Sayang Pak JK Tidak Baca Koran Waktu Itu 80
Jumat, 15 Jan '10 06:45
"Pernyataan, artikel ini disalin-tempel dari blog bung Forlorn Hermit atas permintaanya sendiri karena lambatnya jaringan. Seluruh hak lekat pada penulis asli"
Saling bantah antara ibu Sri Mulyani dengan pak Jusuf Kalla tentang kapan laporan bail out diterima pak JK ini sudah berlangsung sejak Agustus 2009. Masih berlanjut sampai dengan tanya jawab dengan pansus Century. Beliau menjelaskan :
Ia menjelaskan, laporan diterimanya secara langsung dari Menkeu pada 25 November 2008 . “Beliau melaporkan, KSSK yang yang datang adalah Menkeu, Gubernur BI yang mengatakan telah memberikan bail out kepada Bank Century,” kata Ketua Palang Merah Indonesia ini. Mendengar laporan tersebut, Kalla mengaku terkejut dan marah. Apalagi, dalam laporan yang diterimanya, Bank Century bermasalah karena adanya kesalahan manajemen oleh pemilik dan SSB bodong.
“Saya bilang, kenapa di-bail out , ini perampokan. Rampok kok dibantu. Tangkap orangnya! Jangan dikasihani, itu perintah saya,” kata Kalla. Saat itu, ia mengatakan tak bisa berbuat apa-apa karena eksekusi pengucuran dana sudah terjadi. Namun, Kalla marah kepada Sri Mulyani. “Saya marah kenapa ini terjadi. Dia (Sri Mulyani) diam saja. Karena itu saya suruh tangkap Robert Tantular,” ujarnya.
Sayang pak Jusuf Kalla sibuk sampai tidak sempat baca koran. Menurut berita di Vivanews ini, pada tanggal 21 November 2008, jam 09.00 ada konferensi pers dari Boediono menjelaskan tentang keputusan KSSK.
Coba kalau waktu itu bapak JK baca koran ya pak ? Tidak perlu berbantahan sekarang, pasti langsung marah-marah dan membatalkan keputusan ? Atau mungkin waktu itu masih tetap akan tunggu hasil pemilu dulu ?
Just Kidding pak. (forlorm hermit)
Tag: Sri Mulyani, korupsi, jk, BI, century, KSSK, SM, Pansus, bank indonesia
Terkait:
-
Survei Nasional Tentang Kasus Bank Century di Mata Publik
Senin, 25 Jan '10 18:35 -
KPK Harus Tangkap Koruptor Bank Century
Senin, 8 Mar '10 21:55 -
19 Anggota DPR-RI dari PDI Perjuangan Terlilit Korupsi.
Senin, 8 Mar '10 19:39
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
krisnov: Keren
-
botaksakti: Menarik
-
chamberlain: Penting
-
kinanthi: Penting
-
besoksaja: Keren
-
khendi: Menarik
-
yusro: Penting
-
Red-White Eagle: Penting
-
Harlan Eryandi: Menarik
-
Ibnu Muslim: Menarik
-
Logical Fallacy: Penting
-
ndableg: Menarik
-
conscientizacao: Penting
-
Malih Tongtong: Menarik
-
Yudiantoro: Menarik
-
Olas: Menarik
-
mimi item: Penting



KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
eitts...kan kamu wakilnya.
Yup...Sri Mulyani merasa tertipuu...!
Apakah semudah itu seorang profesor ekonomi tertipu ?
Siapa ya penipunya ?
jaahh...gak tahu ya..aku ini anggota pansus yang menyusup di Polka..he..he..he..
iki opo tho..ket wingi bola bali ngurus nomer wae...nomer buntut po ? He..he..he..
Yang ke 6.7T adalah konsekwensi lanjutan dari menurunnya kepercayaan thd century.
Menurunnya kepercayaan apa akal-akalanya bankir busuk ?
sama aja dengan nodong presiden untuk menyetujui keputusannya. (eittt's, kan ada marsilam "bayangan" presiden di rapat yah ??)
siipp..
Akal2annya dimana bu?
nanti aku cari dulu ya...dimana ya tadi akal-akalannya..he..he..he..
1. Data lama menunjukkan perlu 632M
2. Data datang lagi bilang 2.7T
3. RT diperintahkan untuk tangkap, pasal bisa dicari-cari nanti
4. Kepercayaan terhadap BC jatuh, setelah RT ditangkap.
5. Tabungan ditarik, akibatnya perlu lebih banyak lagi untuk nutupin CAR
Mana yang lebih logis:
1. Deposan fiktif menjatuhkan kepercayaan
2. Bank beresiko gagal bayar menjatuhkan kepercayaan
?
Oh ya, secara kuantitatif, yang jatuh bukan hanya kepercayaan terhadap bank century:
[ http://www.tempoi…6610,id.html ]
sekarang dibilang gagal sistemik..
dulu dibilang buat melayani nasabah (BESAR??)..
bedanya di?
Itu kan yang dimaksud dengan situasi psikologis yang memungkinkan kegagalan sistemik... Bukan karena Century saja, tapi kalau nasabah merasa ada satu bank gagal bayar, maka akan muncul spekulasi, bank lain gimana? Jangan-jangan...
Gitu kali. Tapi ya namanya kebijakan, diambil bisa disalahkan, tidak diambil, juga bisa disalahkan. Kenapa tidak lihat dampaknya paska bailout ya?
Or/Why a lot of people fail to see that?
Anu... Saya tidak mau berandai-andai...
Justru, keberhasilan kebijakan tersebut paska bailout, menjadi argumen baru lagi:
"Buktinya kita tidak krisis!"
Jadinya kayak artikel perang bubat kemarin khan?
ini kutipan asli ..["Pengambil alihan oleh lembaga pemerintah ditujukan untuk lebih meningkatkan kualitas pelayanan bagi nasabah, serta ketahanan Bank Century," ujar Gubernur BI Boediono saat mengumumkan di Bank Indonesia, Jakarta..}
diambil dari sini:
http://bisnis.viv…bank_century
tidak ada kata2 gagal sistemik.
kenapa tidak katakan saja:
ini bank gagal sistemik, penyebabnya ada indikasi koruptif pemilik, namun jika tidak diselamatkan bisa berpengaruh pada perekenoiman karena kondis sedang krisis.
meski demikian nasabah bank/perbankan tidak perlu khawatir, jaminan negara 2M sudah mencover 99% nasabah indonesia.
aset bank ini belasan triliun, biaya yg dibutuhkan LPS hanya 632 M
pemilik yg terindiksi koruptif akan segera dilaporkan ke POLRI
hehehhe
Kalau nasabah besar seperti jamsostek dll, atau pemilik2 pabrik itu dihanguskan tabungannya, sehingga mereka ndak bisa bayar pekerja2nya, dan pabrik2nya bangkut, dan menghasilkan pengangguran, itu sistemik bukan?
Bukan deposan fiktif menjatuhkan kepercayaan, tetapi adanya deposan deposan fiktif itulah yang bikin jadi bengkak 6.7 T
yang gak logis itu, bank gagal karena dirampok pemiliknya sendiri kok di bela negara...yah keenakkan lahh..
kalo bank jujur gak perlu LPS sebenarnya.
toh aset century belasan triliun..
itu bisa dipakai buat bayar khan?
lagian pendapat sampeyan itu asumsi,
dana besar itu khan mayoritas deposito
yg aku tahu deposito itu untuk investasi aman
bukan untuk dana kebutuhan operasional usaha
benner nggak..?
Ada berapa dana deposan fiktif yang ditarik emangnya?
nyatanya disaat yg sama (krisis), indover tidak diselamatkan
http://bisnis.viv…m_ke_belanda
aset belasan triliun itu, sifatnya tidak liquid.
Gini, misalnya Anda punya sukuk senilai 1 milyar dari dubai world.
Itu berarti Anda punya asset diatas kertas senilai 1 milyar.
Tapi ketika dubai world bilang: mereka ndak mau bayar klaim asset tersebut selama 6 bulan kedepan, maka biarpun diatas kertas Anda punya segitu, Anda tidak bisa secara instan mengambil duitnya.
Sedangkan Anda harus segera bayar pegawai.
Solusinya: jual murah aset tersebut kepada yang mau. Misalnya dijual 50%, Asset Anda hangus 500 juta. Istilahnya: bodong.
Nah, itulah yang terjadi pada masa itu. Dimana bahkan JP morgan pun tidak mampu membayar jaminan assetnya.
Jika asset tetap dipegang sambil menunggu harga bagus, maka harus dicari cara untuk menutupi transaksi liquid. Salah satu cara adalah dengan interbank loan. Cara lain adalah dengan overnight loan dengan Bunga bank sentral. Setelah kedua hal tersebut ndak mencukupi, baru bail out.
Indover bank dorman. Transaksinya sudah tidak relevan.
Century bank aktif, buktinya bisa kalah kliring.
Gw serasa bukan pembela kapitalisme lagi rasanya...
hehgehghehge
mengenai indover kalah lring ada disini bung:
http://bisnis.viv…jut_hari_ini
Bagaimana dengan liquiditas asset? mana yang lebih liquid century atau indover.
[aset belasan triliun itu, sifatnya tidak liquid.]
apa hubungannaya dengan ini
[Sedangkan Anda harus segera bayar pegawai.]
aku tak mengerti..pegawai siapa? bank century?
kenapa bung..?
sejauh ini aku tidak pernah mendengar alasan liquiditas asset sebagai alasan bail-out
btw, asset bank century itu apa aja sih?
gedung2?, tabungan di bank lain? yg lain?
Pernah lah, masa ndak pernah denger istilah: "SSB bodong" ?
hmmm.. atau anda tidak bisa menarik garis diantara 2 titik saja ya bung ya?
[_ aku tak mengerti..pegawai siapa? bank century?_]
Wah...
Ternyata ada masalah mendasar ya. Harus ijin TM-nya yudiantoro dulu ini....
Coba, saya sarankan, baca lagi komentar yang itu...
SSB bodong termasuk asset bank century ya bung..?
bukan-nya asset sepert yg disamapikan @uradn
diatas..
ini contohnya, rasanya lebih dari cukup untuk membayar nsabah >2M..
http://www.tempoi…9329,id.html
ya memang lama..
resiko itu khan mestinya sudah diketahui penabung
> 2M, high gain high risk..?
iya cukup, tapi masalahnya, ada yang punya liquiditas buat beli, ndak?
Khan nasabah sudah pada cairin duitnya tuh, seingat saya, dari 65000 nasabah, ada 3000 yang panik nutup rekening.
Gini deh, misal loe punya gedung seharga 1 milyar, sedangkan besok loe mesti bayar karyawan 50 juta.
Sedangkan uang kas sedang kosong, apa yang loe lakukan?
baiklah bung, saya sudah baca ulang..
sekarang yakinkan saya bahwa sukuk yg 1 M itu memang saya persiapkan untuk membayar gaji bulanan pegawai saya..
bukan sebagai investasi lain saya untuk mendapatkan keuntungan di bidang lain usaha saya..
sepertinya sudah bung..
coba lihat comment saya yg ini:
http://politikana…mment-155109
uang 630 M itu khan buat menjaga liquiditas
[_uang 630 M itu khan buat menjaga liquiditas_]
Ahh... akhirnya Anda mendukung konsep bail out.
Terimakasih.
jika ditanya sebelum bail-out terjadi
bail out atau tutup? maka jawabanku saat itu adalah tutup..
Nah, kalau ditutup, berturut2 beginilah yang akan terjadi:
harus dipikirkan bagaimana cara membayar 65ribu nasabah tersebut, tanpa ribut2 terseretnya nasabah bank lain oleh rumor.
Lalu meneg BUMN harus mikirin soal dana jamsostek tergerus.
Lalu, harus dipikirkan pula cari kerjaan buat pengangguran yang muncul setelah itu, yang terpaksa diphk oleh pemilik tabungan, karena mereka bangkrut.
Lalu harus dipikirkan soal larinya dana para penabung besar ke singapura.
Lalu harus dipikirkan tergerusnya devisa akibat larinya dana tersebut.
Lalu harus dipikirkan, soal jatuhnya nilai tukar karena tergerusnya devisa.
Lalu harus dipikirkan cari utangan ke IMF/worldbank/ADB, supaya rakyat kecil bisa tetap makan tempe.
Lalu harus dipikirkan gimana bayarnya hutang beserta bunga....
[_makanya tutup saja... toh mereka takut minjam ke BI.._]
BI bilang ndak sanggup nanganin, makanya perlu bailout.
Nah, kalau ditutup, berturut2 beginilah yang akan terjadi:
harus dipikirkan bagaimana cara membayar 65ribu nasabah tersebut, tanpa ribut2 terseretnya nasabah bank lain oleh rumor.
>> nasabah 2M tunggu penjualan aset
jaga rumor, bilang ini bank di korupsi, pelaku segera ditangkap, aset bank belasan triliun nasabah nggak usah khawatir
Lalu meneg BUMN harus mikirin soal dana jamsostek tergerus.
>> tunggu hasil jualan aset, dirut dipanggil, kenapa taruh dana sembarangan?, ganti dirut
Lalu, harus dipikirkan pula cari kerjaan buat pengangguran yang muncul setelah itu, yang terpaksa diphk oleh pemilik tabungan, karena mereka bangkrut.
>> memang setelah bail-out ada yg nggak diphk,
ada yg nngak bangkrut..?
Lalu harus dipikirkan soal larinya dana para penabung besar ke singapura.
kenapa lari jika rumor bisa dijaga?
Lalu harus dipikirkan tergerusnya devisa akibat larinya dana tersebut.
>> memang dana asing yg biasa keluar masuk itu termasuk penyumbang devisa??
[_>> nasabah 2M tunggu penjualan aset_]
Itulah sebabnya, Anda mesti faham soal konsep liquiditas.
Bahkan jika asset 10 milliar, jika kebutuhan liquiditas 10 juta tidak dapat terpenuhi, maka ia statusnya bangkrut.
Dimana-mana, asset yang sulit cair/liquid, disebut asset bodong.
[_tunggu hasil jualan aset, dirut dipanggil, kenapa taruh dana sembarangan?, ganti dirut_]
Saya garis bawahi kata tunggu. Kalau tidak terjual, atau terjualnya 2015 gimana?
Kapan itu di sebuah kota, pernah saya lihat asset bank bhs dari 11 tahun lalu ndak terjual-terjual.
[_memang setelah bail-out ada yg nggak diphk,
ada yg nngak bangkrut..?_]
Tentunya akan lebih sedikit daripada menghanguskan 2M keatas.
[_>> memang dana asing yg biasa keluar masuk itu termasuk penyumbang devisa??_]
Ketika penabung menukarkan duit mereka ke dollar, supaya bisa ditabung di singapura, yang tergerus adalah cadangan devisa.
U know what, kalau hal sesederhana "larinya penabung = tergerusnya cadangan devisa" saja Anda tidak mengerti....
Saya ragu Anda bisa mengerti konsep2 lainnya, Saya rasa, berdiskusi dengan Anda merupakan pembodohan bagi saya.
Itu betul pendapat Anda ya? *saya agak bingung dengan format komen Anda di atas*
Kalau memang iya, satu pertanyaan saja. Ada yang bisa mengatasi rumor tanpa kebijakan/aksi nyata? Ada gagasan yang canggih untuk menjaga rumor?
*Propaganda lewat media massa sih pembodohan, bukan mengatasi rumor, jadi nggak masuk hitungan. Apalagi strategi pengalihan isu dengan membuat isu baru*
baiklah..
maafkan saya jika telah membodohi..
itulah bangsa kita, sri mulyani dan budiono yg sudah jelas bertindak benar, dan hasilnya terbukti (tidak jadi krisis), malah disalah-salahin.
--------------
JK yang nggak kepilih lagi, cuap-cuap nyalahin orang, padahal dia kan pimpinan saat itu, seharusnya ikut bertanggunjawab.
saya pernah kerja di perusahaan, kalau anak buah salah, yg tanggungjawab manajernya, kalau anak buah nggak beres, manajer harus pecat orang tersebut supaya tidak menjadi virus.
kalau memang tidak setuju dengan tindakan sri mulyani, seharusnya JK rekomendasi ke sby untuk pecat sri mulyani saat itu juga, dan kalau sby tidak mau pecat sri mulyani, ya mundur sebagai wakil presiden.
Padahal pernyataan saat itu sebuah usaha untuk menenangkan pasar.
Lha setelah masuk pansus, kok komentar itu sekarang dijadikan bukti bahwa waktu itu tidak krisis.
[_Padahal pernyataan saat itu sebuah usaha untuk menenangkan pasar. _]
exactly.
kamenriderkiva:
setuju.
Striding Cloud: persis jawaban saksi yang mikir.
ikuti pollingnya di :
http://tentukan.c…asus_century
*polling center keluarga besar salingilang.com
Silahkan login untuk memberikan pendapat