Arthalyta, Tommy, dan Penjara 22
Senin, 11 Jan '10 07:16
Tak ada yang baru. Semua orang tahu. Ada VVIP di rumah bui. Yang seolah menyentak adalah kasus Arthalyta. Ketika didatangi Satgas Pemberantasan Mafia Hukum di Rutan Pondokbambu, Jakarta Timur, dia sedang menjalani perawatan wajah di selnya.
Dulu napi VVIP semacam Tommy Soeharto juga mengalami perlakuan khusus. Antara lain di LP Cipinang dan Nusa Kambangan. Diberitakan, bahkan lebih dari sekali, ya tetap saja kasus beginian terjadi terus.
Dari mana kita menilik persoalannya? Jika kita menempatkan diri sebagai sekawanan serigala lapar maka yang terlintas di benak adalah keadilan versi kita -- kadang tak peduli kitab hukum. Pemidanaan kita tempatkan sebagai jalan pembalasan dendam. Ini seperti obsesi (dulu) menjadikan seorang presiden sebagai sasaran pengadilan rakyat. Siapa pun boleh menjadi hakim. Bila diterapkan di penjara, maka sesama napi boleh menjadi hakim pembawa amanat balas dendam. Ini mengerikan. Tidak beradab.
Padahal hukuman pidana, sebagai sebuah nestapa yang sengaja dijatuhkan oleh pengadilan terhadap seseorang agar dirasakan sebagai penderitaan, adalah sebuah pedagogi. Sebuah cara negara untuk mengajari khalayak ramai maupun sepi bahwa pelanggar hukum akan diganjar. Yang menjalani akan kapok. Orang lain jadi tak berani. Begitu harapannya.
Mulia, bukan? Bukan, eh iya. Di atas kertas begitu. Tapi dalam praktik pedagogi telah berubah materi: penjara adalah sebuah tempat untuk melembagakan hukum rimba. Peradaban hanya berlaku di luar tembok.
Hukum rimba itu adalah si kuat yang menang. Si kuat itu bisa karena reputasi kriminal (plus "kharisma"), sehingga menjadi "brengos" blok, dan bisa juga karena ekonomi (mampu membeli "brengos", ratip, sipir, bahkan kalapas). Bisa juga gabungan semuanya. Kalau membeli abal-abal (napi miskin dan lemah), itu pasti.
Maka untuk tahanan dan napi berduit, sebelum masuk harus ada advance team yang membereskan sejumlah urusan. Dari sisi yang mendasar, itu manusiawi. Kita pun mungkin akan begitu. Apapun kasusnya, kita cenderung tak siap jika langsung disatukan dengan penjahat jalanan sampai bromocorah. Bahkan dulu, setahu saya, tahanan politik pun menempati blok tersendiri.
Penjara di banyak tempat cenderung menjadi negara dalam negara. Di luar penjara ada kehidupan yang "bener" saja bisa menghasilkan lingkungan korup dan menindas, apalagi jika di luar tembok ada kehidupan yang sangat busuk. Kita selalu kehabisan akal untuk mengatasinya. Pun misalnya kita bisa menjadi Warden Henry Brubaker yang diperankan oleh Robert Redford.
© Foto: Kompas
Tag: Tommy Soeharto, Suap, korupsi, narapidana, tahanan, arthalyta
Terkait:
-
2014 WTF?!?
Senin, 9 Nov '09 12:11 -
Dengarlah Seruan Eigen
Kamis, 23 Jul '09 00:08 -
Sarapan Politikana: Mogok Mencontreng, KTP Tidak Membantu, Hak Contreng Tahanan Terampas
Kamis, 9 Jul '09 10:46
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Red-White Eagle: Penting
-
hamatamu: Penting
-
pall: Terkini
-
yusro: Penting
-
iloenx: Keren
-
conscientizacao: Penting
-
Sri Kirana: Penting
-
krisnov: Bagus
-
Ibnu Muslim: Menarik
-
ndableg: Penting
-
boiga: Penting
-
Logical Fallacy: Penting
-
mpokb: Menarik
-
Veuillez entrer: Penting
-
Forlorn Hermit: Penting
-
Harlan Eryandi: Menarik
-
Marshall: Menarik
-
Yudiantoro: Penting
-
Olas: Penting



KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
kalau kata Arswendo, memang dari dulu seperti itu, contoh Cipinang misalnya, tidak ada yang rahasia disana kamar 1 sampa 5 itu pasti buat yang berduit. kalau Omar Dhani misalnya tidak punya duit ya, dapatnya sel biasa, semua sudah tahu dari pegawai rendahan sampai pegawai tinggi, termasuk yang bisa memasukkan atau memesan perempuan
komentar saya; "Gila ya yang punya duit gak ada serinya"
tapi, saya kok ragu-ragu dia mau maju ya? dengan apologi bahwa si anu membawahi puluhan ribu karyawan dan sejenisnya, susah memang melawan sekumpulan orang yang duitnya meteran, pemerintahpun harus pikir-pikir
1. Untuk implementasi: Sudah saatnya untuk semua kasus korupsi dengan nilai kerugian negara minimal Rp 100 juta, para pelaku dihukum mati. Ini melengkapi hukuman mati untuk kasus kepemilikan narkoba dalam jumlah tertentu.
2. Untuk eksekusi: Semua terpidana mati harus dieksekusi maksimal tiga bulan setelah vonis memiliki kekuatan hukum tetap.
2. Tidak akan banyak gunanya bagi dunia jika para koruptor itu dibiarkan hidup di dalam atau di luar penjara. percayalah.....
lagipula ini memang tradisi kan? kalau mau mundur ke jaman Omar Dhani juga pasti ada yang seperti ini bukan? mau mundur ke jaman apalagi? sekarang tinggal alasan pegawai LP yang menerima suap saja. kalau alasannya gajinya kurang sehingga harus menerima 'diberdayakan' oleh para tahanannya sendiri di dalam LP, apakah harus di dor juga?
ini komentar copas dari http://www.politi…mment-150745 , bisa habis pegawai LP & penegak hukum kita
*mikir, daripada dipenjara, mending cabut aja kewarganegaraanya, sita semua hartanya, buang ke kutub selatan*
Sepakat !
*begitu kabar burung yg saya dengar
tapi ada beberapa kasus menarrik seperti misalnya kasus Bung Pipit Rochijat waktu saya masih piyik dulu, banyak terima kasih untuk wasantara dan milis apakabar waktu itu.
hnah, waktu itu landasan hukum untuk mencabut kewarganegaraan bung Pipit tidak ada maka jurus yang dipilih adalah jurus 'Frechtstaat', negara yang nakal, kuda-kuda pertama paspor bung Pipit 'disimpan', resmilah bung Pipit menjadi warganegara tanpa dokumen, maka ketika yang bersangkutan kerepotan meminta ijin tinggal di negara terntentu (bung Pipit waktu itu di Jerman Barat! dan ya masih ada tembok Berlin ceritanya waktu itu), nah karena tunduk pada perjanjian PBB maka sang warga negara tanpa dokumen tadi harus menerima dokumen dari negara tempat tinggal, kalau gak kan sama saja sebangsa demit
saatnya beralih ke kuda-kuda dua, kalau yang bersangkutan menerima dokumen yang bersifat paspor, maka perwakilan berhak mencabut kewarganegaraan. sebab ada undang-undang, kewarganegaraan akan hilang bila si warganegara memegang dokumen bersifat paspor dari negara asing. yah begitulah.
jadi anda menyarankan orang-orang yang duitnya meteran dan tak berseri ini jadi warga negara lain saja bung alakazam? #mrenges
#nyamber
*ah, aneh sekali dunia ini, existensi manusia tergantung dari beberapa lembar kertas, hilangkan kertas-kertas itu, anda akan menjadi lebih mengenaskan daripada dedemit *
Silahkan login untuk memberikan pendapat