Take Me Out Tayangan yang tidak mendidik ! 128
Minggu, 15 Nov '09 01:09
sudah lama ingin menulis ini, tetapi baru sempet sekarang. tergugah dengan tulisannya amanda tentang persepsi ukuran kesuksesan wanita maka saya teringat kembali keinginan untuk membuat atau mengkritisi sebuah tayangan yang "maaf menurut saya tidak layak".
Tayangan ini sudah saya kritisi ke KPI, melalui web nya dan melalui no telp SMS nya sudah saya laporkan beserta alasannya, mengapa tayangan ini tidak mendidik?. alih2 dihentikan, tayangan ini malah semakin gila, dengan membungkus tayangan dibumbui "ustad cinta" yang "notabene" bagi saya hanya merupakan bumbu kamuflase untuk "membenarkan" apa yang mereka lakukan dan tayangkan dengan menambahkan polesan "kedok" agama.
Kita harus akui jika mental dan moral bangsa ini diambang kehancuran (kebobrokan), dimana nilai2 kejujuran dan tanggung jawab menjadi sesuatu barang yang amat langka dan terlalu mahal harganya, sehingga korupsi yang jelas2 menghancurkan bangsa ini secara aklamasi "diakui" sebagai bagian dari budaya masyarakat indonesia. Lalu apa hubungannya dengan tayangan take me out ?, sangat erat sekali : sehubungan dengan komitmen kita dalam membenahi SDM anak bangsa yang berbudaya dan berjati diri, take me out seharusnya menjadi tayangan yang memberikan pendidikan positif "bukan semata2 hiburan" yang memprofokasi anak muda yang belum menikah untuk "mencontoh" cara2 menentukan jodoh seperti yang ditayangkan oleh "take me out".
Karena diakui atau tidak, Tayangan take me out akan mempengaruhi persepsi dan pola fikir generasi bangsa ini. Ah, kan banyak juga tontonan lain semacam sinetron yang sama2 tidak mendidik ?
Saya khusus mengkritisi tayangan take me out karena "menyerang" sendi-sendi moral dan pendidikan yang menyangkut PONDASI pembangunan SDM yang berkualitas, yang berbudaya, yang bertanggung jawab.
Sedangkan sinetron2 tetap merupakan tayangan2 yang harus dikritisi juga, yang tidak membuka ruang publik pendidikan yang bagus kepada generasi muda, tetapi kadar serangannya tidak akan "terlalu" dahsyat seperti efek "take me out", namun tetap harus kita awasi dan kita kritisi.
Menikah adalah sebuah "pencapaian yang sakral", gampang2 susah, susah2 gampang untuk merengkuhnya. Persepsi, visi, misi, kesadaran dan keyakinan diri menjadi pintu pencapaian mahligai pernikahan. Dalam berbagai agama "pernikahan" merupakan "perikatan sakral" yang menjadi simbol pencapaian KESEMPURNAAN kehidupan seorang(dua) anak manusia. Kesiapan keduanya merupakan ikrar kesiapan mengikat untuk saling "bertanggung jawab" dan "saling berlapang dada menerima" kelebihan dan kekurangan apapun dari pasangan hidupnya.
Menikah adalah gerbang pertama dalam membangun rumah tangga, membangun keluarga. Sedangkan keluarga merupakan pondasi lingkungan terkecil yang diharapkan memberikan kontribusi positif terhadap pembangunan bangsa.
Bisa dibayangkan jika keluarga indonesia banyak yang seperti pernikahannya (maaf mengambil contoh) : cici paramida?,Kurang apa mereka?, umur sudah lebih dari dewasa ?, pendidikan apakah masih kurang ?, harta berlimpah, mobil mewah, rumah sendiri, ketenaran (artis), popularitas.... apakah jadi jaminan sebuah rumah tangga yang harmonis?. Nikah di mekkah al mukaromah, dihadiri orang2 saleh... di tempat yang suci.... apa itu jaminan ? [*maaf mba cici, kejadian yang menimpa rumah tanggamu biar menjadi cermin dan pelajaran bagi yang lai]
Boro2 membangun sebuah keluarga yang bisa memberikan kontribusi positif bagi pembangunan bangsa, yang ada sibuk dengan rumah tangga yang "amburadul"
Maka jangan berharap banyak pada perbaikan SDM anak bangsa melalui lingkup kecil keluarga, jika komitmen kita dalam mengawal "pewujudan pembangunan keluarga(menikah)" seperti yang ditayangkan oleh acara Take me out.
Kenal lama melalui pacaran bukan jaminan pernikahan akan lancar2 saja, karena ujian dan cobaan dalam mahligai rumah tangga datang dari berbagai arah...
Saling mengenal bukan jaminan untuk lulus ujian..
Gelar sarjana juga bukan jaminan untuk lulus rintangan...
Banyak harta, popularitas, kecantikan, ketampanan, dll... malah hanya akan menjadi pintu tambahan ujian dalam mengarungi "rumah tangga"
Jadi sangat menyakitkan dan sangat mengkhawatirkan bagi saya, ketika melihat tayangan "take me out" yang mengadang2 para perawan dan perjaka ada juga sebagian janda dan duda... yang dengan "pongah" nya mencari pasangan melalui take me out. Komentar tidak suka, komentar suka, cara perkenalan (dating), sungguh menyajikan tayangan yang membuat hati ini miris, benarkah sudah sebobrok ini mental anak bangsa?, ciuman, pelukan, kemesaraan... bukannya tidak boleh ditunjukan, tapi siapa yang mempertontonkan dan dimana dipertontonkan juga pada siapa dipertontonkan menjadi pertanyaan besar...
oke lah jika : sudah suami istri, silahkan...mesara2 an sun sun an...peluk2 an mesra2 an, dan tidak ditayangkan di televisi....
Ini televisi men !!!, semua orang bisa lihat, dari anak bau cikur sampe aki2 bau tanah bisa lihat. Maka tayangan take me out membuat persefsi yang menyesatkan bagi anak bangsa dalam mencari pasangan hidupnya....
Ukuran RUPA, HARTA, dan KEDUDUKAN disamping juga TINGKAT PENDIDIKAN menjadi standar mereka kelak dalam mencari pasangan. dan yang tidak kalah mengerikan adalah bahwa gaya "pacaran" atau "mengenal pasangan" dengan pendekatan "seperti itu" menjadi sesuatu yang lazim, lumrah, dan sangat biasa : NAUDZUBILLAH.....
Pantas saja rekaman2 video sex bebas merajalela dari handphone ke handphone, dari komputer ke komputer, dimana para pelakunya kebayakan masih ABG, sekolahnya masih SMP, masih SMA, jika pada diri sendiri saja nilai kehormatan dan tanggung jawab sudah tidak diutamakan... bagaimana kita berharap mereka memberikan kontribusi tanggung jawab dan kehormatan terhadap martabat bangsa?
Memang gempuran budaya ini sangat "dahsyat" dari sana sini, pornograpi sebelum dan sesudah acara take me out pun tetap menjadi ancaman besar, tapi tolong : please deh... sama produser dan juga penanggung jawab acara "take me out" apa kalian gak ada ide lain lagi selain mengadopsi acara tersebut?
itu acara kan awalnya dari amerika sono, yang jelas2 latar budaya dan sosialnya sangat berbeda dengan Indonesia, tolong hentikan acara itu......
Kalian membuat tayangan yang tidak memberi solusi pada perbaikan mental dan moral anak bangsa.
Menikah itu butuh pondasi utama kesiapan tanggung jawab dan kerelaan menerima kelebihan dan kekurangan dari pasangan hidup kita. RUPA, HARTA, TAHTA/KEDUDUKAN, PENDIDIKAN, dan nilai2 materi duniawi lainya SANGAT TIDAK MENJADI JAMINAN sebuah mahligai rumah tangga akan berhasil. Lihat sebagai cermin : rumah tangganya para selebriti (artis) Indonesia, mereka pacaran dan saling mengenal lebih dari cukup, berpendidikan, rupawan (cantik2, ganteng2), kaya,... dan kemewahan2 lainnya... TAPI LIHAT !!! mereka gagal !!!
*selain yang saya contohkan, masih banyak yang lainnya. pada tau kan?
semua foto-foto saya ambil dari sini.
Tag: media watch
Terkait:
-
Perlu Menghidupkan Lagi Penataran P4?
Senin, 22 Feb '10 00:31 -
Legenda Sengkon dan Karta
Sabtu, 20 Feb '10 23:30 -
Busana
Sabtu, 20 Feb '10 12:28
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
muhammad abdullah al amin: Penting
-
cleoparti: Penting
-
anianjani: Biasa
-
iwan ardiansyah: Menarik
-
Agus PW: Bagus
-
Veuillez entrer: Keren
-
wardi: Bagus
-
TruthSeeker: Penting
-
Bocah nDeso: Keren
-
mbeling: Keren
-
daengrusle: Menarik
-
curiosity: Penting
-
Esemge: Menarik
-
matriphe: Penting
-
yusro: Menarik
-
Ibnu Muslim: Menarik
-
conscientizacao: Biasa
-
Harlan Eryandi: Penting
-
ambu: Penting
-
Herman Saksono:
-
immortal combat: Penting
-
neilhoja: Penting
-
NOS: Menarik
-
Harrie: Bagus
-
punkdhut:
-
LCFR: Menarik
-
tejo: Penting
-
boiga: Keren
-
gobaksodor: Penting
-
kopisusu: Menarik
-
Red-White Porridge:
-
eureka: Lucu
-
krisnov: Bagus
-
Viator: Penting
-
ipool: Menarik


KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
1. takut nggak bisa nafkahi
2. takut gak bisa rumahi
3. takut nggak bisa bahagiain
4. dan takut2 lainnya...
kalian harus belajar dan survey ke komunitas kumuh seperti di lokasi pembuangan sampah bantar gebang misalnya.
di sana mereka hanya pemulung !!!
di sana mereka bukan orang2 terpelajar !!!
di sana mereka makan seadanya !!
di sana mereka tidur seadanya !!!
tapi buat mereka hal itu tidak menjadi halangan untuk menikah, banyak pasangan yang hidup "membahagiakan diri mereka" dengan berbagai keterbatasan nya di sana.
lalu kalian kurang apa?, sudahlah... bulshit itu pacaran2 lama2.... ngejar karir, ngejar gaji, ngejar sesuatu yang tidak jelas !!!
akui saja kalau kalian itu "pengecut", tidak berani dan tidak berniat untuk segera memikul kepercayaan dan tanggung jawab, tidak siap rela menerima kenyataan kekurangan pasangan hidup kalian kelak.....
manusia tidak ada yang sempurna men !!!
Komen ini khusus dipersembahkan untuk soodaraku bung cibro
kalau untuk abu ghazi beda kasusnya boss, ente niat gak menyegerakan menikah?, kalau niat ubah segera perangai mu. Wanita terlalu takut dengan model perangai seperti dirimu, atau kecuali status bujangan yang ente publish di internet palsu padahal kenyataannya sudah berkeluarga itu lain lagi ceritanya
gimana tanggapan sampeyan terhadap acara take me out ini ??????
sementara tayangan tayangan konyol seperti sinetron2, variety show, dan show2 tidak mutu lainnya luput dari perhatian, termasuk take me out ini... wah memang gawat kalau dibiarkan ni acara
saya tidak siap memberikan harapan kepada anda untuk dipoligami
cuma gak pede....
gak suka nonton
gak tau
tapi memang kebanyakan tontonan di televisi sudah tidak bisa dijadikan tuntunan
siap siap film miyabi menghiasi layar kaca anda
kalo miyabi masuk tv nasional kita, wah
bagaimana tanggapan uda Ibnu Muslim dan budayawan sekaligus reporter kita bung l. wiji widodo
Klo bwt saya, take me out sering saya jadikan tontonan hiburan. Sumpah, klo nonton itu bareng temen2 biasanya dijadikan ajang cela2an, kocak soalnya
Sebenarnya sebelum acara take me out ini, sudah banyak acara2 tv sebelumnya yg juga bertujuan "cari-cari pasangan" namun mungkin kurang laris sperti tmo itu. Saya ingat banget ada tayangan seperti itu namun usia pesertanya lebih mudah. sama seperti tmo, dalam tanyangan ini juga biasa mengumbar kemesraan padahal mereka sendiri "ceritanya" baru ketemu beberapa jam atau bahkan menit. namun, mungkin karna tmo ini acara yg bener2 diadopsi dari luar negeri sono noh, makanya acaranya laris.
Kalo saya sendiri sih g bisa bilang acara ini harus dihentikan ato gimana, wong g mungkin laris klo masyarakat kita g suka dgn acara kyk ginian. Mungkin malah ada yg protes klo acara ini dihilangin (yg jelas bukan saya)!
Kita harus pinter2 aja dengan tontonan kayak ginian, misalnya, anak-anak g boleh nonton (tapi gimana y? klo ibu ato kakaknya ternyata nonton dan kebetulan tipi di rumah cuma satu!), dan untuk anak2 yang usianya remaja mungkin memang harus diberitahukan langsung dari orang tua cara bergaul yang benar seperti apa. Karna saya sangat percaya, klo peran orang tua terhadap sikap anak itu sangat besar walaupun lingkungan juga tetap berpengaruh terhadap sikap anak nantinya.
Busyet, gw berasa orang tua aj! Hahahahhh
ya oloh....
komen panjang berarti anda tertarik bu ?
*saya dukung deh, dari sini.
yang dulu2 jelas tujuannya : buat "senang2 alias have fun"... ya sutrah, silahkan karena jelas ambil posisinya maka saya tidak mempermasalahkan : dalam arti "jelas ngga beres"
kalau TMO tidak mengambil sikap setegas itu, acara ini "seolah-olah" beres, seolah2 bertujuam mulia : "berikhtiar mencari pasangan hidup"...PADAHAL... beracun nya minta ampun...
saya tidak bisa ridho melihat adik2 perempuan saya "cengegesan" saat nonton TMO, kemudian komentarnya bikin "hati ngilu"...
pasti "racun" tentang "mimpi" mendapatkan pasangan hidup itu sudah menebar juga di banyak remaja putri indonesia, mau jadi apa?
mimpi bagaimanapun melenakan, maka wajar jika banyak yang menggandrungi acara tersebut. habisnya "terlihat enak" menjalani kehidupan seperti itu.
lihat deh hari ini, esok, atau lusa, tontonan tersebut akan memberi bekas pada anak muda indonesia untuk pacaran, kencan, gaya, gaul, wah... gak jelas deh ujungnya .....
*siap2 aja nampung 3gp hasil rekaman HP
*ah, per-empuk-an..*
*ah, pernikahan dikomersialkan*
*ah, males lihat*
nulis disini juga gak tau bijimana efek kelanjutannya?, apakah protesnya samapai ke mereka?, apakah sama pengurus di politikana.com dikirimkan ke mereka?, daku tidak tahu pak...
daku hanya berharap, dengan ditulis disini sedikit ganjalan di hati sudah "tersalurkan" bonus tambahannya berharap "kritik" ini sampai ke mereka (TMO), kalo normalnya sih yaa minimal yang baca disini "warga politikana" sadar betapa bahayanya tayangan tersebut akan mempengaruhi persepsi generasi muda mendatang dalam menentukan calon pendamping hidupnya.
waduh...bener2 sudah salah kaprah neh, begitu juga Ustadnya...geli deh nontonnya *bener jika cuma buat seru2an doank...
*Ustad juga butuh Do iT
itulah yang membuat gwa semakin terdorong untuk "mengkritisi" acara tersebut.
karena memang bungkusannya "mau dipersepsikan bagus" sementara isinya jelas2 ini tidak bagus...
percis agama dijadikan "ganjal" buat jualan obat
ini udah gak bener bu.
kalau bungkusannya jelas2 : "have fun"
suka2, dating, seneng2, maksiat,
saya mungkin malah gak peduli, karena apa? masyarakat bisa menilai sendiri...
anak muda juga bisa menentukan, bahwa tayangan tersebut masuk dalam kategori hitam atau putih ?
lha TMO tidak demikian, bungkusnya putih isinya hitam, ini kan gak bener......
*ngaco*
Apa yang mereka jadikan ukuran dan acuan ...Kan Hanya Fisiknya saja Jelek atau ganteng ,pahanya mulus atau tidak ...kan gitu aja
*nunggu reaksi abu ghazi
emang pak, dah gak pake bungkusan lagi tuh kayaknya cewe2 nya
niat, visi, misi, tujuan, acara TMO ini kagak beres
ya, kalau yang mutunya yang lain, agak sedikit masih ada toleransi lah... karena menurut gwa masih banyak urusan2 dan hal2 penting lainnya yang lebih butuh perhatian ketimbang merhatiin setiap episode sinetron yang gak mutu...
kalau TMO agak fatal konsekwensinya bu, ini menyangkut "persepsi" "motivasi" "visi" seseorang dalam mencari pasangan hidup dan membangun rumah tangganya (nikah)
cara seperti itu sangat jelas : main2 dan mempermainkan.
padahal rumah tangga (keluarga) lingkup organisasi terkecil yang diharapkan menjadi pilar pertahanan sekaligus energi perubahan budaya bangsa menuju indonesia yang lebih baik. rumahku syurgaku....
keluarga yang "bermutu" akan menghasilkan "SDM yang berkualitas", dan mampu memberikan efek/energi positif terhadap perbaikan bangsa.
sorry : SDM berkualitas tidak harus berarti pendidikan tinggi, cantik, ganteng, kaya...
sudah terbukti yang ciri2 nya begitu lebih banyak yang jadi ahli KORUPTOR
Veuillez entrer: MUI nya nunggu didemo dulu kali?, atau memang nunggu masukan dari masyarakat dulu?
*entahlah....
bagaimana kalo kerja nyata politikana.com salah satunya ngepus MUI untuk memberikan perhatian (warning) pada acara TMO ?
Sekretaris LIA EDEN juga kolot
Dan kebanyakan para ustad pikiranya hanya sebelah pihak ...
Kemarin baru saja ke gereja Bukit Zaitun ternyata Gembalanya setuju menjalankan perintah tuhan secara Konsekwen eee malah jamaanya membenci Islam .....
itu mah ustad tambahan yang mempeparah sikon
sblum ada ustad juga sy sih dah gak setuju
Atau mau 'berkeringat' dengan Media Literasi?
Karena bagaimana pun yang disebut budaya tidak ada yang tidak baik, yang menyebutnya baik atau buruk..karena kita melihatnya dari sudut pandang kebenaran dari kaca mata kita.
Oleh karena itu bagi saya...bagi orang yang ingin mewujudkan aspirasinya itu...seharusnya dia punya kewajiban moral juga untuk menghormati hak orang lain, bahwa ada sisi masyarakat lain yang mungkin tidak suka, merasa itu tidak layak atau menganggu dll. ya..mungkin siapresiator tersebut harus memberikan batasan tertentu seperti siapa yang boleh menyaksikan tayangan tersebut dll.
Saya pribadi meyakini tidak ada budaya yang tinggi atau rendah atau juga yang buruk atau buruk...yang adalah bagaimana kita bisa menyelaraskan antara hak dan kewajiban kita dalam memahami setiap budaya.
saya bicara dalam kapasitas tayangan yang diharapkan memberi edukasi....
justru langkah awal pencarian yang seperti mas Esemge ini yang "berbahaya" untuk dipublikasikan. persepsi, visi dan motivasi yang melatar belakangi langkah awal seseorang dalam pencarian jodoh (menikah) seperti yang ditayangkan oleh TMO tidak memberikan jaminan pembentukan rumah tangga yang harmonis....
ingat : menikah sesuatu yang sangat serius...
TMO menjadikannya : main-main, games, permainan....
agak OOT, tapi menurut saya relevan :
ingat kearifan tradisi budaya leluhur kita yang mempersepsikan suatu wilayah hutan lindung itu angker?, pamali dan tidak sembarangan untuk beraktifitas apalagi menebang pohon?, harus melalui "juru kunci" jika ingin melakukan sesuatu ?, ... dengan dalih agama WARISAN KEARIFAN TRADISI ITU DIHANCURKAN ATAS DALIL BID'AH, SESAT, MUSYRIK....
apa yang terjadi sekarang ?
hutan, pasir, gunung : gundul, masyarakat lokal (setempat) tidak ada lagi rasa memiliki dan ingin menjaga, apalagi masyarakat pendatang (pengusaha). akibatnya : banjir, longsor, menjadi bagian kehidupan kita akibat dari ulah dan perbuatan kita sendiri yang "melanggar" kearifan "pamali", "larangan", "angker"...
apa hubungannya pamali, angker, larangan dengan tayangan TMO serta menikah?, adakah hubungan kausalitas ? ... jelas tidak ada....
tapi akan menjadi pelajaran sangat berharga jika kita mau menjadikan cermin kasus tersebut
lingkungan (alam) akan terjaga bila kita ada rasa hormat (menghargai) terhadapnya....
leluhur kita mengajarkannya dengan pamali.
menikah adalah sebuah tahapan yang sakral, serius, bukan main-main.
TMO menjadikannya "games", permainan, main2
Jelas ini akan merusak "kebaikan dan nilai positif" yang diajarkan melalui "menikah" sebagai sebuah tahapan "penyempurnaan" hidup seorang manusia di muka bumi.
TMO sedang menghancurkan tembok pamali tersebut, sudah terbukti alam sekitar kita hancur karena manusia sudah melanggar warisan karuhun melalui pamali. TMO sedang "menggampangkan" "merubah" "mempengaruhi" persepsi peserta sekaligus penonton dalam menentukan dan memilih pasangan hidup melalui permainan2 TMO.
lihat bagaimana mereka saling menilai?
lihat bagaimana mereka saling mengenal?
lihat bagaimana mereka saling berharap ?
tinggal menunggu waktu saja jika anak bangsa ini akan meremehkan "pernikahan", maka jangan berharap banyak pada lingkup keluarga (rumah tangga) sebagai komunitas terkecil pembangunan anak bangsa yang bagus.
plis, hentikan meremehkan "cari jodoh" lebih jauh "pernikahan", karena cara-cara seperti itu tidak memberikan jaminan pembentukan rumah tangga yang harmonis.
jika mau menjadikan tayangan yang mendidik, harusnya mencari "pelajaran" hidup bagi mereka yang belum menikah, bagi mereka yang mau menikah, yang sudah berumur lebih dari cukup tapi masih pikir2... buatkan mereka tayangan sebagai cerminan pelajaran, sebagai pembakar motivasi.... tapi yang bergizi....
contoh :
liput dan tayangkan profile rumah tangga pasangan yang kehidupan ekonominya terbatas, seperti para pemulung di lokasi TPSA bantar gebang misalnya?, bagaimana mereka yang tidak bependidikan (minim sekolah), minim ekonomi/minim harta, dan serba minim lainnya tapi saling ridho dan saling mau menerima kehidupan yang mereka jalani, dan tetap mau berjuang berikhtiar, tidak menyerah begitu saja pada kehidupan yang tertulis untuk mereka.
ini kan bisa jadi contoh persepsi dan motivasi bagi para perawan tua, bujangan tua, janda2, duda2, dan yang rumah tangganya sedang berantakan, bahwa perkenalan yang panjang atau pendek melalui pacaran tidak memberikan jaminan rumah tangga akan baik2 saja....
ketampanan, kecantikan, kemewahan, harta yang berlimpah, pendidikan yang tinggi, popularitas, ketenaran, semua itu bukan garansi bahwa rumah tangga akan utuh selamanya....
dan TMO dengan sangat jelas sedang mempertontonkan cara2 begitu dalam langkah awal pencarian jodoh...
jika "menikah" sudah diremehkan, maka saya sudah tidak melihat lagi basis (pondasi) pembangunan karakter anak bangsa yang berkepribadian dan berjatidiri melalui lingkup kecil keluarga/rumah tangga.
saya prihatin, karena menyaksikan sendiri akibat dari tontonan itu. Minimal komentar yang tercetus saat mereka menonton, apakah hanya komentar saja?....
apakah cuma ketakutan alias phobia saya semata jika komentar2 mereka kemudian mengkristal penjadi sebuah pandangan hidup (persepsi juga visi) ?
*wah gantengnya ?
*wah cantiknya
*wah mukanya jelek, pasti gak terpilih
*wah manajer ?
*wah kaya ....
*wah mobilnya cooy...
*wah pendidikannya ....
media watch, seperti yang politikana.com bilang
kontrol sosial lah yang saya kira perlu, entah bagaimana caranya saya juga belum terfikirkan, yang paling sederhana mungkin bagi saya ya melalui opini dan tulisan di media ini....
mungkin temen2 lain bisa membawanya ke diskusi2 ruang kelas misalnya bagi mereka yang berprofesi guru, ke keluarga.....
lembaga sensor dulu banyak diprotes karena tidak memenuhi rasa keadilan, saya kira sekarang saatnya kontrol sosial berlaku...
perlu upaya untuk tidak mendiamkan begitu saja tayangan tersebut...
dan selemah lemahnya perjuangan kontrol/perlawanan ya dengan menulis di sini.
semoga tulisan ini banyak di baca orang, dan sedikitnya memberikan sudut pandang yang berbeda dengan acara tersebut.
saya tidak ada kuasa untuk menghentikan acara tersebut, alih2 berhasil saya malah percaya bisa berurusan dengan hukum kalau ngungkit2 acara tersebut secara prontal....
makanya saya menulisnya di politikana.com
ini sebagai bentuk upaya saya menggunakan hak kebebasan saya beropini untuk melihat TMO dari sudut pandang yang berbeda.
toh, saya tidak yakin dengan saya menulis ini TMO otomatis dihentikan...
toh, saya juga tidak yakin kalau tulisan ini kemudian diperhatiakn oleh mereka...
sama seperti yang bu MFH katakan mereka akan memposisikan saya sebagai orang yang bebas menanggapi, bebas beropini.
jika boleh saya memberi batasan, kenapa saya mengapresiasi TMO tidak mendidik :
"jangan meremehkan, jgn jg mempersulit"
hormati "menikah" sebagai sebuah tahapan yang harus dilalui dengan sepenuh hati, bukan dengan cara main2 seperti itu.
wejangan?,
Dalam penayangan tmo banyak 'kemesraan', emang semua acara tv skr gt kan? nyerempet2 dan tidak mendidik. Pelukan, cipika cipiki, tamparan, dsb. Jadi kalau mau dilaporkan ke KPI kayknya semua acara bisa terseret. Masalah acara tmo yg tidak mendidik, kyknya acara tv kita banyak tidak mendidiknya.
Jadi bukan hanya tmo yang kurang bagus untuk ditonton, tapi kebanyakan acar lainnya juga perlu diperbaiki. Tapi kalau kata produser sih..yang penting rating, mendidik atau tidak urusan masing-masing.
kalau berharap lembaga sensor khusus sudah tidak jamannya lagi....
kontrol sosial lah yang harus di dorong dalam melakukan "media watch"....
dokumentasikan semua acara2 yang tidak mendidik....
jika mereka bebas menayangkan...
kenapa kita ngga bebas mengkritisi dan menanggapi ?
tulisan ini sebagai bentuk perlawanan yang paling mungkin bisa saya lakukan saat ini
sepertinya, hanya tulisan yang bisa mewakili kegelisahan kita..
tapi seperti kata pepatah, semua lilin boleh padam, tapi jangan pernah kau padamkan lilin harapan..
untuk indonesia yang lebih baik.
emang lagi di negri mana?
menjadi pribadi timur yang tergerus, mengejar barat setengah hati, akhirnya kehilangan identitas dan jatidiri, kebingungan bertanya :mau ngapain?
seperti tulisan di politikana.com ini.
*lagi mikir buat kopi paste ke mana2, ah, entahlah..
kalau dimasukan ke kompas gimana?, ada yang bisa bantu ?.. silahkan dicopy paste, diedit, disusun ulang untuk membentuk formulasi tulisan yang menarik untuk sebuah opini berkelas yang akan dimasukan ke surat kabar...
apakah bung yusro bisa bantu ?
saya bukan penulis soalnya, bagi saya tidak penting dan tidak jadi soal opini tentang hal ini mau diajukan oleh siapapun... yang penting TMO mendapatkan perhatian dari sisi yang berbeda.... selain para penggemarnya...
tentu ada kita yang mengungkapkan kegundahan, kerisihan, bahkan ke-jijik-an terhadap acara tersebut......
ada yang mau masukin kompas?, MI?, dll...
ayo kita perang peradaban, dengan perang pemikiran.... gerak...gerak...gerak....
*saya sudah memulai dengan tulisan ini, semoga bisa menjadi pemantik.
lihat organisasi pengedar : khilafah, kok iya dibiarkan saja?, ayo kita cari saluran untuk melaporkan dan menindaklanjuti ini, mereka jelas-jelas tidak mau mengakui hukum positif yang berlaku di negri ini, lebih berbahaya dari aliran yang dianggap sesat seperti : ahmadiyah, atau lia aminudin. faham khilafah seperti HTI menurut gwa sudah meneror dengan bentuk ancaman yang berbeda......
mereka bahkan menganggap jika negri ini kafir murtadin !!!, yang berhukum di dalamnya dianggap kesesatan luar biasa....
ini kan mengkhawatirkan?...
Ki Baraja...sy kenal teman2 Ahmadiyah dan Lia Aminuddin...mrk mengakui NKRI, Pancasila dan UUD, taat dan setia kepada negara walaupun dizalimi/diabaikan hak2nya....jd sangat salah mereka distigmakan sbg sesat krn disamping menyakiti hati mereka jg kesesatan beragama/berkeyakinan yg tahu hanya Allah..
lihat organisasi pengedar : khilafah, kok iya dibiarkan saja?, ayo kita cari saluran untuk melaporkan dan menindaklanjuti ini, mereka jelas-jelas tidak mau mengakui hukum positif yang berlaku di negri ini, lebih berbahaya dari aliran yang dianggap sesat seperti : ahmadiyah, atau lia aminudin. faham khilafah seperti HTI menurut gwa sudah meneror dengan bentuk ancaman yang berbeda......
mereka bahkan menganggap jika negri ini kafir murtadin !!!, yang berhukum di dalamnya dianggap kesesatan luar biasa....
ini kan mengkhawatirkan?...
Ki Baraja...sy kenal teman2 Ahmadiyah dan Lia Aminuddin...mrk mengakui NKRI, Pancasila dan UUD, taat dan setia kepada negara walaupun dizalimi/diabaikan hak2nya....jd sangat salah mereka distigmakan sbg sesat krn disamping menyakiti hati mereka jg kesesatan beragama/berkeyakinan yg tahu hanya Allah..
lihat organisasi pengedar : khilafah, kok iya dibiarkan saja?, ayo kita cari saluran untuk melaporkan dan menindaklanjuti ini, mereka jelas-jelas tidak mau mengakui hukum positif yang berlaku di negri ini, lebih berbahaya dari aliran yang dianggap sesat seperti : ahmadiyah, atau lia aminudin. faham khilafah seperti HTI menurut gwa sudah meneror dengan bentuk ancaman yang berbeda......
mereka bahkan menganggap jika negri ini kafir murtadin !!!, yang berhukum di dalamnya dianggap kesesatan luar biasa....
ini kan mengkhawatirkan?...
Ki Baraja...sy kenal teman2 Ahmadiyah dan Lia Aminuddin...mrk mengakui NKRI, Pancasila dan UUD, taat dan setia kepada negara walaupun dizalimi/diabaikan hak2nya....jd sangat salah mereka distigmakan sbg sesat krn disamping menyakiti hati mereka jg kesesatan beragama/berkeyakinan yg tahu hanya Allah..
*balikin aja deh : kalo emang berani silahkan tunjukan dengan satria bahwa anda mengkafirkan bangsa indonesia ini... ngga usah ngumpet2...
cari2 "keadilan" sendiri... apalagi mau menegakan hukum sendiri....
silahkan datang ke gedung dewan, bongkar tuh semua landasan dan dasar negara indonesia dengan hukum2 yang anda mau....
teriak2 dari situ gak bakalan ada yang naggapi, kenapa ?, bukan takut boss...
ngelayanin ente sama dengan ngelayanin orang setres, gila, dan ikutan kebawa setres, gila...
Jika ada yg mengatakan kehancuran sudah takdir Tuhan atau sudah merupakan revolusi budaya , maka sama saja orang yg sudah tau mau turun hujan tapi nekat pergi tanpa payung dan akibatnya masuk angin dan sakit mencret , lalu berkata penyakit adalah pemberian Tuhan, atau memang sudah waktunya sakit
saya kok agak pesimis ya, acara-acara seperti ini bisa dieksterminasi dengan mengusahakan pelarangan tayang. Sekalinya rating sudah tinggi, kalaupun dilarang, hanya akan berganti baju. (siapa tau ganti nama jadi Bukan Take Me Out misalnya
jadi..matikan televisi anda..dan ajak orang lain juga, hehehe.
eniwei, ulasannya tentang menikah inspiratif bang. Hatur nuhun
anda bebas melakukan apa saja yang anda suka
pun kami juga bebas melakukan apa yang kami suka.
setiap pilihan mengandung implikasi dan konsekwensi yang harus dipertanggung jawabkan
maka jika itu pilihan hidupmu, apa yang kamu dapatkan harus kamu pertanggung jawabkan
kamu mendapatkan hasil dari perbuatan kamu
jangan nyalahin orang lain.
semoga bermanfaat persepsinya (persfektifnya)
kita jarang mau mengakui kesalahan diri, jarang mau instrosfeksi diri... lebih suka menyalahkan ke luar daripada kedalam (diri sendiri)
tapi benar, ane ada rasa2 takut seperti koment ki baraja di awal
saya klo pas ketemu tuh acara, gak sampai 10 detik langsung ganti channel
acara hoax kek gitu dipercaya
apa pengalaman ana ini bisa menjadi alasan untuk KPI?
http://politikana…mment-108503
banget, tp memang pas ada
ust cinta itu jd jelek bgt. Tp
overall acara ini keren.
nah habis nekad, belajarlah untuk bisa "selalu" menikmati apapun yang kita dapet.
sedih, sakit, susah, itu cuma bahasa kita dalam mempersepsikan "kekalahan". Maka hapuskan kosa kata itu dari "angan" kita, tidak ada sedih hanya memang sedang agak kurang senang
tidak ada sakit hanya memang agak kurang sehat, tidak ada susah hanya memang sedang berproses dalam perjuangan meraih kebahagiaan.... dst...
ya, pinter2 lah "mengkondidikan suasana batin" agar "apapun" yang dialami dan didapat bisa menjadi "nikmat".
wah infor baru nih : jika nonton TMO juga bisa mengakibatkan efek tidak berhasrat menikah
secara tambah lagi alasan tayangan tersebut memang tidak mendidik
BTW, KPI tidak usah terlalu diharapkan...
toh kita "ngomong2" disini juga sudah merupakan bagian dari "membantu" KPI dalam melaksanakan tugasnya. Diajukan iya, sudah...
kalau diproses?, tidak tahu lah.....
dan kita tidak harus berharap banyak....
lakukan apa yang bisa kita kerjakan...
jika mereka berhak menayangkan...
maka kita pun berhak beropini....
jika mereka banyak yang suka (pro)...
maka hak kita untuk tidak suka (kontra)...
sebarkan pemikiran ini, minimal ke keluarga kita
lebih jauh bisa ke tetangga, ke masyarakat sekitar... lumayan khan?
atau untuk konsumsi sendiri, terserah lah...
yang penting jangan didiamkan, minimal kita kasih komentar... bahwa tidak semua orang setuju dengan tayangan tersebut.
*merasa diusir dia....
tapi apa hubungannya ya?
beliau jagonya menghitam putihkan segala hal
adapun tulisan opini ini dengan acara TMO tersebut silahkan pak Red-White Porridge cari sendiri relasi hubungannya...
yang pasti, kalau TMO berhak tayang dan memiliki dasar argumentasi sendiri tentang konten acara mereka...
kami yang melihat, menonton, atau pernah melihat, pernah menonton BOLEH dong mengajukan pendapat? mengajukan opini?
toh segala hal, saya tetap percaya selalu ada pro dan kontra. Setidaknya saya tidak mendiamkan "kegundahan" dihati saya untuk dikonsumsi sendiri...
dan buktinya : banyak juga tuh temen2 yang sependapat, dalam arti memang melihat potensi "tidak baik" dari acara TMO ini.
gimana pak Red-White Porridge ?
peluk, cium,
itu yang terlihat lho....
abis peluk cium, cari tempat sepi
*maka keluarlah versi 3gp yang menghebohkan
itu yang terekam lho, yang tidak terkamnya?
pasti lebih banyak loh.....
apa hubungannya "kelakuan begitu" dengan "bangsa dan negara".. apakah terlalu jauh membuat relasi ?????
saya kira tidak....
tetap ada hubungan dan sangat relevan...
mereka adalah generasi muda harapan bangsa
jika penghormatan dan tanggung jawab pada diri sendiri saja sudah tidak dipentingkan...
maka jangan harap penghormatan dan tanggungjawab pada bangsa dan negara ada tertanam di sanubari mereka...
yang saya bingung disini ... kok larinya jauh amat ke perkawinan dsb karena belum ada bukti gara gara acara ini ada pasangan yang kawin terus pernikahannya hancur...
ada gak?
kenapa kok jadi saya yang dipanggil bapak? tadi saya yang dipanggil nak?
mungkin, ini cuma mungkin lho ya, mrk-mrk yg bikin TMO juga punya niat utk 'mendidik'. ngajarin masyarakat yg rasa seksualnya sdh lama terpenjara (oleh budaya, agama, dan masyarakatnya) sambil nanggok jualan.
secara TMO bukan acara pertama, masih banyak acara2 "dating/perjodohan/biro jodoh" sebelum TMO tayang.
yang membedakan acara ini dengan yang lain adalah pada "persepsi yang dibangun" bahwa kebanyakan dari mereka adalah perawan2 tua, perjaka2 tua, ada juga yang muda2, janda, duda, yang notabene "berniat" seolah2 serius mencari pendamping hidup melalui TMO
dari sini mungkin pak Red-White Porridge bisa mengurai kenapa TMO kemudian dikritisi dengan tulisan yang nyambung dengan urusan pernikahan
apakah masih lari terlalu jauh ?
nah sekarang anda kan sudah menikah tuh...
apakah alasan anda bertahan menikah dengan istri anda didasarkan atas :
kecantikannya?
kekayaannya?
pendidikannya?
- atau pertanyaan lainnya, apakah harus selalu wajib SAMA pemikiran antara anda dengan istri anda tentang sesuatu hal?, atau dengan kata lain : apakah tidak pernah terjadi perbedaan faham (pemahaman) antara anda dan istri anda?
TMO menjadi penting untuk dikritisi, setidaknya bagi saya. dan anda berbeda pandangan dengan saya silahkan....
hak anda untuk menentukan dan melihat TMO dari sudut pandang anda... silahkan....
toh, di atas sudah saya bilang. tulisan ini tidak punya kekuatan apapun untuk menghentikan tayangan tersebut. bahwa saya menulis dan berargumentasi tentang TMO agar orang pun melihat ada yang tidak sependapat dengan tayangan tersebut.
ujungnya ya kembali ke diri masing2, mau pro atau kontra terserah. bagi saya tulisan ini minimal menjadi pegangan pribadi diri saya, dan tanggung jawab saya untuk menjaga keluarga saya dari hal2 yang "menurut saya" tidak baik
saya seorang suami, saya pemimpin keluarga
maka dunia akhirat saya bertanggung jawab terhadap anak istri saya...
"dan jagalah anak istrimu dari api/siksa neraka"
api/siksa neraka itu di dunia ini juga sudah sangat2 jelas terlihat, terasa,...
bagaimana panasnya "iri"
bagaimana panasnya "dengki"
bagaimana panasnya "kesusahan"
bagaimana panasnya "masalah"
menjaga hal seperti itu dalam biduk rumah tangga tidak bisa dijamin oleh usia, oleh rupa, oleh harta, dan ukuran2 materi lainnya...
saya sudah mencontohkan salah satu kasus "hancurnya" biduk rumah tangga dari salah satu artis, baca deh di atas...
dan masih banyak artis2 lainnya...
lihat mereka, kurang apa ?
cantik, tampan, kaya, berpendidikan, toh tetap rumah tangganya hancur....
menikah sesuatu yang "sakral", "terhormat", "serius", maka ketika hal ini dijadikan games, permainan, main2,.... saat itulah penghormatan dan keseriusan menilai pernikahan sedang dihancurkan... ini berbahaya...
*analoginya dampak : hutan lindung tadi dengan kearifan tradisi budaya "pamali"
silahkan dibaca ulang.....
tentang adakah yang sudah jadi menikah, kemudian terbukti rumah tangganya gagal ?
bukan itu kejaran "dasar penilaiannya"
proses seleksi mereka yang saling pilih, saling nilai, dll, ini yang menjadi salah satu masalah...
karena jelas dipertontonkan disitu : rupa (kecantikan/ketampanan), harta (profesi/karir), dan ukuran2 materi lainnya sedang dengan pongah dipertontonkan....
apa alasan2 tersebut tidak boleh ?,
oh jelas boleh, tapi itu jika menjadi alasan utama maka ukuran2 materi tersebut bisa berkurang, malah bisa hilang...
disini nanti yang akan mengguncangkan pernikahan....
tampan, cantik, yang lain juga banyak...
lalu yang tidak tampan dan tidak cantik? haruskah mereka jadi korban cara pandang budaya seperti ini ?
*ini salah satu penyelewengan penilaian terhadap manusia.
kekayaan, karir...
bisa berkurang bahkan hilang...
haruskah rumah tangga hancur karena alasan ini?....
TMO jelas2 sedang mengeksplorasi ukuran2 materi ini sebagai permainan.
dan jika acara ini dengan tegas dari awal merupakan acara yang sengaja buat "nge-date" atau biro jodoh, seperti acara2 lainnya... mungkin saya tidak perlu mengkritisi... toh masyarakat bisa menilai kalau acara2 tersebut (seperti itu) tidak penting, bahkan bisa langsung dinilai : maksiat
tapi TMO sedikit berbeda, rupanya orang marketingnya pinter. mereka membungkusnya dalam persepsi yang diposisikan bagus, serius, sungguh-sungguh... bahwa mereka mencari pendamping hidup (jodoh)...
padahal kenyataannya, sama dengan cara lainnya : main2, games, permainan...
nah jebakan ini yang menjadi keprihatinan saya, banyak orang yang suka?, ya jelas...
mereka ingin tahu seserius apa sih orang yang mau nikah ?...
padahal cara2 yang dipertontonkan semua main2, permainan,....
banyak orang yang tidak sadar, nanti malah terjebak untuk MEMBOLEHKAN proses mengenal dan pencarian jodoh seperti "yang diajarkan" oleh acara TMO.
berarti memang sudut pandang kita beda aki ...
anda menyelaminya dengan masalah nilai sementara hal-hal yang anda sebutkan diatas mengenai pacaran dan lain lain kan masih dalam tahapan persepsi anda. ...
seperti tulisan dan komen anda :
peluk, cium, : o
itu yang terlihat lho....
abis peluk cium, cari tempat sepi : ))
*maka keluarlah versi 3gp yang menghebohkan
itu yang terekam lho, yang tidak terkamnya?
pasti lebih banyak loh.....
------------------------------------ --------------------
ini kan kesimpulan anda sendiri toh.. kalo ternyata akhirnya habis peluk cium mereka gak cari tempat sepi,...
berarti anda...
mungkin kalau anda mau bicara masalah nilai, jangan anda ambil fakta berdasarkan persepsi saja .... apalagi....
anda benar....
toh koleksi film miyabi di laptop saya banyak tuh
sekedar untuk hiburan dan enak ditonton boleh lah...
mau koleksi juga bos ?
kita memang di sudut jalan yang bersebrangan dalam melihat permasalahan ini. tidak apa lah...
Saya kira nantinya kita akan berdiskusi dalam kerangka pemikiran seperti yang sudah saya tulis disini....
http://politikana…-salah-siapa
ternyata tidak ...
ya sudahlah...
TMO ini fenomena baru dan selalu mendapat rating no 1, baik tayangan tiap prime nya ataupun ulangannya...
tanya kenapa? bisa dibaca di tulisan yang udah saya kasih link nya diatas.
salam aki... hatur nuhun...
selain link dari sampeyan, saya juga baca ini :
http://badien.wor…aratelevisi/
http://www.pikira…ail&id=81937
ya kalau wacana seperti tulisan pada opini yang anda tulis saya bisa maklum, jika opini ini menjadi kehilangan makna... alias gak bisa ngapa-ngapain...
opini atau tulisan ini hanya kontribusi kecil dari diri saya sendiri, dan bagi orang lain yang tertarik untuk melihat TMO, juga acara2 lainnya dari sudut kepentingan lain : "tuntunan"
jadi tidak sekedar hiburan semata.
kalau bisa mencerahkan, mendidik, mendewasakan....
kalau urusannya ratting, memang begitu jadinya
yang ingin saya lakukan adalah proses pendewasaan berfikir di masyarakatnya itu sendiri...
dalam tulisan saya ini, ratting dinaf-i-kan, ditiadakan, alias tidak dianggap...
pemodal, pengiklan pun sama begitu....
kita naf-i-kan, anggap aja gak ada.
pun nantinya, ketika TMO masih tetap ditonton, saya percaya jika masyarakatnya dewasa, nontonnya seperti cara pak Red-White Porridge ini.
just for fun... gak masuk hati, apalagi membentuk kepribadian.... tayangan yang cuma lewat begitu saja.....
untuk menjadikan penonton seperti itu dibutuhkan waktu yang panjang untuk edukasi, untuk penyadaran, untuk berproses dalam mempertimbangkan sesuatu...
semoga tulisan ini menjadi bagian kecil dalam berproses ke sana.
masalahnya tidak semua penonton seperti pak Red-White Porridge ini, ambil contoh tadi di atas : adek saya
yang masih smp dan sma, cewek lagi...
mereka belum memiliki pendirian....
mereka belum memiliki pijakan yang kokoh akan dirinya.....
tatkala tontonan tersebut dilihat, maka secara langsung ataupun tidak itu sudah berpengaruh pada alam bawah sadar serta fikirannya...
buktinya : komentar mereka yang bikin hati saya miris, saat saya menonton....
akhirnya saya coba jelaskan ke mereka....
persis seperti opini yang saya tulis ini. dan mereka mendapatkan sudut pandang yang lain
akhirnya mereka "walaupun" masih nonton acara tersebut : tentu dengan sudut pandang yang lebih "luas".... bahkan argumen2 serta komentar2 nya bisa menjadi lebih "dewasa" menurut saya....
nah mungkin opini ini mengambil bagian di situ pak Red-White Porridge. BTW hatur nnuhun pisan komentarnya, perhatian anda juga yang lainnya, baik pro maupun kontra akan semakin mengupas sudut pandang yang lebih luas pada permasalahan ini.
thx nasehatnya. cuma semingguan lah ane merasa sedih. tidak ada sakit di hati. gak sedih dan gak kecewa, itu namanya robot, Pak .
****
btw, tulisannya ditembuskan ke KPI dan indo***, ya?
lewat koment yang tersedia di web dan lewat SMS
kemarin mau saya tembuskan tulisan ini, web nya mati, error, gak bisa diakses...
suudhon saya sih ada yang "ngehek" sama hacker gara2 ungkapan KPI yang larang siaran langsung persidangan...
tak tahulah....
yang pasti saya belum buka lagi web nya KPI,
juga belum ditembuskan ke indosiar...
nanti saya coba.
entahlah, saya juga rada2 khawatir dengan kasusnya : prita mulyasari
jangan2 opini kontra atau tidak setuju ini malah menjadi bumerang buat diri saya sendiri, yang bisa saja dianggap produser TMO juga pemilik televisi kalau saya sedang mencemarkan nama baik mereka
wah, repot kan kalau begitu?
pas niat dihati mau menikah sudah "kuat", yang saya lakukan adalah mendatangi orang tua dari perempuan yang saya kenal.....(*awalnya)
tiga kali melamar ke orang tua...
dengan mendapat jawaban yang sama dari putrinya : "ingin mengenal dulu" alias pacaran...
maka semuanya saya tinggalkan....
terakhir dengan yang jadi ini, saya tidak kenal namanya, tidak tahu rupanya, belum pernah ketemu...
hanya memang saya kenal sama orang tuanya (bapaknya), saya percaya dengan kejujurannya
dan sikap sederhananya dalam menghadapi kehidupan... maka dengan cara yang sama seperti sebelumnya yang saya lakukan adalah : melamar putrinya.....
oh, ya sekedar info tambahan : si bapa itu punya putri lebih dari satu, dan kalau dilihat dari umur sudah pada layak menikah (umurnya rata2 cuma beda 1 tahun)...ada 3 orang...
saya cuma tahu sebatas, bapak itu punya bayak anak perempuan....
dengan anak2 nya sendiri, saya tidak kenal...
pasa saya mengajukan lamaran, maka yang dia panggil untuk ditanyai adalah anaknya yang paling tua yang belum menikah...
dan tau jawabannya?
kami ketemu malam itu, kenalan, langsung lamaran... 3 hari berikutnya kami menikah....
malam pertama canggung, kenalan...
minggu pertama sampai bulan2 di tahun pertama masa2 indah kami pacaran....
sekarang kami sudah dikaruniai seorang anak
dan kami bersyukur atas apa yang telah Tuhan berikan untuk kami....
segala keterbatasan yang kami dapatkan, tetap merupakan kenikmatan bagi kami.
*maaf bukan dalam rangka pamer, semoga ini menjadi inspirasi. Kalau berniat adik ipar saya masih ada tuh 4 orang lagi
*syaratnya cuma "niat".
Disekeliling ki baraja: ada berapa persen yang seperti ini? Terutama dikota besar masihkah kita bisa menasehati ini?
cukuplah menasehati diri saya sendiri...
tapi jika orang lain ikut belajar dan mendapat hikmah, maka baginya adalah bagian yang harus ia dapatkan.. ya ilmunya, ya ganjarannya...
disekeliling saya jelas "akan kesulitan" untuk menularkan nasehat seperti yang saya tulis
*kalau bu ning anggap itu nasehat
minimal kita mulai dari diri kita, kemudian ke keluarga, toh nanti tetangga, kerabat, dan teman yang kenal dengan kita akan melihat dan menilai apa yang saya lakukan...
temen2 yang kenal dengan saya, mereka tidak percaya, jika rumah tangga bisa diwujudkan dengan cara2 seperti yang saya tuliskan...
tetapi ketika melihat kenyataan keluarga yang saya bangun melalui/menempuh jalur seperti itu maka mereka tidak bisa membantahnya...
dan malah mereka menjadi respek juga hormat
bahkan mencoba untuk mengikuti cara2 tsb.
wong orangtuanya sendiri minta dicarikan calon untuk putrinya.... ada ustadz yg nawarkan ke saya, saya lamar. jadi deh....
menghitung hari....malah dibatalin ama calonnya, karena merasa belum siap....padahal sih waktu diawal-awal gak masalah dg saya yg bukan ahli ilmu dan hartawan
itu semua ane kembalikan ke Tuhan...biar gak terlalu kecewa...toh hati semua manusia ada digemgaman-Nya.
oh iya, ane jg anti pacaran lho ....soalnya klo pacaran hanya yg bagus2 aja yg diliatkan...dan kata orang2 tua, cinta itu timbul HANYA setelah akad nikah, ini gw percaya betul.
malah jadi curhat nih
maksud ane udah berapa kali ditolaknya?
saya 3 kali ditolak hehehe...
yang keempat alhamdulillah terkabul.
*adek saya gak berpendidikan (gak sekolah), cuma SD tho... heheh
kami dari keluarga yang secara ekonomi terbatas..
keluarga besar....
istri saya pun ketika saya lamar pekerjaannya pembantu rumah tangga (babu).
tapi yang membuat saya bahagia dan senang, keluarga mereka pandai bersyukur...
silahkan jangan hentikan berusaha, kalau sudah mentok boleh datang ke keluarga saya..
siapa tahu jodoh anda ada di sana? hehehe...
waktu saya ceritakan ke teman, langsung mereka pada simpati dan ngasih "CV" perempuan yg siap nikah...sayangnya, sya msih ingin nenangkan jiwa dolo
hikmahnya usaha untuk nikah, sya bisa selesaiin kuliah yg udah telat setahun, semangat lulus karena ingin nikah
harusnya minggu pertama desember ini akadnya...hikshiks
saya di Sby ki ....
tulisan ini cuma sebagai bagian kecil dari kontribusi memberikan sudut pandang yang berbeda atas acara tersebut.
hahah, dulu saya juga telat lulus...
dan persis, cepet2 beresin kuliah karena pengen cepet menikah
*tapi simpan saja gelar nya di lemari sebagai bentuk pertanggungjawaban ke ortu dan dokumentasi heheh....
lamaran, jangan bawa2 itu ya
goncangan psikologis lebih dahsyat daripada goncangan gempa
lamaran, jangan bawa2 itu ya : D, nakutin.]
betul......kemarin saya cuma niat untuk menyeimbangkan pendidikan dg istri. biar istri tidak malu klo memperkenalkan suaminya..... selain pertanggunjawabn ke ortu
[goncangan psikologis lebih dahsyat daripada goncangan gempa : D, bisa edan masalahnya... ]
sudah siapkah jika istrimu ternyata orang yang "bodoh", gak intelek, ...?
sudah siapkah jika pendamping hidupmu ternyata berprofesi yang banyak dinilai orang sebagai pekerjaan yang kotor/hina, pembantu rumah tangga misalnya...EKSTRIM nya PSK alias Pekerja seks komersial ?
sudah siapkah jika ternyata istrimu dari keluarga yang miskin/fafa, terbatas secara ekonomi (harta) ?
sudah siapkah, jika ternyata pendamping hidupmu bukan wanita yang rupawan ???
sarat apakah, yang anda ajukan kepada calon istri anda untuk anda "nilai" layak melewati rintangan, dan cocok untuk menjadi istri?
===== maaf gak usah dijawab di sini ====
silahkan dijawab dengan sanubari sendiri
jawabannya tidak harus diketahui publik
pertanyaan2 itu penting, menurut saya...
setidaknya, itulah pengalaman saya..
saya harus mempersiapkan diri, minimal yakin tidak menyesali ketika jawaban2 dari pertanyaan itu terjadi.....
*cukup untuk instrosfeksi, semoga bisa menjadi motivasi.
susah?, ah... pengalaman saya sih gampang
tapi fakta membuktikan banyak yang gagal
*what's wrong ?
Biarin dijawab sajalah, kan masih sesuai kontek tulisan ini, bila untuk kebaikan saya akan menganggapnya sebagai nasehat.
Yang saya ketahui dalam memilih istri ada petunjuknya yakni karena kecantikannya, karena kekayaanya atau karena ilmu agamanya.
Tidak disebutkan bagaimana kelakuannya, jawaban saya "setelah wanita itu menjadi istrimu, maka tanggung jawab suamilah untuk mendidiknya menjadi baik".
Maka saya juga tidak setuju dengan petunjuk bibit, bebet dan bobot.
bagi saya keterangan seperti itu sah-sah saja, tapi sumpah : saya tidak mendukung alasan itu menjadi pondasi dan persepsi awal bagi pemuda yang mengazamkan/berniat untuk menyegerakan menikah.
*apa bedanya alasan itu dengan TMO ?
- baca lagi komentar saya tentang kasus2 artis yang rumah tangganya berantakan. Kurang apa mereka?
begini bu :
menikah "pertama kali" itu adalah inisiatif dan pencapaian "kesadaran" seorang laiki-laki...
jadi seorang laki2 ukuran "sareat" pencapaian "kesadaran diri" tertingginya adalah pada saat dia berniat menikah kemudian menunaikannya..
jadi nikah itu "point reward" untuk laki2....
(menyempurnakan iman, keyakinan)
bu Ning, bilang gini :
[Yang saya ketahui dalam memilih istri ada petunjuknya yakni karena kecantikannya, karena kekayaanya atau karena ilmu agamanya]
ini petunjuk menyesatkan bu
bagaimana nasib yang tidak cantik?, bagaimana nasib yang tidak kaya?, bagaimana nasib yang ilmu agamanya minim ?
haruskah mereka "tereleminasi" dari kandidat segera menikah ?, seperti take Me Out saja?
Bukan disitu letaknya bu....
Menikah itu "makom" pencapaian tertinggi seorang laki-laki, ketika dia sudah mencapai "tempat" atau "posisi" keyakinan yang "mantap", kokoh, full....
maka alasan2 tadi tidak menjadi pertimabngan
baginya : siapapun pendamping hidup yang dikaruniakan oleh Tuhan, adalah "nikmat" terbaik baginya. tidak peduli rupanya, tidak peduli kekayaannya, tidak peduli keilmuannya (termasuk ilmu agama, juga pendidikan)
karena dititik tersebut, seorang laki2 melihat ke dalam... melihat ke dirinya sendiri...
melihat pada tanggung jawabnya, melihat pada kerelaanya, melihat pada kesiapannya...
bukan melihat siapa calon istrinya
Rasulullah SAW bersabda :
"Perempuan itu dikawini atas empat perkara, yaitu: karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, atau karena agamanya. Akan tetapi, pilihlah berdasarkan agamanya agar dirimu selamat."
(H.R. Bukhari dan Muslim)
Tereleminasi karena ada yang lebih baik adalah manusiawi, maka sebagai perempuan juga harus meningkatkan martabatnya, tidak hanya duduk diam menunggu dilamar tanpa menghias diri, tanpa belajar, tanpa bekerja, dst..
Kecantikan juga relatif, jadi yang cantik di Medan mungkin tereleminasi bila di Jakarta, makanya aku lebih suka di Medan saja... hehe
bagus lah, bu Ning melihat dari sudut pandang perempuan....
saya melihat dari sudut pandang laki2...
memang "berbeda" penglihatan kita, namun semoga sama pada hakita kebaikan yang dituju
semua manusia "sama kedudukan" dihadapan Tuhan, kecuali "keimanan" nya.
tidak peduli rupanya, hartanya, keturunannya, pendidikannya, .... "TIDAK PEDULI"....
ini yang saya pegang dalilnya bu.
*betapa malangnya yang dilahirkan di papua? keturunan aborigin?, keturunan afrika ?
dan sekali lagi lihat :
bagaimana kurang cantiknya cici paramida, desy ratnasari, tamara blezenki, sarah azhari....
apakah saya harus menambah sederet panjang nama2 yang "disebut" cantik ?...
*mereka gagal membangun rumah tangga.
memang "berbeda" penglihatan kita, namun semoga sama pada hakikat kebaikan yang dituju
Iya tak do'ain semoga ketemu jodoh di sono, jangan lupa oleh olehnya...he..he..he..
selamat berjuang di sana.
bagaimana hadis rasul dibilang menyesatkan?
tapi saya lihat, rasul tidak sedang memberi petunjuk, tapi cuma memberikan gambaran.. liat saja dari matan (teks) hadisnya yang berbentuk khobar (berita) dan bukan amar (perintah/petunjuk), kecuali untuk kalimat terakhir...
"li diniha..." (karena agamanya) di sinilah petunjuk Rasul berperan.
beragama, tidak selalu pintar ilmunya.. dan berilmu tidak selalu soleh beragama.
ki baraja: heu heu... belum jadi pak. makasih .. sama2 kita gan.. berjuang untuk kebangkitan umat.
ukuran2 sareat/lahiriah/material tidak bisa menjadi pondasi sebuah bangunan rumah tangga (pernikahan). Maka pencarian jodoh (pasangan hidup) dengan berpedoman pada hadis tersebut aku bilang "menyesatkan".
sekali lagi, lihat contoh :
- pasangan para selebritis
- Hj. Lutfiah sungkar kurang apa coba? :
http://www.indosi…-cerai-lagi-
mau dilihat dari sisi manapun : rupa, keturunan, harta, bahkan AGAMA... lutfiah sungkar tidak kekurangan faktor yang disebutkan hadis.
malah sepertinya jadi hobi kawin cerai, kawin cerai tuh ..... inget pak, kasus tersebut sampel probabilitas yang tidak bisa menghapus kemungkinan bahwa parameter2 hadis yang anda ajukan memang "menyesatkan" dan tidak terbukti. terbantahkan dengan banyaknya kegagalan rumah tangga padahal parameter pemenuhan pokok hadis sudah diikuti.
emang hadis wajib diikuti?, buat gua dalil tersebut gak akan gua ajarkan sama sodara2 gua, keluarga gua, hanya menjadikan mereka matre. gak jauh beda dengan kaum "hedonis" cuma sok-sok an aja dibalut/berkedok agama.
Silahkan login untuk memberikan pendapat