Bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing 25

Jumat, 22 Jan '10 00:03

UU 24/2009 BBLNLK (Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan) menyebutkan bahwa bahasa Indonesia wajib digunakan dalam layanan administrasi publik dan komunikasi resmi di lingkungan kerja pemerintah dan swasta. Pertanyaan, meskipun tidak dinyatakan sanksi untuk pelanggarannya, apakah penerapan peraturan ini cukup tepat terutama dilihat dari kepentingan untuk (1) melestarikan bahasa daerah dan (2) meningkatkan kemampuan bahasa asing (khususnya bahasa Inggris) dalam mempersiapkan Indonesia menyambut globalisasi?

Bahasa daerah

Bahasa daerah Indonesia adalah salah satu kekayaan budaya Indonesia. Menurut Peta Bahasa Indonesia karya Pusat Bahasa, jumlah bahasa daerah di Indonesia saat ini adalah 442 bahasa. Sementara itu, data lain dari SIL (Summer Institute of Linguistic) menyebutkan angka yang hampir dua kali lipatnya, yaitu 743 bahasa.

Kepentingan politis untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu bangsa kadang membuat pelestarian dan pengembangan bahasa daerah menjadi anak tiri. Karenanya, cukup banyak yang memuji gebrakan Gubernur Yogyakarta yang menginstruksikan penggunaan bahasa Jawa pada hari tertentu di lingkungan instansi pemerintah provinsi Yogyakarta.

Bahasa asing

Tak dapat dipungkiri bahwa kemampuan berbahasa Inggris sebagai lingua franca sangat diperlukan jika Indonesia ingin tampil dan diakui di kancah internasional. Cukup menarik untuk menyimak alasan Alex Noerdin, Gubernur Sumatera Selatan, sewaktu memimpin rapat pejabat yang menggunakan bahasa Inggris. Menurutnya, penggunaan bahasa Inggris secara rutin diperlukan agar para pejabat mahir berbahasa Inggris untuk dapat menyambut investor dan berbagai kegiatan internasional di daerahnya.

Ironisnya, cukup banyak warga negara asing yang tertarik dan bahkan fasih berbahasa Indonesia.

Penutup

Sungguh kasihan memang nasib generasi Indonesia selanjutnya. Mereka paling tidak harus menguasai tiga bahasa: bahasa Indonesia (sebagai bahasa resmi Indonesia), bahasa daerah (untuk pelestarian budayanya), dan bahasa Inggris (sebagai modal menghadapi globalisasi). Tapi jika itu semua berhasil dikuasai, mereka pasti akan lebih baik daripada generasi yang ada sekarang. Bukan tidak mungkin.


Tag: bahasa

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Media Terkait:

    Siapa saja yang merating artikel ini:

    Komentar:

    free7 0 0
    Mungkin nanti Lojban juga perlu di kuasai.
    boiga 0 0
    Ivan Lanin: tapi klo cuma 3 bahasa itu sepertinya gak susah2 amat mas ivan, cukup pembiasaan dari rumah saja. klo bahasa inggris ya mesti terus dibiasakan juga sejalan pendidikannya..

    free7: tiap saya online kok ada sampean terus ya? : D
    free7 0 0
    boiga:
    Sesama pria malam dilarang saling mengintimidasi : D
    missmaharrani 0 0
    Setuju sama Mas boiga: sebenarnya itu nggak susah kalau kita mulai membiasakan diri.

    Ada yang takut the next generation tidak bicara dalam Bahasa Indonesia karena di sekolah bicara Bahasa Inggris.

    Padahal menurut saya semua akan baik dalam porsinya.

    Misal: bahasa inggris di sekolah, bahasa indonesia & bahasa daerah di rumah. Itu saja cukup.

    Jangan terus semua tayangan non-lokal di-dubbing. Sudah esensi kelucuan/ceritanya terkikis, di telinga juga kurang sedap didengar.
    ndableg 0 0
    keplok-keplok buat Ivan Lanin !
    manteb, abis rapat langsung nulis..

    *kalo gitu rajin2 rapat yah, ndess* : p
    pall 0 0
    Memang tidak sulit kok. Tapi lucu juga kalau bayangin kita pakai bahasa Indonesia aja pada gak baik-benar : D
    Logical Fallacy 0 0
    pall: Seperti penulisan judul di atas? ; ))
    pall 0 0
    Logical Fallacy: Kalo penulisan judul di luar tujuan akademik biasanya sih pada punya standar sendiri. Makanya koran bisa beda-beda dalam penulisan judul.
    Dh2L 0 0
    Penutup lanjutkan ........Dictionary Indonesia language .... di buka saat membuat perjanjian !!!!!
    Ivan Lanin 0 0
    Saya setuju bahwa sebenarnya tidak sulit. Masalah yang perlu dipikirkan mungkin adalah (1) kemampuan bahasa Indonesia sendiri kadang belum terlalu mantap, (2) bahasa daerah sudah mulai dilupakan oleh generasi sekarang (termasuk saya yang cuma bisa berkata "Tambuah Ciek!"), dan (3) kebanggaan yang berlebihan kalau mahir berbahasa asing padahal bahasa Indonesianya sendiri masih hancur lebur.
    free7 0 0
    Dh2L:

    [Memang tidak sulit kok. Tapi lucu juga kalau bayangin kita pakai bahasa Indonesia aja pada gak baik-benar]

    Makan aja , banyak yang masih salah makan : D
    pall 0 0
    free7:

    Mention juga ada yang salah ; ))
    free7 0 0


    Woooh salah alamat......

    pall:

    [Memang tidak sulit kok. Tapi lucu juga kalau bayangin kita pakai bahasa Indonesia aja pada gak baik-benar]

    Makan aja , banyak yang masih salah makan : D


    Red-White Eagle 0 0
    And soon kita akan melihat akeh people in Indonesia yang nganggo boso campur baur and thus possibly creating a new language yang khas tur mbedani. : D
    Icarus 0 0
    Red-White Eagle: Heh, minum kopi dulu, sana! : p
    Red-White Eagle 0 0
    Icarus: I've already minum kakehan kopi esta manana.
    Icarus 0 0
    Red-White Eagle: Oh, pantes angot cerewet...
    Red-White Eagle 0 0
    Icarus: Historia de mi vida...
    boiga 0 0
    Red-White Eagle: welcome back bro! : D
    Red-White Eagle 0 0
    Sri Mboiga: Muchas gracias, Senora Ministra. : D
    iloenx 0 0
    Red-White Eagle: Sri Mboiga, Senora Ministra?
    double SM........ ; ))
    Maximillian 0 0
    It's common to use English with Solo accent, so we call it the "Kromo Ingglis"

    So so khas and "mbingungake", but it's cool...
    Red-White Eagle 0 0
    Maximillian: You're saking Solo?
    Tommy 0 0
    kalo hanya tiga bahasa saya kira mudah dan gampoang... language is a habitual action....

    saya malah harus belajar 2 bahasa daerah...bahasa Indonesia..4 bahasa asing...tp br dua yg rada mudeng...he.e.e.
    em je 0 0
    Meskipun tidak satupun yang fasih, saya tidak bosan belajar multi bahasa.



    Silahkan login untuk memberikan pendapat