babu yang mbalelo & Majikan yang bego 1
Jumat, 20 Nov '09 18:09, dibaca 354 kali
babu yang mbalelo & Majikan yang bego
Kata mbalelo itu bukan dari bahasa Indonesia, tetapi dari boso jowo, sering dunia politik di tanah air yang dikuasai para petruk dari beberapa rentang masa dan generasi ini mengusung istilah mbalelo dalam wacana emosionalnya yang khas. Arti mbalelo itu sendiri adalah tidak mengikuti petunjuk.
Masalah pertama : Semisalnya seorang babu yang disuruh sang Majikan membeli sebotol obat batuk hitam untuk mengobati anak sang majikan yang menderita batuk, namun sang babu yang mbalelo ini malah membelikan jenewer cap topi miring yang beralkohol 20% bagi sang Majikannya. Karena menurut hemat si babu toh jenewer cap topi miring itu juga minuman, esensinya adalah meminum bukan apa yang diminum dan tujuan meminum minuman tersebut. “ juragan…hmmm, obat batuk hitamnya habis, yang ada hanya ini, tapi yang ini lebih bagus lho gan…lebih ces pleng khasiatnya” ujar sang babu.
Masalah kedua : Nah yang jadi masalah ternyata majikan sang babu ini juga bego, koclok alias longor. Cuma karena kecantikan sang babu ini, sang majikan termakan tipu daya sang babu. “oooh yow is nem makasih ya, awakmu iku biar babu tapi cantik pinter lagi tau mana yang menyenangkan hati majikanmu, yo nek ngono mulai besok gajimu mundak 3 x lipat, semoga kamu senang menjadi babuku” …..Akhirnya jenewer itu diberikan olehnya kepada anaknya yang sedang sakit, jadilah si anak itu mumet pitung kiteran…….mabuk asyikkk deeehhhh.
Ibarat negeri yang demokratis ini…sang babu yang disebutkan diatas tersebut yang saat ini adalah ‘elit’ (semacam pelaku trias politika) amat berkepentingan memelihara memori pendek rakyatnya (baca : Majikannya) dan inilah pembodohan sekaligus pembohongan yang dilakukan oleh pemerintahan yang mengemban sistem demokrasi. Dengan demokrasi (jenewer cap topi miring) sang babu ingin memabukkan anak sang majikan yang disadari oleh sang babu bahwa anak tersebut akan menjadi pewaris tahta sang Majikan.
Lembaga Bangsa yang telah tegak jauh sebelum terbentuknya negara petruk ini, sengaja dilupakan begitu saja. Identitas bangsa Indonesia yang terdiri dari beberapa suku bangsa yang seharusnya menjadi Majikan yang berdaulat, diselewengkan menjadi partai politik yang berdaulat, padahal tidak satupun jong partai politik yang hadir pada tanggal 28 oktober 1928. Yang hadir adalah Jong batak, java, ambon dan lain lain.
Masalah ketiga : Nah…..sang Majikan yang keturunan jong antar suku bangsa tersebut, yang saat ini seharusnya menduduki kursi MPR & DPR malah terusir dari daerahnya sendiri, konon apalagi mendapat tempat di kursi MPR & DPR…bahkan tanah embahnya di banyumas ajibarang pun sekarang sudah bukan milik dia lagi, sudah jadi kebun kakao milik pengusaha asing atau keturunan. Mau ngincipin 3 buah kakao dari tanah nenek moyangnyapun saat ini dia harus diadili atas tuduhan mencuri.
Fenomena babu mbalelo dan majikan bego ini terus menggoreskan tinta kisah tersendiri bagai negeri petruk ini. Sang Majikan dipenjara, sang babu yang digaji dari uang majikan pun sudah berani menyatakan diri sebagai pemimpin negara saat ini. Benang ruwet babu mbalelo dan majikan bego ini terus akan semakin ruwet, kecuali para keturunan Majikan ( rakyat ) sadar bahwa sebenarnya mereka sedang terjajah oleh sistem jenewer topi miring yang memabukkan yang bernama demokrasi. Padahal menurut socrates sebagaimana dinyatakan plato (427-347 SM),dalam karyanya the republic, bahwa demokrasi merupakan bentuk pemerintahan yang tidak ideal; lebih rendah nilainya dibandingkan aristokrasi (negara dipimpin para pecinta hikmah/kebenaran/Bapak bangsa), ‘timokrasi’ (negara dipimpin para ksatria pecinta kehormatan/Pecinta Kebajikan), dan oligarchi (negara dipimpin oleh sedikit orang/Wakil Rakyat yang bermusyawarah). Di negara demokrasi (pemerintahan oleh rakyat (baca ‘rakyat abal-abal’ – the rule of the people), kata socrates, semua orang ingin berbuat menurut kehendaknya sendiri, yang akhirnya menghancurkan negara mereka sendiri. Kebebasan menjadi sempurna.Ketika rakyat lelah dengan kebebasan tanpa aturan, maka mereka akan mengangkat seorang tiran untuk memulihkan aturan.
Tag: politik
Terkait:
-
Acara TV..Hal Sepele..?
Senin, 30 Agu '10 13:45 -
Road To Totalitarianism
Sabtu, 28 Agu '10 06:51 -
Budaya Barbarisme
Jumat, 27 Agu '10 07:40
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
krisnov: Bagus

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat