Membatasi Setrum: PLN Memainkan Rasa Keadilan 3
Senin, 16 Nov '09 21:47
PLN semakin bingung dan ngawur. Kalau listrik padam maka yang dia lakukan mestinya segera membuatnya menyala. Segera. Sekali lagi segera. Bukan berkilah. Dari Presdir sampai penjawab telepon pengaduan jawabannya sama. Coba kita tanya kapan menyalanya dan apa jaminannya -- lantas kalau gagal bersedia diapakan. Mereka tidak mau memberi garansi. Pengecut.
Yang lebih baru adalah rencana pemasangan pembatas konsumsi pada rumah mewah yang daya terpasangnya 30.000 VA ke atas (R3/TR 6601 - 197.000 VA?) . Dari rasa keadilan seolah cocok. Dalam jangka pendek, ini seolah populis, berpihak pada yang rakyat kebanyakan. Dari segi teknis, kalau terwujud, seolah sesuai akal sehat karena akan menghasilkan penghematan (22-23 megawatt?).
Tapi nanti dulu. Taruh kata ada klausul dalam perjanjian pemasangan listrik, bahwa PLN boleh ngapain aja, maka cara terakhir (pembatasan konsumsi) itu hanya pembelokan masalah.
Ini bukan soal saya membela orang kaya, toh tagihan listrik saya rendah banget bila dibanding tetangga. Ini soal kita harus mewaspadai pembelokan masalah dengan mengatasnamakan rasa keadilan.
Kenapa ada rumah tinggal memakai listrik sebesar itu tentu ada alasannya. Lebih penting lagi: PLN memang membolehkan dan terhadap mereka sudah dikenakan tarif (termasuk bea beban) yang lebih mahal.
PLN tampaknya sadar bahwa dalam situasi tertentu orang kaya akan kikuk menggugat atas nama rumah tinggal (bukan industri), apalagi melalui class action. Apalagi jika dari kalangan bawah muncul respon negatif -- mirip sinisme warga pengguna angkutan umum saat warga Pondok Indah terhadap pembangunan busway dulu, bahka sampai memasang Ford Escape dan Ford Ranger.
Kalau ada pedagang tak rela jualannya laris, ya itulah PLN. Tapi si pedagang maunya orang bayar terus. Kalau tegangan di rumah pelanggan tak stabil, maka dia mengharap pelanggan memasang stabilizer. Kalau listrik sering padam, maka dia mengharapkan pemakai komputer memakai UPS dan pemilik akuarium memasang pompa bertenaga baterai. Begitu anehnya PLN sehingga dia tidak mau membonuskan lilin dan korek api -- terlepas dari ada tidaknya kemungkinan protes dari Dinas Pemadam Kebakaran.
Pelajaran untuk eksekutif PLN hanya dua macam. Boleh digabung. Pertama: rambut kepalanya dicukur, tapi dalam proes pencukuran yang sepertiga jalan itu listrik dipadamkan dan semua tukang cukur dilarang melanjutkannya. Kedua: didudukkan di kursi listrik yang masih berfungsi. *
Ah yang itu kurang eloklah. Ngawur. Ada cara yang lebih berbudaya. Kapanpun ada pemadaman maka rumah dinas direksi juga harus dipadamkan dua kali lebih lama -- apapun kondisinya. Penghuni tidak boleh pasang genset, tidak boleh keluar dari rumah supaya tidak mengungsi ke hotel atau tempat lain.
*) Jangan keburu menghakimi saya agitatif apalagi biadab. Bukankah saya belum menyebut siapa yang pegang saklar on-off? Lagi pula kalau listrik padam melulu kan nggak berbahaya? :D
Tag: pln, listrik, BUMN, energi, pemadaman
Terkait:
-
Tarif Listrik Makin Mahal Tahun 2010
Kamis, 3 Sep '09 14:34 -
PLN : Pemadaman Listrik Negara
Rabu, 11 Nov '09 23:21 -
Gardu PLN Rusak, Negara Rugi Rp 500 Miliar
Senin, 12 Okt '09 11:28
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Sri Kirana: Penting
-
yusro: Penting
-
LCFR: Penting
-
Yuen: Inspiratif



KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
lucu banget
Makanya sebelum itu diimplementasikan, mereka (para koruptor) perlu melakukan gladi bersih sampai pertengahan Desember nanti..
Silahkan login untuk memberikan pendapat