Pahlawan 44

Selasa, 5 Jan '10 07:23

Saudaraku, tiba-tiba saya teringat dengan Benedict Anderson. Bukunya yang terkenal, Imagined Communities, mengingatkan saya tentang arti pahlawan dan kepahlawanan, sekaligus juga kontroversi yang selalu menyelimuti predikat itu.

Pahlawan adalah ciptaan rezim, meski di dalamnya terdapat tolok ukur yang – idealnya – bisa diterima semua pihak tanpa resistensi, namun kondisi ideal itu selamanya tak pernah terwujud. Setiap kali ia terangkat ke permukaan, kontroversi selalu muncul dan meragukan langkah. Terkecuali untuk satu: pahlawan tak dikenal.

Anderson mencoba mengingatkan, dalam konteks itu: ”Betapapun kosongnya liang lahat itu dari sisa-sisa kehidupan yang fana dan sukma yang abadi, tetap saja mereka sarat dengan konsep kebangsaan, yang terus membayang, bagai hantu.”

Di pusara pahlawan anonim itu, kita ditunjukkan dengan jelas bahwa ada seseorang yang luar biasa telah berjasa, tetapi ia tidak memiliki identitas apa pun. Praktis sebagai penanda kebangsaan yang kosong. Kehadirannya kukuh, bahkan setiap bangsa selalu menempatkannya pada sisi istimewa di atas semua predikat kepahlawanan yang pernah dimilikinya.

Hari-hari ini, kita semua juga disuguhi wacana kepahlawanan – lebih tepatnya ”memahlawankan” seorang wiku. Seperti diduga, kontrawacana pun selalu membarengi, bukan sekadar mengikuti. Antara patut dan tidak patut, dan juga adukan emosi ketika ekspresi kehilangan belum hilang dari pelupuk mata.

Dalam setiap semangat ”memahlawankan” seseorang, di dalamnya terkandung nilai subjektivitas, atas nama keadilan, dan sekaligus juga koreksi atas perlakuan rezim sebelumnya yang telah lepas nilai. Maka tak aneh jika dalam semangat kepahlawanan, meski terkandung paradoks, namun sesuatu yang universal ada di dalamnya.

Nilai universal itu meliputi kepatutan, catatan sejarah, dan perhitungan akan nilai-nilai kerusakan dan kemaslahatan. Seseorang memang pantas dilekati predikat pahlawan, ketika catatan jasanya pada negeri ini ditempatkan sebagai nilai positif yang bebas dari unsur subjektivitas politik kekuasaan.

Lantas, patutkan seseorang yang pernah membuat kerusakan sistemik, menebar racun dan kemalasan adiktif sebuah bangsa untuk dikukuhkan sebagai pahlawan? Jawabnya pasti: tidak. Dalam konteks hitam putih yang tegas, akan sangat mudah ditarik benang solusi. Namun apa daya, jika ia berada pada wilayah abu-abu (grey area), sungguh sangat tidak mudah untuk menarik sekadar kesimpulan yang dini sekali pun.

Nilai paradoksal inilah yang menempatkan setiap wacana itu selalu membentur dinding kontroversi yang tidak berujung-pangkal. Di satu pihak, kerusakan yang dibuatnya masih kental terasa, bahkan untuk beberapa generasi ke depan. Namun, di lain pihak kita juga harus objektif untuk tidak menutup mata, bahwa ia pernah berbuat sesuatu yang berguna bagi bangsa ini.

Dalam konteks yang lain, bukan berarti paradoksal itu selalu mutlak. Ada pengecualian, tentunya. Misalnya, jika wacana publik mengerucut dan memunculkan satu titik fokus yang tunggal, maka tak ada lagi keraguan dan paradoksal di dalamnya. Ia sepenuhnya memenuhi kaidah dan nilai-nilai bagi sosok seorang pahlawan. Hanya aspek administrasi birokratis saja yang membuat keputusan itu menjadi terhambat. Ia perlu terobosan.

Akhirnya, sebuah bangsa hanya secara samar-samar bisa merumuskan dirinya sendiri. Anderson menyebutnya: seperti hantu. Yang penting akhirnya bukanlah definisi, atau kriteria kepahlawanan, melainkan hasrat untuk ”memahlawankan”. Seperti halnya bangsa ini lahir dari ”hasrat untuk bersatu”, tapi seperti halnya setiap hasrat, ia tak akan sepenuhnya terpenuhi dan sering kali malahan hilang, kelelahan.

Dan terobosan itu perlu segera dilakukan, tanpa keraguan. Jika kita tidak mau ini menjadi kelelahan dan masuk angin. Seperti pahlawan tak dikenal itu: ia memberikan hidupnya bagi kita, kau dan aku. Tetapi ia bukan bagian dari kita, kau dan aku. Segeralah. ***

 

Yogyakarta, 5 Januari 2010. 

Foto: Courtesy dodohawe.com


Tag: pahlawan, pak harto, gus dur

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Media Terkait:

    Siapa saja yang merating artikel ini:

    Komentar:

    Agus PW 0 0
    Ya, jika dalam hal ini kita kaitkan dengan ke-pahlawan-an Gus Dur, saya yakin saat hidupnya beliau tak mengharapkan disebut pahlawan nasional-pun bahkan justru menimbulkan kontroversi berpanjang-panjang.
    Mbah Darmo 0 0
    Agus PW: Bener Gus, bukan Gusdur kalau tidak memancing kontroversi. Bahkan sudah wafat pun masih bisa mencerdaskan bangsa ini dengan memunculkan serangkaian diskusi yang panjang...
    hamatamu 0 0
    mungkin menarik kalau bung BMH membaca paragraf ke 6 dari artikel bung Mbah Darmo ini

    'Dalam setiap semangat ”memahlawankan” seseorang, di dalamnya terkandung nilai subjektivitas, atas nama keadilan, dan sekaligus juga koreksi atas perlakuan rezim sebelumnya yang telah lepas nilai. Maka tak aneh jika dalam semangat kepahlawanan, meski terkandung paradoks, namun sesuatu yang universal ada di dalamnya.'

    free7 0 0
    Mungkin Gusdur di alam sana berkata "halah cuma masalah merek pahlawan aja kok repot...."
    Agus PW 0 0
    free7: Tapi mungkin juga berkata begini "Heh, jika memang pahlawan itu penting untuk saya dan rakyat saya, pulihkan dulu nama baik saya terkait dengan Buloggate dan Brunaigate. Mosok ada pahlawan tercemar nama baiknya, hahahah, ya gak Kir, (Malaikat Nangkir maksudnya)" : )) ; ))
    anti-fenomena 0 0
    yah apapun perdebatannya, keputusan akhirnya di tangan Mensos : ))
    free7 0 0
    Agus PW:

    Makin lucu aja melihat bangsaku ini, kok masalah merek kepahlawanan aja di pusingkan...kaya budaya berpikir para bocah sebelum abad 18 : D
    ndableg 0 0
    anti-fenomena: bukan 'menkominfo' ya, ndess?
    Agus PW 0 0
    free7: masalahnya label ini "bagi yang menginginkan" sangat berguna bagi anak cucunya sampai 100 turunan sih bung...
    Mbah Darmo 0 0
    ndableg: Bukan Dab....tetap Mensos.

    *semoga bangcacih tidak membaca artikel ini, ada kekhawatiran sistemik*
    ndableg 0 0
    Mbah Darmo: hihihi.. sampeyan belom sudi maafin bocah gemblung itu ya mbah?

    mbah, tanggal 10 bisa ke jakarta?
    anti-fenomena 0 0
    ndableg: dari perdebatan td malem di TV One, yg saya tangkap, begitu ndess.... atau saya salah, silakan dikoreksi.

    *Maklum nonton sambil makan
    Striding Cloud 0 0
    Agus PW:

    Saya termasuk yang netral. Artinya jika dijadikan pahlawan, saya dapat mengerti alasan2 pendukungnya, jika ditolak, saya juga dapat mengerti alasan2nya. Gus Dur semasa hidup memang amatlah kompleks.

    Nah informasi Anda itu baru bagi saya. Apa benefit bagi anak cucu hingga 100 keturunan itu bung?
    free7 0 0
    Agus PW:

    Lha ...ya tinggal mengukuhkan sendiri kan, catat dan masukan dalam hati...tak perlu mengharapkan akuisisi resmi dari pemerintah RI ...emangnya sebagian besar para pahlawan dahulu yg menghiasi buku pelajaran anak sekolah gimana ceritanya....
    ndableg 0 0
    anti-fenomena: gw semalem jadi juru keplok-nya mbah anhar gonggong..

    si priyo dari golkar mati kutu waktu mbah anhar gonggong nantangin bisa nunjukin bukti kalo soeharto pernah merintah nembak warga-nya sendiri..
    free7 0 0
    Striding Cloud:

    Fenomena-nya jadi terkesan "ingin menciptakan pahlawan sendiri" ... lucu kan : D
    anti-fenomena 0 0
    ndableg: walaupun tetap bertahan dengan pendapat "mantan presiden adalah putra terbaik bangsa pada masanya, walaupun tidak lepas dari kesalahan, sehingga layak mendapatkan gelar pahlawan nasional" (tidak persis begini sih pendapatnya, tp mirip2 lah).

    *gw lsg nyari tas kresek buat muntah
    ndableg 0 0
    anti-fenomena: kalo gw langsung boker : ))
    santos 0 0
    Kalo pahlawan kan selalu di'doa'in tiap upacara dari sd-smu jadi bisa jadi rebutan tuh gelar biar terus didoain.
    Tapi kalo Gus Dur dah banyak pendukungnya yg delalu mendoakannya.
    yusro 0 0
    kasihan, terlalu banyak diskusi tar malah pahlawannya keburu masuk angin : )
    Red-White Eagle 0 0
    free7: [kok masalah merek kepahlawanan aja di pusingkan...] True. A hero lives in the heart of the people, not in a piece of paper issued by the government. Bung Tomo is a hero, and he had been a hero long before the government acknowledge it formally.
    cacong 0 0
    kemarin saya sempat nonton berita katanya Soeharto juga mau dijadikan pahlawan nasional (cmiiw).
    Alhuda 0 0
    Kalau saya pribadi pengusulan gelar Pahlawan Gusdur bukan tidak pantas tetapi terlalu buru2.

    Idealnya seseorang dinyatakan sebagai pahlawan dengan seleksi alam dan sampai jauh dari akhir hayatnya semakin terasa jasa yang pernah dilakukan untuk bangsa.

    Sedangkan pada Alm. Gusdur, tanah lahat belum mengering, bunga ucapan belasungkawa belum usai sudah tentu penilaian tersebut menjadi tidak subyektif...

    Banyak Pahlawan yang baru diakui gelarnya setelah beberapa dekade kematiannya... dan ini sangat subyektif.

    kalau salah mohon koreksi : p
    Harlan Eryandi 0 0
    yusro: : p: p: p sediain koin buat kerokan !
    Alhuda 0 0
    Harlan Eryandi:

    Lae duluan saya kerokin ya... : p
    abis itu gantian ama bung yusro:
    Red-White Eagle 0 0
    cacong: [Soeharto juga mau dijadikan pahlawan nasional] With a hero like that, who'd need a villain? ; ))
    cacong 0 0
    @red-white eagle:
    Maksud saya, kenapa g dri kemaren pas pak Soeharto baru meninggal trus dicalonkan jadi pahlawan (kayak gusdur sekarang). Apa karna g enak sama soeharto kah? Masa' gus dur jadi pahlawan dia tidak?
    Red-White Eagle 0 0
    cacong: [kenapa g dri kemaren pas pak Soeharto baru meninggal trus dicalonkan jadi pahlawan ] Actually, the reference to that intention had been launched by Golkar shortly after his death.
    Harlan Eryandi 0 0
    Alhuda: : p: p: p itu bang yusro: ditantang ngumpulin koin buat kerokan all naggota dewan n para menteri. : )
    Alhuda 0 0
    Harlan Eryandi: Apa beliau mau...? : D

    Soalnya bagus juga sih nambah lapangan pekerjaan...

    Bung yusro: yang ngumpulin koin biar saya yang bikin iklan penerimaan tenaga kerja baru...
    (Tukang kerok)
    : )) : )) : )) : ))
    syafatain 0 0
    sebenarnya, ada gak sih pahlawan tak dikenal itu?? Ya, berbuat "sesuatu" dengan tak mengharap "sesuatu"?

    jangan2 cuma legenda setara spiderman, atau superman>..
    Alhuda 0 0
    Nggak ada itu sit..! : D

    ya berbuat pasti mengharapkan sesuatu... ; ))

    tapi jarang yang mengharapkan jadi pahlawan... : p
    Mbah Darmo 0 0
    syafatain: Antara "tak dikenal" dengan "pamrih" itu agak sulit ditelusuri korelasinya. Mungkin saja orang berjuang dengan pamrih besar, tetapi karena lupa bawa KTP, maka ketika mati nggak ada yg mengenali. Dikuburlah ia sebagai mayat anonim....
    kinanthi 0 0
    Red-White Eagle: you should read 'surabaya' by idrus. It is said about different view about bung tomo. : )
    Red-White Eagle 0 0
    kinanthi: [you should read 'surabaya' by idrus] I have, actually. It has some truth in it, but it doesn't change anything. No hero is perfectly virtuous, just like no villain is perfectly evil.
    You should read Prakitri's "Kusni Kasdut". : )
    Red-White Eagle 0 0
    Red-White Eagle: typo: Prakitri => Parakitri
    kinanthi 0 0
    Red-White Eagle: punya? ada e-booknya gak? : D. Iya, saya sepakat. Kata pahlawan toh akhirnya jadi sekedar mitos. Nanti saya cari.
    kalangwan 0 0
    Yang menarik dari uraian Ben tentang para pahlawan tak dikenal itu adalah apa yang kelak disebut sebagai "estetika masa silam".

    Pahlawan berikut tugu dan monumennya mula-mula mengingatkan kita pada peran dan jasa orang-orang yang dikuburkan di sana bagi tanah air, juga bagi kita di hari ini. Tapi pada saat yang sama bisa juga membuat kita terpukau dengan kemegahan, keindahan dan kerapihannya -- pendeknya: melalui estetika masa silam.

    Keterpukauan atas estetika masa silam itu bisa membuat kita kehilangan daya untuk mengingat dan mengartikulasikan pelbagai hal yang tertanam di bawah fondasinya: kekerasan yang tergelar di baliknya, darah para korban tak bersalah yang tertumpah, dusta-dusta sejarahnya, juga semiotika kekuasaan yang terjalin dengan rapi dan halusnya.

    Dalam pokok soal itu, Anderson sebenarnya hendak mengatakan: para pahlawan itu mula-mula diciptakan oleh negara untuk kelanggenan aspek naratis dari wacana nasionalisme.

    Pendeknya, negara lebih membutuhkannya, lebih dari kita [masyarakat] membutuhkannya!
    ndableg 0 0
    kalangwan: tapi apa nanti depsos bakal ndegerin apa kata2 Ben dalam menetapkan gelar pahlawan seseorang, ndess?
    kalangwan 0 0
    ndableg:

    Memangnya Depsos mau kenalan sama Ben : p
    ndableg 0 0
    kalangwan: kalo Ben itu nggak tau. kalo bang ben udah lama kenal : ))
    kalangwan 0 0
    ndableg:

    kenal opo kenal? ojo ngaku sok kenal loh ya : ))
    empis2 0 0
    kenal yo ben ora yo ben
    ordni 0 0
    Agus PW: sependapat. Bisa abadikah gelar kepahlawanan ?? tentu tergantung padfa rezim ya ?

    Silahkan login untuk memberikan pendapat