Cina bisa, Indonesia bisa apa? 28
Minggu, 24 Jan '10 18:36
Perjanjian perdagangan bebas ASEAN-Cina sudah ditandatangani, tinggal diratifikasi, Siapkah negeri ini?
Memasuki era industri informasi dan telekomunikasi, telepon seluler dan komputer sudah menjadi barang kebutuhan sehari hari. Hampir setiap rumah tangga membutuhkan alat alat elektronika. Peran kuda sebagai alat transportasi telah digantikan sepeda motor, mobil dan bus. Di era ini, sumber daya alam yang penting, selain minyak bumi, adalah rare metals, seperti neodymium, cerium, praseodymium dan lanthanum. Penggunaan logam logam ini memungkinkan miniaturisasi, dan hadirlah telepon seluler, komputer, dan laptop ke tangan anda, yang bisa anda gunakan untuk memposting politikana atau anda suplai ke sekretariat DPR untuk memuaskan hasrat anggota DPR kita akan mainan terbaru.
Walaupun kekurangan minyak bumi, Cina secara efisien menggunakan posisinya sebagai produsen terbesar rare metals untuk membuat perusahaan perusahaan elektronika Amerika dan Eropa menghijrahkan pabriknya ke Cina, suka ataupun terpaksa. Sebagai contoh, industri elektronika di Eropa mati pelan – pelan. Ekspor logam-logam ini mulai dibatasi oleh China, dan perlahan – lahan, suka atau tidak suka, industri elektronika di Eropa mulai hijrah ke China. Protes bertebaran di berbagai media di Eropa, tetapi akhirnya industri mereka hijrah juga ke Cina. Selain itu Cina menggunakan sekecil apapun kesempatan yang didapatnya. Impor alat alat presisi dari Jerman untuk kebutuhan industri Cina harus dibayar dengan perjanjian alih teknologi dan pembukaan kesempatan sebesar – besarnya bagi mahasiswa Cina untuk belajar ilmu rekayasa di Jerman. Jika suatu negara Eropa menjual sebuah produk ke Cina yang sebagian proses produksinya dibuat di negara Eropa yang lain, maka Cina meminta agar sebagian proses produksinya dibuat di Cina, atau tidak ada impor sama sekali. Untuk impor – impor kapal dari Eropa ke Cina, salah satu korbannya adalah industri galangan kapal Belanda, yang dahulu dibanggakan sejak zaman VOC, kini mulai mati pelan – pelan. Kalau merakit kapalnya, kan bisa di Cina, kata Cina. Dengan tekanan krisis sekarang ini, mau tidak mau banyak perusahaan patuh, jika bisnis ingin tetap lancar.
Cina menggunakan leverage-nya dengan efisien, sehingga suka ataupun terpaksa, investor pelan tapi pasti pindah ke Cina. Bisakah Indonesia belajar dari Cina?
Kita mulai menjadi net importer minyak bumi. Industri tekstil dan sepatu kita hanya mengandalkan buruh murah, sebentar lagi Vietnam akan mengambil alih. Kalau kita mau membangun industri elektronika, siap siap hijrah ke Cina. Salah satu industri yang masih dapat kita banggakan adalah industri perkebunan kelapa sawit dan karet. Kelemahannya adalah di sektor pupuk, yang masih bergantung impor. Namun hal ini belum terlambat. Kita masih punya waktu untuk melakukan penelitian intensif di bidang low input-agriculture. Minyak sawit mentah adalah bahan baku industri makanan, oleokimia, dan dengan pengolahan lanjut bisa dijadikan bahan bakar mesin diesel. Karet digunakan di berbagai macam industri dan peralatan, mulai sarung tangan dan alat tempur, untuk melapisi senjata betulan dan juga senjata yang anda gunakan untuk bertempur dengan pasangan, kalau mau. Pupuk yang bisa kita produksi di dalam negeri (seperti urea) harus kita optimalkan, industri ini harus menjadi industri strategis nasional.
Di negeri kita, minyak di bawah bumi sudah mulai habis, bisakah kita memanfaatkan minyak di atas bumi? Kita memiliki keunggulan agroklimatologi, sehingga kita tidak perlu khawatir Cina akan membudidayakan kelapa sawit, karena iklim mereka tidak sesuai. Namun pertanyaannya, sanggupkah kita membangun kemandirian industri nasional, khususnya di perkebunan. Sadar akan potensi minyak kelapa sawitnya, Malaysia sudah mengembangkan industri oleokimia besar – besaran sejak tahun 70 an, dan kapitalisasi ekspor perkebunan terbesar Malaysia bukanlah dari penjualan CPO, tetapi dari penjualan produk oleokimia turunan CPO. Kita tidak pernah kekurangan stok orang pintar, baik yang normal maupun paranormal. Di kalangan peneliti berstatus pegawai negeri, peneliti Departemen Pertanian paling banyak jumlahnya di negara ini, belum lagi dari LIPI, BPPT, dan dosen – dosen di fakultas pertanian universitas negeri yang juga kadang kadang ikut meneliti. Di kalangan peneliti BUMN, ada lembaga riset yang dikelola bersama perusahaan perkebunan negara (PTPN) seperti Pusat Penelitian Kelapa sawit (PPKS) dan Pusat Penelitian Karet (PPK). Perusahaan – perusahaan perkebunan swasta besar pun memiliki lembaga risetnya masing masing.
Eropa, Cina dan India adalah importir terbesar CPO dan produk oleokimia turunannya.
Bisakah kita belajar dari Cina ™, dan memaksa raksasa Unilever memindahkan kantor pusatnya ke Medan?
Bisakah kita belajar dari Cina ™, dan memaksa industri bahan – bahan perawatan pribadi (sabun, lotion, kosmetik, kondom) pindah ke Indonesia?
Bisakah kita belajar dari Cina ™, untuk memaksa negara yang mengekspor produknya ke negara kita member imbalan balik kesempatan belajar dan beasiswa seluas – luasnya dengan biaya murah dan urusan visa yang tidak dipersulit kepada mahasiswa Indonesia?
Bisakah kita belajar dari Cina ™, untuk memanfaatkan setiap leverage yang kita miliki untuk memperkuat industri dalam negeri dan membuka kesempatan kerja di dalam negeri, dengan melupakan keuntungan pribadi jangka pendek? Kita harapkan jangan sampai kisah sedih Texmaco Engineering terulang.
Bisakah kita belajar dari Cina ™, sedangkan dari Malaysia saja kita sudah ketinggalan di bidang pengembangan industri oleokimia?
Bisakah kita belajar dari Cina ™? Ya, minimal Sri Kirana aka Shouen sudah belajar di Cina :D
Bisakah kita belajar dari Cina ™? Insya Allah, selama kita percaya diri kita bisa dan berusaha sungguh sungguh.
Jika pertanyaan ini salah, maka sebaiknya diganti, beranikah kita seperti Cina ™? Beranikah bangsa ini?
Akhir kata, jika selama ini Sumatera Selatan (dan Riau) membanggakan dirinya sebagai lumbung energi nasional, mungkin suatu saat kita kelak akan berterima kasih kepada Kalimantan. Selain pulau ini paling ideal sebagai lokasi pembangkit listrik tenaga nuklir (dan kabar burung mengatakan ada cukup cadangan uranium di pulau ini selain di Papua), jumlah luasan perkebunan kelapa sawit sudah mulai menggantikan Sumatera. Kita juga kelak harus berterima kasih pada Papua. Walaupun emas sudah dikeruk Amerika, banyak lahan yang bisa dikembangkan untuk perkebunan kelapa sawit dan karet, dan yang paling penting juga potensi lahan budidaya padi untuk memberi makan anak negeri dan menjaga stabilitas nasional. Rencana pengembangan produksi beras nasional ada di Merauke dan daerah lain di sekitar Papua, untuk memberi makan anak cucu kita nantinya.
sumber lain:
http://www.dutchnews.nl/news/archives/2010/01/conflict_looms_of_jobs_in_chin.php
Tag: Cina
Terkait:
-
Imlek : Menyongsong Indonesia Baru
Sabtu, 13 Feb '10 20:20 -
Bagaimana Kalau "Nyolong" ?
Senin, 18 Jan '10 09:48 -
Etnis Tionghoa yang Baik
Kamis, 24 Des '09 10:44
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Olas: Menarik
-
free7: Bagus
-
botaksakti: Penting
-
Dh2L: Lucu
-
Logical Fallacy: Menarik
-
ndableg: Bagus
-
iloenx: Menarik
-
Jingglang: Keren
-
krisnov: Bagus
-
pall: Menarik
-
boiga: Menarik
-
yusro: Penting
-
vraybeta: Penting
-
Harlan Eryandi: Bagus
-
conscientizacao: Menarik
-
jamur: Keren
-
Ibnu Muslim: Menarik
-
Red-White Eagle: Penting


KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
monggo linknya: http://politikana…au-duka.html
tinggalen ning profil-ku..
"Kata Presiden SBY FTA sama RRC ndak bisa dibatalkan, sudah ada perjanjian, harus diteruskan"
"O... jadi SBY dipilih sama rakyat RRC juga?"
jadi lebih peduli ma RRC ketimbang rakyat indonesia,,,,,,,!!!!!!!!!!!!!!
jadi lebih peduli ma RRC ketimbang rakyat indonesia,,,,,,,!!!!!!!!!!!!!!
botaksakti: kalau begitu kita cari Mak Erot baru untuk negeri ini
Dh2L: wah, mbah Edward lagi di Eropa nich?
Menurut saya , ya bagus kalau jurus itu memang bisa menaikan eksport dan menekan import...tapi kalau cuma sektor eksportir yg bertempur ya sulit juga mencapai perbaikan ekonomi.
Misalnya perlu di imabangi stop impor barang-barang konsumtif mewah,tanpa makan buah-buahan impor spt apel, anggur, pir, ..etc
Toh rakyat kita nggak akan kelaparan atau kurang gizi karena hal itu . karena kita memiliki banyak buah-buahan seperti nanas, pepaya, pisang, mangga, belimbing, ..etc
Dengan begitu kan kita bisa menghemat sangat besar devisa ...
Kalau masih mengimport buah-buahan seperti itu berarti logikanya, pemerintah bukan memberikan subsidi kepada petani kita, tapi malah petani Amerika, China,Jepang..
Menurut saya gitu
Sekarang mobil-motor dah berjubel sesak di indonesia, ngapain lagi masih import terus, mestinya anggarannya dialokasikan untuk memproduksi sendiri, saya yakin indonesia akan kaya jika para pemerintah mau ngalah sebentar melupakan lifestyle-nya dan serius memikirkan ekonomi rakyat.
Yang paling kita takutkan adalah budaya konsumtif masyarakat yang berlebihan.
Dalam kajian sosiologi ekonomi yang pernah saya ikuti, lifestyle adalah faktor yang mempengaruhi tingkat konsumsi, sedangkan lifestyle itu sendiri dipengaruhi banyak faktor, seperti status sosial ekonomi, budaya, dan lingkungan.
Ada pejabat yang merasa seiring dengan peningkatan jabatannya, gaya hidupnya juga harus berubah. Menurut saya sih, selama dia tidak korupsi, oke oke saja.
Yang menyedihkan adalah banyak orang Indonesia yang memaksakan diri, kepingin beli kendaraan motor, kreditan mati - matian, pingin belanja dalam jumlah besar tanpa bawa uang cash, ramai - ramai pakai kartu kredit. Temen beli hape baru yang canggih, ramai ramai tarik tabungan. Sebenarnya pangkal krisis moneter di US saat ini adalah budaya memaksakan diri di kalangan rakyatnya.
Nabi Muhammad menganjurkan umatnya sebisa mungkin menghindarkan diri dari hutang. Selama rakyat Indonesia bisa memaksakan diri untuk tidak berhutang (kecuali untuk pengembangan usaha yang prospektif dan keperluan darurat) dan hidup sesuai kemampuan, menurut saya ke depan Insya Allah negeri ini akan makmur.
Sekali lagi, berantas budaya konsumtif.
[lifestyle itu sendiri dipengaruhi banyak faktor,]
Iya, tapi kan kewenangan ada di tangan pemerintah, jika pemerintah tidak memulai untuk menghentikan lifestyle yang berlebihan, berarti kan berlaku sebaliknya (mendukung), dan berarti tidak ada usaha memberantas budaya konsumtif , dan budaya konsumtif tidak bisa dihentikan sebelum ada budaya produktif , dan bagaimana kita bisa menjadi produktif jika lifestyle belum di hentikan ...muter-muter terus deh rumusnya ..
*apa ini juga berlaku buat ngimpor panda dari china?
Silahkan login untuk memberikan pendapat