Liberalisasi listrik 76

Selasa, 29 Des '09 10:09, dibaca 131 kali

Postingan ini akan singkat saja sebelum Saya pergi tidur.

Anda-anda yang sering berdiskusi dengan Saya, tentu mahfum dengan kengototan Saya dalam berargumentasi bahwa Indonesia lebih baik meliberalkan industri listriknya.

Liberal, dalam hal ini bukan hanya berarti Perusahaan swasta besar boleh memperjualbelikan listrik.

Liberal, dalam hal ini berarti setiap warga negara sebaiknya berhak untuk menjual dan membeli listrik, dengan harga sesuai dengan supply dan demand.

 

Existing Problem

Let's Face It! Permasalahan listrik kita adalah kurangnya supply.

Hal tersebut tidak lain dan tidak bukan, karena ada sebuah perusahaan monopolistik yang memproduksi dan mendistribusikan listrik.

Mau dipura-purakan dipecah bagaimanapun, the fact is simple: mereka menentukan segalanya tentang listrik.

Agar tidak repot, mereka memproduksi listrik di titik-titik yang mereka anggap sesuai, lalu mengirimkannya ribuan kilometer melalui jaringan yang juga mereka kelola. Pengiriman jarak jauh tersebut kemudian menyebabkan rugi daya.

Cara ini tentu saja tidak efisien.

Jika diasumsikan rugi daya rata-rata sebesar 7%, sedangkan total yang diproduksi adalah 40 000 MW, maka sebesar 2 800 MW terbuang percuma.

Setara dengan 1.4 juta rumah berkapasitas 2000 watt, atau dapat memenuhi kebutuhan setidaknya 7 juta manusia.

Dari daya yang terbuang saja, cukup untuk mensupply listrik satu setengah kali populasi seluruh Kalimantan Barat.

Itu baru menghitung rugi yang "apa-boleh-buat", kita masih belum menghitung rugi yang "dibuat-buat".

Tentu saja, dengan rugi daya sedemikian besar, perusahaan monopoli tersebut akan kesulitan memastikan ketersediaan supply listrik.

Ketika krisis terjadi, solusi yang mereka sediakan cuma satu: tambah pembangkit. Itu berarti tambah beban konstruksi bagi pembayar pajak, atau tambah utang.

 

Untapped Sources

"Biaya untuk itu besar sekali". Demikian tanggapan yang kita dapatkan, setiap kali ada usul baru tentang penyediaan tenaga listrik. Entah nuklir, entah angin, surya, laut, dll... dll.... dll....

Argumentasi lain yang seringkali dikemukakan: "PLT renewable energy tidak adaptif terhadap beban".

Intinya: Pokoknya(tm), biayanya/kerepotannya terlalu besar. Jadi lebih baik tidak usah berpikir, despite begitu banyak sumber energi terbarukan yang kita miliki, yang belum termanfaatkan.

Ah, tapi untuk membuat PLT yang "normal" saja pun, bukankah biayanya juga "terlalu" besar?

 

Berpikir di luar kotak

Pada dasarnya, ada sebuah jenis alat pembangkit lain yang kita miliki. Yang entah kenapa, tidak pernah dilirik oleh The Power That Be.

PLT tersebut adalah Mobil.

Sebuah mobil, dikabarkan memiliki kemampuan setidaknya 100hp. Itu setara dengan 70ribu watt. Asumsikanlah, karena primitifnya bangsa kita, listrik yang dapat dimanfaatkan dari sana hanyalah 25%-nya. Maka energi yang dapat diproduksi adalah sebesar 17500 watt. Setara dengan kebutuhan 8-9 rumah 2000 watt.

Ada lagi data yang menyebutkan, ada 17 juta mobil di Indonesia.

Maka potensi pembangkitan, tanpa harus membangun PLT baru, adalah hampir 300ribu MW!!! 7.5 kali lipat dari yang kita butuhkan, berdasarkan perhitungan "perusahaan itu".

 

Kesulitan-kesulitan

Bagaimana cara konversinya?

Bagaimana dengan usia mesin?

Bagaimana cara perhitungannya, jika dijual ke perusahaan itu?

Ada banyak solusi yang bisa kita pecahkan dari masalah-masalah diatas. Tapi secara umum akan lebih mudah, murah, dan mandiri, daripada membeli PLT baru.

Jangka panjangnya pun, dengan meliberalisasikan pembangkitan listrik menjadi hak pemilik kendaraan bermotor, maka kesadaran efisiensi energi pun dapat diwujudkan.

Harapannya, kita akan lebih berhemat menggunakan listrik, karena kita tahu betapa mahalnya sumber daya satu itu. Harapannya, inovasi akan muncul untuk lebih mengefisienkan masing-masing pembangkit, sehingga tidak hanya menguntungkan dalam membangkitkan listrik, tapi juga untuk transportasi.

 

 

Disclaimer: Mohon Saya jangan dipercaya begitu saja. Cari tahulah, apakah hitungan dan asumsi saya diatas sudah benar, berhubung saya sedang mengantuk ketika menuliskan ini.


Tag: listrik

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

l. wiji widodo 0 0
perlu langkah radikal untuk atasi listrik, malu dengan besarnya bangsa ini, masalah dasar masih ga kelar2...mimpi 'listrik' yg indah bro..
blentjong 0 0
Brati bersumber dari BBM juga ya bung? Kalau sebagian tenaga mobil dikonversi ke listrik, tenaga mobilnya sendiri berkurang dong.
Striding Cloud 0 0
blentjong:
Saya kutip paragraf terakhir:
[_
Harapannya, kita akan lebih berhemat menggunakan listrik, karena kita tahu betapa mahalnya sumber daya satu itu.

Harapannya, inovasi akan muncul untuk lebih mengefisienkan masing-masing pembangkit, sehingga tidak hanya menguntungkan dalam membangkitkan listrik, tapi juga untuk transportasi._]
Yudiantoro 0 0
Bung, saya pikir saya akan disuguhi mengenai liberalisasi industri listrik di Indonesia. Koq yang anda sampaikan berujung kepada sebuah gagasan lain tentang power plant? Benar-benar di luar kotak (duh itu terjemahan out-of-the-box koq ga enak ya : D ), tapi masih mentah sekali. Pertanyaan bung saya tambah ya, bagaimana memastikan availability dan reliability kalo listrik dibangkitkan dari setrum mobil? Bagaimana perbandingan kapasitas energi yang dibakar untuk menghidupkan mobil dengan energi yang dihasilkan? Index Polusinya?

Kenapa ga bicara dulu mbuka keran liberalisasi listrik ke swasta dari hulu sampe hilir? Karena saya setuju dengan model multi buyer-multi seller, taruhlah model australia..

Atau model pembangkit listrik dari pembakaran sampah seperti yang dulu pernah kita diskusikan disini http://www.politi…i-hitam.html dengan segala keruwetan penyortiran sampahnya, tinggal adopsi jepun model.

Ide gila, tapi saya merasa 'terlalu gila' ; ))

Striding Cloud 0 0
Yudiantoro:
Supply kurang.
Tersedia power plant yang out of the box.

Tapi power plantnya tidak bisa dipakai karena tidak ada uunya, maka solusinya agar powerplant tersebut bisa dipakai adalah:

Liberalisasi listrik langsung ke individu.

kira2 gitu alur logikanya.
blentjong 0 0
Striding Cloud: ok deh

Yudiantoro: bung, bisa cerita listrik pra bayar PLN? Kayaknya paling enggak bisa meningkatkan pola hidup hemat listrik.
Casper 0 0
Di TV pernah disiarin bapak2 di suatu desa yg bikin PLTA utk mencukupi keb listrik desanya. Meski begitu, ia dan masyarakat desa masih berharap PLN masuk desa tsb. Ternyata ngurus generator itu repot.
Ibnu Muslim 0 0
Yudiantoro: vs Striding Cloud: tanding ulang aja : ))
l. wiji widodo 0 0
Ibnu Muslim: ayo Da jd bandar! mau pasang nih Da..
Striding Cloud 0 0
Yudiantoro:

[_tapi masih mentah sekali. Pertanyaan bung saya tambah ya, bagaimana memastikan availability dan reliability kalo listrik dibangkitkan dari setrum mobil?_]

Anda benar, masih mentah sekali. : D

Biasanya ide yang muncul menjelang tidur, memang gila. : ))

Ayo kita brainstorming untuk memecahkan masalah ini.

Sekilas solusinya dikepala saya ada 2:

1. Harga listrik haruslah pula diliberalisasikan seperti harga saham/forex.
Ketika supply melebihi demand, harga jatuh. Sehingga lebih menguntungkan bagi pemilik powerplant untuk tidak menjual listrik. Sebaliknya, ketika demand diatas supply, harganya pun naik, sehingga profitable untuk meminjamkan PLT tersebut ke perusahaan itu.

2. Perlu Electric conversion centres secara lokal. Dimana costnya harus dipastikan lebih rendah daripada membuat PLT sendiri. Tercapai keuntungan kedua dengan sistem "lokalisasi" listrik ini: tidak ada rugi daya sebesar kebutuhan 1.5 propinsi.
Yudiantoro 0 0
Striding Cloud: lho kalo logika seperti ya sami mawon donk, regulasi kita kan belum seperti jepang yang memungkinkan individu jual setrum ke perusahaan penyedia listrik, kalo arahnya masin2 individu menyediakan listrik sendiri ini juga long-shot sekali, lha wong disuruh mbaca aja orang kita masih males ; ))

blentjong: oh iya, sekarang pln menyediakan listrik pra bayar, jadi meterannya harus diisi ulang pake voucher, yang mau ganti meterannya pake yang pra-bayar bisa hubungi PLN Distribusi terdekat (tapi kayaknya baru jakarta-bandung-surabaya, kalo ada kota lain yang sudah pls update).

Ini juga solusi kecil yang menarik untuk membuat orang waspada supply listrik, tapi kayaknya hanya efektif untuk golongan menengah ke bawah, secara yang mampu secara finansial (dan saya pernah liat sendiri), itu meteran digrojokin voucher ampe berjuta-juta rupiah.... IMO
Ibnu Muslim 0 0
l. wiji widodo: pegang Yudiantoro nih, poor 1 buat Striding Cloud : ))
Fight For The Future 0 0
Striding Cloud: Back in early 1990s, before PLN reached the area where my villa is located (a small village named Ngringin, on the slope of Mount Lawu), we managed to produce our own electricity using a small water-powered turbin generator, posted on a small waterfall which is located right on the south border of my land. Nothing fancy, but it generated enough power to bring some lights in the otherwise dark evenings.

Unfortunately, it was later neglected by the locals after PLN came in.
blentjong 0 0
Striding Cloud: ah... daripada bikin meteran yg reversible yg sudah diaplikasikan karena -menurut anda : D- mental fraud orang kita, mending bikin stasiun2 pembelian listrik oleh PLN di kampung2, gitu?

Kalo listrik dari solar cell bisa disimpan, trus dibawa ke stasiun itu gak?
blentjong 0 0
Yudiantoro: dan kalau harga listrik naik, mereka juga tereak2! : |
Lumayan lah idenya. Rencana saya mau pasang gituan juga.
Striding Cloud 0 0
Yudiantoro:

[_regulasi kita kan belum seperti jepang yang memungkinkan individu jual setrum ke perusahaan penyedia listrik_]

Hlah, itu khan exactly stated problem yang gw sampaikan diatas:
"Indonesia lebih baik meliberalisasikan listriknya"

Ini tercakup dengan merubah UU-nya.

[_kalo arahnya masin2 individu menyediakan listrik sendiri ini juga long-shot sekali, lha wong disuruh mbaca aja orang kita masih males_]

Solusi saya ada diatas: sediakan conversion centres, pengguna tidak perlu tahu terlalu detail, cukup cek harga.

Ketika harganya diatas biaya, dia tinggalkan mobilnya di conversion centres, sepanjang jam kantor atau sepanjang jam tidur.

Akan terjadi banyak kerumitan? JELAS.

Tapi kita tidak bisa menutup mata dengan adanya keberadaan PLT berdaya 7 kali lipat, sementara perusahaan itu kelak akan sibuk komplen kurangnya investasi konstruksi PLT, khan?

Pembangkitnya praktis tersedia, cuma ndak mau pakai saja...
Yudiantoro 0 0
Striding Cloud: He... kayaknya bisa jalan tuh 'ide gila' mu, kalo perhatiin UU Listrik yang baru dan UU Pelayanan Sosial, maka ada benang merah bahwa pemerintah (dan pln tentunya) bahwa ada kewajiban untuk penyediaan listrik di daerah secara mandiri.. nah kalo bisa mendekati salah satu pemda/pemprov/pemkab/pemkot yang cukup gila dan berani untuk bikin model percontohan yang lokal why not?

*sorry telat respons, client calls*
Yudiantoro 0 0
Striding Cloud: Pangkalnya tetep rubah UU donk : p itu investment cost-nya utuk rubah UU sama kali sama bikin Pembangkit 5 MW, siapa mau jadi sponsor? Jawa Pos mungkin? ; ))
blentjong 0 0
Yudiantoro: investment cost-nya utuk rubah UU sama kali sama bikin Pembangkit 5 MW

serius?
Yudiantoro 0 0
blentjong: dead serious
blentjong 0 0
Yudiantoro: lah? emang berapa si biaya bikin pembangkit 5 MW?
Yudiantoro 0 0
blentjong: 1 MW equal (more/less) 1 juta USD
Striding Cloud 0 0
Yudiantoro: gila.. dimakan pejabat atau dewan?
Striding Cloud 0 0
Yudiantoro: itu overnight cost? atau total dengan konstruksi?
Yudiantoro 0 0
Striding Cloud: bah.. no comment gue, sebelum Pasal 27 UU ITE direvisi... : D
Yudiantoro 0 0
Striding Cloud: Total Konstruksi (1 juta USD= 1 MW) untuk sampai bisa dibangkitkan listriknya
Striding Cloud 0 0
Yudiantoro:
interesting fact.

Sebenernya, dengan liberalisasi ke level individu, ongkos itu kelak tidak terbebankan ke pemerintah bukan? : D

Perlu sekitar 60 mobil pribadi untuk membangkitkan 1 MW.
Yudiantoro 0 0
Striding Cloud: setuju, bisa dibuatin modelnya dan ditawarkan ke pemda nih bung, karena ada kewajiban baru mereka sesuai dengan UU Ketenagalistrikan dan UU Pelayanan Sosial yang baru. Mari bergerak? : )
Striding Cloud 0 0
Yudiantoro:

Nanti saya coba buat modelnya, saya opensourcekan bagi siapa saja yang mau menawarkannya.

Ada riset dasar yang perlu dilakukan di dunia nyata: konversinya.

UU-nya mulai kapan boleh?
Yudiantoro 0 0
Striding Cloud: hmmm.. kalo UU listrik segera berlaku, kalo UU Pelayanan Sosial CMIIW, setaun sejak diundangkan, berarti 2010, plg lambat 2011
mobilbukanmotorbikinmacet 0 0
Striding Cloud: perlu sekitar 60 mobil pribadi untuk membangkitkan 1 MW.
--------
itu asumsi mobil kerja 24 jam sehari atau bagaimana ? gak mungkin kan mobil kerja 24 jam sehari hanya untuk bikin listrik ??
free7 0 0
Striding Cloud:
[Pembangkitnya praktis tersedia, cuma ndak mau pakai saja.]

Maksudnya di tempat anda?

Saya juga dah lama tertarik ide ini.... rasanya mau menyumpah-nyumpah dg kata2 paling jelek melihat orang sering bilang krisis daya di negeri spt indo ini ...pernah juga punya pengalaman buruk mau berbuat sosial membuat pembangkit kecil2 an di wilayah yg belm masuk listerik malah di persulit : D
alakazam 0 0
bagaimana dengan geotermal, banyak wilayah indonesia yg mempunyai potensi geotermal skala kecil, yg bisa digunakan untuk pembangkit listrik geotermal sekitar 10 MW, atau kira2 cukup untuk 1 kecamatan padat penduduk di pulau jawa...

oh ya, saya ingat, ada artikel menarik tentang pembangkit listrik geotermal di blog pak Rovicky : http://tinyurl.co…-skala-kecil
The Crew 0 0
alakazam: Ada referensi soal biaya membuat dan merawatnya?
Striding Cloud 0 0
mobilbukanmotorbikinmacet:
1 MW adalah besaran power bukan energi.

Jadi kira2 gini praktisnya: Kalau 60 mesin mobil dimanfaatkan untuk membangkitkan listrik dengan efisiensi 25%, selama 1 jam. Maka energi yang dibangkitkan adalah 1 MWh.

Pemikirannya, ketika harga (yang naik turun secara liberal tadi) memungkinkan untuk untung, pemilik mobil dapat memilih (opt-in) untuk menggunakan mobilnya sebagai pembangkit listrik ketika ia tidak sedang memakainya.

Skenario yang saya pikirkan kira2 begini. Setiap harinya, pada saat kerja, mobil nganggur. Nah jika mobil tersebut dititipkan ke parking lot yang beroperasi ganda jadi conversion centre, maka pemilik bisa memilih apakah ia hendak membayar parkir, atau dibayari...

free7: Mobil bung, mobil....
1 Mobil, dengan efisiensi buruk sekali pun, bisa melistriki 8-9 rumah 2000 watt.

alakazam: Sudahkah Anda memanfaatkan geotermal untuk rumah Anda sendiri?
silip 0 0
Striding Cloud: [Jadi kira2 gini praktisnya: Kalau 60 mesin mobil dimanfaatkan untuk membangkitkan listrik dengan efisiensi 25%, selama 1 jam. Maka energi yang dibangkitkan adalah 1 MWh.]Dengan output energi sebesar 1MWh, dan effisiensi 25% maka dibutuhkan energi masukan sebesar 4MWh(dalam hal ini berupa hasil pembakaran bahan bakar). Mohon koreksi jika salah, menurut saya rancangan ini bisa untuk pembangkit listrik darurat. Tetapi untuk berkelanjutan apakah cukup efisien?
Striding Cloud 0 0
silip:
Saya quote dari artikel ya:
[_Harapannya, inovasi akan muncul untuk lebih mengefisienkan masing-masing pembangkit_]


Hitungan 25% diatas, hanyalah untuk menggambarkan ketersediaan pembangkit.

Bahwa kita punya alat pembangkit yang largely untapped. Biaya investment-nya pun tidak terbeban ke pajak/apbn, tapi ditanggung oleh pemilik kendaraan.

In reality, angkanya akan lebih dekat ke 50%.

Nah, Efisiensi, biasanya muncul jika industrinya ada. Harapannya dengan usaha mengefisienkan pembangkitan, 3 pulau terlewati:
1. Menghasilkan lebih banyak uang bagi pemilik mobil.
2. Meningkatkan efisiensi transportasi.
3. Membuka kesadaran efisiensi energi.

Poin no 1 tidak akan terjadi, jika energinya amat tidak efisien. Setahu saya efisiensi sebenarnya harus dimulai dari supply-demand, hence saya mengatakan liberalisasinya juga harus terjadi di harga jual/beli listrik.
silip 0 0
Striding Cloud:
Pandangan mengenai efisiensi saya terlalu sempit ke proses konversi tersebut, 25%. Dan ternyata hal tersebut juga akan kurang relevan jika energi masukannya tersedia secara bebas, misal angin, air, sinar matahari, dll.

[Nanti saya coba buat modelnya, saya opensourcekan bagi siapa saja yang mau menawarkannya.] Menarik, saya tunggu.
ourfrank 0 0
bener2 out of the box. bisa banget nih! daftar kemana ya? haha
conscientizacao 0 0
Kalau memanfaatkan gas metan sampah, udah dibahas kali yak? ; )) http://www.bogor.…46&Itemid=53
Striding Cloud 0 0
silip:

Tujuan artikel diatas sebenarnya untuk menunjukkan bahwa kita punya pembangkit yang cukup.

Karena masalahnya selama ini adalah ketiadaan supply, ketiadaan pembangkit.

Ketersediaan sumber energi tidak ada gunanya jika ongkos bikin pembangkitnya besar, sedangkan penggunaannya tidak akan termanfaatkan 100% pada saat bukan beban puncak.

Misalnya dipakai 1 juta dollar untuk membuat pembangkit apapun dengan rating 1 MW, sedangkan pemakaian rata-rata nya hanya 80%, maka secara instan ada buang2 investasi awal sebesar US$ 200k.

Padahal pada saat beban tinggi, seringkali mobil sedang tidak dipakai.

Nah, bagaimana jika 200k/MW itu dialihkan untuk subsidi riset efisiensi kendaraan misalnya? di amerika itu isu2nya sudah ada mobil 200mpg. 10 ribu MW kemaren, berarti sudah ada pemborosan 2 milyar dollar...

Itu baru pemborosan, belum total cost yang dihemat.

Ongkos investasi total pembangkit yang dihemat jika kita memanfaatkan mobil, bahkan dengan inefisiensi luarbiasa, adalah 300 milyar dollar!!!

Ongkos tersebut diredistribusi ke pemilik mobil, sebagai biaya investasi mereka.

Dana yang terbebas sebesar segitu, cukup untuk bikin 100 buah burj dubai, di berbagai lokasi di indonesia, atau kalau memang kembali ke pembangkitan listrik, cukup untuk membuat 150 buah PLTN 1000MWe.

Saya melihat endless possibilities dari berbagai sudut pandang. Entah dari inovasi efisiensi, kesadaran energi, hingga terbebasnya budget.
conscientizacao 0 0
...Atau yang ini, memanfaatkan microbial fuel cell? http://www.livesc…garbage.html

ah, saya awam kalau soal beginian. Tapi menarik, soalnya listrik sudah jadi kebutuhan pokok... bisa berurusan dengan hidup-matinya orang... : D
Striding Cloud 0 0
conscientizacao:

Kalau model yang saya perkirakan lebih efisien adalah gasifikasi sampah, lalu hasilnya direconvert ke BBM dengan katalis.

Panas sisa-nya bisa dipakai untuk pengeringan algae, dimana alganya juga dipakai untuk feedstok gasifikasi pada saat sampahnya tidak efisien. Lalu gas buang/sisa gasifikasi difeed lagi ke pertanian alga untuk diserap.

Efisiensinya selain dari loopnya yang semi-closed karena hibrid alga/sampah, juga dari carbon credit yang didapat dari carbon-recapture.

Diatas kertas sih... profitable, dan menyelesaikan beberapa masalah sekaligus.
Yudiantoro 0 0
conscientizacao: kalo masalah sampah, disini http://www.politi…i-hitam.html juga udah dibahas ; )
silip 0 0
Striding Cloud:
Jawaban anda selalu lebih dari yang saya harapkan, terima kasih.

[Tujuan artikel diatas sebenarnya...
... ketiadaan pembangkit.] Tersampaikan, setuju.

[Ketersediaan sumber energi...
...sudah ada pemborosan 2 milyar dollar] Sebuah sistem memang dirancang untuk tidak running di kemampuan maksimal, dalam hal ini merupakan handling untuk sebuah anomali dengan toleransi tertentu.

Jika sistem baru dirancang dengan kemampuan hanya 80% kemampuan sistem lama dengan acuan penggunaan bukan pada beban penuh, guna menghindari pemborosan, maka sistem tidak akan mampu menangani saat terjadi beban penuh,

Menurut saya yang bisa diperbaiki adalah apa yang perlu dilakukan terhadap sisa kemampuan 20% tersebut saat tidak terpakai, itu-pun kalau dirasa bahwa tidak memanfaatkannya dianggap pemborosan.

Saya masih menunggu pemodelannya, karena yang ada dalam benak saya bahwa mobil tersebut akan dimanfaatkan untuk memutar generator, sehingga masih perlu investasi untuk membuat sistem guna mengkonversi perputaran tersebut menjadi energi listrik yang bisa dimanfaatkan. Ya, anda memberikan solusi untuk mendistribusikan ongkos ini ke pemilik mobil sebagai sebuah investasi, hanya penasaran kira2 berapa biaya untuk membuatnya.

Juga masih belum ada gambaran model distribusi, apakah menggunakan rechargeable device?

Saya juga sempat mengumpulkan informasi pembangkit listrik bersumber pada energi yang berlimpah, dan sampai sekarang masih terabaikan, ...ah ternyata urusan perut bisa menghancurkan idealisme... : (
Wonggantenk 0 0
Striding Cloud: mobil?
secara thermodinamics kurang efisien bro....

kenapa enggak membuka luas luas kebun sawit?

Tanaman ini relatif lebih gampang mengurusnya daripada tanaman perkebunan lain

Cangkang, limbah cair, dan serat bisa direkayasa untuk menghasilkan listrik dan kelebihan beban listrik dari PKS bisa disalurkan ke kebutuhan lain

Kalau perlu CPOnya sendiri kita pakai untuk pembangkit generator diesel

Batasi ekspor, jamin kebutuhan CPO untuk pangan dalam negeri dengan Public Supply Obligation, serta tingkatkan dana riset untuk meningkatkan produktivitas tanaman serta mencari bibit bibit baru yang lebih unggul (intensifikasi)...Harga CPO di luar negeri akan naik, dan ini akan merangsang riset dan rakyat untuk menanam kelapa sawit, juga sebagai kompensasi terhadap Public Supply Obligation
free7 0 0
Striding Cloud:
Masuk akal..
Di luar itu, intinya jika liberalisasi listerik di jalankan...banyak yg bisa di olah untuk keperluan pembangkit , kita tau masyarkat kita cukup kreatif untuk hal2 spt itu.

Saya sering mempelajari Belanda, bagaimana negara yg alamnya serba terbatas itu bisa membuat energi....apalagi di negeri ini.
Wonggantenk 0 0
free7: mau tahu Belanda? sumber energi mereka berasal dari rezeki mereka dapat sumber gas di tanah mereka dan diolah Shell yang sahamnya sebagian besar dimiliki keluarga kerajaan sehingga rakyatnya menikmati pemanas gas tanpa tergantung Russia. Gas itu diutamakan untuk suplai domestik dulu baru dijual
free7 0 0
Wonggantenk:
Gitu ya...
Kalau saya cuma mengamati bagian kincir angin dan angin laut yg di konvert jadi listrik .

Ya, sebetulnya menurut saya, jika pemerintah indonesia, jika bisa dan mau mengolah nuklir secara serius akan jauh lebih hebat .... kalaupun tidak di gratiskan, minimal tidak membebankan (biaya listrik itu)
Wonggantenk 0 0
free7: kincir angin dan tenaga laut bukan sumber utama. Sumber utama adalah Shell

Di tempat saya terdampar sekarang, rekan - rekan kami sudah selesai meneliti pemanfaatan listrik dari beda potensial tekanan antara dua jenis air di kedua sisi tanggul, listrik dari pohon sedang tahap penelitian.
free7 0 0
Wonggantenk:

Ooo gitu ya...

Semoga sukses penelitiannya.... kalo nggak keberatan nanti di share dong artikel penelitian itu seperluanya aja, buat nambah2 wawasan.

Dulu juga saya pernah membuat beberapa percobaan kecil di kampung, sekedar untuk membuktikan keyakinan saya bahwa tenaga panas matahari dan angin laut di indonesia bisa di oleh untuk keperluan listrik independen rakyat, jika liberalisasi listrik ini berlaku.

free7 0 0
Ralat: bisa di oleh
free7 0 0
Halah
bisa di OLAH : ))
Yudiantoro 0 0
Wonggantenk: scrollup bro, intinya ga ngomongin energi terbarukan, tapi lebih ke liberalisasi listrik ke individu
Wonggantenk 0 0
Yudiantoro: Liberalisasi listrik versi industri sawit bisa diterapkan. PKS (yang kelebihan potensi listrik) menjual listrik kepada PLN, dan untuk petani kelapa sawit, kompensasi diberikan dengan memasukkan konversi komponen cangkang dan serat untuk listrik dalam perhitungan harga rata rata TBS mingguan yang ditentukan setempat.
Yudiantoro 0 0
Wonggantenk: lho yang bilang ga bisa siapa mas? Menegaskan bahwa inti artikelnya lagi menyoroti kemampuan individu untuk generating self-power (electricity), tanpa campur tangan perusahaan. Kalo model sampeyan kan masih melibatkan unsur perusahaan yang artinya mengaburkan prinsip liberalisasi individu..
Wonggantenk 0 0
Yudiantoro: kalau begitu, perlu juga dipikirkan konsep untuk aturan pendukungnya (hukum maksudnya)
Yudiantoro 0 0
Wonggantenk: nah akhirnya jatuh kesana semua : D cb mas scroll up lagi pelan2 ke atas, ada damage cost-nya bicara investasi regulasi ; ))
Wonggantenk 0 0
Yudiantoro: ; )
rottensoul 0 0

[saya sedang membayangkan si operator tenaga listrik yang dititipkan di penitipan mobil/power plant, memainkan pedal gas sambil menonton film di dvd-player mobil client-nya]
conscientizacao 0 0
rottensoul: Wakaka... Untuk menggenerate listrik dengan frekuensi standar, diperlukan kecepatan tertentu dan relatif harus stabil. Jadi kayaknya pedal gas tidak akan kepake deh pak... : D

silip: "sehingga masih perlu investasi untuk membuat sistem guna mengkonversi perputaran tersebut menjadi energi listrik yang bisa dimanfaatkan."

Yang saya tahu soal pembangkit listrik dengan tenaga diesel, memang dibutuhkan generator listrik yang bisa menghasilkan listrik dengan kualitas standar, frekuensi dan voltase yang bisa digunakan di rumah. Alat itu pasti butuh investasi, dan saya tidak tahu berapa harganya ya? Kalau bikin sendiri, saya kira tidak mustahil, dipasang langsung di mobil sehingga dari mobil keluarnya cuma colokan gitu aja... : D

Yudiantoro: Striding Cloud:
Pengolahan energi listrik yang akan dilakukan di TPPST Nambo dari gas metan berupa cairan. Cairan itu untuk menghidupkan generator gensetnya. Listrik hasil pengolahan sampah di TPPST Nambo itu sudah dipesan PT Indocement. “Jadi, bukan hasil pembakaran seperti di Gedebage, Bandung. Karena dengan pembakaran, akan ada polusi udara,” tegas Ateng.

Itu cerita yang di Bogor, mungkin mirip dengan gagasan Striding Cloud? Tapi saya menduga tidak memungkinkan dibuat dalam skala kecil untuk memenuhi listrik di rumah sendiri...

Kalau yang ini, nyambung yang bacteria, berupa Anaerobic Digester http://www.youtub…=tsoxO6vPjUk kayaknya kok mungkin dipasang di rumahan... Tapi nggak tau investasinya berapa... Ini juga banyak istilah aneh yang saya nggak ngerti... : D
Striding Cloud 0 0
silip:
[_Jika sistem baru dirancang dengan kemampuan hanya 80% kemampuan sistem lama dengan acuan penggunaan bukan pada beban penuh_]

Yep. I know that.

Tapi itu juga menjelaskan, mengapa byarpetnya listrik kemungkinan by design.

Therefore, we need auxilliary system to back it up.

[_Saya masih menunggu pemodelannya, karena yang ada dalam benak saya bahwa mobil tersebut akan dimanfaatkan untuk memutar generator ...dst_]

Yeah, semacam itu.

Pada dasarnya model simple dari kinetic-converted-to-generator, sudah mulai diterapkan di mobil2 listrik/hybrid. Istilahnya regenerative brake, untuk memanen ulang energi yang terbuang pada saat pengereman.

[_http://en.wikiped…tive_brake_]

Perkiraan saya, If its simple enough to be used on Brake system, it should be simple enough to be adapted to cars.

Mobil listrik/hybrid sebagai auxilliary battery juga sedang diriset.
[_http://www.mixedp…ower-grid/_]

My guess, mobil sebagai generator juga akan mengikuti pola yang sama.

Perhatikan di artikel tersebut, harga listrik sudah liberal.

Wonggantenk:

Argumentasi dasar saya, kapitalis banget.

Supply sedikit. Investasi tidak ada. Maka ketika terjadi shortage, harga wajar meningkat.

Jika harga meningkat, penggunaan yang kurang efisien secara thermodynamics pun jadi bisa profitable.

Dengan tersedianya sistem (UU, model bisnis dll), maka diharapkan inovasi untuk memfasilitasi peningkatan efisiensi pun terjadi. Contoh yang saya beri di kolom komentar ini: regenerative brake adalah inovasi yang terjadi karena kebutuhan.

Contoh soal seperti ini banyak...
Dulu saya pernah baca report DOE, bahwa biodiesel tidak feasible. Karena oil masih dibawah US$20. Ketika oil pricenya meningkat salah satunya karena supply/demand, biodiesel jadi feasible.

conscientizacao:

Beda lah. Kalau model yang saya testing itu model gasifier sasol afrika selatan.

"Dibakar" untuk menghasilkan "polusi", yang kemudian dikonversi ke bensin, sisanya masih difeed ulang ke tumbuhan.... semacam phytoremediation. Panas yang terjadi ketika "pembakaran" juga di reuse untuk memanen biodiesel dari tumbuhan, yang setelah "diperas", limbahnya difeed lagi kedalam gasifier.

Diatas kertas, bisa profitable, karena ada tambahan energi lewat matahari ke tumbuhan. Plus polusi yang di phytoremediasi berhak mendapatkan carbon-credit.

Striding Cloud 0 0
Wonggantenk: Inovasi yang muncul untuk memecahkan profitabilitas/efisiensi mobil-sebagai-generator, kemudian juga akan menguntungkan fungsi aslinya mobil sebagai alat transportasi.
conscientizacao 0 0
Striding Cloud: Wow... Okey... : D
free7 0 0
Striding Cloud:
Berarti teknisnya tinggal masalah baterai penyimpan , dari hasil konversi listrik dari mobil itu ,ya bung ?

Sory, kalo maksud saya salah... mau baca semua komen satu2 panjang banget
Striding Cloud 0 0
free7:

....atau net metering aja. Toh listrik yang dihasilkan hanya akan dipakai lokal.

[ http://en.wikiped…Net_metering ]

in other words, di resupply ke grid.
free7 0 0
Striding Cloud:

Coba nanti saya mau utak-atik hitung biaya produksi pembuatan generatornya... atau anda sudah ada gambaran konsep dan biayanya ?
Striding Cloud 0 0
free7: Blom secara persisnya. Wong ini postingan ngantuk kok. : D

Gara2nya nonton ceramahnya eric schmidt soal cloud computing...

Tapi bisa dicari dan dirancang. Storage data yang saya dedikasikan untuk urusan energi sekitar 1/4 TB, sekarang masih malas bongkar2 HDD...
free7 0 0
Striding Cloud:
Iya , gagasan anda memanfaatkan kemubaziran energi mobil buat saya sekilas saja sangat logis dan pasti bisa menjadi solusi energi buat masyarakat secara independen jika di niatkan .

Kalau biaya di kalkulasi secara individu tentu besar sekali untuk produk awalnya ...tapi jika memang bisa di liberalisasikan oleh pemerintah, tentu akan jadi sangat murah, karena akan beralih ke produksi masal yg cost nya bisa sangat di tekan...gambaran saya sementara gitu .
daus 0 0
baca tulisan ini pula http://politikana…-petaka.html
alakazam 0 0
The Crew:
silahkan buka alamat yg saya cantumkan, ada sedikit penjelasan baik alat maupun biaya di blog tersebut

Striding Cloud:
saya memanfaatkan energi matahari bung, 8 lembar solar cell membuat rumah saya terbebas dari belenggu monopoli listrik di negeri ini...
alakazam 0 0
The Crew:
silahkan buka alamat yg saya cantumkan, ada sedikit penjelasan baik alat maupun biaya di blog tersebut

Striding Cloud:
saya memanfaatkan energi matahari bung, 8 lembar solar cell membuat rumah saya terbebas dari belenggu monopoli listrik di negeri ini...
Striding Cloud 0 0
alakazam: sip2
edka 0 0
kalau semua mobil dipakai utk membangkit berarti kita ke kantor naik kuda yah, hehehehe.....
Saya lihat penulis sdh menyinggung ttg besarnya energi utk transportasi saja mencapai 300 GW yg tdk mungkin dipenuhi oleh seluruh pembangkit yg ada skrg di Indonesia. Bagaimana kalau krisis energi global terjadi dan bhn bkr fosil sdh tdk ada.
Itu hanya dlm hal transportasi, sedangkan energi utk mengolah makanan yg sy pikir lebih besar dari transportasi. Saya perkirakan kebutuhan total energi kita utk melakukan semua aktivitas sehari2 mencapai lebih dari 1 TW yg 90% dari bhn bkr fosil. Makanya saya terdorong utk nulis artikel utk hentikan ekspor bhn bkr fosil
aby98 0 0
mas , aku agak melenceng dikit dan semoga ga repost atau melihat ke belakang .

saya sebetulnya tidak alergi dengan Listrisk Swasta yang bahasa kerennya Liberalisasi Listrik . Cuma , Masih agak kurang sreg bila kemudian listrik itu seumur hidup dalam kawasan tertentu dimiliki swasta . meskipun paket regulasi tertingginya memang memungkinkan , tapi sy lagi mau fight plus komporin orang2 supaya kembalikan pasal 33 uud 45 . karena payung utamanya ini sudah berubah .

jadi kembali ke listrik swasta bagi saya dalam term waktu tertentu nanti si pemilik listrik swasta harus balikin ke negara . jangan tidak balik dan sepenuhnya dimiliki seseorang .

sementara ini aja komentarnya !
SuKaReLa 0 0
dulu pernah ngobrol iseng sama pegawai PLN, katanya kalau listrik swasta harganya pasti lebih mahal

nah pikiran saya waktu itu ... kalau lebih mahal sekali ya sapa yang bakal beli

kalau ga laku ya sapa juga mau usaha?

tapi kalau jelas-jelas ga boleh .... ya ga ada yang bakal tahu kan?

Silahkan login untuk memberikan pendapat