silahkan buuuuu....
    ki baraja 0 0
    iwan ardiansyah: dijual tv nya pak? : D

    kalo miyabi masuk tv nasional kita, wah : ))

    bagaimana tanggapan uda Ibnu Muslim dan budayawan sekaligus reporter kita bung l. wiji widodo
    wawajie 0 0
    Buset pada makhluk nocturnal ini semua! : ))

    Klo bwt saya, take me out sering saya jadikan tontonan hiburan. Sumpah, klo nonton itu bareng temen2 biasanya dijadikan ajang cela2an, kocak soalnya : ))*jangan ditiru*

    Sebenarnya sebelum acara take me out ini, sudah banyak acara2 tv sebelumnya yg juga bertujuan "cari-cari pasangan" namun mungkin kurang laris sperti tmo itu. Saya ingat banget ada tayangan seperti itu namun usia pesertanya lebih mudah. sama seperti tmo, dalam tanyangan ini juga biasa mengumbar kemesraan padahal mereka sendiri "ceritanya" baru ketemu beberapa jam atau bahkan menit. namun, mungkin karna tmo ini acara yg bener2 diadopsi dari luar negeri sono noh, makanya acaranya laris.

    Kalo saya sendiri sih g bisa bilang acara ini harus dihentikan ato gimana, wong g mungkin laris klo masyarakat kita g suka dgn acara kyk ginian. Mungkin malah ada yg protes klo acara ini dihilangin (yg jelas bukan saya)!

    Kita harus pinter2 aja dengan tontonan kayak ginian, misalnya, anak-anak g boleh nonton (tapi gimana y? klo ibu ato kakaknya ternyata nonton dan kebetulan tipi di rumah cuma satu!), dan untuk anak2 yang usianya remaja mungkin memang harus diberitahukan langsung dari orang tua cara bergaul yang benar seperti apa. Karna saya sangat percaya, klo peran orang tua terhadap sikap anak itu sangat besar walaupun lingkungan juga tetap berpengaruh terhadap sikap anak nantinya.

    Busyet, gw berasa orang tua aj! Hahahahhh

    wawajie 0 0
    yo oloh... komen terpanjang saya sepanjang sejarah di politikana!
    Israel 0 0
    sudah hancurkan saja politikana.........eh salah take me out maksud saya
    ki baraja 0 0
    emang wawajie masih muda? : ))

    ya oloh.... : o

    komen panjang berarti anda tertarik bu ?
    ki baraja 0 0
    Israel: waw, sudah siap2 pasang badan nih pak?, bagaimana kok gak protes pasukannya bang ke indosiar sana ?, ....

    *saya dukung deh, dari sini.
    ki baraja 0 0
    wawajie: memang yang sebelum sebelum TMO juga ada acara2 cari2 pasangan gitu... cuma secara implisitu tujuan : "cari pasangan hidup" memang baru TMO di indosiar ini....

    yang dulu2 jelas tujuannya : buat "senang2 alias have fun"... ya sutrah, silahkan karena jelas ambil posisinya maka saya tidak mempermasalahkan : dalam arti "jelas ngga beres"

    kalau TMO tidak mengambil sikap setegas itu, acara ini "seolah-olah" beres, seolah2 bertujuam mulia : "berikhtiar mencari pasangan hidup"...PADAHAL... beracun nya minta ampun...

    saya tidak bisa ridho melihat adik2 perempuan saya "cengegesan" saat nonton TMO, kemudian komentarnya bikin "hati ngilu"...
    pasti "racun" tentang "mimpi" mendapatkan pasangan hidup itu sudah menebar juga di banyak remaja putri indonesia, mau jadi apa?

    mimpi bagaimanapun melenakan, maka wajar jika banyak yang menggandrungi acara tersebut. habisnya "terlihat enak" menjalani kehidupan seperti itu.

    lihat deh hari ini, esok, atau lusa, tontonan tersebut akan memberi bekas pada anak muda indonesia untuk pacaran, kencan, gaya, gaul, wah... gak jelas deh ujungnya .....

    *siap2 aja nampung 3gp hasil rekaman HP
    Agus PW 0 0
    ki baraja: sudah lama saya sinis ama tayangan itu. Maksudnya nama saya gak jadi Coky ya...

    *ah, per-empuk-an..*
    *ah, pernikahan dikomersialkan*
    *ah, males lihat*

    ki baraja 0 0
    Agus PW: yoyoi... daku sudah pernah coba komplain ke KPI, gak tau deh mereka sampein gak?, gak lama kemudian muncul ustad cinta : )), busyet deeh...

    nulis disini juga gak tau bijimana efek kelanjutannya?, apakah protesnya samapai ke mereka?, apakah sama pengurus di politikana.com dikirimkan ke mereka?, daku tidak tahu pak...

    daku hanya berharap, dengan ditulis disini sedikit ganjalan di hati sudah "tersalurkan" bonus tambahannya berharap "kritik" ini sampai ke mereka (TMO), kalo normalnya sih yaa minimal yang baca disini "warga politikana" sadar betapa bahayanya tayangan tersebut akan mempengaruhi persepsi generasi muda mendatang dalam menentukan calon pendamping hidupnya.
    Agus PW 0 0
    ki baraja: siip pak. Kadang kita berharap banyak di Forum ini. Tapi entahlah. Saya pun banyak mengeluh di sini, tentang guru. Tapi entahlah. Ya saya sepakat ketika kita tulis dan jadi bahan diskusi kita jadi puas, sepuas malam pertama ; )) (mosok seeeh) : ))
    Veuillez entrer 0 0
    ki baraja: Agus PW: sy seh tdk sengaja menonton pas di tempat sodara *kebetulan tak suka nonton tipi, pas sy lihat cewe2nya pakai baju sexy2 trus kenapa ada siraman rohani dari Ustad yah....

    waduh...bener2 sudah salah kaprah neh, begitu juga Ustadnya...geli deh nontonnya *bener jika cuma buat seru2an doank...

    *Ustad juga butuh Do iT ; ))
    Agus PW 0 0
    Veuillez entrer: Saya umat Islam dan hanya bisa bilang dasar Ustadz Dianjok!!
    ki baraja 0 0
    Agus PW: : )) orgasme pemikiran kali? ; ))

    ki baraja 0 0
    Veuillez entrer: yoyoi...
    itulah yang membuat gwa semakin terdorong untuk "mengkritisi" acara tersebut.

    karena memang bungkusannya "mau dipersepsikan bagus" sementara isinya jelas2 ini tidak bagus...

    percis agama dijadikan "ganjal" buat jualan obat
    ini udah gak bener bu.

    kalau bungkusannya jelas2 : "have fun"
    suka2, dating, seneng2, maksiat,
    saya mungkin malah gak peduli, karena apa? masyarakat bisa menilai sendiri...
    anak muda juga bisa menentukan, bahwa tayangan tersebut masuk dalam kategori hitam atau putih ?

    lha TMO tidak demikian, bungkusnya putih isinya hitam, ini kan gak bener......
    5150 0 0
    ki baraja: kalo bungkusnya hitam tapi isinya putih kayaknya lebih gimana gitu ; ))

    *ngaco*
    ki baraja 0 0
    5150: bentar, lagi mikir analoginya....
    wardi 0 0
    Bungkusnya udah tak di pakai lagi .. itu itu TV kalau di bolehkan acara Telajang bulat mungkin mereka akan telajang semua ...dasar manusia setengah binatang....tidak mensyukuri nikmat yang tuhan Berikan lalu apa tindakan pemerintah NGOWOH kan ...

    Apa yang mereka jadikan ukuran dan acuan ...Kan Hanya Fisiknya saja Jelek atau ganteng ,pahanya mulus atau tidak ...kan gitu aja

    5150 0 0
    ki baraja: gak usah di analogikan aki, tapi dibayangkan aja hahahahahahah : p
    Veuillez entrer 0 0
    5150: nyiL....ym,
    Veuillez entrer 0 0
    ki baraja: Agus PW: itulah,,,,tayangannya begini trus ditambah Ustad nya makin geli deh intinya...tetapi...memang stasiun tipi yg 1 it memang sll menayangkan sstu yg kurg mutu tetapi banyak rating yg nonton...krn just fun kalee ye *entahlah
    ki baraja 0 0
    wardi: pak coba sampeyan kritisi ahli fatwanya tuh, kan ada pake ustad cinta nya segala?... secara urusan dalil sepertinya temen2 di tri falaq lebih faham begitu...
    *nunggu reaksi abu ghazi : D

    emang pak, dah gak pake bungkusan lagi tuh kayaknya cewe2 nya : ((, tapi tetep yang lebih menjadi perhatian saya sih : "motivasi" nya.

    niat, visi, misi, tujuan, acara TMO ini kagak beres
    Veuillez entrer 0 0
    ki baraja: btw ko MUI ga menkritisi yg begini an ye...kn Ustadnya udeh salah kaprah tuh : ((
    ki baraja 0 0
    Veuillez entrer: YM an mo mojok ya : p

    ya, kalau yang mutunya yang lain, agak sedikit masih ada toleransi lah... karena menurut gwa masih banyak urusan2 dan hal2 penting lainnya yang lebih butuh perhatian ketimbang merhatiin setiap episode sinetron yang gak mutu...

    kalau TMO agak fatal konsekwensinya bu, ini menyangkut "persepsi" "motivasi" "visi" seseorang dalam mencari pasangan hidup dan membangun rumah tangganya (nikah)

    cara seperti itu sangat jelas : main2 dan mempermainkan.

    padahal rumah tangga (keluarga) lingkup organisasi terkecil yang diharapkan menjadi pilar pertahanan sekaligus energi perubahan budaya bangsa menuju indonesia yang lebih baik. rumahku syurgaku....
    keluarga yang "bermutu" akan menghasilkan "SDM yang berkualitas", dan mampu memberikan efek/energi positif terhadap perbaikan bangsa.

    sorry : SDM berkualitas tidak harus berarti pendidikan tinggi, cantik, ganteng, kaya...

    sudah terbukti yang ciri2 nya begitu lebih banyak yang jadi ahli KORUPTOR
    ki baraja 0 0
    nikah kok dibikin main2 ?, nikah kok dibikin permainan ?, ini udah gak beres....

    Veuillez entrer: MUI nya nunggu didemo dulu kali?, atau memang nunggu masukan dari masyarakat dulu?

    *entahlah....

    bagaimana kalo kerja nyata politikana.com salah satunya ngepus MUI untuk memberikan perhatian (warning) pada acara TMO ?
    wardi 0 0
    Saya pernah kunjungi Pesantren nya Imam Samodra dan beberapa Pesantren lain bahkan saya pernah ketemu dengan anah buah sadek dalam acara pertemuan dengan TRI Falaq .... Memang Kolot dan ndablek ya susah , Saya pernah satu ruang dengan ABDURAHMAN
    Sekretaris LIA EDEN juga kolot

    Dan kebanyakan para ustad pikiranya hanya sebelah pihak ...

    Kemarin baru saja ke gereja Bukit Zaitun ternyata Gembalanya setuju menjalankan perintah tuhan secara Konsekwen eee malah jamaanya membenci Islam .....
    ki baraja 0 0
    wardi: : o
    wardi 0 0
    Ada apa ki baraja .......met pagi
    Veuillez entrer 0 0
    ki baraja: dari pada nge demo Miyabi yg engga jelas coba, lihatlah budaya sendiri dulu, baru mencela Miyabi ; ))
    Esemge 0 0
    Maaf,yang dimasalahin tentang mutu acaranya ato karena ada ustadnya cinta disitu?
    ki baraja 0 0
    Esemge: satu kesatuan pak..
    itu mah ustad tambahan yang mempeparah sikon
    sblum ada ustad juga sy sih dah gak setuju
    daengrusle 0 0
    apa salahnya Ustad Cinta mencari duit dari tayangan ini, namanya juga cari rejeki...hehe

    : D
    Esemge 0 0
    ki baraja: sebagai sebuah tontonan saya pikir itu menarik.Justru saya tidak melihat proses 'instan ' dalam mencari jodoh,karena masih banyak tahap tahap yg harus dilalui.Kalau bicara mengenai instan dalam pencariah suami/istri mungkin kita bisa berkaca pada kakek nenek kita dulu.Bahkan mereka tidak mengenal satu sama lain ,tetapi banyak juga yg ikatan perkawinan mereka abadi.Saya melihat dalam acara tersebut hanya sebagai langkah awal untuk suatu tahap yg lebih serius,yang mungkin dalam perjalanannya bisa saja berhenti karena tidak ada kecocokan.Menurut saya acara tersebut tak ubahnya biro jodoh secara live.
    yusro 0 0
    ya di take out aja acaranya : ))
    glagahputih 0 0
    kalau sudah di televisi, tidak ada lagi yang namanya tayangan anak2 atau tayangan dewasa.
    conscientizacao 0 0
    Apakeh perlu menghidupkan badan sensor?
    Atau mau 'berkeringat' dengan Media Literasi?
    Harlan Eryandi 0 0
    ki baraja: itulah salah satu tantangan & tugas berat pak Agus PW: & all of us dlm membina our next generation. : )
    MFH 0 0
    kalau saya melihatnya ini hanya salah satu bentuk apresiasi...tidak lain juga bagian dari budaya hidup...ya sah sah saja ada tayangan seperti itu...(itu dari sudut pandang kebebasan untuk semua orang lo..).

    Karena bagaimana pun yang disebut budaya tidak ada yang tidak baik, yang menyebutnya baik atau buruk..karena kita melihatnya dari sudut pandang kebenaran dari kaca mata kita.

    Oleh karena itu bagi saya...bagi orang yang ingin mewujudkan aspirasinya itu...seharusnya dia punya kewajiban moral juga untuk menghormati hak orang lain, bahwa ada sisi masyarakat lain yang mungkin tidak suka, merasa itu tidak layak atau menganggu dll. ya..mungkin siapresiator tersebut harus memberikan batasan tertentu seperti siapa yang boleh menyaksikan tayangan tersebut dll.


    Saya pribadi meyakini tidak ada budaya yang tinggi atau rendah atau juga yang buruk atau buruk...yang adalah bagaimana kita bisa menyelaraskan antara hak dan kewajiban kita dalam memahami setiap budaya.
    ki baraja 0 0
    Esemge: ya, yang namanya tontonan sih menarik saja, namanya juga hiburan.....
    saya bicara dalam kapasitas tayangan yang diharapkan memberi edukasi....

    justru langkah awal pencarian yang seperti mas Esemge ini yang "berbahaya" untuk dipublikasikan. persepsi, visi dan motivasi yang melatar belakangi langkah awal seseorang dalam pencarian jodoh (menikah) seperti yang ditayangkan oleh TMO tidak memberikan jaminan pembentukan rumah tangga yang harmonis....

    ingat : menikah sesuatu yang sangat serius...

    TMO menjadikannya : main-main, games, permainan....

    agak OOT, tapi menurut saya relevan :
    ingat kearifan tradisi budaya leluhur kita yang mempersepsikan suatu wilayah hutan lindung itu angker?, pamali dan tidak sembarangan untuk beraktifitas apalagi menebang pohon?, harus melalui "juru kunci" jika ingin melakukan sesuatu ?, ... dengan dalih agama WARISAN KEARIFAN TRADISI ITU DIHANCURKAN ATAS DALIL BID'AH, SESAT, MUSYRIK....

    apa yang terjadi sekarang ?

    hutan, pasir, gunung : gundul, masyarakat lokal (setempat) tidak ada lagi rasa memiliki dan ingin menjaga, apalagi masyarakat pendatang (pengusaha). akibatnya : banjir, longsor, menjadi bagian kehidupan kita akibat dari ulah dan perbuatan kita sendiri yang "melanggar" kearifan "pamali", "larangan", "angker"...

    apa hubungannya pamali, angker, larangan dengan tayangan TMO serta menikah?, adakah hubungan kausalitas ? ... jelas tidak ada....

    tapi akan menjadi pelajaran sangat berharga jika kita mau menjadikan cermin kasus tersebut

    lingkungan (alam) akan terjaga bila kita ada rasa hormat (menghargai) terhadapnya....
    leluhur kita mengajarkannya dengan pamali.

    menikah adalah sebuah tahapan yang sakral, serius, bukan main-main.
    TMO menjadikannya "games", permainan, main2

    Jelas ini akan merusak "kebaikan dan nilai positif" yang diajarkan melalui "menikah" sebagai sebuah tahapan "penyempurnaan" hidup seorang manusia di muka bumi.

    TMO sedang menghancurkan tembok pamali tersebut, sudah terbukti alam sekitar kita hancur karena manusia sudah melanggar warisan karuhun melalui pamali. TMO sedang "menggampangkan" "merubah" "mempengaruhi" persepsi peserta sekaligus penonton dalam menentukan dan memilih pasangan hidup melalui permainan2 TMO.

    lihat bagaimana mereka saling menilai?
    lihat bagaimana mereka saling mengenal?
    lihat bagaimana mereka saling berharap ?

    tinggal menunggu waktu saja jika anak bangsa ini akan meremehkan "pernikahan", maka jangan berharap banyak pada lingkup keluarga (rumah tangga) sebagai komunitas terkecil pembangunan anak bangsa yang bagus.

    plis, hentikan meremehkan "cari jodoh" lebih jauh "pernikahan", karena cara-cara seperti itu tidak memberikan jaminan pembentukan rumah tangga yang harmonis.

    jika mau menjadikan tayangan yang mendidik, harusnya mencari "pelajaran" hidup bagi mereka yang belum menikah, bagi mereka yang mau menikah, yang sudah berumur lebih dari cukup tapi masih pikir2... buatkan mereka tayangan sebagai cerminan pelajaran, sebagai pembakar motivasi.... tapi yang bergizi....

    contoh :
    liput dan tayangkan profile rumah tangga pasangan yang kehidupan ekonominya terbatas, seperti para pemulung di lokasi TPSA bantar gebang misalnya?, bagaimana mereka yang tidak bependidikan (minim sekolah), minim ekonomi/minim harta, dan serba minim lainnya tapi saling ridho dan saling mau menerima kehidupan yang mereka jalani, dan tetap mau berjuang berikhtiar, tidak menyerah begitu saja pada kehidupan yang tertulis untuk mereka.

    ini kan bisa jadi contoh persepsi dan motivasi bagi para perawan tua, bujangan tua, janda2, duda2, dan yang rumah tangganya sedang berantakan, bahwa perkenalan yang panjang atau pendek melalui pacaran tidak memberikan jaminan rumah tangga akan baik2 saja....
    ketampanan, kecantikan, kemewahan, harta yang berlimpah, pendidikan yang tinggi, popularitas, ketenaran, semua itu bukan garansi bahwa rumah tangga akan utuh selamanya....
    dan TMO dengan sangat jelas sedang mempertontonkan cara2 begitu dalam langkah awal pencarian jodoh...

    jika "menikah" sudah diremehkan, maka saya sudah tidak melihat lagi basis (pondasi) pembangunan karakter anak bangsa yang berkepribadian dan berjatidiri melalui lingkup kecil keluarga/rumah tangga.
    ki baraja 0 0
    bung yusro bisa melakukan take out nya? : D
    ki baraja 0 0
    glagahputih: ya, tayangan itu jelas dikonsumsi semua kalangan....

    saya prihatin, karena menyaksikan sendiri akibat dari tontonan itu. Minimal komentar yang tercetus saat mereka menonton, apakah hanya komentar saja?....

    apakah cuma ketakutan alias phobia saya semata jika komentar2 mereka kemudian mengkristal penjadi sebuah pandangan hidup (persepsi juga visi) ?

    *wah gantengnya ? : ((
    *wah cantiknya : ((
    *wah mukanya jelek, pasti gak terpilih : ((
    *wah manajer ? : ((
    *wah kaya .... : ((
    *wah mobilnya cooy... : ((
    *wah pendidikannya ....: ((
    ki baraja 0 0
    conscientizacao: kita sedang melakukan sensor di sini
    media watch, seperti yang politikana.com bilang

    kontrol sosial lah yang saya kira perlu, entah bagaimana caranya saya juga belum terfikirkan, yang paling sederhana mungkin bagi saya ya melalui opini dan tulisan di media ini....

    mungkin temen2 lain bisa membawanya ke diskusi2 ruang kelas misalnya bagi mereka yang berprofesi guru, ke keluarga.....
    lembaga sensor dulu banyak diprotes karena tidak memenuhi rasa keadilan, saya kira sekarang saatnya kontrol sosial berlaku...
    perlu upaya untuk tidak mendiamkan begitu saja tayangan tersebut...

    dan selemah lemahnya perjuangan kontrol/perlawanan ya dengan menulis di sini.

    semoga tulisan ini banyak di baca orang, dan sedikitnya memberikan sudut pandang yang berbeda dengan acara tersebut.
    ki baraja 0 0
    Harlan Eryandi: komentar saya untuk bung conscientizacao: sekaligus menjawab komentar anda
    ki baraja 0 0
    bu MFH: ya, ini memang dunia kebebasan...
    saya tidak ada kuasa untuk menghentikan acara tersebut, alih2 berhasil saya malah percaya bisa berurusan dengan hukum kalau ngungkit2 acara tersebut secara prontal....

    makanya saya menulisnya di politikana.com
    ini sebagai bentuk upaya saya menggunakan hak kebebasan saya beropini untuk melihat TMO dari sudut pandang yang berbeda.

    toh, saya tidak yakin dengan saya menulis ini TMO otomatis dihentikan...
    toh, saya juga tidak yakin kalau tulisan ini kemudian diperhatiakn oleh mereka...

    sama seperti yang bu MFH katakan mereka akan memposisikan saya sebagai orang yang bebas menanggapi, bebas beropini.

    jika boleh saya memberi batasan, kenapa saya mengapresiasi TMO tidak mendidik :
    "jangan meremehkan, jgn jg mempersulit"
    hormati "menikah" sebagai sebuah tahapan yang harus dilalui dengan sepenuh hati, bukan dengan cara main2 seperti itu.
    Veuillez entrer 0 0
    ki baraja: ke tiny donk....kasih wejangan ke saya : ((
    ki baraja 0 0
    Veuillez entrer: oh, ada orang tah di sono? : ))

    wejangan?, : )) ngarang lo ah.....
    ki baraja 0 0
    Veuillez entrer: kok gak ada ?
    mommyshafa 0 0
    Take him out = acara perjodohan, ide dasar acaranya lumayan, membuat orang yg belum punya pasangan jadi punya, bahkan kalau bisa menikah.

    Dalam penayangan tmo banyak 'kemesraan', emang semua acara tv skr gt kan? nyerempet2 dan tidak mendidik. Pelukan, cipika cipiki, tamparan, dsb. Jadi kalau mau dilaporkan ke KPI kayknya semua acara bisa terseret. Masalah acara tmo yg tidak mendidik, kyknya acara tv kita banyak tidak mendidiknya.

    Jadi bukan hanya tmo yang kurang bagus untuk ditonton, tapi kebanyakan acar lainnya juga perlu diperbaiki. Tapi kalau kata produser sih..yang penting rating, mendidik atau tidak urusan masing-masing.
    ki baraja 0 0
    mommyshafa: mulailah mencatat dan mendokumentasikan acara-acara tersebut bu...

    kalau berharap lembaga sensor khusus sudah tidak jamannya lagi....

    kontrol sosial lah yang harus di dorong dalam melakukan "media watch"....
    dokumentasikan semua acara2 yang tidak mendidik....
    jika mereka bebas menayangkan...
    kenapa kita ngga bebas mengkritisi dan menanggapi ?

    tulisan ini sebagai bentuk perlawanan yang paling mungkin bisa saya lakukan saat ini
    neilhoja 0 0
    thanks mas, atas sharingannya... terus terang, saya sendiri ga di indo.. tapi ngebaca tulisan ini jadi mengingatkan kembali betapa sudah 'bobrok'nya media televisi kita....

    sepertinya, hanya tulisan yang bisa mewakili kegelisahan kita..

    tapi seperti kata pepatah, semua lilin boleh padam, tapi jangan pernah kau padamkan lilin harapan..

    untuk indonesia yang lebih baik. : )
    ki baraja 0 0
    neilhoja: mengawasi ya mas?

    emang lagi di negri mana?
    NOS 0 0
    YB Mangunwijaya dalam Esai2 Orang Republik mengutip seorang budayawan Spanyol: Kepada bangsa2 Timur yg tergerus oleh arus kebudayaan Barat, jangan salahkan kami. Salahkan diri sendiri, mengapa begitu adaptif terhadap kebudayaan Barat?

    ki baraja 0 0
    NOS: sebetulnya menjadi barat pun tidak mas

    menjadi pribadi timur yang tergerus, mengejar barat setengah hati, akhirnya kehilangan identitas dan jatidiri, kebingungan bertanya :mau ngapain?
    Smart 0 0
    Aku juga tidak suka acara ini sangat merendahkan martabat perempuan dan laki-laki...Edan sekali acara ini....
    ki baraja 0 0
    Smart: ya, mungkin kita harus mencoba mengkampanyeukan gerakan pemikiran untuk melihat TMO dari sudut pandang yang berbeda ...

    seperti tulisan di politikana.com ini.

    *lagi mikir buat kopi paste ke mana2, ah, entahlah..
    Smart 0 0
    ki baraja: Buatlah kopi paste itu sahabat. Saya sangat mendukung tulisan anda. Sebetulnya saya jengah juga dengan acara ini sebab perempuannya itu lho suka berpakaian seksi dan tidak pantas. Juga keterbukaan yang ditampilkan membuat saya malah jadi risih. Anehlah pokoknya...
    ki baraja 0 0
    Smart: yayayaya....
    kalau dimasukan ke kompas gimana?, ada yang bisa bantu ?.. silahkan dicopy paste, diedit, disusun ulang untuk membentuk formulasi tulisan yang menarik untuk sebuah opini berkelas yang akan dimasukan ke surat kabar...

    apakah bung yusro bisa bantu ?

    saya bukan penulis soalnya, bagi saya tidak penting dan tidak jadi soal opini tentang hal ini mau diajukan oleh siapapun... yang penting TMO mendapatkan perhatian dari sisi yang berbeda.... selain para penggemarnya...
    tentu ada kita yang mengungkapkan kegundahan, kerisihan, bahkan ke-jijik-an terhadap acara tersebut......

    ada yang mau masukin kompas?, MI?, dll...

    ayo kita perang peradaban, dengan perang pemikiran.... gerak...gerak...gerak....

    *saya sudah memulai dengan tulisan ini, semoga bisa menjadi pemantik.
    Israel 0 0
    dildaar Dildaar 29 Okt 09, 13.56

    lihat organisasi pengedar : khilafah, kok iya dibiarkan saja?, ayo kita cari saluran untuk melaporkan dan menindaklanjuti ini, mereka jelas-jelas tidak mau mengakui hukum positif yang berlaku di negri ini, lebih berbahaya dari aliran yang dianggap sesat seperti : ahmadiyah, atau lia aminudin. faham khilafah seperti HTI menurut gwa sudah meneror dengan bentuk ancaman yang berbeda......
    mereka bahkan menganggap jika negri ini kafir murtadin !!!, yang berhukum di dalamnya dianggap kesesatan luar biasa....
    ini kan mengkhawatirkan?...

    Ki Baraja...sy kenal teman2 Ahmadiyah dan Lia Aminuddin...mrk mengakui NKRI, Pancasila dan UUD, taat dan setia kepada negara walaupun dizalimi/diabaikan hak2nya....jd sangat salah mereka distigmakan sbg sesat krn disamping menyakiti hati mereka jg kesesatan beragama/berkeyakinan yg tahu hanya Allah..
    Israel 0 0
    dildaar Dildaar 29 Okt 09, 13.56

    lihat organisasi pengedar : khilafah, kok iya dibiarkan saja?, ayo kita cari saluran untuk melaporkan dan menindaklanjuti ini, mereka jelas-jelas tidak mau mengakui hukum positif yang berlaku di negri ini, lebih berbahaya dari aliran yang dianggap sesat seperti : ahmadiyah, atau lia aminudin. faham khilafah seperti HTI menurut gwa sudah meneror dengan bentuk ancaman yang berbeda......
    mereka bahkan menganggap jika negri ini kafir murtadin !!!, yang berhukum di dalamnya dianggap kesesatan luar biasa....
    ini kan mengkhawatirkan?...

    Ki Baraja...sy kenal teman2 Ahmadiyah dan Lia Aminuddin...mrk mengakui NKRI, Pancasila dan UUD, taat dan setia kepada negara walaupun dizalimi/diabaikan hak2nya....jd sangat salah mereka distigmakan sbg sesat krn disamping menyakiti hati mereka jg kesesatan beragama/berkeyakinan yg tahu hanya Allah..
    Israel 0 0
    dildaar Dildaar 29 Okt 09, 13.56

    lihat organisasi pengedar : khilafah, kok iya dibiarkan saja?, ayo kita cari saluran untuk melaporkan dan menindaklanjuti ini, mereka jelas-jelas tidak mau mengakui hukum positif yang berlaku di negri ini, lebih berbahaya dari aliran yang dianggap sesat seperti : ahmadiyah, atau lia aminudin. faham khilafah seperti HTI menurut gwa sudah meneror dengan bentuk ancaman yang berbeda......
    mereka bahkan menganggap jika negri ini kafir murtadin !!!, yang berhukum di dalamnya dianggap kesesatan luar biasa....
    ini kan mengkhawatirkan?...

    Ki Baraja...sy kenal teman2 Ahmadiyah dan Lia Aminuddin...mrk mengakui NKRI, Pancasila dan UUD, taat dan setia kepada negara walaupun dizalimi/diabaikan hak2nya....jd sangat salah mereka distigmakan sbg sesat krn disamping menyakiti hati mereka jg kesesatan beragama/berkeyakinan yg tahu hanya Allah..
    Israel 0 0
    silahkan saya tunggu siapa yang mau melaporkan abu Ghazi yang menjadi tokoh organisasi pengedar khilafah
    ki baraja 0 0
    hmm, bu... abu....

    *balikin aja deh : kalo emang berani silahkan tunjukan dengan satria bahwa anda mengkafirkan bangsa indonesia ini... ngga usah ngumpet2...
    cari2 "keadilan" sendiri... apalagi mau menegakan hukum sendiri....
    silahkan datang ke gedung dewan, bongkar tuh semua landasan dan dasar negara indonesia dengan hukum2 yang anda mau....
    teriak2 dari situ gak bakalan ada yang naggapi, kenapa ?, bukan takut boss...
    ngelayanin ente sama dengan ngelayanin orang setres, gila, dan ikutan kebawa setres, gila...
    free7 0 0
    Saya setuju dengan pendapatmu/ki baraja, tentang pamali itu, memang sebuah fakta yg berhubungan, bahwa kehancuran yg terjadi di alam dan moral adalah sebagai akibat kita mengabaikan hal-hal yg berhubungan dg asal-usul kita.

    Jika ada yg mengatakan kehancuran sudah takdir Tuhan atau sudah merupakan revolusi budaya , maka sama saja orang yg sudah tau mau turun hujan tapi nekat pergi tanpa payung dan akibatnya masuk angin dan sakit mencret , lalu berkata penyakit adalah pemberian Tuhan, atau memang sudah waktunya sakit : D















    tejo 0 0
    kembali ke TMO . . .

    saya kok agak pesimis ya, acara-acara seperti ini bisa dieksterminasi dengan mengusahakan pelarangan tayang. Sekalinya rating sudah tinggi, kalaupun dilarang, hanya akan berganti baju. (siapa tau ganti nama jadi Bukan Take Me Out misalnya : D ). Ditambah lagi, alternatif tayangan yang mendidik juga tidak berimbang..

    jadi..matikan televisi anda..dan ajak orang lain juga, hehehe.

    eniwei, ulasannya tentang menikah inspiratif bang. Hatur nuhun : D

    Israel 0 0
    wah saya gak ngumpet bung,banyak sudah karya tulis saya yang dibukukan dengan isbn yang juga sah, rekaman ceramah dalam bentuk vcd, bahkan dipolitikana ini i tak guna nama palsu lah, i guna my true nmbr hp. banyak sudah yang tulisan saya memang mengkafirkan bangsa Indonesia ini.
    ki baraja 0 0
    Israel: silahkan pak abu....
    anda bebas melakukan apa saja yang anda suka
    pun kami juga bebas melakukan apa yang kami suka.

    setiap pilihan mengandung implikasi dan konsekwensi yang harus dipertanggung jawabkan

    maka jika itu pilihan hidupmu, apa yang kamu dapatkan harus kamu pertanggung jawabkan
    kamu mendapatkan hasil dari perbuatan kamu

    jangan nyalahin orang lain.
    ki baraja 0 0
    tejo: ya semoga kang tejo berniat menyegerakan nikah hehehe...

    semoga bermanfaat persepsinya (persfektifnya)
    ki baraja 0 0
    free7: yoyoi...
    kita jarang mau mengakui kesalahan diri, jarang mau instrosfeksi diri... lebih suka menyalahkan ke luar daripada kedalam (diri sendiri)
    gobaksodor 0 0
    BUBARKAN !!!
    kopisusu 0 0
    ki baraja: ki ,ane bukannya gak mau nikah...tapi kemarin tuh calon ngebatalin, alasannya gak siap. kasian dariku, keluarganya dan keluarga ku . : ((
    tapi benar, ane ada rasa2 takut seperti koment ki baraja di awal : D
    kopisusu 0 0
    bubaarkan saja acara sampah itu ...
    saya klo pas ketemu tuh acara, gak sampai 10 detik langsung ganti channel : ))

    acara hoax kek gitu dipercaya
    losun 0 0
    ki baraja: walaupun ki nggak maksud, ana tersungging juga neeh. sampai hari genee ana belum kawin, tapi... (ana punya sejuta alasan : D). dan ana sepakat dengan aki, acara tersebut tidak mendidik, malah setelah menontonnya ana jadi kurang berhasrat menikah : )) : )) (curhat dikit)

    apa pengalaman ana ini bisa menjadi alasan untuk KPI?
    Ning 0 0
    ki baraja:
    http://politikana…mment-108503
    Red-White Porridge 0 0
    Ah Acara ini keren kok, fun
    banget, tp memang pas ada
    ust cinta itu jd jelek bgt. Tp
    overall acara ini keren. : )
    ki baraja 0 0
    untuk kopisusu, mantapkan tekad/niat di hatimu
    : D yang ginian kalo gak modal "nekad" kagak bakalan bisa "segera" : ))

    nah habis nekad, belajarlah untuk bisa "selalu" menikmati apapun yang kita dapet.
    sedih, sakit, susah, itu cuma bahasa kita dalam mempersepsikan "kekalahan". Maka hapuskan kosa kata itu dari "angan" kita, tidak ada sedih hanya memang sedang agak kurang senang : D
    tidak ada sakit hanya memang agak kurang sehat, tidak ada susah hanya memang sedang berproses dalam perjuangan meraih kebahagiaan.... dst...

    ya, pinter2 lah "mengkondidikan suasana batin" agar "apapun" yang dialami dan didapat bisa menjadi "nikmat".
    ki baraja 0 0
    untuk losun, dan juga sodara2 lainnya yang belum nikah, saya do'akan semoga kalian disegerakan mendapat pendamping hidup kalian... disegerakan menikah...

    wah infor baru nih : jika nonton TMO juga bisa mengakibatkan efek tidak berhasrat menikah : o
    secara tambah lagi alasan tayangan tersebut memang tidak mendidik

    BTW, KPI tidak usah terlalu diharapkan...
    toh kita "ngomong2" disini juga sudah merupakan bagian dari "membantu" KPI dalam melaksanakan tugasnya. Diajukan iya, sudah...
    kalau diproses?, tidak tahu lah.....
    dan kita tidak harus berharap banyak....
    lakukan apa yang bisa kita kerjakan...

    jika mereka berhak menayangkan...
    maka kita pun berhak beropini....

    jika mereka banyak yang suka (pro)...
    maka hak kita untuk tidak suka (kontra)...

    sebarkan pemikiran ini, minimal ke keluarga kita
    lebih jauh bisa ke tetangga, ke masyarakat sekitar... lumayan khan?
    atau untuk konsumsi sendiri, terserah lah...

    yang penting jangan didiamkan, minimal kita kasih komentar... bahwa tidak semua orang setuju dengan tayangan tersebut.
    ki baraja 0 0
    Ning: ini link untuk abu ghazi ya?, terimakasih sudah diingatkan... tadi malem pas saya ronda ketemu di gang depan... ngamuk2 beliau....

    *merasa diusir dia....
    ki baraja 0 0
    Red-White Porridge: sudah menikah belum nak?
    Red-White Porridge 0 0
    ki baraja: sudah pak...
    tapi apa hubungannya ya? ; ))
    samsara 0 0
    Red-White Porridge: Anak-anak jaman sekarang jadi makin 'pinter' deh; sukur-sukur makin jadi lebih pinter ngerawat hubungan sama partner2nya berkat adanya acara ini? : D ...

    ki baraja 0 0
    kalau mencari hubungan pake rumus fisika atau ilmu pasti matematika tanyalah sama abu ghazi ; ))
    beliau jagonya menghitam putihkan segala hal

    adapun tulisan opini ini dengan acara TMO tersebut silahkan pak Red-White Porridge cari sendiri relasi hubungannya...

    yang pasti, kalau TMO berhak tayang dan memiliki dasar argumentasi sendiri tentang konten acara mereka...
    kami yang melihat, menonton, atau pernah melihat, pernah menonton BOLEH dong mengajukan pendapat? mengajukan opini?

    toh segala hal, saya tetap percaya selalu ada pro dan kontra. Setidaknya saya tidak mendiamkan "kegundahan" dihati saya untuk dikonsumsi sendiri...
    dan buktinya : banyak juga tuh temen2 yang sependapat, dalam arti memang melihat potensi "tidak baik" dari acara TMO ini.

    gimana pak Red-White Porridge ?
    ki baraja 0 0
    kang samsara, ngerawat hubungan dengan partner2 mereka dengan cara2 yang ditayangkan "dating TMO"...

    peluk, cium, : o

    itu yang terlihat lho....
    abis peluk cium, cari tempat sepi : ))

    *maka keluarlah versi 3gp yang menghebohkan

    itu yang terekam lho, yang tidak terkamnya?
    pasti lebih banyak loh.....

    apa hubungannya "kelakuan begitu" dengan "bangsa dan negara".. apakah terlalu jauh membuat relasi ?????

    saya kira tidak....

    tetap ada hubungan dan sangat relevan...
    mereka adalah generasi muda harapan bangsa
    jika penghormatan dan tanggung jawab pada diri sendiri saja sudah tidak dipentingkan...

    maka jangan harap penghormatan dan tanggungjawab pada bangsa dan negara ada tertanam di sanubari mereka...
    Red-White Porridge 0 0
    Saya juga boleh dong beda pendapat dengan anda, saya bilang acara ini keren dan fun boleh kan? wong ini menghibur banget buat saya... : ))

    yang saya bingung disini ... kok larinya jauh amat ke perkawinan dsb karena belum ada bukti gara gara acara ini ada pasangan yang kawin terus pernikahannya hancur...

    ada gak? ; ))

    kenapa kok jadi saya yang dipanggil bapak? tadi saya yang dipanggil nak? : D
    Red-White Porridge 0 0
    samsara: : D
    samsara 0 0
    ki baraja: wah peluk cium?? sampe cium bibir gitu? ..: D

    mungkin, ini cuma mungkin lho ya, mrk-mrk yg bikin TMO juga punya niat utk 'mendidik'. ngajarin masyarakat yg rasa seksualnya sdh lama terpenjara (oleh budaya, agama, dan masyarakatnya) sambil nanggok jualan.
    ki baraja 0 0
    Red-White Porridge: coba baca dari awal, terus ikutin komentar2 nya, sudah dituliskan tuh di atas : ))...

    secara TMO bukan acara pertama, masih banyak acara2 "dating/perjodohan/biro jodoh" sebelum TMO tayang.

    yang membedakan acara ini dengan yang lain adalah pada "persepsi yang dibangun" bahwa kebanyakan dari mereka adalah perawan2 tua, perjaka2 tua, ada juga yang muda2, janda, duda, yang notabene "berniat" seolah2 serius mencari pendamping hidup melalui TMO

    dari sini mungkin pak Red-White Porridge bisa mengurai kenapa TMO kemudian dikritisi dengan tulisan yang nyambung dengan urusan pernikahan
    apakah masih lari terlalu jauh ?

    nah sekarang anda kan sudah menikah tuh...
    apakah alasan anda bertahan menikah dengan istri anda didasarkan atas :
    kecantikannya?
    kekayaannya?
    pendidikannya?
    - atau pertanyaan lainnya, apakah harus selalu wajib SAMA pemikiran antara anda dengan istri anda tentang sesuatu hal?, atau dengan kata lain : apakah tidak pernah terjadi perbedaan faham (pemahaman) antara anda dan istri anda?

    TMO menjadi penting untuk dikritisi, setidaknya bagi saya. dan anda berbeda pandangan dengan saya silahkan....
    hak anda untuk menentukan dan melihat TMO dari sudut pandang anda... silahkan....

    toh, di atas sudah saya bilang. tulisan ini tidak punya kekuatan apapun untuk menghentikan tayangan tersebut. bahwa saya menulis dan berargumentasi tentang TMO agar orang pun melihat ada yang tidak sependapat dengan tayangan tersebut.

    ujungnya ya kembali ke diri masing2, mau pro atau kontra terserah. bagi saya tulisan ini minimal menjadi pegangan pribadi diri saya, dan tanggung jawab saya untuk menjaga keluarga saya dari hal2 yang "menurut saya" tidak baik
    saya seorang suami, saya pemimpin keluarga
    maka dunia akhirat saya bertanggung jawab terhadap anak istri saya...

    "dan jagalah anak istrimu dari api/siksa neraka"

    api/siksa neraka itu di dunia ini juga sudah sangat2 jelas terlihat, terasa,...
    bagaimana panasnya "iri"
    bagaimana panasnya "dengki"
    bagaimana panasnya "kesusahan"
    bagaimana panasnya "masalah"

    menjaga hal seperti itu dalam biduk rumah tangga tidak bisa dijamin oleh usia, oleh rupa, oleh harta, dan ukuran2 materi lainnya...

    saya sudah mencontohkan salah satu kasus "hancurnya" biduk rumah tangga dari salah satu artis, baca deh di atas...
    dan masih banyak artis2 lainnya...
    lihat mereka, kurang apa ?
    cantik, tampan, kaya, berpendidikan, toh tetap rumah tangganya hancur....

    menikah sesuatu yang "sakral", "terhormat", "serius", maka ketika hal ini dijadikan games, permainan, main2,.... saat itulah penghormatan dan keseriusan menilai pernikahan sedang dihancurkan... ini berbahaya...
    *analoginya dampak : hutan lindung tadi dengan kearifan tradisi budaya "pamali"
    silahkan dibaca ulang.....

    tentang adakah yang sudah jadi menikah, kemudian terbukti rumah tangganya gagal ?

    bukan itu kejaran "dasar penilaiannya"
    proses seleksi mereka yang saling pilih, saling nilai, dll, ini yang menjadi salah satu masalah...
    karena jelas dipertontonkan disitu : rupa (kecantikan/ketampanan), harta (profesi/karir), dan ukuran2 materi lainnya sedang dengan pongah dipertontonkan....

    apa alasan2 tersebut tidak boleh ?,
    oh jelas boleh, tapi itu jika menjadi alasan utama maka ukuran2 materi tersebut bisa berkurang, malah bisa hilang...
    disini nanti yang akan mengguncangkan pernikahan....
    tampan, cantik, yang lain juga banyak...
    lalu yang tidak tampan dan tidak cantik? haruskah mereka jadi korban cara pandang budaya seperti ini ?
    *ini salah satu penyelewengan penilaian terhadap manusia.

    kekayaan, karir...
    bisa berkurang bahkan hilang...
    haruskah rumah tangga hancur karena alasan ini?....

    TMO jelas2 sedang mengeksplorasi ukuran2 materi ini sebagai permainan.
    ki baraja 0 0
    samsara: ya intinya sih udah peluk2an udah cium2an ini urusannya udah syahwat...

    dan jika acara ini dengan tegas dari awal merupakan acara yang sengaja buat "nge-date" atau biro jodoh, seperti acara2 lainnya... mungkin saya tidak perlu mengkritisi... toh masyarakat bisa menilai kalau acara2 tersebut (seperti itu) tidak penting, bahkan bisa langsung dinilai : maksiat

    tapi TMO sedikit berbeda, rupanya orang marketingnya pinter. mereka membungkusnya dalam persepsi yang diposisikan bagus, serius, sungguh-sungguh... bahwa mereka mencari pendamping hidup (jodoh)...
    padahal kenyataannya, sama dengan cara lainnya : main2, games, permainan...

    nah jebakan ini yang menjadi keprihatinan saya, banyak orang yang suka?, ya jelas...
    mereka ingin tahu seserius apa sih orang yang mau nikah ?...
    padahal cara2 yang dipertontonkan semua main2, permainan,....

    banyak orang yang tidak sadar, nanti malah terjebak untuk MEMBOLEHKAN proses mengenal dan pencarian jodoh seperti "yang diajarkan" oleh acara TMO.
    Red-White Porridge 0 0
    ki baraja:

    berarti memang sudut pandang kita beda aki ... : )) saya cuma berpendapat acara ini enak ditonton dan bisa membuat saya terhibur...

    anda menyelaminya dengan masalah nilai sementara hal-hal yang anda sebutkan diatas mengenai pacaran dan lain lain kan masih dalam tahapan persepsi anda. ...

    seperti tulisan dan komen anda :

    peluk, cium, : o

    itu yang terlihat lho....
    abis peluk cium, cari tempat sepi : ))

    *maka keluarlah versi 3gp yang menghebohkan

    itu yang terekam lho, yang tidak terkamnya?
    pasti lebih banyak loh.....

    ------------------------------------ --------------------

    ini kan kesimpulan anda sendiri toh.. kalo ternyata akhirnya habis peluk cium mereka gak cari tempat sepi,...

    berarti anda... ; ))

    mungkin kalau anda mau bicara masalah nilai, jangan anda ambil fakta berdasarkan persepsi saja .... apalagi....

    ki baraja 0 0
    Red-White Porridge: yayaya....
    anda benar....

    toh koleksi film miyabi di laptop saya banyak tuh
    sekedar untuk hiburan dan enak ditonton boleh lah...
    mau koleksi juga bos ? : ))

    kita memang di sudut jalan yang bersebrangan dalam melihat permasalahan ini. tidak apa lah...
    Red-White Porridge 0 0
    ki baraja:

    Saya kira nantinya kita akan berdiskusi dalam kerangka pemikiran seperti yang sudah saya tulis disini....

    http://politikana…-salah-siapa

    ternyata tidak ... : ))

    ya sudahlah...

    TMO ini fenomena baru dan selalu mendapat rating no 1, baik tayangan tiap prime nya ataupun ulangannya...

    tanya kenapa? bisa dibaca di tulisan yang udah saya kasih link nya diatas.

    salam aki... hatur nuhun... : )
    ki baraja 0 0
    Red-White Porridge: yoyoi..

    selain link dari sampeyan, saya juga baca ini :

    http://badien.wor…aratelevisi/

    http://www.pikira…ail&id=81937

    ya kalau wacana seperti tulisan pada opini yang anda tulis saya bisa maklum, jika opini ini menjadi kehilangan makna... alias gak bisa ngapa-ngapain...

    opini atau tulisan ini hanya kontribusi kecil dari diri saya sendiri, dan bagi orang lain yang tertarik untuk melihat TMO, juga acara2 lainnya dari sudut kepentingan lain : "tuntunan"
    jadi tidak sekedar hiburan semata.
    kalau bisa mencerahkan, mendidik, mendewasakan....

    kalau urusannya ratting, memang begitu jadinya
    yang ingin saya lakukan adalah proses pendewasaan berfikir di masyarakatnya itu sendiri...

    dalam tulisan saya ini, ratting dinaf-i-kan, ditiadakan, alias tidak dianggap...
    pemodal, pengiklan pun sama begitu....
    kita naf-i-kan, anggap aja gak ada.

    pun nantinya, ketika TMO masih tetap ditonton, saya percaya jika masyarakatnya dewasa, nontonnya seperti cara pak Red-White Porridge ini.
    just for fun... gak masuk hati, apalagi membentuk kepribadian.... tayangan yang cuma lewat begitu saja.....

    untuk menjadikan penonton seperti itu dibutuhkan waktu yang panjang untuk edukasi, untuk penyadaran, untuk berproses dalam mempertimbangkan sesuatu...
    semoga tulisan ini menjadi bagian kecil dalam berproses ke sana.

    masalahnya tidak semua penonton seperti pak Red-White Porridge ini, ambil contoh tadi di atas : adek saya
    yang masih smp dan sma, cewek lagi...
    mereka belum memiliki pendirian....
    mereka belum memiliki pijakan yang kokoh akan dirinya.....
    tatkala tontonan tersebut dilihat, maka secara langsung ataupun tidak itu sudah berpengaruh pada alam bawah sadar serta fikirannya...
    buktinya : komentar mereka yang bikin hati saya miris, saat saya menonton....

    akhirnya saya coba jelaskan ke mereka....
    persis seperti opini yang saya tulis ini. dan mereka mendapatkan sudut pandang yang lain
    akhirnya mereka "walaupun" masih nonton acara tersebut : tentu dengan sudut pandang yang lebih "luas".... bahkan argumen2 serta komentar2 nya bisa menjadi lebih "dewasa" menurut saya....

    nah mungkin opini ini mengambil bagian di situ pak Red-White Porridge. BTW hatur nnuhun pisan komentarnya, perhatian anda juga yang lainnya, baik pro maupun kontra akan semakin mengupas sudut pandang yang lebih luas pada permasalahan ini.
    kopisusu 0 0
    ki baraja:
    thx nasehatnya. cuma semingguan lah ane merasa sedih. tidak ada sakit di hati. gak sedih dan gak kecewa, itu namanya robot, Pak . : D ....tapi ane gak memutuskan tali silaturahim dg keluarganya.

    ****

    btw, tulisannya ditembuskan ke KPI dan indo***, ya?
    ki baraja 0 0
    kopisusu: ke KPI saya tulis 2 bulanan yang lalu, pas awal2 baru ada TMO, kalo gak salah 2 episode tayang....

    lewat koment yang tersedia di web dan lewat SMS

    kemarin mau saya tembuskan tulisan ini, web nya mati, error, gak bisa diakses...
    suudhon saya sih ada yang "ngehek" sama hacker gara2 ungkapan KPI yang larang siaran langsung persidangan...

    tak tahulah....

    yang pasti saya belum buka lagi web nya KPI,
    juga belum ditembuskan ke indosiar...

    nanti saya coba.
    entahlah, saya juga rada2 khawatir dengan kasusnya : prita mulyasari
    jangan2 opini kontra atau tidak setuju ini malah menjadi bumerang buat diri saya sendiri, yang bisa saja dianggap produser TMO juga pemilik televisi kalau saya sedang mencemarkan nama baik mereka : ((

    wah, repot kan kalau begitu?
    ki baraja 0 0
    kopisusu: sekedar berbagi, saya tidak pacaran...
    pas niat dihati mau menikah sudah "kuat", yang saya lakukan adalah mendatangi orang tua dari perempuan yang saya kenal.....(*awalnya)
    tiga kali melamar ke orang tua...
    dengan mendapat jawaban yang sama dari putrinya : "ingin mengenal dulu" alias pacaran...

    maka semuanya saya tinggalkan....

    terakhir dengan yang jadi ini, saya tidak kenal namanya, tidak tahu rupanya, belum pernah ketemu...

    hanya memang saya kenal sama orang tuanya (bapaknya), saya percaya dengan kejujurannya
    dan sikap sederhananya dalam menghadapi kehidupan... maka dengan cara yang sama seperti sebelumnya yang saya lakukan adalah : melamar putrinya.....

    oh, ya sekedar info tambahan : si bapa itu punya putri lebih dari satu, dan kalau dilihat dari umur sudah pada layak menikah (umurnya rata2 cuma beda 1 tahun)...ada 3 orang...

    saya cuma tahu sebatas, bapak itu punya bayak anak perempuan....
    dengan anak2 nya sendiri, saya tidak kenal...

    pasa saya mengajukan lamaran, maka yang dia panggil untuk ditanyai adalah anaknya yang paling tua yang belum menikah...

    dan tau jawabannya?
    kami ketemu malam itu, kenalan, langsung lamaran... 3 hari berikutnya kami menikah....

    malam pertama canggung, kenalan...
    minggu pertama sampai bulan2 di tahun pertama masa2 indah kami pacaran....

    sekarang kami sudah dikaruniai seorang anak
    dan kami bersyukur atas apa yang telah Tuhan berikan untuk kami....

    segala keterbatasan yang kami dapatkan, tetap merupakan kenikmatan bagi kami.

    *maaf bukan dalam rangka pamer, semoga ini menjadi inspirasi. Kalau berniat adik ipar saya masih ada tuh 4 orang lagi : D, cewek semua...

    *syaratnya cuma "niat".
    Ning 0 0
    ki baraja: Pacaran setelah menikah... saya setuju
    Disekeliling ki baraja: ada berapa persen yang seperti ini? Terutama dikota besar masihkah kita bisa menasehati ini?
    ki baraja 0 0
    bu Ning, maafkan saya. saya tidak sedang berniat menasehati orang lain...

    cukuplah menasehati diri saya sendiri...
    tapi jika orang lain ikut belajar dan mendapat hikmah, maka baginya adalah bagian yang harus ia dapatkan.. ya ilmunya, ya ganjarannya...

    disekeliling saya jelas "akan kesulitan" untuk menularkan nasehat seperti yang saya tulis
    *kalau bu ning anggap itu nasehat : p

    minimal kita mulai dari diri kita, kemudian ke keluarga, toh nanti tetangga, kerabat, dan teman yang kenal dengan kita akan melihat dan menilai apa yang saya lakukan...

    temen2 yang kenal dengan saya, mereka tidak percaya, jika rumah tangga bisa diwujudkan dengan cara2 seperti yang saya tuliskan...
    tetapi ketika melihat kenyataan keluarga yang saya bangun melalui/menempuh jalur seperti itu maka mereka tidak bisa membantahnya...

    dan malah mereka menjadi respek juga hormat
    bahkan mencoba untuk mengikuti cara2 tsb.
    kopisusu 0 0
    ki baraja: om, ane juga langsung lamar gak pake pacaran .....
    wong orangtuanya sendiri minta dicarikan calon untuk putrinya.... ada ustadz yg nawarkan ke saya, saya lamar. jadi deh....
    menghitung hari....malah dibatalin ama calonnya, karena merasa belum siap....padahal sih waktu diawal-awal gak masalah dg saya yg bukan ahli ilmu dan hartawan : )

    itu semua ane kembalikan ke Tuhan...biar gak terlalu kecewa...toh hati semua manusia ada digemgaman-Nya. : )

    oh iya, ane jg anti pacaran lho ....soalnya klo pacaran hanya yg bagus2 aja yg diliatkan...dan kata orang2 tua, cinta itu timbul HANYA setelah akad nikah, ini gw percaya betul.

    malah jadi curhat nih : D
    ki baraja 0 0
    kopisusu: ya, udah berapa kali melakukan itu?
    maksud ane udah berapa kali ditolaknya?

    saya 3 kali ditolak hehehe...
    yang keempat alhamdulillah terkabul.

    *adek saya gak berpendidikan (gak sekolah), cuma SD tho... heheh
    kami dari keluarga yang secara ekonomi terbatas..
    keluarga besar....

    istri saya pun ketika saya lamar pekerjaannya pembantu rumah tangga (babu).

    tapi yang membuat saya bahagia dan senang, keluarga mereka pandai bersyukur...

    silahkan jangan hentikan berusaha, kalau sudah mentok boleh datang ke keluarga saya..
    siapa tahu jodoh anda ada di sana? hehehe...
    kopisusu 0 0
    ki baraja: saya baru sekali,ki.

    waktu saya ceritakan ke teman, langsung mereka pada simpati dan ngasih "CV" perempuan yg siap nikah...sayangnya, sya msih ingin nenangkan jiwa dolo : D

    hikmahnya usaha untuk nikah, sya bisa selesaiin kuliah yg udah telat setahun, semangat lulus karena ingin nikah : ))

    harusnya minggu pertama desember ini akadnya...hikshiks

    saya di Sby ki .... : D
    krisnov 0 0
    Turut prihatin.............tapi suguhan-suguhan seperti itu akan terus ada selama masih didukung sama yang namanya demokrasi, HAM, liberalisme dan Kapitalisme.....he..he..he...buah dari sekulerisme yang masih diagung-agungkan oleh mayoritas pemeluk beragama.
    ki baraja 0 0
    krisnov: terserah anda bu, mau dihubung2kan mau dikait2kan dengan apapun bisa saja...

    tulisan ini cuma sebagai bagian kecil dari kontribusi memberikan sudut pandang yang berbeda atas acara tersebut.
    ki baraja 0 0
    kopisusu: hehehe, sby-bdg kan deket.

    hahah, dulu saya juga telat lulus...
    dan persis, cepet2 beresin kuliah karena pengen cepet menikah : D : ))

    *tapi simpan saja gelar nya di lemari sebagai bentuk pertanggungjawaban ke ortu dan dokumentasi heheh....

    lamaran, jangan bawa2 itu ya : D, nakutin.

    ki baraja 0 0
    *ya semoga segera tenang jiwanya : D

    goncangan psikologis lebih dahsyat daripada goncangan gempa : D, bisa edan masalahnya...
    kopisusu 0 0
    ki baraja: [*tapi simpan saja gelar nya di lemari sebagai bentuk pertanggungjawaban ke ortu dan dokumentasi heheh....
    lamaran, jangan bawa2 itu ya : D, nakutin.]

    betul......kemarin saya cuma niat untuk menyeimbangkan pendidikan dg istri. biar istri tidak malu klo memperkenalkan suaminya..... selain pertanggunjawabn ke ortu

    [goncangan psikologis lebih dahsyat daripada goncangan gempa : D, bisa edan masalahnya... ]
    : ))
    ki baraja 0 0
    kopisusu: sudah siapkah jika ternyata pendamping hidupmu wanita yang tidak berpendidikan ? (tidak sekolah) ?
    sudah siapkah jika istrimu ternyata orang yang "bodoh", gak intelek, ...?

    sudah siapkah jika pendamping hidupmu ternyata berprofesi yang banyak dinilai orang sebagai pekerjaan yang kotor/hina, pembantu rumah tangga misalnya...EKSTRIM nya PSK alias Pekerja seks komersial ?

    sudah siapkah jika ternyata istrimu dari keluarga yang miskin/fafa, terbatas secara ekonomi (harta) ?

    sudah siapkah, jika ternyata pendamping hidupmu bukan wanita yang rupawan ???

    sarat apakah, yang anda ajukan kepada calon istri anda untuk anda "nilai" layak melewati rintangan, dan cocok untuk menjadi istri?

    ===== maaf gak usah dijawab di sini ====
    silahkan dijawab dengan sanubari sendiri
    jawabannya tidak harus diketahui publik : D

    pertanyaan2 itu penting, menurut saya...
    setidaknya, itulah pengalaman saya..
    saya harus mempersiapkan diri, minimal yakin tidak menyesali ketika jawaban2 dari pertanyaan itu terjadi.....

    *cukup untuk instrosfeksi, semoga bisa menjadi motivasi.
    kopisusu 0 0
    copy dolo pertanyaannya , mau direnungkan : D
    ki baraja 0 0
    kopisusu: belum lagi tantangan dan fakta bahwa menikah adalah menyatukan 2 kultur dan budaya yang berbeda : ))

    susah?, ah... pengalaman saya sih gampang : ))
    tapi fakta membuktikan banyak yang gagal

    *what's wrong ?
    Ning 0 0
    ki baraja: [..maaf gak usah dijawab di sini..]
    Biarin dijawab sajalah, kan masih sesuai kontek tulisan ini, bila untuk kebaikan saya akan menganggapnya sebagai nasehat.
    Yang saya ketahui dalam memilih istri ada petunjuknya yakni karena kecantikannya, karena kekayaanya atau karena ilmu agamanya.
    Tidak disebutkan bagaimana kelakuannya, jawaban saya "setelah wanita itu menjadi istrimu, maka tanggung jawab suamilah untuk mendidiknya menjadi baik".
    Maka saya juga tidak setuju dengan petunjuk bibit, bebet dan bobot.
    ki baraja 0 1 tidak suka |
    Ning: itu dalil atau hadis bu ?

    bagi saya keterangan seperti itu sah-sah saja, tapi sumpah : saya tidak mendukung alasan itu menjadi pondasi dan persepsi awal bagi pemuda yang mengazamkan/berniat untuk menyegerakan menikah.

    *apa bedanya alasan itu dengan TMO ?

    - baca lagi komentar saya tentang kasus2 artis yang rumah tangganya berantakan. Kurang apa mereka?

    begini bu :
    menikah "pertama kali" itu adalah inisiatif dan pencapaian "kesadaran" seorang laiki-laki...
    jadi seorang laki2 ukuran "sareat" pencapaian "kesadaran diri" tertingginya adalah pada saat dia berniat menikah kemudian menunaikannya..
    jadi nikah itu "point reward" untuk laki2....
    (menyempurnakan iman, keyakinan)

    bu Ning, bilang gini :
    [Yang saya ketahui dalam memilih istri ada petunjuknya yakni karena kecantikannya, karena kekayaanya atau karena ilmu agamanya]

    ini petunjuk menyesatkan bu : D
    bagaimana nasib yang tidak cantik?, bagaimana nasib yang tidak kaya?, bagaimana nasib yang ilmu agamanya minim ?
    haruskah mereka "tereleminasi" dari kandidat segera menikah ?, seperti take Me Out saja?

    Bukan disitu letaknya bu....
    Menikah itu "makom" pencapaian tertinggi seorang laki-laki, ketika dia sudah mencapai "tempat" atau "posisi" keyakinan yang "mantap", kokoh, full....
    maka alasan2 tadi tidak menjadi pertimabngan
    baginya : siapapun pendamping hidup yang dikaruniakan oleh Tuhan, adalah "nikmat" terbaik baginya. tidak peduli rupanya, tidak peduli kekayaannya, tidak peduli keilmuannya (termasuk ilmu agama, juga pendidikan)

    karena dititik tersebut, seorang laki2 melihat ke dalam... melihat ke dirinya sendiri...
    melihat pada tanggung jawabnya, melihat pada kerelaanya, melihat pada kesiapannya...

    bukan melihat siapa calon istrinya : D
    Ning 0 0
    ki baraja: Itu Hadist.... ini saya copas,
    Rasulullah SAW bersabda :
    "Perempuan itu dikawini atas empat perkara, yaitu: karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, atau karena agamanya. Akan tetapi, pilihlah berdasarkan agamanya agar dirimu selamat."
    (H.R. Bukhari dan Muslim)
    Ning 0 0
    ki baraja: [..haruskah mereka "tereleminasi" dari kandidat segera menikah..]
    Tereleminasi karena ada yang lebih baik adalah manusiawi, maka sebagai perempuan juga harus meningkatkan martabatnya, tidak hanya duduk diam menunggu dilamar tanpa menghias diri, tanpa belajar, tanpa bekerja, dst..
    Kecantikan juga relatif, jadi yang cantik di Medan mungkin tereleminasi bila di Jakarta, makanya aku lebih suka di Medan saja... hehe
    ki baraja 0 0
    Ning: hehehe...
    bagus lah, bu Ning melihat dari sudut pandang perempuan....
    saya melihat dari sudut pandang laki2...
    memang "berbeda" penglihatan kita, namun semoga sama pada hakita kebaikan yang dituju

    semua manusia "sama kedudukan" dihadapan Tuhan, kecuali "keimanan" nya.

    tidak peduli rupanya, hartanya, keturunannya, pendidikannya, .... "TIDAK PEDULI"....

    ini yang saya pegang dalilnya bu.

    *betapa malangnya yang dilahirkan di papua? keturunan aborigin?, keturunan afrika ?

    dan sekali lagi lihat :
    bagaimana kurang cantiknya cici paramida, desy ratnasari, tamara blezenki, sarah azhari....
    apakah saya harus menambah sederet panjang nama2 yang "disebut" cantik ?...

    *mereka gagal membangun rumah tangga.
    ki baraja 0 0
    edit :

    memang "berbeda" penglihatan kita, namun semoga sama pada hakikat kebaikan yang dituju
    neilhoja 0 0
    ki baraja: lagi di kairo mas.... mohon doanya ya. : )
    krisnov 0 0
    neilhoja:

    Iya tak do'ain semoga ketemu jodoh di sono, jangan lupa oleh olehnya...he..he..he..
    ki baraja 0 0
    neilhoja: oh, jauh sekali perjuanganmu pak...
    selamat berjuang di sana.
    neilhoja 0 0
    ki baraja: "ini petunjuk menyesatkan bu"

    bagaimana hadis rasul dibilang menyesatkan?

    tapi saya lihat, rasul tidak sedang memberi petunjuk, tapi cuma memberikan gambaran.. liat saja dari matan (teks) hadisnya yang berbentuk khobar (berita) dan bukan amar (perintah/petunjuk), kecuali untuk kalimat terakhir...

    "li diniha..." (karena agamanya) di sinilah petunjuk Rasul berperan.

    beragama, tidak selalu pintar ilmunya.. dan berilmu tidak selalu soleh beragama.
    neilhoja 0 0
    krisnov: hehe ... iya, makasih doanya. oleh2 apa nih? : D

    ki baraja: heu heu... belum jadi pak. makasih .. sama2 kita gan.. berjuang untuk kebangkitan umat. : D
    ki baraja 0 0
    neilhoja: ya, karena dengan hadis tersebut orang jadi "kehilangan makna" hakikat menikah dan mencari pendamping hidup.

    ukuran2 sareat/lahiriah/material tidak bisa menjadi pondasi sebuah bangunan rumah tangga (pernikahan). Maka pencarian jodoh (pasangan hidup) dengan berpedoman pada hadis tersebut aku bilang "menyesatkan".

    sekali lagi, lihat contoh :
    - pasangan para selebritis
    - Hj. Lutfiah sungkar kurang apa coba? :

    http://www.indosi…-cerai-lagi-

    mau dilihat dari sisi manapun : rupa, keturunan, harta, bahkan AGAMA... lutfiah sungkar tidak kekurangan faktor yang disebutkan hadis.

    malah sepertinya jadi hobi kawin cerai, kawin cerai tuh ..... inget pak, kasus tersebut sampel probabilitas yang tidak bisa menghapus kemungkinan bahwa parameter2 hadis yang anda ajukan memang "menyesatkan" dan tidak terbukti. terbantahkan dengan banyaknya kegagalan rumah tangga padahal parameter pemenuhan pokok hadis sudah diikuti.

    emang hadis wajib diikuti?, buat gua dalil tersebut gak akan gua ajarkan sama sodara2 gua, keluarga gua, hanya menjadikan mereka matre. gak jauh beda dengan kaum "hedonis" cuma sok-sok an aja dibalut/berkedok agama.

    Silahkan login untuk memberikan pendapat