Rasionalisme Saya yang Keblinger 24
Minggu, 24 Jan '10 07:29
Oleh Darsina
Rasanya baru kemarin saya bersikap sok filosofis. Dalam diskusi santai di P, khususnya dengan pall, saya berpegang pada argumen bahwa kita dapat mencapai Kebenaran (Al-Haqq), menemukan Tuhan, dengan pendekatan rasional. Ini bukan pendekatan baru, tentu. Dalam filsafat rasionalisme kuno, misalnya, Aristotles sampai pada kesimpulan "ada yang menggerakkan tanpa digerakkan”. Ada Kausa Prima, first cause, Sebab yang Pertama, dalam hukum sebab akibat penciptaan alam semesta.
Filsafat kuno Aristoteles itu bisa kita tarik ke masa yang lebih dekat. Dalam filsafat rasionalisme modern, Thomas Aquinas mengembangkan quinque viae (panca marga) hingga sampai pada kesimpulan adanya Tuhan berdasarkan pengalaman dan penalaran filosofis. Lebih dekat lagi, Einstein Sang Ilmuwan ketika masih kecil, dengan analogi gelap dan dingin, secara rasional berhasil mematahkan argumen sang profesor tentang keberadaan Tuhan.
Dengan rasionalisme, kita berupaya menemukan Tuhan melalui pengenalan terhadap akibat keberadaanNYA. Kita saksikan dan kenali akibat, lalu dengan itu kita telusuri sebab yang menimbulkan akibat itu sampai pada kesimpulan bahwa ada Sebab Pertama, Penggerak yang pertama. Kita kemudian menyebut Penggerak yang pertama itu: Tuhan.
Itu rasionalisme kaum theis. Tetapi, dengan filsafat rasionalisme juga kaum atheis bisa sampai pada kesimpulan bahwa Tuhan tidak ada. Lebih dari itu, dengan rasionalitas, seorang Nietzcshe bahkan sampai pada konklusi bahwa Tuhan sudah mati. Perdebatan apakah Tuhan Ada atau Tuhan tidak ada (bahkan sudah mati) dalam kerangka filsafat rasionalisme pada akhirnya merupakan perdebatan yang tak akan pernah selesai. Kebenaran kesimpulan salah satu kubu menjadi relatif dan rentan falsifikasi. Itu karena rasionalisme sendiri memiliki keterbatasan. Rasionalitas setiap orang terpenjara oleh lingkungan sosial, alam, budaya, pengetahuan, dan akal kecerdasan.
Kemudian secara kebetulan kemarin saya mengikuti Kajian Irfan Liqa Allah yang diasuh seorang ustadz bersahaja di sebuah madrasah sederhana. Setelah ikut kajian tersebut saya baru nyadar bahwa sikap saya yang sok filosofis itu sungguh keblinger. Dalam gradasi proses pengenalan Tuhan, pendekatan filsafat rasionalisme ternyata berada di level paling rendah. Tidk percaya?
Menurut ustadz (bukan ustadz Sanusi-nya sit, lho), ada tiga level gradasi dalam pengenalan Tuhan (ma’rifat Al-Haqq).
1. Ma’rifatul awwam
2. Ma’rifatul Khawas
3. Ma’rifatul Khawas Al-Khawas
Ma’rifatul Awwam
Ma’rifatul Awwam adalah proses pengenalan Tuhan melalui pengenalan terhadap akibat. Sebagaimana yang dilakukan penganut rasionalisme, melalui akibat, orang mengenal sebab, dan begitu seterusnya sampai pada Kausa Prima. Proses pengenalan macam ini rentan kritik dan falsifikasi sebagaimana sudah disinggung di awal note. Rumi, misalnya, mengkritik pendekatan ini dengan frasenya yang terkenal, “Bagaimana mungkin kau mengenal Cahaya Matahari dari cahaya lilin?”
Ma’rifatul Khawas
Ma’rifatul Khawas berada satu level di atas awwam. Pada tahap ini, pengenalan Tuhan dilakukan dengan mengenali diri sendiri. Ingat frase terkenal itu: Orang yang mengenal dirinya akan mengenal Tuhannya. Pertanyaannya, diri yang mana?
Mencoba mengenali diri berdasarkan ciptaanNya yang bersifat fisik (mata, telinga, hidung, tenggorokan, jantung, paru, usus, hati, ginjal, empedu – Harun Yahya mode; on) dan bagaimana kesempurnaan ciptaan itu berproses dalam suatu sistem yang sophisticated, harus dipahami masih berada dalam level ma’rifatul awwam. Mengapa? Karena semua organ fisik dan sistem yang terbentuk itu juga merupakan akibat. Ketika kita ‘memikirkan’ sebab yang menimbulkan akibat itu untuk sampai pada Sebab Pertama sejatinya tidak lebih dari tahapan ma’rifatul awwam.
Alih-alih mencari proses sebab – akibat lain dalam diri, proses pengenalan Tuhan pada level ma’rifatul khawas lebih fokus pada hakikat qalb (kalbu). Jadi mengenali diri dalam proses mengenal Tuhan sejatinya adalah mengenali qalb. Qalb adalah ruang komunikasi intensif antara diri dengan Tuhan. Dalam konteks inilah kita memahami hadits qudsi tentang firman Tuhan: "langit dan bumi tak mampu menampung KU, qalbu seorang mukmin yang mampu menampung KU".
Dalam khasanah irfan, ada potongan dialog yang sangat maknawi dalam hubungan diri dengan Tuhan.
Seorang sufi ditanya, “Bagaimana mungkin engkau merasakan kehadiran Tuhan?”
Sang Sufi menjawab, “ Bagaimana mungkin aku TIDAK merasakan Dia yang selalu hadir bersamaku?”
Ma’rifatul Khawas al Khawas
Ma’rifatul Khawas al Khawas merupakan level tertinggi dalam proses pengenalan Tuhan. Pada level ini, si pejalan mengenali Al-Haqq melalui Al-Haqq. Mereka yang berada di level ini memiliki kesadaran bahwa tak ada maujud kecuali Wajibul Wujud. Ada proses pemahaman yang terlalu rumit untuk dituliskan dalam note singkat ini mengenai bagaimana proses penyadaran dan kesadaran hakiki bisa dimiliki si pejalan. Satu hal, pengenalan Tuhan pada level ketiga ini bertolak belakang dengan pengenalan Tuhan pada level satu. Kalau pada level satu, pengenalan Tuhan dilakukan dengan mengenali ‘akibat”, pada level tiga justru dilakukan melalui “Sebab”.
Seorang sufi berkata, “Telah tampil DiriNya tidak tersembunyi dari apapun, kecuali katak yang tak dapat mengenali rembulan.”
Imam Jakfar Ash-shadiq as menggambarkan pengenalan Al-Haqq melalui Al-Haqq ini dengan satu frase ringkas: "Tidaklah aku menyaksikan sesuatu kecuali aku menyaksikan Allah sebelumnya, bersamanya dan sesudahnya."
Pertanyaannya, mungkinkah seseorang dapat mencapai level tiga ini dalam pengenalan Tuhan?
Jawabannya, mungkin. Dan harus diikhtiarkan. Sebab, dalam perjalanan hidup ini manusia tak boleh berhenti berjalan. Berhenti di level awwam, misalnya, merupakan pengkhianatan terhadap tujuan keberadaan manusia di dunia. Tuhan menganugerahi manusia dengan fakultas akal, qalb dan hidayah untuk menemukan DiriNya. Sebab, memang, untuk menemukan Al-Haqq-lah sejatinya manusia diciptakan.... Wallahu a’lam.
Tag: tuhan, rasionalisme, Liqa Allah, Al-Haqq
Terkait:
-
aku nggak butuh tuhan....
Senin, 1 Mar '10 20:36 -
Pluralisme Agama: How Liberal Can You Go?!
Minggu, 28 Feb '10 19:32 -
Refleksi Maulid Nabi: Dan Muhammad Sang Penggembala!
Sabtu, 27 Feb '10 17:05
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
free7: Keren
-
LCFR: Menarik
-
Silhouette Man: Menarik
-
MR: Menarik
-
GaraMata: Penting
-
ndableg: Bagus
-
Dh2L: Bagus
-
BRAM'S: Menarik
-
Olas: Keren
-
vraybeta: Keren
-
Harlan Eryandi: Bagus
-
pall: Menarik
-
Logical Fallacy: Bagus
-
wastingtime: Penting
-
Marshall: Menarik
-
yusro: Menarik
-
Yudiantoro: Bagus
-
Ibnu Muslim: Menarik
-
Red-White Eagle: Menarik
-
conscientizacao: Bagus
-
Sri Kirana: Menarik



KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
Iya, sepakat .... banyak tahap2 yang mesti dilalui sebelum bisa membuat jalur penghubung antara alam rasio dengan non rasio, jika di islam bisa melalui tauhid atau sufisme,
Secara ilmu psikologi aja ada 4 lapisan kesadaran manusia , dan alam rasio/alam sadar ada di level paling luar/kasar .
So, logisnya orang mesti bisa mengendalikan emosinya secara sempurna sebelum muluk2 ingin memahami yang Maha Halus , atau mengetahui jati dirinya, bukan kebalikannya mau mengetahui penciptanya dulu...(keblinger logika)
Again, just my 2cents
Bukankah manusia tak hanya makhluk rasional? Bukankah manusia juga makhluk spiritual?
keberimbangan (atau keseimbangan?) itu memang hukum semesta, begitu ya.......
saya kira itu yang ga boleh dilupakan
piye....
iloenx:
Apa kalo udah nggak bisa lupa bukan manusia ya? *ngeracun*
tapi yang bisa njelasin cuma bung kalangwan, sayang dia nggak pernah turun gunung lagi
Sebelum ada penolakan, Allamah menyusun premis kedua sebagai pembanding. bahwa disana ada realitas, meskipun belum ada identifikasi. Jika Shopisme atau ateis menolak realitas ini, maka justru disana ada pembuktian dirinya, bahwa dirinya itu ada.
Dari konklusi yang ada, diambil kesimpulan bahwa realitas itu ada dan niscaya niscaya. dan realitas niscaya itu sama dengan mutlak sama dengan absolut, sama dengan Tuhan.
Menurut saya Anda tidak sedang keblinger, namun saya percaya adanya gradasi pengenalan wajibul wujub. sebagaimana Ali pernah membagi muslimin di hadapan Tuhan kepada tiga kelompok, budak, pedagang dan pecinta. Pembagian ini lebih mengacu kepada motif-motif mereka dalam beribadah; budak dengan motif takut (neraka), pedagang dengan motif salary (surga), dan pecinta dengan motif kerinduan, inilah motif yang termulia. dan pembagian itu sesuai dengan nilai pengetahuan dia tentang Tuhan
anna': dewaruci.....
yup, kalangwan, sayang dia sedang sibuk mengatsi aneka pembangkangan benda mati yang tiba3 hidup di sekelillingnya......
Silahkan login untuk memberikan pendapat