Made in China 13
Rabu, 6 Jan '10 11:09
Saudaraku, 2010 baru lima hari kita masuki. Tahun ini akan dibuka dengan lepasnya simpul perdagangan bebas antara China dan negeri-negeri di Asia Tenggara. Saya tidak tertarik untuk menggalinya secara akademik. Bahwa sesungguhnya ada yang lebih menarik dan sederhana dibandingkan semua itu.
Pekan lalu saya nonton wayang di sebuah desa di Klaten. Seperti biasa, acara bersih desa itu selalu menjadi magnet bagi upaya menghidupkan perekonomian desa. Pedagang, segala macam barang, mulai menggelar lapak di seputar panggung.
Bau semerbak asap sate kere memenuhi. Sate tradisional yang dibikin dari daging kualitas terendah. Atau bahkan hanya sekadar tempe gembus yang dipanggang di bara yang sama. Sementara hidung tidak bisa lagi membedakan kamuflase bau tempe gembus dengan daging tetelan yang dibakar.
Yang menarik dari semua itu adalah fenomena membanjirnya barang-barang, terutama mainan anak-anak, bikinan China. Pengamatan saya menunjukkan bahwa 99 persen barang mainan anak yang dijual di lokasi itu adalah buatan China.
Lalu ke manakah mainan tradisional yang mampu membangkitkan romantisme masa kecil saya? Sama sekali tidak terlihat. Dulu, mainan anak-anak yang paling legendaris dan menjadi item berkategori “wajib beli” adalah othok-othok sederhana, terbuat dari bambu dan kaleng bekas wadah susu.
Atau pada wayang karton yang ditatah secara massal dan sederhana, baik pewarnaan maupun tekis pembuatannya. Atau pada mainan buih sabun yang dicampur sumba, hingga menghamburkan gelembung-gelembung warna-warni ke segala pejuru.
Mainan anak-anak, bikinan China itu sudah sedemikian variatifnya. Tidak hanya yang berkategori modern seperti aneka rupa mainan elektronis, tetapi ada juga berbagai boneka dan replika, yang semuanya sungguh sangat identik dengan budaya Indonesia.
Lihatlah di sana, ada replika becak, yang terbuat dari plastik, dengan kemasan bertuliskan Becak Angkutan Rakyat, tetapi hanya judul itulah yang berbahasa Indonesia. Selebihnya dicetak dalam teks bahasa Inggris, dan tentu saja tidak lupa: made in China.
Ada juga replika bajaj, yang kemasannya bertuliskan Bajaj Bajuri Jakarta. Barang-barang mainan yang lain: pistol, aneka boneka, hiasan rambut, robot, replika pesawat terbang, replika mobil, telepon, ponsel, dan banyak barang lain yang saya tidak tahu fungsi dan cara memainkannya.
Dari arena pergelaran wayang di desa itulah, sesungguhnya kita sudah dapat melihat dengan sangat jernih. Betapa kini, negeri ini sudah dibanjiri begitu banyak produk China. Kualitas barang yang dijual di situ memang abal-abal. Tak lebih dari seminggu barang itu bertahan sebelum menjadi sampah. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh anakku.
China memang segalanya. Barang apapun, sepanjang bisa mendatangkan uang, akan bisa dibuatnya. Barang abal-abal itu dikirim ke sini bukan tanpa alasan. Pasar yang besar dengan daya beli yang rendah, menuntut barang dengan harga yang sangat murah, sementara masalah kualitas abaikan dulu.
Hal ini berbeda dengan barang China di negara maju. Di Jepang misalnya, dengan mudah saya menemukan barang buatan China dengan kualitas yang tidak jauh berbeda dengan produk buatan Jepang, dengan harga yang tidak jauh berbeda pula.
Kondisi yang tidak jauh berbeda ketika kita lihat barang yang dijual di sepanjang jalan di Mekkah dan Madinah, ketika naik haji. Hampir seluruh barang kebutuhan oleh-oleh haji adalah buatan China. Mulai dari kopiah, mukena, cinderamata, sampai barang-barang yang identik dengan dunia Arab (celak, replika onta, parfum) juga bikinan China.
Kesimpulannya, China kini sudah sangat siap menguasai dunia. Sesungguhnya tahun 2010, yang dicanangkan sebagai tahun dimulainya pembukaan perdagangan bebas China-Asean. Hanyalah seremonial belaka. Jauh hari sebelumnya, produk China telah membanjiri pasar domestik, dan sudah membunuh semua kompetitor domestik dengan sukses.
China memiliki palugada, apa loe minta gua ada. Berapa duit yang kau punya, akan kubuatkan barang sesuai dengan loe punya duit. China telah membuat semuanya, dari peniti sampai satelit, dari jarum pentul sampai jaringan telekomunikasi.
Fenomena serbuan barang China, sesungguhnya harus menjadi pembuka kesadaran kita, bahwa kini kita sudah menjadi bangsa yang jauh tertinggal dari tetangga. Yang terlalu disibukkan oleh kekerasan dan air mata. ***
Yogyakarta, 5 Januari 2010.
Foto: courtesy wongantang.blogspot.com
Tag: perdagangan, china
Terkait:
-
Hukum Bagi Kesejahteraan Hewan di China
Rabu, 10 Mar '10 21:12 -
Menghadapi Pasar Bebas AFTA dan AC-FTA
Jumat, 12 Feb '10 20:41 -
Kenapa Harus Takut dengan China ??
Sabtu, 9 Jan '10 20:50
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
botaksakti: Menarik
-
Agus PW: Menarik
-
kinanthi: Penting
-
Harlan Eryandi: Menarik
-
yusro: Penting
-
Red-White Eagle: Penting
-
Apprayo: Menarik
-
akusuka: Menarik
-
hamatamu: Menarik
-
Logical Fallacy: Penting
-
curly of kinky: Menarik
-
Ibnu Muslim: Menarik
-
Olas: Menarik
-
wawajie: Penting
-
Sri Kirana: Menarik
-
conscientizacao: Menarik
-
Marshall: Menarik
-
boiga: Penting
-
ndableg: Menarik



KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
Jadi ceritanya, ada satu ibu2 dari Cina yang dapat tugas dinas ke Eropa. Sewaktu mau pulang, dia bingung mau kasih oleh-oleh apa buat anaknya. Nah, waktu jalan-jalan, dia liat kalung dengan bandul pinguin yang lucu sekali. Karena sudah kadung naksir,, langsung dia beli kalung itu beberapa biji sekaligus, buat anak teman-temannya.
Sesampainya di rumah (Cina), dia langsung manggil anaknya, dan nunjukkin kalung pinguin itu. "Liat nih, ini kalung mama beli dari Eropa, bagus kan?"
"Iya ma, bagus kalungnya..." lalu, si anak membalik bandul pinguin itu. Dan manggil mamanya, "Ma, ini di belakangnya ada tulisan, bacanya apa?"
Mamanya penasaran, lalu dibaca...
"MADE IN CHINA"
Setelah dijelaskan ke anaknya, anaknya malah ketawa, sambil bilang mamanya salah ngenali barang
(btw, ini ceritanya saya terjemahkan sepanjang ingatan saya dari bahasa mandarinnya, kalau ada yang pernah baca versi lainnya, ya mungkin aja emang udah jadi pengetahuan umum
Silahkan login untuk memberikan pendapat