Jalan Tol, untuk Siapa? 48

Selasa, 26 Jan '10 09:13

Lalu hari ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan ruas jalan tol Kanci-Pejagan, di Cirebon, Jawa Barat sepanjang 35 kilometer. Saya tak paham, ketika negara-negara maju sudah menghentikan pembangunan jalan tol karena antara lain, terbukti tidak bisa mengurangi kemacetan dan sebagai gantinya banyak membangun fasilitas jalur untuk kereta api— mengapa di sini pembangunan jalan tol terus dipacu dan sebaliknya pembangunan jaringan rel yang jauh lebih murah terus dihambat atau ditunda-tunda?

oleh Rusdi Mathari
RADIATOR Springs adalah kota di atas bukit. Terletak di antara dua kota dan jalan satu-satunya yang menghubungkan dua kota itu melintasi Radiator Springs, kota di atas bukit itu pada zamannya adalah tempat singgah banyak orang dan kendaraan. Jalannya berbelok-belok, menanjak dan menurun, melewati jembatan panjang yang indah, memasuki terowongan dan sebagainya.

Melewati jalan negara itu, semua kendaraan bergerak dinamis, tidak monoton. Perekonomian warga Radiator Springs juga berkembang. Hotel, restoran, dan toko-toko lainnya tidak pernah sepi dari pengunjung dan para tamu.

Empat puluh tahun silam berlalu dan kini semua berubah.  Sejak sebuah jalan tol panjang dan lurus—yang memperpendek jarak— dibangun untuk menghubungkan dua kota lain itu dan hanya “melewati” Radiator Springs, kota di atas bukit itu perlahan menjadi kota mati.  Hotel, restoran, toko onderdil, bengkel dan sebagainya, banyak yang tutup. Sebagian hotel  lalu seperti menjadi rumah hantu karena tak ada yang mengelola, dan tak ada tamu yang menginap.

Jalan yang berbelok-belok, memutar, menanjak dan menurun ke Radiator Springs rupanya sudah tak menarik orang luar untuk singgah di kota itu. Mereka lebih memilih jalan tol untuk mempersingkat waktu dan jarak, meskipun mereka juga tak tahu dengan apa yang mereka lihat. “Mereka hanya mengemudi dan tidak menikmati perjalanan,” begitulah seorang mantan jaksa menjelaskan kepada Lightning McQueen, ketika keduanya melihat ratusan kendaraan melaju kencang di ruas tol yang bisa terlihat dari kota Radiator Springs. McQueen adalah “tamu” yang tersesat ke kota itu.

Di manakah Radiator Springs? Kota itu hanya ada di Cars, film animasi produksi Disney dan Pixar, yang menyindir tentang bahaya globalisasi dan kesombongan pembangunan ekonomi. Film itu diputar di bioskop-bioskop di Jakarta, tiga atau empat tahun lalu dan pekan silam diputar kembali oleh sebuah stasiun televisi.

Karena dibangun sedemikian rupa, jalan tol itu memang telah memungkinkan arus kendaraan bergerak lebih cepat dari satu tempat ke tempat lain, dari satu kota ke kota lainnya. Jarak menjadi semakin ringkas meskipun yang sebetulnya terjadi, manusia dipaksa hanya menjadi pengemudi. Seolah robot. Itu berbeda jika melintas di  jalan bukan tol yang berbelok-belok dan memutar atau naik-turun yang memungkinkan orang bergerak dinamis dengan kendaraannya.

Akas dan Tjipto
Dulu ketika belum ada tol Gempol-Surabaya, setiap kali hendak Surabaya dari Situbondo, bus Akas atau Tjipto yang saya tumpangi selalu melewati Sidoarjo, kota kecil di selatan Surabaya. Begitu masuk Gempol, akan banyak pedagang asongan yang menjajakan kue klepon atau sate kerang, yang naik ke atas bus.

Saya biasanya membeli sate kerang itu tapi pemandangan yang paling saya sukai adalah ketika bus melintas di atas jembatan tua yang di bawahnya melintas sungai Porong. Sungainya lebar dan airnya deras mengalir. Sebelumnya, saya belum pernah melihat sungai selebar itu. Memasuki Sidoarjo, dari dalam bus bisa terlihat gedung-gedung tua bersejarah dan pasar-pasar tradisional. Gempol-Surabaya waktu itu bisa ditempuh dalam waktu satu jam.

Tetapi sejak tol Gempol-Surabaya beroperasi, bus dari timur dan selatan Jawa Timur yang hendak ke Surabaya, hampir semuanya memilih melintas di jalan tol. Tak ada lagi pedagang asongan yang bisa masuk, tak juga bisa melihat jembatan tua di Kali Porong. Sepanjang mata memandang, di kiri kanan jalan tol hanya hamparan sawah yang kering atau perumahan-perumahan baru seperti petak-petak hipotek di permainan monopoli.

Memandang ke depan dari dalam bus, yang tampak hanya ratusan kendaraan melaju kencang seolah mengejar atau dikejar sesuatu. Perjalanan menjadi ringkas hanya sekitar 20 menit. Manusia dan barang sama cepatnya.

Kini ruas tol itu lumpuh, terhalang oleh tanggul yang dibuat pihak Lapindo. Tak ada lagi kendaraan yang melintas di atasnya, setidaknya di ruas Gempol-Sidoarjo. Sebagai gantinya, semua kendaraan kembali melintas di jalan “asal” yaitu jalan raya Porong sehingga hampir setiap hari, jalan raya itu dilanda kemacetan. Jalan raya Porong itu terpaksa dilalui oleh pengendara dan para sopir angkutan karena tak ada jalan alternatif setelah sebelumnya mereka sangat tergantung kepada jalan tol. Ada kabar, ruas pengganti Gempol-Sidoarjo itu akan segera dibangun tapi banyak perusahaan bus di Jawa Timur yang telanjur sekarat karena digerus biaya tinggi akibat tak beroperasinya ruas Gempol-Sidoarjo.

Jalan tol Cipularang yang menghubungkan Cikampek-Bandung, juga meninggalkan banyak bekas cerita yang berbeda bagi warga kota Purwakarta, Cipatat dan Ciranjang. Sebelum ada tol Cipularang, sebagian warga Purwakarta dan sekitarnya yang tinggal di tepi jalan negara antara Cikampek-Padalarang, menggantungkan hidup dari berjualan makanan, kerajinan dan sebagainya. Berjejer di sepanjang jalan.

Bus-bus, truk-truk dan kendaraan pribadi, biasanya juga berhenti untuk singgah di warung-warung mereka, sekadar melepas lelah atau menikmati tape bakar. Alam dan suasana di jalan itu juga memesona mata: Perkebunan damar, sawah, percikan air dan sebagainya. Jalan tol Cipularang yang memangkas waktu dan jarak Bandung-Jakarta, akan tetapi sudah sekian tahun memangkas penghidupan mereka. Jalan negara itu sekarang sepi, begitu juga warung makanan dan kerajinan penduduk. Sebagian bangkrut, yang lain entah ke mana, telah pindah.

Lalu hari ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan ruas jalan tol Kanci-Pejagan, di Cirebon, Jawa Barat sepanjang 35 kilometer. Tol itu dibangun oleh Grup Bakrie dan merupakan bagian dari pembangunan jalan tol yang direncanakan akan menghubungkan Pulau Jawa, hingga kelak mencapai Probolinggo, di Jawa Timur.

Saya sungguh tak paham, ketika negara-negara maju sudah menghentikan pembangunan jalan tol karena antara lain, terbukti tidak bisa mengurangi kemacetan dan sebagai gantinya banyak membangun fasilitas jalur untuk kereta api— di sini pembangunan jalan tol terus dipacu dan sebaliknya pembangunan jaringan rel yang jauh lebih murah terus dihambat atau ditunda-tunda.

Orang-orang lalu seperti dipaksa melintas di jalan tol di sebelah jalan negara yang berlubang dan sumpek, mengejar dan dikejar waktu. Seperti kata McQueen, mereka kemudian hanya sekadar mengemudi dan tidak tahu apa yang mereka lihat.

Tulisan ini juga bisa dibaca di Rusdi GoBlog.


Tag: SBY, LAPINDO, jalan, Bakrie, Tol, Cars

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Media Terkait:

    Siapa saja yang merating artikel ini:

    Komentar:

    NOS 0 0
    Dan, di banyak negara, tol tidak bayar...: )
    kinanthi 0 0
    Karena pemerintah gak ada duit buat membangun dan memelihara infrastruktur jalan, makanya butuh swasta untuk membangun jalan. Keterlibatan swasta menghasilkan konsekuensi jalan tersebut harus berbayar.

    Kalau menurut saya si, lebih bagus mengoptimalkan kereta untuk angkutan barang.

    NOS: Karena bayar (toll fee) makanya disebut jalan tol (toll road), pak ; ))

    dizzman 0 0
    kinanthi: bukannya toll free pak?
    ini ada kaitannya dengan 'memperbanyak' produksi mobil di negara donor, supaya mobilnya laku dan membiasakan orang kita bawa mobil sendiri.
    kalo bikin rel kereta, mobil gak laku, dan gak ada nilai tambah juga buat negara investor, juga penduduk setempat, karena kereta juga seperti tol, lewat doank kagak mampir
    Logical Fallacy 0 0
    Kembangkan saja teknologi santet. Dukun santet itu kan bisa mengirim materi lewat 'jalur alternatif' untuk sampai ke tujuan dengan seketika. Mungkin semacam teleport di Startrek itu... "Beam me up, Scotty!" : D
    yusro 0 0
    Jalan TOL = Jalan Tetep Ora Lancar, jadi memang tidak untuk mengatasi kemacetan : ))
    kinanthi 0 0
    dizzman: apanya yg toll free?

    Wah, kalo teori konspirasi macam itu si boleh2 aja. Tapi, yg mau invest di kereta api juga banyak lho, pak. Investor jalan tol juga banyakan dalam negeri. Mayoritas jalan tol trans jawa yg punya adalah bakrie.

    Investor jepang dan amerika (yg produsen mobil) kayaknya malah gak ada di jalan tol.

    Memang, salah satu manfaat lain dari jalan tol adalah pengembangan wilayah. Tapi yg berkembang paling bagian outlet jalan tol aja. Dan perkembangannya seringnya justru tak terkendali.

    Satu lagi, kebutuhan lahan jalan tol sangat besar, banyak memakan lahan2 pertanian, baik yg dialiri irigas teknis maupun non teknis, dan memakan daerah hutan juga.
    mpokb 0 0
    ada pemahaman aneh bahwa kemakmuran ditandai dengan bermobilnya semua orang. konon jalan tol (sayang nggak ada jalan bebas hambatan gratis) mendorong perkembangan industri otomotif dalam negeri ; ))
    NOS 0 0
    kinanthi: Kalau tidak salah, Jagorawi dibiayai APBN dan pinjaman luar negeri, diresmikan oleh kakeknya si Ari Sigit tahun 1978. Ini pertanyaan awam: kalau pinjaman LN nya sudah lunas, wajarkah tol itu gratis atau bayar dengan biaya murah sekedar kompensasi biaya pemeliharan jalan saja?

    kinanthi 0 0
    mpokb: kalau menurut per definisi, jalan sudirman (jalur cepat) bisa dikatakan jalan bebas hambatan. ; ))
    Logical Fallacy 0 0
    mpokb: Kalau di sini tepatnya mendorong tumbuhnya importir dan industri perakitan otomotif dalam negeri. : D
    mpokb 0 0
    kinanthi: woo.. bener juga. dulu naik ojek di situ lebih cepat daripada ngebus atau naksi.. : D
    mpokb 0 0
    Logical Fallacy: bagaimana dengan bengkel cuci dan penjual onderdil? maju juga to? : D
    kinanthi 0 0
    NOS: Iya. Itu memang bagian lucunya. Ketika konsesi habis, bukannya digratiskan, tapi diperpanjang. Lagi-lagi karena tidak adanya biaya perawatan.

    Saya tidak tahu berapa tarif tol jagorawi. Harusnya memang lebih murah, karena logika tadi, hanya untuk biaya perawatan, bukan untuk mengembalikan biaya konstruksi.

    Kalau menurut hitung2an ekonomi si, kalo ga salah, tarif tol normal (dalam artian untuk mengembalikan biaya konstruksi) adalah Rp 500,- per km. Jagorawi sepertinya harusnya lebih rendah dari itu.
    mpokb 0 0
    NOS: sepertinya itu perjanjiannya dengan Jasa Marga. Jasa Marga BUMN, jadi konsumen mau tak mau kudu bayar ke dia...
    dizzman 0 0
    kinanthi: maksudnya, harusnya toll itu free gitu loh...
    kinanthi 0 0
    dizzman: ya namanya bukan jalan tol lagi dong, pak... namanya jadi jalan bebas hambatan.

    Selama namanya jalan tol, brati mbayar : D
    cynical 0 0
    jalan tol mengurangi kemacetan, itu pasti. tapi efek lanjutan, orang berlomba-lomba memiliki mobil, karena jalan lancar, sehingga menambah macet jalan di luar tol, itu lain hal.
    artikel anda sendiri menggambarkan, ketika jalan tol hilang, timbul kemacetan.
    kemacetan timbul biasanya karena adanya persimpangan. jalan tol menghilangkan itu.
    kinanthi 0 0
    cynical: sedikit berbeda di surabaya. Ketika jalan tol dibangun, volume lalu lintas terbagi rata. Spertinya tidak terjadi penambahan volume kendaran secara signifikan, sehingga jalan tol maupun non tol tidak macet. Perpindahan masif dari non tol ke tol pun tidak terjadi.

    Akhirnya jalan tol surabaya sampai sekarang merugi.
    Rusdi Mathari 0 0
    cynical: Kalau jalan tol mengurangi kemacetan, bagaimana dengan jalan tol di Jakarta dan sekitarnya atau Bandung? Tidak ada persimpang, tapi tetap macet dan masif. Benar, di jalan negara Gempol-Sidoarjo, kemacetan memang luar biasa. Tapi yang harus diingat, itu pun karena dampak dari jalan tol yang menurut Anda membuat orang berlomba-lomba memiliki mobil-- yang sebelumnya ada dan kemudian kini tak berfungsi.
    kinanthi 0 0
    Rusdi Mathari: kalau volume kendaraannya memang besar, jalan tol atau bukan tol pun pasti macet, pak.
    Rusdi Mathari 0 0
    kinanthi: Artikel saya tidak menyoal soal kemacetan melainkan menyoal kepentingan ekonomi yang berdampak pada perilaku manusia.
    kinanthi 0 0
    Rusdi Mathari: saya hanya mengomentari komentar anda tentang kemacetan ; ))
    dizzman 0 0
    Rusdi Mathari: tapi sebaiknya tidak mensubstitusi jalan tol dengan kereta api jika niatnya menyoal kepentingan ekonomi, tetapi lebih memberdayakan jalan negara, seperti melebarkan dan membuat nyaman berkendara di jalan biasa, dengan tetap membuat ekonomi rakyat hidup di sepanjang jalan tersebut. kereta api sama saja dengan jalan tol karena hanya akan tumbuh di sekitar stasiun yang menjadi tempat berhenti KA (bukan cuma langsiran)
    Rusdi Mathari 0 0
    dizzman: Ya bolehlah.
    kinanthi 0 0
    dizzman: masalahnya, sekali lagi, keterbatasan dana...

    Pemerintah gak punya dana membangun atau bahkan sekeadr merawat saja. Apalagi untuk melebarkan jalan, dengan harga tanah yg mahal, karena harga tanah di pinggir2 jalan raya pastinya lebih tinggi.

    Kalao ada duit si oke2 aja, bikin jalan bebas hambatan tanpa narik bayaran.

    Kereta menyelesaikan permaslahan dana ini. Kereta lebih fokus ke angkutan barang. Angkutan penumpang masih tetap ada yg menggunakan jalan raya biasa, sehingga perekonomian sepanjang jalan masih bisa berkembang.
    dizzman 0 0
    Rusdi Mathari: he3x, selamat datang cak, ketemu lagi kita.
    kinanthi: ya disubstitusi sajalah om, kereta buat barang, bati-nya buat bangun jalan negara
    kinanthi 0 0
    dizzman: karena apbn itu 1 pintu, ya gak bisa substitusi kayak gitu toh? ; ))

    Mungkin rencana road fund nanti bisa membantu perbaikan jalan negara.
    iloenx 0 0
    dengaren kok RM nanggapi komentar2 di lapaknya. sebelumnya, agak jarang saya kira. Apa terpengaruh artikel si botak sakti ya ... http://politikana…mment-158468
    ; )) ; )) ; ))

    [Dasar botak eh dasar sakti...... : ) ]
    Rusdi Mathari 0 0
    iloenx: Enggak begitu juga. Ini karena kebetulan juga masih di rumah. Kadang mau komentar, tapi sudah komentarnya sudah telanjur banyak, menjereng dari atas ke bawah.
    mlandhing 0 0
    Rusdi Mathari: seru juga mengaitkan eksistensi jalan tol dengan interaksi sosial ekonomi di Radiator Springs... jadi kepikiran.
    iloenx 0 0
    Rusdi Mathari.... satu yang Anda lupa dalam artikel itu. kalau toch ada sedikit (ya sedikit) nilai ekonomi tol bagi penduduk di sekitar tol, maka itu tak lain dari berkah kemacetan di pintu tol. di pintu tol sidoarjo yang sering macet sejak meluapnya lumpur lapindo, pedagang asongan bisa sedikit mengais rezeki.

    Selain itu, masih seputar tol sby - gempol, jalan setelah pintu keluar juga membawa berkah. Dulu, sebelum ada tol, jalur bunderan gempol - apollo itu sepi. kendaraan dari malang ke surabaya (pp) langsung melalui apolo ke porong - sidoarjo- sby. kendaran dari arah bangil (dan timurnya) ke surabaya (pp) mengambil jalur bunderan gembol - porong - sidoarjo - sby.

    kemudian tol dibangun, dan pintu tol gempol dibuka. kendaraan malang -- surabayya (pp) melewati jalur apolo - bunderan gempol - tol. jalur apolo - bunderan gempol jadi ramai. ada gula ada semut. masyarakat merespon itu dengan membangun warung dan lapak di jalur sepanjang kurang lbh 2 km itu. Anda ingat banyak pedagang klepon, lupis, tape bondowoso, krupuk kere, dan aneka jajan lain di sana. Jalur itu hidup 24 jam.

    Itu dulu sebelum pintu Tol gempol ditutup gara2 lumpur lapindo menggenangi jalur tol sidoarjo - gempol. Setelah pintu tol gempol ditutup, satu demi satu warung di jalur gempol - apolo pun tutup. Sekarang jalur itu menjadi jalur mati, sungguh. ; ))
    Rusdi Mathari 0 0
    iloenx: Hehehehe....
    kinanthi 0 0
    iloenx: di sekitar pintu tol, pastinya harga lahan akan meningkat.

    Bakrie yg menguasai mayoritas tol trans jawa berpikir panjang. Dia tidak hanya berniat berbisnis tol. Dia juga berniat menguasai lahan2 sekitar outlet tol, untuk dijadikan bisnis property.

    Dengan kedok pengadaan lahan untuk jalan tol, bakrie bisa membonceng untuk menguasai lahan sekitar outlet tol. Saya mengkhawatirkan hal ini.
    siswo 0 0
    Bakrie punya duit buat bangun TOL!
    kenapa duitnya gak buat beresi dulu masalah Lumpur Lapindo di Sidoarjo?
    OCD 0 0
    OOT : ada yang nyadar ga ya kalo itu harusnya Lightning McQueen, bukan Lighting?
    Rusdi Mathari 0 0
    OCD: Ya Anda benar. Lightning.
    Ning 0 0
    Sudah terlalu banyak jalan di pulau Jawa ini, bisa lewat Utara, lewat Selatan, lewat tengah, lewat kereta api, ditambah lagi jalan TOL....., stop pembanguna jalan di pulau Jawa....!

    Kapan mau kalian bangun jalan tembus dari Merauke sampai ke Jayapura....?
    kinanthi 0 0
    Ning: jalan tol di luar jawa gak ada yg ekonomis, bu.
    ; ))
    Ning 0 0
    kinanthi: untuk Merauke - Jayapura nggak perlu jalan tol, cukup jalan negara saja..., jangankan dibangun, dipikirkan saja belum...!
    botaksakti 0 0
    Ning: orang pejabat-pejabatnya di sana lagi sibuk "memperkaya diri" kok.....
    kinanthi 0 0
    Ning: sudah kok bu. Malah ada yang nolak, tuh ; ))

    http://www.pu.go.…4:20:24%20PM

    http://www.greenp…a-ancaman-ny
    Ning 0 0
    kinanthi: alhamdulillah sudah dimulai, terimakaih linknya, mudah-mudahan segera terselesaikan

    setelah tersambung dari Jayapura sampai ke Merauke, silahkanlah kalian bangun jalan TOL diseluruh Jawa ini, kalau perlu sekalian bertingkat
    kinanthi 0 0
    Ning: tol dibangun oleh swasta, bu, tidak menggunakan uang negara (kecuali dana talangan pengadaan lahan)
    Dh2L 0 0
    "Kendaraan Roda Empat tertutup@terbuka tidak boleh ada penumpang Orang"
    Maximillian 0 0
    Rusdi Mathari:[ Tol itu dibangun oleh Grup Bakrie dan merupakan bagian dari pembangunan jalan tol yang direncanakan akan menghubungkan Pulau Jawa, hingga kelak mencapai Probolinggo, di Jawa Timur]

    Ini keknya jawaban buat judulnya ya Bang ?

    Buat kontraktornya....
    miyamoto 0 0
    NOS: Yang ngak bayar itu Highway
    conscientizacao 0 0
    Maximillian: "Ini keknya jawaban buat judulnya ya Bang? Buat kontraktornya..."

    Idem dengan jawaban Anda... : D

    Hal lain, logika mengurangi macet dengan memperlebar atau memperpanjang alternatif jalan, itu jelas salah kaprah. Selama input kendaraan ke jalan tidak pernah dikontrol, selebar dan sepanjang apapun jalan yang mau dibuat, ya sarua keneh kehed... Justru makin panjang dan makin lebar, mengundang orang untuk punya mobil/kendaraan pribadi...

    Kemana gagasan transportasi publik/massal?
    kinanthi 0 0
    miyamoto: jalan tol adalah highway yg bayar

    conscientizacao: bukan kontraktor, tapi developer (memodali pembangunan jalan tol dengan imbalan masa konsesi untuk memungut bayaran dari kendaraan yg lewat).

    Satu2nya alasan adanya jalan tol adalah keterbatasan dana pemerintah untuk membangun dan memelihara jalan.

    Makanya, keberadaan tol dalam kota menjadi hal yg paling aneh.

    Sepakat untuk terus mendukung transportasi massal dan kereta untuk angkutan barang jarak jauh.

    Silahkan login untuk memberikan pendapat