Liberalisasi listrik 76
Selasa, 29 Des '09 10:09, dibaca 131 kali
Postingan ini akan singkat saja sebelum Saya pergi tidur.
Anda-anda yang sering berdiskusi dengan Saya, tentu mahfum dengan kengototan Saya dalam berargumentasi bahwa Indonesia lebih baik meliberalkan industri listriknya.
Liberal, dalam hal ini bukan hanya berarti Perusahaan swasta besar boleh memperjualbelikan listrik.
Liberal, dalam hal ini berarti setiap warga negara sebaiknya berhak untuk menjual dan membeli listrik, dengan harga sesuai dengan supply dan demand.
Existing Problem
Let's Face It! Permasalahan listrik kita adalah kurangnya supply.
Hal tersebut tidak lain dan tidak bukan, karena ada sebuah perusahaan monopolistik yang memproduksi dan mendistribusikan listrik.
Mau dipura-purakan dipecah bagaimanapun, the fact is simple: mereka menentukan segalanya tentang listrik.
Agar tidak repot, mereka memproduksi listrik di titik-titik yang mereka anggap sesuai, lalu mengirimkannya ribuan kilometer melalui jaringan yang juga mereka kelola. Pengiriman jarak jauh tersebut kemudian menyebabkan rugi daya.
Cara ini tentu saja tidak efisien.
Jika diasumsikan rugi daya rata-rata sebesar 7%, sedangkan total yang diproduksi adalah 40 000 MW, maka sebesar 2 800 MW terbuang percuma.
Setara dengan 1.4 juta rumah berkapasitas 2000 watt, atau dapat memenuhi kebutuhan setidaknya 7 juta manusia.
Dari daya yang terbuang saja, cukup untuk mensupply listrik satu setengah kali populasi seluruh Kalimantan Barat.
Itu baru menghitung rugi yang "apa-boleh-buat", kita masih belum menghitung rugi yang "dibuat-buat".
Tentu saja, dengan rugi daya sedemikian besar, perusahaan monopoli tersebut akan kesulitan memastikan ketersediaan supply listrik.
Ketika krisis terjadi, solusi yang mereka sediakan cuma satu: tambah pembangkit. Itu berarti tambah beban konstruksi bagi pembayar pajak, atau tambah utang.
Untapped Sources
"Biaya untuk itu besar sekali". Demikian tanggapan yang kita dapatkan, setiap kali ada usul baru tentang penyediaan tenaga listrik. Entah nuklir, entah angin, surya, laut, dll... dll.... dll....
Argumentasi lain yang seringkali dikemukakan: "PLT renewable energy tidak adaptif terhadap beban".
Intinya: Pokoknya(tm), biayanya/kerepotannya terlalu besar. Jadi lebih baik tidak usah berpikir, despite begitu banyak sumber energi terbarukan yang kita miliki, yang belum termanfaatkan.
Ah, tapi untuk membuat PLT yang "normal" saja pun, bukankah biayanya juga "terlalu" besar?
Berpikir di luar kotak
Pada dasarnya, ada sebuah jenis alat pembangkit lain yang kita miliki. Yang entah kenapa, tidak pernah dilirik oleh The Power That Be.
PLT tersebut adalah Mobil.
Sebuah mobil, dikabarkan memiliki kemampuan setidaknya 100hp. Itu setara dengan 70ribu watt. Asumsikanlah, karena primitifnya bangsa kita, listrik yang dapat dimanfaatkan dari sana hanyalah 25%-nya. Maka energi yang dapat diproduksi adalah sebesar 17500 watt. Setara dengan kebutuhan 8-9 rumah 2000 watt.
Ada lagi data yang menyebutkan, ada 17 juta mobil di Indonesia.
Maka potensi pembangkitan, tanpa harus membangun PLT baru, adalah hampir 300ribu MW!!! 7.5 kali lipat dari yang kita butuhkan, berdasarkan perhitungan "perusahaan itu".
Kesulitan-kesulitan
Bagaimana cara konversinya?
Bagaimana dengan usia mesin?
Bagaimana cara perhitungannya, jika dijual ke perusahaan itu?
Ada banyak solusi yang bisa kita pecahkan dari masalah-masalah diatas. Tapi secara umum akan lebih mudah, murah, dan mandiri, daripada membeli PLT baru.
Jangka panjangnya pun, dengan meliberalisasikan pembangkitan listrik menjadi hak pemilik kendaraan bermotor, maka kesadaran efisiensi energi pun dapat diwujudkan.
Harapannya, kita akan lebih berhemat menggunakan listrik, karena kita tahu betapa mahalnya sumber daya satu itu. Harapannya, inovasi akan muncul untuk lebih mengefisienkan masing-masing pembangkit, sehingga tidak hanya menguntungkan dalam membangkitkan listrik, tapi juga untuk transportasi.
Disclaimer: Mohon Saya jangan dipercaya begitu saja. Cari tahulah, apakah hitungan dan asumsi saya diatas sudah benar, berhubung saya sedang mengantuk ketika menuliskan ini.
Tag: listrik
Terkait:
-
Lampu Jalan yang Bodoh
Minggu, 25 Jul '10 07:08 -
Penguasa Bodoh di Negeri Kaya
Minggu, 30 Mei '10 20:30 -
Dan Fecebooker pun Melawan Liberalisasi Ekonomi
Jumat, 15 Jan '10 13:31
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Ibnu Muslim: Keren
-
l. wiji widodo: Penting
-
blentjong: Penting
-
yusro: Menarik
-
Fight For The Future: Keren
-
Yudiantoro: Menarik
-
The Crew: Menarik
-
Harlan Eryandi: Menarik
-
kopisusu: Inspiratif
-
lailah mubarokah: Bagus
-
Delpazir: Menarik
-
ourfrank: Inspiratif
-
conscientizacao: Menarik
-
hendijo: Menarik
-
Alhuda: Menarik
-
rottensoul: Inspiratif
-
ndableg: Bagus
-
hamatamu: Menarik
-
Forlorn Hermit: Menarik
-
akusuka: Keren
-
Rufus: Menarik
-
linus: Inspiratif
-
boiga: Menarik
-
SuKaReLa: Penting
Komentar:
Saya kutip paragraf terakhir:
[_
Harapannya, kita akan lebih berhemat menggunakan listrik, karena kita tahu betapa mahalnya sumber daya satu itu.
Harapannya, inovasi akan muncul untuk lebih mengefisienkan masing-masing pembangkit, sehingga tidak hanya menguntungkan dalam membangkitkan listrik, tapi juga untuk transportasi._]
Kenapa ga bicara dulu mbuka keran liberalisasi listrik ke swasta dari hulu sampe hilir? Karena saya setuju dengan model multi buyer-multi seller, taruhlah model australia..
Atau model pembangkit listrik dari pembakaran sampah seperti yang dulu pernah kita diskusikan disini http://www.politi…i-hitam.html dengan segala keruwetan penyortiran sampahnya, tinggal adopsi jepun model.
Ide gila, tapi saya merasa 'terlalu gila'
Supply kurang.
Tersedia power plant yang out of the box.
Tapi power plantnya tidak bisa dipakai karena tidak ada uunya, maka solusinya agar powerplant tersebut bisa dipakai adalah:
Liberalisasi listrik langsung ke individu.
kira2 gitu alur logikanya.
Yudiantoro: bung, bisa cerita listrik pra bayar PLN? Kayaknya paling enggak bisa meningkatkan pola hidup hemat listrik.
[_tapi masih mentah sekali. Pertanyaan bung saya tambah ya, bagaimana memastikan availability dan reliability kalo listrik dibangkitkan dari setrum mobil?_]
Anda benar, masih mentah sekali.
Biasanya ide yang muncul menjelang tidur, memang gila.
Ayo kita brainstorming untuk memecahkan masalah ini.
Sekilas solusinya dikepala saya ada 2:
1. Harga listrik haruslah pula diliberalisasikan seperti harga saham/forex.
Ketika supply melebihi demand, harga jatuh. Sehingga lebih menguntungkan bagi pemilik powerplant untuk tidak menjual listrik. Sebaliknya, ketika demand diatas supply, harganya pun naik, sehingga profitable untuk meminjamkan PLT tersebut ke perusahaan itu.
2. Perlu Electric conversion centres secara lokal. Dimana costnya harus dipastikan lebih rendah daripada membuat PLT sendiri. Tercapai keuntungan kedua dengan sistem "lokalisasi" listrik ini: tidak ada rugi daya sebesar kebutuhan 1.5 propinsi.
blentjong: oh iya, sekarang pln menyediakan listrik pra bayar, jadi meterannya harus diisi ulang pake voucher, yang mau ganti meterannya pake yang pra-bayar bisa hubungi PLN Distribusi terdekat (tapi kayaknya baru jakarta-bandung-surabaya, kalo ada kota lain yang sudah pls update).
Ini juga solusi kecil yang menarik untuk membuat orang waspada supply listrik, tapi kayaknya hanya efektif untuk golongan menengah ke bawah, secara yang mampu secara finansial (dan saya pernah liat sendiri), itu meteran digrojokin voucher ampe berjuta-juta rupiah.... IMO
Unfortunately, it was later neglected by the locals after PLN came in.
Kalo listrik dari solar cell bisa disimpan, trus dibawa ke stasiun itu gak?
Lumayan lah idenya. Rencana saya mau pasang gituan juga.
[_regulasi kita kan belum seperti jepang yang memungkinkan individu jual setrum ke perusahaan penyedia listrik_]
Hlah, itu khan exactly stated problem yang gw sampaikan diatas:
"Indonesia lebih baik meliberalisasikan listriknya"
Ini tercakup dengan merubah UU-nya.
[_kalo arahnya masin2 individu menyediakan listrik sendiri ini juga long-shot sekali, lha wong disuruh mbaca aja orang kita masih males_]
Solusi saya ada diatas: sediakan conversion centres, pengguna tidak perlu tahu terlalu detail, cukup cek harga.
Ketika harganya diatas biaya, dia tinggalkan mobilnya di conversion centres, sepanjang jam kantor atau sepanjang jam tidur.
Akan terjadi banyak kerumitan? JELAS.
Tapi kita tidak bisa menutup mata dengan adanya keberadaan PLT berdaya 7 kali lipat, sementara perusahaan itu kelak akan sibuk komplen kurangnya investasi konstruksi PLT, khan?
Pembangkitnya praktis tersedia, cuma ndak mau pakai saja...
*sorry telat respons, client calls*
serius?
interesting fact.
Sebenernya, dengan liberalisasi ke level individu, ongkos itu kelak tidak terbebankan ke pemerintah bukan?
Perlu sekitar 60 mobil pribadi untuk membangkitkan 1 MW.
Nanti saya coba buat modelnya, saya opensourcekan bagi siapa saja yang mau menawarkannya.
Ada riset dasar yang perlu dilakukan di dunia nyata: konversinya.
UU-nya mulai kapan boleh?
--------
itu asumsi mobil kerja 24 jam sehari atau bagaimana ? gak mungkin kan mobil kerja 24 jam sehari hanya untuk bikin listrik ??
[Pembangkitnya praktis tersedia, cuma ndak mau pakai saja.]
Maksudnya di tempat anda?
Saya juga dah lama tertarik ide ini.... rasanya mau menyumpah-nyumpah dg kata2 paling jelek melihat orang sering bilang krisis daya di negeri spt indo ini ...pernah juga punya pengalaman buruk mau berbuat sosial membuat pembangkit kecil2 an di wilayah yg belm masuk listerik malah di persulit
oh ya, saya ingat, ada artikel menarik tentang pembangkit listrik geotermal di blog pak Rovicky : http://tinyurl.co…-skala-kecil
1 MW adalah besaran power bukan energi.
Jadi kira2 gini praktisnya: Kalau 60 mesin mobil dimanfaatkan untuk membangkitkan listrik dengan efisiensi 25%, selama 1 jam. Maka energi yang dibangkitkan adalah 1 MWh.
Pemikirannya, ketika harga (yang naik turun secara liberal tadi) memungkinkan untuk untung, pemilik mobil dapat memilih (opt-in) untuk menggunakan mobilnya sebagai pembangkit listrik ketika ia tidak sedang memakainya.
Skenario yang saya pikirkan kira2 begini. Setiap harinya, pada saat kerja, mobil nganggur. Nah jika mobil tersebut dititipkan ke parking lot yang beroperasi ganda jadi conversion centre, maka pemilik bisa memilih apakah ia hendak membayar parkir, atau dibayari...
free7: Mobil bung, mobil....
1 Mobil, dengan efisiensi buruk sekali pun, bisa melistriki 8-9 rumah 2000 watt.
alakazam: Sudahkah Anda memanfaatkan geotermal untuk rumah Anda sendiri?
Saya quote dari artikel ya:
[_Harapannya, inovasi akan muncul untuk lebih mengefisienkan masing-masing pembangkit_]
Hitungan 25% diatas, hanyalah untuk menggambarkan ketersediaan pembangkit.
Bahwa kita punya alat pembangkit yang largely untapped. Biaya investment-nya pun tidak terbeban ke pajak/apbn, tapi ditanggung oleh pemilik kendaraan.
In reality, angkanya akan lebih dekat ke 50%.
Nah, Efisiensi, biasanya muncul jika industrinya ada. Harapannya dengan usaha mengefisienkan pembangkitan, 3 pulau terlewati:
1. Menghasilkan lebih banyak uang bagi pemilik mobil.
2. Meningkatkan efisiensi transportasi.
3. Membuka kesadaran efisiensi energi.
Poin no 1 tidak akan terjadi, jika energinya amat tidak efisien. Setahu saya efisiensi sebenarnya harus dimulai dari supply-demand, hence saya mengatakan liberalisasinya juga harus terjadi di harga jual/beli listrik.
Pandangan mengenai efisiensi saya terlalu sempit ke proses konversi tersebut, 25%. Dan ternyata hal tersebut juga akan kurang relevan jika energi masukannya tersedia secara bebas, misal angin, air, sinar matahari, dll.
[Nanti saya coba buat modelnya, saya opensourcekan bagi siapa saja yang mau menawarkannya.] Menarik, saya tunggu.
Tujuan artikel diatas sebenarnya untuk menunjukkan bahwa kita punya pembangkit yang cukup.
Karena masalahnya selama ini adalah ketiadaan supply, ketiadaan pembangkit.
Ketersediaan sumber energi tidak ada gunanya jika ongkos bikin pembangkitnya besar, sedangkan penggunaannya tidak akan termanfaatkan 100% pada saat bukan beban puncak.
Misalnya dipakai 1 juta dollar untuk membuat pembangkit apapun dengan rating 1 MW, sedangkan pemakaian rata-rata nya hanya 80%, maka secara instan ada buang2 investasi awal sebesar US$ 200k.
Padahal pada saat beban tinggi, seringkali mobil sedang tidak dipakai.
Nah, bagaimana jika 200k/MW itu dialihkan untuk subsidi riset efisiensi kendaraan misalnya? di amerika itu isu2nya sudah ada mobil 200mpg. 10 ribu MW kemaren, berarti sudah ada pemborosan 2 milyar dollar...
Itu baru pemborosan, belum total cost yang dihemat.
Ongkos investasi total pembangkit yang dihemat jika kita memanfaatkan mobil, bahkan dengan inefisiensi luarbiasa, adalah 300 milyar dollar!!!
Ongkos tersebut diredistribusi ke pemilik mobil, sebagai biaya investasi mereka.
Dana yang terbebas sebesar segitu, cukup untuk bikin 100 buah burj dubai, di berbagai lokasi di indonesia, atau kalau memang kembali ke pembangkitan listrik, cukup untuk membuat 150 buah PLTN 1000MWe.
Saya melihat endless possibilities dari berbagai sudut pandang. Entah dari inovasi efisiensi, kesadaran energi, hingga terbebasnya budget.
ah, saya awam kalau soal beginian. Tapi menarik, soalnya listrik sudah jadi kebutuhan pokok... bisa berurusan dengan hidup-matinya orang...
Kalau model yang saya perkirakan lebih efisien adalah gasifikasi sampah, lalu hasilnya direconvert ke BBM dengan katalis.
Panas sisa-nya bisa dipakai untuk pengeringan algae, dimana alganya juga dipakai untuk feedstok gasifikasi pada saat sampahnya tidak efisien. Lalu gas buang/sisa gasifikasi difeed lagi ke pertanian alga untuk diserap.
Efisiensinya selain dari loopnya yang semi-closed karena hibrid alga/sampah, juga dari carbon credit yang didapat dari carbon-recapture.
Diatas kertas sih... profitable, dan menyelesaikan beberapa masalah sekaligus.
Jawaban anda selalu lebih dari yang saya harapkan, terima kasih.
[Tujuan artikel diatas sebenarnya...
... ketiadaan pembangkit.] Tersampaikan, setuju.
[Ketersediaan sumber energi...
...sudah ada pemborosan 2 milyar dollar] Sebuah sistem memang dirancang untuk tidak running di kemampuan maksimal, dalam hal ini merupakan handling untuk sebuah anomali dengan toleransi tertentu.
Jika sistem baru dirancang dengan kemampuan hanya 80% kemampuan sistem lama dengan acuan penggunaan bukan pada beban penuh, guna menghindari pemborosan, maka sistem tidak akan mampu menangani saat terjadi beban penuh,
Menurut saya yang bisa diperbaiki adalah apa yang perlu dilakukan terhadap sisa kemampuan 20% tersebut saat tidak terpakai, itu-pun kalau dirasa bahwa tidak memanfaatkannya dianggap pemborosan.
Saya masih menunggu pemodelannya, karena yang ada dalam benak saya bahwa mobil tersebut akan dimanfaatkan untuk memutar generator, sehingga masih perlu investasi untuk membuat sistem guna mengkonversi perputaran tersebut menjadi energi listrik yang bisa dimanfaatkan. Ya, anda memberikan solusi untuk mendistribusikan ongkos ini ke pemilik mobil sebagai sebuah investasi, hanya penasaran kira2 berapa biaya untuk membuatnya.
Juga masih belum ada gambaran model distribusi, apakah menggunakan rechargeable device?
Saya juga sempat mengumpulkan informasi pembangkit listrik bersumber pada energi yang berlimpah, dan sampai sekarang masih terabaikan, ...ah ternyata urusan perut bisa menghancurkan idealisme...
secara thermodinamics kurang efisien bro....
kenapa enggak membuka luas luas kebun sawit?
Tanaman ini relatif lebih gampang mengurusnya daripada tanaman perkebunan lain
Cangkang, limbah cair, dan serat bisa direkayasa untuk menghasilkan listrik dan kelebihan beban listrik dari PKS bisa disalurkan ke kebutuhan lain
Kalau perlu CPOnya sendiri kita pakai untuk pembangkit generator diesel
Batasi ekspor, jamin kebutuhan CPO untuk pangan dalam negeri dengan Public Supply Obligation, serta tingkatkan dana riset untuk meningkatkan produktivitas tanaman serta mencari bibit bibit baru yang lebih unggul (intensifikasi)...Harga CPO di luar negeri akan naik, dan ini akan merangsang riset dan rakyat untuk menanam kelapa sawit, juga sebagai kompensasi terhadap Public Supply Obligation
Masuk akal..
Di luar itu, intinya jika liberalisasi listerik di jalankan...banyak yg bisa di olah untuk keperluan pembangkit , kita tau masyarkat kita cukup kreatif untuk hal2 spt itu.
Saya sering mempelajari Belanda, bagaimana negara yg alamnya serba terbatas itu bisa membuat energi....apalagi di negeri ini.
Gitu ya...
Kalau saya cuma mengamati bagian kincir angin dan angin laut yg di konvert jadi listrik .
Ya, sebetulnya menurut saya, jika pemerintah indonesia, jika bisa dan mau mengolah nuklir secara serius akan jauh lebih hebat .... kalaupun tidak di gratiskan, minimal tidak membebankan (biaya listrik itu)
Di tempat saya terdampar sekarang, rekan - rekan kami sudah selesai meneliti pemanfaatan listrik dari beda potensial tekanan antara dua jenis air di kedua sisi tanggul, listrik dari pohon sedang tahap penelitian.
Ooo gitu ya...
Semoga sukses penelitiannya.... kalo nggak keberatan nanti di share dong artikel penelitian itu seperluanya aja, buat nambah2 wawasan.
Dulu juga saya pernah membuat beberapa percobaan kecil di kampung, sekedar untuk membuktikan keyakinan saya bahwa tenaga panas matahari dan angin laut di indonesia bisa di oleh untuk keperluan listrik independen rakyat, jika liberalisasi listrik ini berlaku.
bisa di OLAH
[saya sedang membayangkan si operator tenaga listrik yang dititipkan di penitipan mobil/power plant, memainkan pedal gas sambil menonton film di dvd-player mobil client-nya]
silip: "sehingga masih perlu investasi untuk membuat sistem guna mengkonversi perputaran tersebut menjadi energi listrik yang bisa dimanfaatkan."
Yang saya tahu soal pembangkit listrik dengan tenaga diesel, memang dibutuhkan generator listrik yang bisa menghasilkan listrik dengan kualitas standar, frekuensi dan voltase yang bisa digunakan di rumah. Alat itu pasti butuh investasi, dan saya tidak tahu berapa harganya ya? Kalau bikin sendiri, saya kira tidak mustahil, dipasang langsung di mobil sehingga dari mobil keluarnya cuma colokan gitu aja...
Yudiantoro: Striding Cloud:
Pengolahan energi listrik yang akan dilakukan di TPPST Nambo dari gas metan berupa cairan. Cairan itu untuk menghidupkan generator gensetnya. Listrik hasil pengolahan sampah di TPPST Nambo itu sudah dipesan PT Indocement. “Jadi, bukan hasil pembakaran seperti di Gedebage, Bandung. Karena dengan pembakaran, akan ada polusi udara,” tegas Ateng.
Itu cerita yang di Bogor, mungkin mirip dengan gagasan Striding Cloud? Tapi saya menduga tidak memungkinkan dibuat dalam skala kecil untuk memenuhi listrik di rumah sendiri...
Kalau yang ini, nyambung yang bacteria, berupa Anaerobic Digester http://www.youtub…=tsoxO6vPjUk kayaknya kok mungkin dipasang di rumahan... Tapi nggak tau investasinya berapa... Ini juga banyak istilah aneh yang saya nggak ngerti...
[_Jika sistem baru dirancang dengan kemampuan hanya 80% kemampuan sistem lama dengan acuan penggunaan bukan pada beban penuh_]
Yep. I know that.
Tapi itu juga menjelaskan, mengapa byarpetnya listrik kemungkinan by design.
Therefore, we need auxilliary system to back it up.
[_Saya masih menunggu pemodelannya, karena yang ada dalam benak saya bahwa mobil tersebut akan dimanfaatkan untuk memutar generator ...dst_]
Yeah, semacam itu.
Pada dasarnya model simple dari kinetic-converted-to-generator, sudah mulai diterapkan di mobil2 listrik/hybrid. Istilahnya regenerative brake, untuk memanen ulang energi yang terbuang pada saat pengereman.
[_http://en.wikiped…tive_brake_]
Perkiraan saya, If its simple enough to be used on Brake system, it should be simple enough to be adapted to cars.
Mobil listrik/hybrid sebagai auxilliary battery juga sedang diriset.
[_http://www.mixedp…ower-grid/_]
My guess, mobil sebagai generator juga akan mengikuti pola yang sama.
Perhatikan di artikel tersebut, harga listrik sudah liberal.
Wonggantenk:
Argumentasi dasar saya, kapitalis banget.
Supply sedikit. Investasi tidak ada. Maka ketika terjadi shortage, harga wajar meningkat.
Jika harga meningkat, penggunaan yang kurang efisien secara thermodynamics pun jadi bisa profitable.
Dengan tersedianya sistem (UU, model bisnis dll), maka diharapkan inovasi untuk memfasilitasi peningkatan efisiensi pun terjadi. Contoh yang saya beri di kolom komentar ini: regenerative brake adalah inovasi yang terjadi karena kebutuhan.
Contoh soal seperti ini banyak...
Dulu saya pernah baca report DOE, bahwa biodiesel tidak feasible. Karena oil masih dibawah US$20. Ketika oil pricenya meningkat salah satunya karena supply/demand, biodiesel jadi feasible.
conscientizacao:
Beda lah. Kalau model yang saya testing itu model gasifier sasol afrika selatan.
"Dibakar" untuk menghasilkan "polusi", yang kemudian dikonversi ke bensin, sisanya masih difeed ulang ke tumbuhan.... semacam phytoremediation. Panas yang terjadi ketika "pembakaran" juga di reuse untuk memanen biodiesel dari tumbuhan, yang setelah "diperas", limbahnya difeed lagi kedalam gasifier.
Diatas kertas, bisa profitable, karena ada tambahan energi lewat matahari ke tumbuhan. Plus polusi yang di phytoremediasi berhak mendapatkan carbon-credit.
Berarti teknisnya tinggal masalah baterai penyimpan , dari hasil konversi listrik dari mobil itu ,ya bung ?
Sory, kalo maksud saya salah... mau baca semua komen satu2 panjang banget
....atau net metering aja. Toh listrik yang dihasilkan hanya akan dipakai lokal.
[ http://en.wikiped…Net_metering ]
in other words, di resupply ke grid.
Coba nanti saya mau utak-atik hitung biaya produksi pembuatan generatornya... atau anda sudah ada gambaran konsep dan biayanya ?
Gara2nya nonton ceramahnya eric schmidt soal cloud computing...
Tapi bisa dicari dan dirancang. Storage data yang saya dedikasikan untuk urusan energi sekitar 1/4 TB, sekarang masih malas bongkar2 HDD...
Iya , gagasan anda memanfaatkan kemubaziran energi mobil buat saya sekilas saja sangat logis dan pasti bisa menjadi solusi energi buat masyarakat secara independen jika di niatkan .
Kalau biaya di kalkulasi secara individu tentu besar sekali untuk produk awalnya ...tapi jika memang bisa di liberalisasikan oleh pemerintah, tentu akan jadi sangat murah, karena akan beralih ke produksi masal yg cost nya bisa sangat di tekan...gambaran saya sementara gitu .
silahkan buka alamat yg saya cantumkan, ada sedikit penjelasan baik alat maupun biaya di blog tersebut
Striding Cloud:
saya memanfaatkan energi matahari bung, 8 lembar solar cell membuat rumah saya terbebas dari belenggu monopoli listrik di negeri ini...
silahkan buka alamat yg saya cantumkan, ada sedikit penjelasan baik alat maupun biaya di blog tersebut
Striding Cloud:
saya memanfaatkan energi matahari bung, 8 lembar solar cell membuat rumah saya terbebas dari belenggu monopoli listrik di negeri ini...
Saya lihat penulis sdh menyinggung ttg besarnya energi utk transportasi saja mencapai 300 GW yg tdk mungkin dipenuhi oleh seluruh pembangkit yg ada skrg di Indonesia. Bagaimana kalau krisis energi global terjadi dan bhn bkr fosil sdh tdk ada.
Itu hanya dlm hal transportasi, sedangkan energi utk mengolah makanan yg sy pikir lebih besar dari transportasi. Saya perkirakan kebutuhan total energi kita utk melakukan semua aktivitas sehari2 mencapai lebih dari 1 TW yg 90% dari bhn bkr fosil. Makanya saya terdorong utk nulis artikel utk hentikan ekspor bhn bkr fosil
saya sebetulnya tidak alergi dengan Listrisk Swasta yang bahasa kerennya Liberalisasi Listrik . Cuma , Masih agak kurang sreg bila kemudian listrik itu seumur hidup dalam kawasan tertentu dimiliki swasta . meskipun paket regulasi tertingginya memang memungkinkan , tapi sy lagi mau fight plus komporin orang2 supaya kembalikan pasal 33 uud 45 . karena payung utamanya ini sudah berubah .
jadi kembali ke listrik swasta bagi saya dalam term waktu tertentu nanti si pemilik listrik swasta harus balikin ke negara . jangan tidak balik dan sepenuhnya dimiliki seseorang .
sementara ini aja komentarnya !
nah pikiran saya waktu itu ... kalau lebih mahal sekali ya sapa yang bakal beli
kalau ga laku ya sapa juga mau usaha?
tapi kalau jelas-jelas ga boleh .... ya ga ada yang bakal tahu kan?
Silahkan login untuk memberikan pendapat