6 Tahun Lagi, Mungkin Ada Pesawat Murah 27
Selasa, 12 Jan '10 09:28
Tadi pagi, waktu Beijing, karena kebiasaan, saya bangun pagi dan menyalakan televisi. Saluran yang saya pilih, seperti biasa, CCTV News (CCTV Xin Wen), untuk melihat ramalan cuaca sekaligus berita pagi.
Sebuah berita yang saya lihat, membuat saya berpikir. China sekarang sudah menguasai teknologi pembuatan pesawat jenis jumbo jet (warnanya coklat, agak keluar pakem normal?), tahun 2014 direncanakan untuk uji terbang, dan tahun 2016 direncanakan untuk dipasarkan. Belum pasti apakah dipasarkan secara internasional atau domestik dulu.
Saya tidak mau memikirkan dampak ekonomi dari hal ini. Biar yang lebih pengalaman, yang lebih mengerti, yang memberi analisa. Saya cuma mau bertanya, kapan ya Indonesia bisa begini?
Tag: indonesia, RRC, teknologi, kapan maju
Terkait:
-
Menghadapi Pasar Bebas AFTA dan AC-FTA
Jumat, 12 Feb '10 20:41 -
Berganti Nama Xing-hu Kuo, Diculik Stasi (2-Selesai)
Rabu, 10 Feb '10 00:21 -
Ketahanan Pangan Jangan Bergantung Kepada Pihak Internasional
Selasa, 9 Feb '10 19:52
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
kinanthi: Menarik
-
Striding Cloud: Menarik
-
yusro: Menarik
-
Harlan Eryandi: Menarik
-
boiga: Menarik
-
Ibnu Muslim: Menarik
-
Olas: Menarik
-
free7: Menarik
-
Red-White Eagle: Penting
-
ndableg: Bagus


KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
"Saya cuma mau bertanya, kapan ya Indonesia bisa begini?"
Rasanya ini pertanyaan banyak orang, termasuk saya, sejak lama..
Soalnya dengan IPTN itu begini.
Ia tidak mendapatkan license layak terbang untuk N250, sehingga sulit mendapatkan financing untuk mass production.
alakazam: sebenarnya kalau untuk seperti china kita suda melebihi. china baru rencana, kita sudan memproduksi, dan bahkan menjualnya ke beberapa negara.
Tidak adanya financing, menyebabkan cost untuk mempertahankan eksistensi semakin besar.
Semakin berlarut2 itu terjadi, costnya akan terrefleksi ke harga produk di masa depan. Hal tersebut kemudian akan membuat produknya sulit laku,
lalu menjadi lingkaran setan lagi ke "investor tidak mau invest".
Tapi bukan tipe jumbo jet kan?
Saya malah heran, masih jualan pesawat ya PT DI? Terakhir saya dengar hampir bangkrut?
Mungkin yang diperlukan Indonesia itu perbaikan mental menyeluruh ya...
Jualan pesawat tidak kayak jual barang lainnya. Sertifikasi untuk sebagian suku cadang, sangat ketat dan terpusat. kalau gak salah FAA. Ya mesinnya, rangkanya, instrumen elektroniknya, di sertifikasi secara terpisah.
IPTN pernah buat rangka, mesin tetap harus beli dari pabrik yang punya sertifikasi... CMIIW
yang perlu izin faa adalah untuk pesawat komersia tapi tidak untuk pesawat militer.
Harlan Eryandi: dimana lucunya ? barter itu sesuatu yang wajar. yang tidak wajar adalah perasaan rendah diri dari seorang manusia yang merdeka.
Sri Kirana: http://portal.bum…ewsIndeks-1. perbaikan mental yang suka merendahkan kemampuan anak bangsa sendiri.
Pikiran sederhana saya, kalau dana riset pesawat itu dibuat untuk riset dan pengembangan beras, apa ya gak lebih masuk akal?
Gak ada hubungannya ama rendah diri sama sekali. Kalau singapura yang gak punya lahan menjual teknologi dibarter dengan beras, oke-lah. Tapi Indonesia?
Ini di luar kebanggan bisa menguasai teknologi dirgantara. Saya juga bangga-lah ama IPTN...
Sekalian nambahin pak kinanthi. Sekolahan untuk menjadi produsen pesawat terbang itu mahalnya gak kira-kira, itu baru yang setingkat SMU. I've been there, a long time ago.
Dan rasanya, agak tidak layak kalau cuma dibarter sama kedelai, yang bisa kita produksi sendiri. Meskipun, kalau sama-sama merasa tidak dirugikan sih silakan aja...
*Seingat saya, alasan ini yang membuat seorang mantan staf IPTN yang disekolahkan ke Italy, gak mau pulang lagi*
Sorry saya berbeda pendapat.
Saya setuju barter, jika memang value dari produk barter itu setara dengan nilai dollarnya.
Penghematan devisanya akan memiliki efek yang sama, sekaligus membuat IPTN beroperasi dalam ekonomi rupiah, dan bukannya ekonomi dollar saja.
Sekarang saya menilai itu adalah kesempatan local financing yang terlewatkan.
Dari segi biaya investasi bagaimana?
Katakan pesawat senilai beras 100 ton. Investasi yang dikeluarkan untuk memproduksi 1 pesawat dibandingkan investasi untuk meningkatkan beras 100 ton lebih besar mana?
Lebih lagi karena indonesia punya lahan sawah besar, yg potensial untuk pengembangan produksi beras.
Singkatnya: membangun teknologi tinggi tapi melupakan kebutuhan dasar. Ini yang saya tolak.
Kalau ada 2 penyakit yang harus ditangani dokter, dokter menangani penyakit yang lebih mengancam nyawa dulu.
IPTN perlu pembeli, ketika itu, selain untuk reputasi produk, juga untuk pembiayaan.
Benar bahwa lahan sawah indonesia besar, namun komoditas adalah komoditas, ia bisa dijual dan jadi rupiah, ia bisa menjadi awal IPTN untuk beroperasi dalam denominasi rupiah.
Jika setelah itu terbangun kesadaran akan sawah, itu bagus. Tapi kalau dari sisi harga sudah sesuai, sementara menerima komoditas sebagai bayaran, adalah wajar2 saja.
Keuntungan kedua dari penggunaan komoditas sebagai pengganti currency, produk IPTN akan mendapatkan reputasi "mudah", seharusnya kedepannya kita bisa mendapatkan komoditas2 yang kita perlukan, secara langsung tanpa harus repot2 melalui lapisan devisa, posisi tawar kita juga lebih tinggi.
Devisa, bagi setiap negara, adalah amat berharga. Suatu produk akan lebih sulit dijual, jika kita ngotot harus dalam mata uang tertentu.
Maka yang saya bisa katakan: sayang sekali. Ribut2 politik ketika itu, malah membuat reputasi produk IPTN sebagai produk "sulit".
Ironi saja, ketika kita melakukan barter untuk komoditi yang seharusnya kita bisa bikin sendiri, dengan segala potensinya.
Analogi-nya mungkin jika orang suatu saat orang kalbar membarter minyak nabati dengan kayu, karena hutan di kalbar sudah habis jadi kebun sawit. Secara ekonomi tidak ada yang salah dengan itu, tapi ironis.
[_iya, masalahnya bukan pada saat barter-nya, tapi bertahun2 sebelumnya, ketika selama bertahun2 kebijakan pertanian yang tidak mendukung kesejahteraan petani terus menerus dilakukan_]
Nah mengapa begitu?
Karena ekonomi kita ketika itu kurang liberal. Monopoli pemerintah dalam menentukan harga-lah yang memiskinkan petani, dan memakmurkan pedagang.
Bulog bukan dipakai sebagai alat penyelamat terhadap kelaparan, tapi sebagai alat kontrol harga.
Segalanya akan kembali kesana, yaitu pada kesimpulan soeharto bahwa inflasi tinggi adalah haram.
kinanthi: Harlan Eryandi: selain alasan seperti kata tuvok katakan, bagi saya anda tertawa untuk alasan yang terlihat benar, namun efeknya adalah, bagi yang tidak paham, menghancurkan mental bangsa kita. seolah olah pesawat kita adalah pesawat kacangan (kedelai).
Yes, that's a good idea. I just saw a toothbrush package this morning, and read something there: "Made in Thailand".
So, we cannot produce any toothbrushes?
Specializing in a simple thing is still specializing, and that's OK as long as you have a profitable market for that simple thing.
Let's just say we can make a jumbo jet, but we still have to import even the tiniest component, I wouldn't call it 'made in Indonesia'. I'd call it 'assembled in Indonesia', and that's totally a different thing.
Silahkan login untuk memberikan pendapat