Cermin ber-Demokrasi di Negeri Yang Masih Lapar 15

Rabu, 23 Des '09 12:51, dibaca 80 kali

Setiap menjelang Pilpres atau Pilkada di negeri ini, atmosfir politik terasa semakin menghangat. Para kandidat dengan partai pendukungnya gencar berkampanye kepada masyarakat. Team sukses pun turun langsung ke daerah-daerah mengenalkan jagoannya, baligho kandidat terpampang dimana-mana, pamflet dan brosure bersliweran sampai ke desa-desa, tak jauh beda dengan promosi sebuah produk dagangan kepada calon pembeli/pelanggan. Cara-cara pendekatan seperti ini sah-sah saja dilakukan, selama tidak melanggar aturan yang berlaku.

Seringkali pada perhelatan pesta demokrasi seperti pemilu/pilpres atau pilkada, kita temukan praktek-praktek berbau money politics. Dalam mendekati rakyat, para kandidat tidak ragu membagi-bagikan sejumlah uang, sembako, kaos-pakaian atau materi dalam bentuk lainnya untuk mendapatkan simpatik sekaligus memberikan suara untuk dirinya.  Hal ini patut kita sesalkan, karena pendekatan politik para kandidat ini, tidak mengedepankan nilai edukasi berdemokrasi yang sehat.

Pemberian kaos bergambar kandidat dan sembako gratis, nampaknya pendekatan yang sangat efektif untuk menjual pesona dan memberikan kesan bahwa kandidat sangat berempati pada rakyat yang kurang beruntung, terlebih dalam kondisi himpitan ekonomi yang sangat berat. Akan tetapi cara seperti itu tidak akan mendewasakan rakyat untuk berdemokrasi, karena pendekatan yang dilakukan hanyalah pendekatan perut saja, walaupun efektif untuk menggalang suara, justru kontradiktif bagi spirit pendewasaan berdemokrasi di negeri ini.

Namun sangat kita sayangkan, pendekatan perut yang dilakukan di setiap hajatan demokrasi hingga saat ini masih dianggap lumrah, bahkan niscaya. Malah kita harus mengakui sebagian besar rakyat kita justru mengharapkan bantuan, apapun bentuknya. Karenanya, kita pun tak harus serta merta menyalahkan rakyat, karena kondisi ini merupakan indikasi bahwa rakyat berada pada posisi yang teramat sulit, sehingga mereka tetap mengharapkan bantuan, demi lima kilo gram beras untuk mengganjal perut, jangankan suara, apapun akan mereka berikan.

Kondisi rakyat yang tertekan seperti itu merupakan sasaran empuk bagi kandidat yang bermulut manis dan tidak bertanggung jawab. Mereka bisa melihat peluang dari perut yang lapar untuk meraih kekuasaan. Dengan bermodalkan kekayaan (uang) dan retorika-retorika gombal tentang kesejahteraan, mereka bisa menggalang suara dari rakyat yang lapar. Kalau seperti ini adanya, sampai berapa generasi kedepan, kita dapat berdemokrasi secara dewasa (sebuah utopia) ? Meneketehe !!.  Inilah cermin ber-demokrasi di negeri yang masih lapar.

Tabik !


Tag: cermin demokrasi, di negeri yang lapar

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

dizzman 0 0
jadi terinspirasi ya prof? he3x.... pertamax ah...
Harlan Eryandi 0 0
dizzman: iya bener mas, dah maem belom ?
dizzman 0 0
Harlan Eryandi: dah kenyang prof... maem pake duit negara he3x... : D
Harlan Eryandi 0 0
dizzman: se7, kita kan kerja sesuai ongkos he he. : p
adi 0 0
tidak semua dr kekayaan sendiri pak. contoh, blt yg cuma 300 ribu pun ternyata hasil utangan luar.
Harlan Eryandi 0 0
adi: blt aja ngutang ya mas, biaya pilpres ngutang luar juga ya. : )
ndableg 0 0
Harlan Eryandi:
keplok2 buat profesor harlan!

*abis itu ceburin ke empang* : D
Harlan Eryandi 0 0
ndableg: : D: D: D .... liburan kemana Kang ?
Delpazir 0 0
Harlan Eryandi: "liburan kemana Kang ?"
Delpazir 0 0
Yang jelas prof... om ndableg: nggak bakal punya nyali datang ke mertua, takur di borgol om? : D : D : D
ndableg 0 0
Delpazir: hihihi.. buronan mertua ya?
http://ngerumpi.c…ronan-mertua
ndableg 0 0
Harlan Eryandi: gak kemana2 prof. lagi 'kanker' nih
Harlan Eryandi 0 0
Delpazir: ndak kemana-mana mas, maklumlah cuman buruh pabrik, kebagian piket shift tgl. 25 & 26 he he ... : )

ndableg: sama Kang, sakukurata juga : D
lailah mubarokah 0 0
sebenarnya mereka itu sama2 lapar. Rakyat lapar, para kandidat itupun lapar, cuma beda jenis yang dilaperin..

Harlan Eryandi 0 0
lailah mubarokah: heeh ... rakyat laper perut, kandidat laper kekuasaan (ambisius). : )

Silahkan login untuk memberikan pendapat