Madonna meninggal dunia - Diskusi tata bahasa yang baik dan benar 39
Senin, 11 Jan '10 04:27, dibaca 107 kali
Judul asli yang mewakili isi artikel ini bukan tentang kematian si bintang sejagad dari hollywood itu yaitu "Madonna meninggal dunia" , tapi "Diskusi tata bahasa" Indonesia . Tapi biar pantas dikit saya berikan juga foto madonna dan anaknya "Lourdes Maria" sebagai thumbnail artikel ini.
Bagaimana standart Tata bahasa Indonesia yang baik dan benar?
Saya menulis ini bukan bermaksud menggurui, melainkan kebalikannya, ingin sharing dan mendaptakan pencerahan dari rekan-rekan Politikana yg lebih mengerti di bidang ini, karena saya sadar bukan ahli grammar, dan bisa dilihat dalam tiap artikel saya memang acak adul tata bahasanya .
Menggunakan bahasa secara tepat dan benar tidaklah mudah. Tentu saja diperlukan pengetahuan tentang bahasa itu melalui pelajaran khusus. Pengetahuan berbahasa secara alami saja tidak cukup. Di sekolah, guru mengajarkan kepada murid-muridnya bagaimana bahasa yang benar tentang makna kata, bentuk kata, dan susunan kata dalam kalimat.
Jika bahasa sudah baku atau standar, baik yang ditetapkan secara resmi lewat surat putusan pejabat pemerintah atau maklumat, maupun yang diterima berdasarkan kesepakatan umum dan yang wujudnya dapat kita saksikan pada praktik pengajaran bahasa kepada khalayak, maka dapat dengan lebih mudah dibuat pembedaan antara bahasa yang benar dengan yang tidak.
Pemakaian bahasa yang mengikuti kaidah yang dibakukan atau yang dianggap baku itulah yang merupakan bahasa yang benar. Jika orang masih membedakan pendapat tentang benar tidaknya suatu bentuk bahasa, perbedaan paham itu menandakan tidak atau belum adanya bentuk baku yang mantap. Jika dipandang dari sudut itu, kita mungkin berhadapan dengan bahasa yang semua tatarannya sudah dibakukan, atau yang sebagiannya sudah baku, sedangkan bagian yang lain masih dalam proses pembakuan; ataupun yang semua bagiannya belum atau tidak akan dibakukan.
Bahasa Indonesia, agaknya termasuk golongan yang kedua. Kaidah ejaan dan pembentukan istilah kita sudah distandarkan; kaidah pembentukan kata yang sudah tepat dapat dianggap baku, tetapi pelaksanaan patokan itu dalam kehidupan sehari-hari belum mantap.
Orang yang mahir menggunakan bahasanya sehingga maksud hatinya mencapai sasarannya, apa pun jenisnya itu, dianggap telah dapat berbahasa dengan efektif. Bahasanya membuahkan efek atau hasil karena serasi dengan peristiwa atau keadaan yang dihadapinya.
Di atas sudah diuraikan bahwa orang yang berhadapan dengan sejumlah lingkungan hidup harus memilih salah satu ragam yang cocok dengan situasi itu. Pemanfaatan ragam yang tepat dan serasi menurut golongan penutur dan jenis pemakaian bahasa itulah yang disebut bahasa yang baik atau tepat.
Bahasa yang harus mengenai sasarannya tidak selalu perlu beragam baku. Dalam tawar-menawar di pasar, misalnya, pemakaian ragam baku akan menimbulkan kegelian, keheranan, atau kecurigaan. Akan sangat ganjil bila dalam tawar-menawar dengan tukang sayur atau tukang becak kita memakai bahasa baku seperti ini.
(1) Berapakah Ibu mau menjual kangkung ini?
(2) Apakah Bang Becak bersedia mengantar saya ke Pasar Senen dan berapakah ongkosnya yang harus saya bayarkan?
Contoh di atas adalah contoh bahasa Indonesia yang baku dan benar, tetapi tidak baik dan tidak efektif karena tidak cocok dengan situasi pemakaian kalimat-kalimat itu. Untuk situasi seperti di atas, kalimat (1) dan (2) berikut akan lebih tepat.
(1) Berapa nih, Bu, kangkungnya?
(2) Ke Pasar Senen, Bang. Berapa?
Sebaliknya, kita mungkin berbahasa yang baik, tetapi tidak benar. Frasa seperti "ini hari" merupakan bahasa yang baik sampai tahun 80-an di kalangan para makelar karcis bioskop, tetapi bentuk itu tidak merupakan bahasa yang benar karena letak kedua kata dalam frasa ini terbalik.
Karena itu, anjuran agar kita "berbahasa Indonesia dengan baik dan benar" dapat diartikan pemakaian ragam bahasa yang serasi dengan sasarannya dan di samping itu mengikuti kaidah bahasa yang betul. Ungkapan "bahasa Indonesia yang baik dan benar" mengacu ke ragam bahasa yang sekaligus memenuhi persyaratan kebaikan dan kebenaran.
"Mengkritisi" , kata yang benar atau salah?
"Dia mengkritisi bahasa saya" bukanlah kalimat yang benar. Kata "kritisi" adalah kata bentuk sebagai bentuk jamak dari "kritikus" ,orang yang ahli mengkritik. Baik kata "kritikus", maupun kata "kritisi", berasal dari kata "kritik".
Kata "kritik" dipungut dari bahasa Belanda yang padanannya dalam bahasa Indonesia adalah kata "kecaman". Kata kerjanya ialah "mengkritik" atau "dikritik". Berikut adalah contoh pemakaiannya.
- Tabiat manusia pada umumnya suka "mengkritik", tetapi tidak senang bila "dikritik".
- Madonna adalah seorang "kritikus" mode yang terkenal.
Dengan penggunaannya dalam kalimat seperti pada contoh-contoh di atas, kita dapat melihat bagaimana penggunaan kata-kata itu secara benar dalam kalimat. Dalam bahasa Indonesia tidak ada bentuk kata kerja "mengkritisi" dan "dikritisi". Kedua bentuk itu adalah bentuk yang salah kaprah. Jadi, jangan digunakan. Contoh lain seperti itu, misalnya "politik", "politikus", dan "politisi".
Kesalahan kedua yang sering kita jumpai dalam tulisan-tulisan dewasa ini ialah bentuk kata "berpetualang". Kata ini dibentuk dari kata dasar "tualang", diberi awalan pe-, lalu diberi lagi awalan ber-. Kata "petualang" berarti orang yang bertualang. Kata ini tidak mungkin diberi lagi awalan ber- karena maknanya tidak sesuai dengan nalar.
Sebagai bandingannya, dapatkah kata "pedagang" dan "petani" diberi awalan ber-, menjadi "berpedagang" dan "berpetani"? Tidak mungkin, bukan? Itu sebabnya bentuk "berpetualang" bukanlah bentuk yang benar.
Dari bentuk dasar "tualang" (yang tidak dapat digunakan tanpa imbuhan) muncul kata "bertualang" sebagai kata kerja. Orang yang "bertualang" disebut petualang dan pekerjaannya itu sendiri disebut "petualangan". Hanya ada tiga kata bentukan dari bentuk dasar kata "tualang" itu, tidak ada bentuk yang lain lagi.
Contoh lain seperti tualang ialah "ungsi". Bentuk ini tidak dapat dipakai sendiri tanpa imbuhan. Hanya muncul sebagai "mengungsi", "pengungsi", "mengungsikan", "diungsikan", "pengungsian", dan mungkin juga bentuk "terungsikan".
Berikut contoh dalam kalimat.
- Korban bencana alam itu "mengungsi" ke tempat yang aman.
- Para "pengungsi" terdiri atas laki-laki dan perempuan, bahkan orang-orang yang sudah tua dan anak-anak.
- Pemerintah "mengungsikan" semua penduduk dari daerah bencana itu.
Tujuan saya menggunakan judul Madonna meninggal dunia adalah sehubungan dengan keperluan promosi, sekalian ngetes teknik SEO (Optimasi Mesin Pencari) , karena kebiasaan saya menulis artikel untuk keperluan situs, supaya tulisan ada di halaman 1 google sehingga mendatangkan traffic pengunjung yang banyak , yaitu faktor orisinalitas dan posisi mengatur headline artikel yg memang cenderung nyeleneh jika di pandang dari sudut tata bahasa yang baik. Nanti kalau Madonna bener-bener meninggal dunia maka keyword "madonna meninggal dunia" saya yakin artikel ini akan ada di halaman depan google.co.id, bahkan mungkin rank 1 (karena pasti banyak pencarinya dengan keyword itu nantinya) , kita lihat besok beberapa jam atau hari lagi setelah artikel ini saya publish. wekekek...
Jadi disini saya sampaikan pendapat saya bahwa untuk keperluan promosi online maupun offline akan berlaku tidak mesti mengacu tata bahasa yg baik dan benar, baik mengacu pada mesin pencari maupun kepada prinsip-prinsip marketing, tentu yg sudah pengalaman di dunia marketing paham perluanya menggunakan bahasa-bahasa sensasional untuk keperluan menarik konsumen ini. Tinggal misi masing-masing apa tujuan utama pada penyajian suatu artikel atau konten .
Tag: kematian madonna, tata bahasa indonesia yang baik dan benar
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Goku: Inspiratif
-
Sri Kirana: Menarik
-
ndableg: Menarik
-
conscientizacao: Menarik
-
Yudiantoro: Menarik
-
yusro: Menarik
-
mpokb: Menarik
-
Harlan Eryandi: Menarik
-
besok saja: Penting
-
Marshall: Menarik
-
Fight For The Future: Menarik
-
jangdesur: Biasa
-
doyan ngulet: Inspiratif
-
Delpazir: Menarik

Komentar:
tentu orang yg cerdas tak akan mengklik link dengan judul "Madonna meninggal dunia - Diskusi tata bahasa yang baik dan benar" jika memang benar2 mencari berita kematian Madonna, walaupun ada di ranking 1 google
Ga apa2 toh, semua orang berhak atas informasi...lagi pula judul kedua di atas kelak kan bisa di hapus dan artikel ini juga bisa direvisi (di tambahin artikel tentang madonna beneran di bagian bawah artikel)
salam kenal, sesama blogger matre.
Di satu sisi pertumbuhan dunia blogging dan webmaster indo saat ini sangat pesat, yang merupakan fenomena yang membanggakan demi mengikis dan mengimbangi berbagai nama negatif tentang indo yg menempati ranking internasional, spt korupsi ,aids...etc.
Karena konon budaya ngeblog adalah ciri masyarakat yang berbudaya maju ...iya dah gua terima gelar blogger matre
Goku:
Maksud saya itu , saya setuju bahwa kita perlu berusaha mengembangkan pola berbahasa yang baik dalam komunikasi di semua bidang kehidupan, tapi perlu proses dan kebijakan untuk merealisasikannya.
Tentu kita tidak akan membentak anak balita sampai nangis karena dia salah menggunakan bahasa (lihat sikon)
Astaghfirullah! ,sorry mbak donna, cuma buat belajar, mau pake nama pak beye takut banyak yg protes
Bukan standart, tapi standar
1. Kritis (ajektif/kata sifat)1 dl keadaan krisis, gawat; genting (tt suatu keadaan): keadaan pasien sangat -- krn terlampau banyak mengeluarkan darah; 2 dl keadaan yg paling menentukan berhasil atau gagalnya suatu usaha
2.Kritis (ajektif/kata sifat) 1 bersifat tidak lekas percaya; 2 bersifat selalu berusaha menemukan kesalahan atau kekeliruan; 3 tajam dl penganalisisan;
meng·kri·tis v menjadikan kritis thd;
ke·kri·tis·an n perihal kritis
3.kri·ti·si (nomina/kata benda) kaum kritikus
4.hi·per·kri·tis (ajektif/kata sifat) terlampau suka mengkritik (mengecam, mencela) sampai ke soal yg kecil-kecil; terlampau kritis;
5. hi·po·kri·tis (ajektif/kata sifat) munafik; suka berpura-pura
Hmm, untuk penerapan dalam kalimat, saya serahkan kepada yang lebih pengalaman saja, saya mah cuma memindahkan informasi dari kamus ke kolom komentar
"...baik mengacu pada mesin pencari maupun kepada prinsip-prinsip marketing, tentu yg sudah pengalaman di dunia marketing paham perlunya menggunakan bahasa-bahasa sensasional..."
Saya tidak tahu darimana Anda mendapat pembenaran seperti di atas. Tapi saya cukup yakin, ada kode etik dalam periklanan. Coba cek buku "Cakap Kecap", disana ditampilkan pasal-pasal kode etik periklanan.
Dalam penulisan judul artikel, saya kira juga ada kode etik jurnalisme, karena tulisan ini (meski bisa diperdebatkan) masuk ke ranah itu. Membuat judul yang "nyeleneh" tapi membelokkan isi dari judulnya, buat saya adalah satu bentuk penipuan terhadap publik (mislead). P satu lagi pernah membahas soal judul dan isi artikel, seperti yang ini http://publikana.…l-intro.html
Demi rating dan traffic, rasanya tidak senonoh kalau "menghalalkan" segala cara.
Gitu ya, soalnya saya pernah juga dapat kritikan karena menulis "standar" , kata kritikus itu yg bener standart , males eneliti lebih lanjut
Fight For The Future:
at least I am more comfortable looking at the Madonna's face rather than anggodo's face
Sri Kirana:
Tengkyu feri mat...atas masukan anda yang berharga, bisa buat nambah2 dalil untuk di gunakan dalam menulis nantinya .
[Hmm, untuk penerapan dalam kalimat, saya serahkan kepada yang lebih pengalaman saja,...] --> Saya anggap bung conscientizacao: salah satu orang itu
conscientizacao:
BTW masalah kode etik itu emang pernah saya baca2 , tapi prakteknya yg saya lihat lebih banyak di abaikan , yaitu banyaknya penulis yang lebih ber-orientasi pada prisnsip psikologi marketing di banding pola tata bahasa yang benar . Seperti di artikel yang saya tulis ini saya anggap bukan bentuk penipuan publik, karena saya berikan klarifikasi kan (kecuali tidak)
[Demi rating dan traffic, rasanya tidak senonoh kalau "menghalalkan" segala cara.]
Tema yang Sangat kompleks dan penuh tanda kutip
Kode etik memang sekedar kode etik, kalau tidak dipandang penting. Lebih mudah mengabaikan daripada mempraktekkannya... dan di lapangan itu memang terjadi.
Saya kira ada salah satu pasal netiket, yang bunyinya adalah:
"Rule 4: Respect other people's time and bandwidth"
Meski konteksnya dalam hal forum diskusi di milis, tapi saya kira cukup masuk akal kalau dipakai dalam forum lain, termasuk situs berita.
http://www.albion…e/rule4.html
http://www.womenr…omadonna.jpg
Itu kritikus sesat! Kafir!
Silakan buka kitab suci KBBI, di sana jelas tertulis "standar"
Whoaaa...I immediately did a google search, and ...I regret why you tell me about it
*Asli langsung ilang napsu gua padanya*
conscientizacao:
Anda benar pak guru , kita memang mesti mencoba untuk menjadi lebih baik...tengkyu feri mat
krisnov:
Sorry , maap...saya tau ini tidak etis untuk oran indo, tapi di amrik hal seperti ini cuma joke ringan, makanya saya ambil contoh orang sana. bahkan jauh lebih parah para presiden di bikin lawakan sangat konyol / kurang ajar banget menurut kita. tak perlu saya memberi referensi link kan
http://www.popcru…k-july-2008/
pall:
Wah bener jee..tengkyu.... ini saya sukanya jika di diskusikan disini , bisa dapat referensi masuk akal...dulu pernah iseng saya tanyakan di forum lain, jawabanya malah saya disuruh kembali menemui guru bahasa dulu waktu SD
Main Entry: crit·i·cize
Pronunciation: \ˈkri-tə-ˌsīz\
Function: verb
Inflected Form(s): crit·i·cized; crit·i·ciz·ing
Date: 1643
intransitive verb : to act as a critictransitive verb 1 : to consider the merits and demerits of and judge accordingly : evaluate
2 : to find fault with : point out the faults of
Beberapa orang pintar menganggap kata kritik adalah kata benda yang diserap dari critics (en), dan memutuskan bahwa kata kerjanya haruslah diserap dari bentuk kata kerjanya (critize). Padahal kalau mau dilihat lebih teliti, padanan untuk kritik bukanlah diserap dari Bahasa Inggris, tetapi diserap dari Bahasa Belanda: kritiek, seperti sudah dijelaskan di artikel.
Iya, yang anda sampaikan bener, karena sebelum menulis ini saya juga baca2 referensi dari inggris dan belanda. tapi belum menengok ke KBBI, supaya mendapatkan sudut pandang lain yang masuk akal (kalau di KBBI kan dah di anggap baku/sah oleh banyak orang)
Tapi mungkin biar demokratis kita bisa menggunakan referensi yg di berikan KBBI , dan supaya masukan2 dari diskusi seperti ini bisa menjadi pertimbangan orang2 yang meberikan distribusi ke KBBI . Thanks
Terima kasih masukan anda, jika ada suara sumbang akan saya termia dengan senang hati, menimbang banyak politikanaers yg lebih parah menggunakan judul dan isi (mungkin termasuk saya pada artikel2 sebelumnya/dan ini)
Dengan pertimbangan alasan spt yg saya katakan pada sdr krisnov di atas : http://politikana…mment-150809
Saya tau ini tidak etis jika untuk budaya dan tokoh indonesia, tapi tidak untuk budaya dan tokoh amerika, jadi saya rasa masih wajar
Siapa yang derajadnya di rendahkan atau tidak di hormati ?
http://politikana…mment-150809
Terima kasih masukan anda.
Iya deh booosss
Kehidupan di dunia ini bukan diam dan berdiri di dalam wilayah kotak kita sendiri, melainkan berdiri di atas mobilisasi keanekaragaman budaya itu sendiri . Artinya tidak mungkin kita memandang dan mengukur kaidah2 budaya orang lain dari kaca mata sendiri saja.
1- Orang amrik seorang anak memanggil ayahnya dengan nama = sayang , orang jogja = kurang ajar.
2- Orang amrik, pria memeluk temanya yg isteri orang di depan suaminya adalah biasa dan bersahabat, di beberapa tempat lain di anggap pelecehan/pelanggaran , bisa di bacok...
3...etc...
Iya bung, saya juga mudah saja kok jika ada bantahan terhadap apa yg saya tulis , jika cuma mengatakan "ah itu kan persepsi anda sendiri"
Saya tidak paham SEO (pengoptimalan mesin telusur Internet).
Apakah kata 'yang' di tulisan di atas perlu dibuat spesial dengan kode <strong>? Apakah kata tersebut memang diperhatikan oleh algoritma mesin telusur Internet?
Apakah kata dan kalimat bergaris bawah memang bermanfaat dalam SEO?
Apakah 'self-linking' ke halaman yang sedang dibaca memang dibutuhkan? Bukankah itu dapat mengecoh pengguna bodoh seperti saya? 'Reloading' halaman yang sama! Maklum, fakir 'bandwidth'.
Sependek yang saya tahu, teks spesial seperti cetak tebal, miring, bergaris bawah (harapan saya itu adalah [selalu] pranala), judul-subjudul-anak subjudul, adalah semacam standardisasi atau rekomendasi unsur semantik di dunia X/HTML.
" saya suka YOU punya gaya"...
" bapak mau GOING kemana ?".
[Bukankah itu dapat mengecoh pengguna bodoh seperti saya? 'Reloading' halaman yang sama! Maklum, fakir 'bandwidth'. : D]
[Apakah 'self-linking' ke halaman yang sedang dibaca memang dibutuhkan?.....]
Saya tidak berprinsip MESTI BENAR, tapi cenderung mesti "lebih baik" di banding realita yang ada --- > http://www.google…6b5a6aca8eda
Maaf saya tidak membahas SEO dlm artikel ini, tapi itu saya gunakan sebagai contoh perbandingan penerapan tata bahasa saja , supaya lebih real
doyan ngulet:
Have a good day too...many thanks...
Just sharing...
itukan bahasa yang sering di pakai untuk sehari-hari pada sekarang ini mas..
( ada eksen englishny,biar kliatan london school punya)...
ckckckkckkk...
Silahkan login untuk memberikan pendapat