Sketsa: Kasus Bank Century di Kampung 10
Rabu, 16 Des '09 13:19, dibaca 99 kali
Obrolan di kedai kopi, jika saya ikut serta di dalamnya , sambil duduk dan mengunyah pisang goreng, semua mata - orang-orang kampung- akan langsung memberi pesan kepada saya bahwa mereka ingin mengajukan satu gugatan, semacam pertanyaan mendasar tentang kasus besar di negeri ini. Ambil contoh misal; kasus Bank Century.
Saya sebenarnya, tidak memahami secara persis mengenai permasalahan mendasar tentang kasus besar ini. Tapi dari teriakan orang-orang pintar di pusat sana, katanya banyak aktor negeri ini terlibat dalam kasus besar Bank Century ini. Pertanyaan sederhana bisa saja dilontarkan dari kenakalan nurani saya sebagai masyarakat, bisa dibilang, warga kelas 3, maaf saya memosisikan demikian, biar jelas bahwa negeri yang menganut Bhineka Tunggal Ika sebagai falsafah hidupnya ternyata secara membumi masih gemar mengkotak-kotakkan manusia, " siapakah yang benar?"
Rakyat kecil sama sekali hanya menjadi pengekor dalam soal umpat mengumpat, ketika satu praduga dilontarkan melalui sebuah media, akan renyah dikunyah oleh orang-orang kampung di kedai-kedai kopi, karena begitulah penonton. Diskusi orang-orang kampung seputar kasus besar hanya akan menghasilkan satu simpulan besar bahwa masyarakat lebih senang mengunyah informasi daripada mencicipi kebenaran yang berpihak pada mereka. Ada sinyalemen, apapun alasannya, masus apa pun yang mencuat di pusat, hanya para pemegang kebijakan yang akan mencicipi hasilnya dari penuntasan kasus tersebut.
Benarkah, penuntasan sebuah kasus dilakukan demi kepentingan rakyat? Ya, bolehlah sampai saat ini demi kepentingan rakyat masih laku di pasaran politik, masih memiliki nilai jual politis ketika didengungkan oleh para elit politik di pusat sana, tapi secara nyata, jargon-jargon idealis hanya memenuhi dan menggema melalui pengeras suara yang dipenrdengarkan melalui media massa saja, ketika di hadapan kita segudang permasalahan yang dihadapi oleh rakyat sama sekali tidak teraspirasikan.
Diskusi orang kampung hanya mengulas permukaan luar, permukaan yang sering dijadikan lahan empuk oleh berbagai media. Sementara hal mendasar dari kasus besar tersebut sama sekali luput dari pengamatan orang kampung. Seperti Contoh; diskusi di kedai kopi tersebut seorang pengunjung berujar; Mau ga Pak Wakil Presiden atau Ibu Sri Mulyani turun dari jabatannya? Ya, Harus Turun kalau memang bersalah. Seperti itulah, maka, kebenaran di dalam kasus ini benar-benar samar, kebenaran dalam kasus ini samar karena semua pihak masih tetap menduga-duga. Celakanya, di negeri ini, ketika kebenaran akan terungkap, maka ramailah orang mencuci tangannya, atau bersembunyi di dalam jubah: MEMBELA RAKYAT KECIL. Sementara, orang kampung yang mendiskusikan kasus besar seperti Bank Century ini sama sekali tidak mencicipi apa-apa kecuali besok lusa anaknya yang mau ujian semester harus melunasi urang sekolah, jika tidak? Silahkan layangkan surat pengajuan dispensasi kepada Sekolah melalui Tata Usaha Sekolah.
Malamnya, kasus besar Bank Century kembali ditayangkan di media-media massa, dan orang-orang kampung senang melihatnya seperti mereka menikmati ketela Rebus. Malah menonton acara debat dan pementasan kasus besar Bank Century itu sampil selonjoran, rebahan, menyeruput teh manis. Intinya, orang kecil pun sepertinya menikmati betul pertunjukan yang dimainkan oleh orang-orang besar di Ibu Kota Sana.
Tag: kampung, Bank Century
Terkait:
-
UU Hukum Acara Pemakzulan Presiden
Kamis, 12 Agu '10 09:56 -
Mempromosikan Kampung (diri) Sendiri
Sabtu, 5 Jun '10 09:41 -
Opsi A, Intervensi Hukum kah?
Rabu, 19 Mei '10 13:33
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
botaksakti: Menarik
-
ki baraja: Menarik
-
Harlan Eryandi: Menarik
-
Forlorn Hermit: Menarik
Komentar:
tapi gak pada mau komen
kenapa sih? takut sama kang away ya?
kwkwk
bagaimana proyek pemnyebaran informasi dari internet itu pak?
kan sampeyan mau mublikasiin data2, berita, dan berbagai informasi dari internet ke penduduk.?
Di kampung itu, internet sekarang sudah mulai marak, bisa browsing pake HP lageeehh... hanya saja, kebanyakan orang itu ga doyan beropini, senangnya, sms-an, nonton tv, kayaknya, jika harus diberi pilihan menulis atau menonton persib, bapak pun akan memilih untuk menonton persib!
maaf pak, mood lg gak beres nih
(ini juga termasuk buruk muka cermin dibelah, nyalahin mood atas perilaku nyari musuh)
Silahkan login untuk memberikan pendapat