L U S I 16
Senin, 4 Jan '10 15:47, dibaca 967 kali
Rehat akhir tahun bagi kaum kusam seperti saya, benar-benar saya manfaatkan. Kata “Libur” saya artikan secara zakeleg. Rehat dari kerjaan, vakansi dari aktifitas sehari-hari, ya saya istirahatkan raga, pikiran serta jiwa dari hiruk pikuk rutinitas. Tidur!, lima huruf dalam satu kata yang hari-hari biasa adalah lakon tabu, me-raja pada hari-hari kemarin.
Sampai tadi malam, ada sapaan dari salah satu Simpei Agus PW, mewartakan “P” yang ”kemalingan”.
Baru siang ini, mulai menyantap sajian artikel-artikel yang tak terjamah selama masa libur kerja. Warta dari Bung Agus PW memang ga meleset, “P” meriah atas insiden L U S I (Lalai Ungkap Sumber Informasi) oleh pihak lain.
Meski kecewa ga sempat jadi saksi mata ketika babak “goro-goro” berlangsung, yang tentunya cukup riuh. Ada senyum kecut, ketika petaka ini harus diakhiri “hanya” dengan MAAF, tanpa menyadari bobroknya mental sang pelaku.
Pelanggaran etika yang dilakukan dan kita meng-amini permintaan maafnya hanyalah sketsa dekil tentang wajah bangsa kita kurang kesadaran akan kerja keras dan kurang menghargai hasil karya orang lain.
Ya memaklumi tindakan dia serta memberi jackpot pesan moral agar tidak mengulangi adalah proklamasi bahwa kita tidak punya etos itu.
Di Korea Selatan, agar perilaku kejahatan tersebut tidak tumbuh sejak kelas III SD hingga kelas I SMA, diajarkan materi etika , yang meliputi mata pelajaran etika sipil, etika dan gagasan, serta etika tradisional (Kompas, 4 September, 2004) yang tujuannya gamblang untuk melahirkan insan yang jujur dan hormat terhadap sesama.
Mengutip Sutrio S.Sos bahwa L U S I atau plagiator adalah perilaku yang menyedihkan daripada pencuri yang bersifat fisik atau benda. Pencuri biasanya akan mengakui bahwa barang yang dimiliki sebenarnya merupakan milik orang lain namun plagiator sama sekali tidak mengakui bahwa karyanya merupakan hasil karya orang lain namun malahan diaku sebagai karya dirinya sendiri.
Tag: pendidikan, etika, lusi
Terkait:
-
Teknologi: Meretas Pendidikan Berkeadaban
Minggu, 13 Mei '12 09:05 -
Walau Eko Sudah Dipenjara, Pejabat Dindik Banten Tidak Kapok Juga
Kamis, 10 Mei '12 15:06 -
Membangun Modal Insani, Mengatasi Kesenjangan (Copas)
Kamis, 3 Mei '12 13:48
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
The Crow: Penting
-
Mahfud MD: Menarik
-
pradaksina: Penting
-
Ibnu Muslim: Menarik
-
ndableg: Menarik
-
Yudiantoro: Penting
-
Black Horse: Menarik
-
johnb: Penting
-
yusro: Menarik
-
Striding Cloud: Penting
-
mbeling: Keren
-
Icarus: Penting
-
Harlan Eryandi: Menarik
-
Shouen: Penting
-
vraybeta: Penting
-
Nazil: Menarik
-
kopisusu: Penting
-
Forlorn Hermit: Menarik
-
Andy Syoekry Amal: Penting
-
boiga: Bagus
-
hamatamu: Penting
-
grand chamberlain: Penting
-
Neof Ana: Menarik

Komentar:
L U S I : LUkman emang SIip!!
Kereen!
Bojleng, bojleng™!
Ternyata pisohan saya tadi siang masih terlalu "manis"...
Icarus: Contoh pisohan manis Jawatimuran piye, cok....
Nazil:
Silahkan login untuk memberikan pendapat