Kebohongan Yudhistira 87

Selasa, 26 Jan '10 18:29

Kebohongan bolehkah digunakan untuk meraih kemenangan?  Di padang Kurusetra para Pandawa gundah. Durna, senapati para Kurawa demikian hebat, kesaktiannya tak tertandingi. Puluhan ribu pasukan Pandawa telah dihancurkannya.

Arjuna, senapati Pandawa bertempur dengan gagah berani. Tetapi Krisna, kusir Arjuna tahu, jika Durna sudah membaca mantra Bramastra tak akan ada ksatria Pandawa yang mampu mengalahkannya. Maka Krisna mengajukan jalan keluar.

“Jika kita mengikuti tata krama perang dan setia pada dharma, kita tidak akan meraih kemenangan. Kita harus mengabarkan telah membunuh Aswatama, anak Durna. Dengan berita itu semangat bertempur Durna pasti akan lenyap”

Para Pandawa resah. Mengabarkan kebohongan artinya meninggalkan dharma ksatria. Tidak satu pun mereka pernah melanggar dharma. Namun mereka juga setuju jika tidak ada yang melakukannya maka kemenangan tidak akan menjadi milik mereka.

“Baiklah, aku akan melakukannya” tiba-tiba Yudhistira memecah keheningan. “Biarlah aku menanggung dosa ini”. Semuanya terkejut sekaligus sedih, ksatria Pandawa paling utama bersedia melakukan tindakan tercela. Pantaskah kehinaan ini nantinya?

Bima membantu Yudhistira.  Seekor gajah besar bernama Aswatama ia pukul dengan gada. Sekali pukul kepala gajah itu remuk. Segera ia berlari ke medan perang, di dekat kereta Durna ia berteriak “Aswatama telah mati, aku telah membunuhnya”. Suaranya menggelegar, namun dada Bima sesak, telingga berdengung kencang dan tubuh tegapnya itu tiba-tiba lunglai.

Durna mendengar suara Bima, namun ia tidak percaya. Ia suruh kusirnya memutar kereta, mendatangi Yudhistira. “Benarkah ucapan Bima ? Katakanlah Yudhistira, engkau adalah putra Pandu yang paling utama. Engkau pasti mengatakan yang sebenarnya”.

Yudhistira menghentikan keretanya, menatap maha guru Durna. Mulutnya tercekat “Ya, Aswatama telah mati”. Dorna tersentak. Dengan lirih Yudhistira melanjutkan kalimatnya “Aswatama, gajah itu”. Tetapi kalimat ini tidak lagi terdengar oleh Durna. Saat itu hatinya telah remuk, ia menjerit dan melenguh sekuatnya.

Sesudah mengatakan kebohongan itu Yudhistira tertunduk lesu, tak sanggup lagi menatap padang Kurusetra. Keretanya yang sebelumnya melayang tiga depa dari atas tanah tiba-tiba melayang jatuh ke tanah. Kereta berguncang keras, Yudhistira pun hampir terjatuh.

Durna menghentikan kereta, membuang busurnya dan di atas kereta ia bersemedi. Drestajumena memanfaatkan situasi, ia melompat ke kereta, menghunus pedang dan sekali ayun kepala Durna terlepas dari lehernya jatuh berguling di tanah.

Bala pasukan Pandawa bersorak-sorai, tetapi semua ksatria Pandawa tertunduk lemah. Angin kencang berdebu menderu-deru menerpa ke arah mereka. Tubuh mereka penuh debu, wajah ksatria mereka  kini menjadi kotor.

Cimacan, sore hari, 26 Januari 2010


Tag: wayang, kebohongan, ksatria

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Media Terkait:

    Siapa saja yang merating artikel ini:

    Komentar:

    Red-White Eagle 1 suka | 0
    anna': If we look closely into the original 18-parva Mahabharata, we'll see that the Pandavas were not without blame. I believe they were not better than the Kauravas. They simply won the war, and victors write history.

    Losers write secret history.

    There are some places in India (such as Kumaon, Uttarakhand) where Duryodhana is still worshipped as a deity even today.
    anna' 0 0
    ya ya saya setuju itu
    ki baraja 0 0
    anna': atas nama kebenaran kita sering meghalalkan segala cara...

    dan itu terjadi sampai hari ini.

    batara kala yang terlahir dari nafsu dan ambisi batara guru harus menanggung malu dan dosa sang ayahanda ... dikucilkan dan difitnah sampai dijatuhkan ke setra gandamayit... salah apa batara kala ???

    batara guru terlalu disucikan, terlalu dibenarkan, hakikat nya tidak terlihat, orang cenderung melihat bungkusannya... sama seperti satria2 pandawa.... terlalu disucikan, terlalu disimbolkan selalu dipihak yang benar...

    padahal kebenaran hakiki bukan ada di pandawanya, atau di batara guru nya... mereka berpeluang juga melakukan kesalahan dan kebohongan.....

    sama seperti para pejabat, ulama, guru, pastur, pra pemimpin agama lainnya di negri ini, mereka manusia yang berpeluang melakukan kesalahan

    kita sering buta.
    anna' 0 0
    ki baraja: ya ki itu benar adanya, menyedihkan jika keutamaan itu tidak ada lagi, dan lebih menyedihkan lagi jika itu tidak diakui, maka kebohongan biasanya akan beranak pinak
    dizzman 0 0
    anna': ceritanya sih keren deh, tapi tolong donk kasih tau sumbernya, biar gak dikira copas abis kayak JW...
    anna' 0 0
    dizzman: Sumber "Mahabarata Ramayana" Versi asli India, oleh Rajagholacarati, penerbit lupa mas, bukunya di rumah soalnya.
    Saya baca, terus saya kisahkan lagi, agar konteks kekinian ada dan format lebih pendek.
    Boleh kan ? Atau mesti harus saya label copas jg ?
    goesha51 0 0
    anna':
    nimbrung ya mbak..
    kalo pendapat saya sih si Yudisthira ga berbohong..
    Bima bilang “Aswatama telah mati, aku telah membunuhnya”
    Durna bilang “Benarkah ucapan Bima ? Katakanlah Yudhistira, engkau adalah putra Pandu yang paling utama. Engkau pasti mengatakan yang sebenarnya”
    Yudhistira bilang “Ya, Aswatama telah mati”. “Aswatama, gajah itu”
    sebenarnya tanpa perlu lirih dan merasa berdosa dan ga perlu bilang "aswatama gajah itu" dia tetep ga berbohong kan? wong cuma ditanya apa bener perkataan Bima? si durna ga nanya tuh si aswatama yang mana.. anaknya ato si gajah..
    kalau saya baca sadurannya dari buku India tng Mahabharata and juga komiknya karya eyang kosasih sih bukan si Yudhistira yang berkorban tapi disuruh ama si Krisna, n strateginya juga karangan si Krisna, ngebunuh si Bisma Dewabarata melalui tangannya Srikandi juga si Krisna.. jadi semua itu dalangnya Krisna.. siapa Krisna.. baca sendiri komiknya ya..
    Tenkyu..

    Red-White Eagle: how could you know and believe that Pandawa were not better than Kurawa?
    Paul Oneil Simon 0 0
    mantap deh
    ki baraja 0 0
    goesha51: lihat esensinya lebih dalam mas....

    kulitnya iya bener gak salah..... aswatama gajah itu
    bajunya begitu.... kurungannya begitu...
    tetapi esensinya jelas berbeda...
    kesepakatan dan pemukatan nya jelas sangat berlainan dengan bajunya (kurungannya)...

    lha, kalau mau bener-beneran kayak gitu apa bedanya sampeyan dengan para penghianat kekuasaan di negara ini ?????

    mereka menggelembungkan anggaran belanja untuk proyek2 itu jelas dasar hukumnya mas...
    jelas undang2 nya mas...
    jelas bukti2, dokumentasi, serta syarat2 syah hukum sebuah proyek....

    secara hukum mereka tidak melanggar mas... bener...benerrrr sekali....

    tapi apakah itu memenuhi rasa keadilan dan kejuujuran bagi masyarakat ????.... oh jelas tidak... walaupun secara administratif KPK tidak bisa mengejar mereka, tetapi fakta sudah membuktikan kalau kelakuan seperti itu menyengsarakan rakyat !!!!

    nah, pandangan anda sedang tertipu bungkusan kang mas.... memang bener, bener banget, nggak salah kok... itu maksudnya aswatama gajah.... tapi nilainya bukan di sana mas... bukan....
    goesha51 0 0
    ki baraja: mmm saya rasa saya sudah melihat esensinya dgn jelas kisanak..
    pandawa vs kurawa; kebenaran vs kebatilan [kata lontar Begawan Vyasa] dan Krisna ingin agar kebenaran menang lawan kebatilan shingga diciptakanlah cara2 untuk menang.. [niatnya positif]..
    kalo kisanak mencoba memverifikasi cerita ini dgn realitas bobroknya mental para oknum pejabat di negeri ini ya tentu sangat berbeda.. kalo mungkin yg diceritakan diatas adalah bagaimana hastinapura dibawah komando duryudana menaikkan pajak di hastinapura dengan alasan menyejahterakan rakyat pdhl sbenarnya hanya utk foya2 oleh si dursasana dan saudara2nya, maka esensi yg kisanak tawarkan mkn lebih masuk akal.. apalagi klo cerita tng rakyat hastina yg mulai membandingkan indahnya negeri indraprasta dibawah komando yudistira dibandng negeri hastina, mungkin relatif lebih mirip lagi dgn situasi saat ini di negeri Indonesia.. : )
    trims..
    krisnov 0 0
    Waahh...gak nyadar ada artikel bagus.

    Aku waktu SD sempat baca cerita komik pewayangan kalo gak salah judulnya MahaBharata karya R.A Kosasih.

    Seingatku terlalu banyak intrik baik yang dilakukan oleh kubu Kurawa maupun Kubu Pandawa. Aku kecil kadang setuju dengan perbuatan Pandawa, kadang tidak setuju. Tapi secara umum memang kubu Kurawa lebih banyak melakukan keburukan atau kejahatan.

    Ada banyak hal aneh yang bertentangan dengan keimananku dalam kisah Pandawa vs Kurawa.
    conscientizacao 0 0
    Menurut saya, ada hal menarik dalam hal mengambil keputusan, yang disertai risiko. Setiap keputusan pasti ada risikonya, dan selama siap mempertanggungjawabkannya, silakan putuskan.

    Keputusan untuk menggunakan taktik "tercela" dengan menyebar berita bohong, sekarang jadi sangat biasa dalah praktek kontra intelijen. Kini taktik itu tidak dianggap "tercela" lagi...

    Pandawa memutuskan sepakat untuk menggunakan taktik yang mencederai dharma mereka... demi kemenangan yang diyakininya bisa menghentikan penderitaan banyak orang akibat perang...

    Which one is worth to defend? You decide then...
    dizzman 0 0
    anna': boleh koq, cuma lebih baik ditulis di bawah, sumber dari buku "Mahabarata Ramayana" Versi asli India, oleh Rajagholacarati, malah bagus koq dapet sumber dari sarangnya langsung : D
    adi 0 0
    "perang adalah tipu daya" kata nabi. mk sah saja tipu menipu dalam perang, tp jgn lantas diperluas ke dalam "perang" merebut jabatan krn lain persoalannya. oya, selain dalam perang, berbohong untuk menyenangkan istri atau mendamaikan sesama muslim jg boleh lho.
    cynical 0 0
    victors write history.

    Losers write secret history.
    ------------------------------------- --
    kinanthi 0 0
    anna': OOT, seinget saya nama gajah dan anak durna namanya beda2 dikit. Cuman karena dalam kondisi peperangan, jadi kabur kedengarannya. CMIIW.
    yusro 0 0
    makanya politisi boleh bohong ; ))
    Logical Fallacy 0 0
    anna': Pandawa pun bukan sosok-sosok sempurna. Namun kemenangan itu adalah kemenangan dharma juga saya kira. Sebab bila Kurawa menang, dharma juga hilang bersama Pandawa.
    kinanthi 0 0
    Logical Fallacy: itu cerita versi pandawa, tentunya.

    Sebagaimana kisah versi orba yg bilang, kalau PKI menang, akan terjadi banjir darah. ; ))
    Logical Fallacy 0 0
    kinanthi: Jaaah... : ))
    kinanthi 0 0
    Logical Fallacy: seperti kata Red-White Eagle: di atas, di mana di sebagian india duryudana dipuja, di srilanka rahwana juga dipuja, dan rama dianggap penjajah.

    Dan bandingkan kemiripan srilanka dengan alengka.
    [a] 0 0
    yusro: pak, boleh bagi url untuk perkataan gayus yang satu itu pak ?

    Icarus 0 0
    Yang salah tetap Durna, kenapa terlalu berasumsi.

    Tempo hari ada gosip, Depp meninggal. Sebagai penduduk Indonesia, ada 2 hal yang perlu dicek:

    1. Yang mati Johnny Depp ato Bucek Depp ; ))

    2. Mati beneran ato ghosip (ghibah dipergosip) : D

    *efek Tabali memang sip; nikmatnya awet*
    klampisireng 0 0
    ki baraja: why so serious?? Ini yg disebut seni taktik dalam perang bung, kalau bahasa jawanya "Art of War", jangan disamakan dengan tindakan hina para koruptor. Kisah Mahabharata (khususnya parwa yg menceritakan terbunuhnya Drona) ini maksudnya agar jadilah pribadi yang senantiasa mawas diri, tidak gampang terpengaruh, selalu mencerna, menganalisa peristiwa dan pengalaman dengan baik, tidak menelannya bulat-bulat.

    Btw anna': Yudhistira bukan pembohong dong kalo gitu, kan dia uda bilang “Aswatama, gajah itu”, Drona lah yang kurang waspada. Uda tahu di pihak Pandawa ada Kresna yg ahli strategi, tapi ga waspada dan menelan semua gosip begitu aja

    peace man V
    Red-White Eagle 0 0
    goesha51: Arjuna conspired with Drona to murder Ekalawya, a man of hunter-knight class who was one among few men who could beat Arjuna in archery. The Pandavas insulted Radheya (Karna) who they thought to be of low class. Draupadi insulted Duryodhana, saying "A blind man's son is just as blind", and that's why he humiliated her after the dice game. She also refused Karna's victory among other suitors, preferring Arjuna, because she thought of Karna as a low born.

    Dharma? Victors represent dharma.
    Daeng Lalo 0 0
    Saya rindu politisi jujur seperti Muhammad Hatta dan Muhammad Natsir. Keduanya mengaplikasikan aadagium lama bahwa "Politik itu Sehat".
    Icarus 0 0
    Red-White Eagle: Heh, udah jadi belom proyeknya?
    anna' 0 0
    ki baraja: trims ki, udah ngebantuin
    dizzman: ya mas, makasih sarannya
    krisnov: tentu saja berbeda, tapi keutamaan yg sejati universal sifatnya, tp tergantung kita jg sih untuk mengupasnya
    anna' 0 0
    conscientizacao: seperti alasan US jatuhkan bom atom, gitu ya mas?
    kinanthi: wah udah tak cari, belum ketemu nih
    Logical Fallacy: ya ya, banyak yg setuju dgn hal itu
    yusro: he3x, dapat testimoni dari senayan ya mas
    anna' 0 0
    klampisireng: tetap berbohong saya kira, jika kita lihat niatnya/tujuannya, di atas ki baraja: udah njelasin
    Daeng Lalo: ya, mereka bisa jadi model bagi para politikus kita sekarang,semoga nanti ada yang semulia mereka, kita tunggu saja
    kinanthi 0 0
    anna': http://id.wikiped…iki/Aswatama

    Pada perang Bharatayuddha, Drona gugur karena terkena siasat oleh para Pandawa. Mereka berbohong bahwa Aswatama telah gugur, tetapi yang dimaksud bukan Aswatama manusia, melainkan seekor gajah yang bernama Hestitama (Hesti berarti "Gajah") namun terdengar seperti Aswatama.
    anna' 0 0
    kinanthi: trims infonya, ternyata mbah google punya ya
    PakBodong 0 0
    Haaa.... haa.... haa.... inilah ciri khas manusia Indonesia.... yang selalu menginginkan segala sesuatu didunia ini harus amat sangat sempurna tanpa cela sepeerti malaikat ? Ingat sobat yang namanya manusia itu walaupun dia itu seorang nabi sekalipun pasti berfbuat dosa ( sejarah kita suci ).... lalu buat apa kita berdebat masalah seperti ini.... ?
    anna' 0 0
    PakBodong: trims pak, atas bimbingan dan nasehatnya
    kinanthi 0 0
    PakBodong: masalahnya orang indonesia juga sering menganggap seseorang sesuci malaikat yang tanpa cela, bukan hanya di masa yg telah dilewati, tapi di masa depan juga.
    ; ))
    goesha51 0 0
    Red-White Eagle: waaah, pandawa picik yaaa, tapi koq ga membandingkan piciknya pandawa dgn kurawa dulu baru mengambil kesimpulan "better"? coba pertimbangkan poin saya ini [maaf dalam bhs indonesia, ga fasih bhs inggris]:
    1. persekongkolan duryudana dan saudaranya untuk mengeroyok dan membunuh Bima. mereka setelah itu membuang mayat Bima ke sungai
    2. Persekongkolan Duryudana dan Sengkuni dalam kisah Bale Sigala-gala, dimana mereka berusaha membakar penginapan pandawa. untung ada paman Arya Widura.
    3. pengusiran pandawa dari hastina oleh karena tipu muslihat kurawa, namun dengan jerih payah mereka, mereka dapat membangun kembali indraprasta.
    4. eh udah punya hastinapura mau minta indraprasta lagi, maka bersekongkollah mereka (kurawa dan sangkuni) untuk merebut indraprasta dengan melihat kelemahan yudistira: JUDI
    5. anjing juga punya harga diri, kalau dipukulin terus maka dia pasti gigit.. apalagi pandawa, sehingga ditawarinlah jalan damai oleh Krisna, agar indraprasta dibalikin.. tp karena kearoganan kurawa [merasa diri ber-100 + Bisma + Dorna + Karna] mereka PD aja nantangin pandawa perang.
    6. ditelikungnya Prabu Salya oleh tipu muslihat, sebenarnya prabu salya pengen bela pandawa tapi karena si dodol duryudana itu menghasut prabu salya [dengan memakai alasan putri si salya sakit minta ditengok] jadi ga jadi bela pandawa deeh..
    7. dikeroyoknya Abimanyu dalam perang Bharatayudha..
    8. Piciknya si Aswatama, dimana dia membunuh banyak pahlawan-pahlawan perang bharatayudha pada saat mereka sedang tertidur pulas setelah perang itu usai..
    haaaaa... banyak yaaa... masih belum puas?
    ini adalah kisah akhirnya:
    9. walopun si Pandawa masuk neraka juga, tapi itu cuma sebentar, dibanding si Kurawa yang tanpa waktu tak terbatas dipanggang di kawah candradimuka..

    Selain itu saya punya pendapat berbeda tng kisah ini.. kisah ini bukan ditulis oleh Pandawa yang menceritakan kemenangannya [seperti suharto menggambarkan PKI].. dengan kata lain bukan dalam bingkai victors write history..
    namun kisah ini merupakan hasil perekaan oleh Begawan Vyasa yang kesohor itu.. lagian dalam masyarakat India sendiri masih ragu apa kisah tersebut benar adanya atau hanya rekaan..
    kalau dibilang bohong, bukti-bukti dan nama tempatnya masih ada..
    kalau dibilang beneran, koq anak keturunannya ga bisa dideteksi yaa?? (seperti mendeteksi keturunan Majapahit).. : )
    trims..
    Red-White Eagle 1 suka | 0
    goesha51: [pandawa picik yaaa, tapi koq ga membandingkan piciknya pandawa dgn kurawa dulu baru mengambil kesimpulan "better"?] I didn't say the Kauravas were better than the Pandavas. I said the Pandavas were no better than the Kauravas. Rightfully, it was Duryodhana who should be the king, as he was the firstborn of the firstborn. Dhristaratha gave up the right to be king because he was blind, and when Pandu went into exile without any single heir, he became king despite his blindness. Who were the Pandavas? Despite their name, they were not truly Pandu's flesh and blood. They were the sons of the 'gods' (a historical study on some tantric tradition might be the explanation for that son of gods status, but this is not the place to discuss it).

    [kisah ini merupakan hasil perekaan oleh Begawan Vyasa yang kesohor itu] And who was Vyasa? He was the father of Pandu, Drhistharatha, and Vidura. Was he truly the one who wrote Mahabharata? No one really knows, but I doubt he still live that long until his grandchildren died and his great grandson Parakhsita reigned and died. One thing we know about the Mahabharata is that the story lived and grew through centuries. The very first form of Mahabharata was only a third as long as we know it today.

    [kalau dibilang beneran, koq anak keturunannya ga bisa dideteksi yaa?] Who said we cannot trace it? Maybe we can't do it based on historical facts. But if you check the genealogy of the great king Chandragupta, you'd trace it all the way to the Pandavas. Of course, in such genealogy, myth and facts blend together. But even in myth we sometimes find historical truth.

    Some recent astronomic study had even confirmed the authenticity of Kurukhsetra War, based on the description of the double eclipse combined with Chandragupta records. It happened in November some 5 thousand years ago (not during Iron Age India as some earlier historians said).
    kalangwan 0 0
    Mahabharata itu prosa yang sudah sangat maju dalam menghadirkan manusia. Dari Mahabharata, hitam putih manusia itu menjadi taksa.
    Red-White Eagle 1 suka | 0
    kalangwan: And that's why the late Teguh Santosa said once, "Le, komikus kuwi lagi iso diarani khatam sing dadi komikus yen wis sanggup ngrampungake nggambar komik Mahabharata utuh."
    goesha51 0 0
    Red-White Eagle: so the reality is fluid and change for you. not a big problem tho'.. in my point of view, I believe in this point, in your opinion, u believe that point.. its fine.. : )
    but the fact is most people stand in the reality that Pandawa are better than Kurawa, not in a level or equal like you've said.. [not better? what does it stand for?]..
    an as I know, Begawan Vyasa is different with Begawan Abiyasa who been called by the twin to give them son [dhrestarata, pandu, vidura].. however Vyasa is the writer of this story.. sorry to let u know but that's the reality.. of course you could build or construct a reality from your own mind, u can believe that in your reality you are president, but you must understand that in order to justoy your reality/ world you must have support from another people.. : )
    goesha51 0 0
    i mean justify not justoy.. sorry typo.. heee..
    Red-White Eagle 0 0
    goesha51: [Begawan Vyasa is different with Begawan Abiyasa] Vyasa is a central and revered figure in the majority of Hindu traditions. He is traditionally known as author of this epic but he also features as an important character in it. He was asked by Brahma to write down the history of his family.

    "The Grandsire Brahma (creator of the universe) comes and tells Vyasa to get the help of Ganapati for his task. Ganapati writes down the stanzas recited by Vyasa from memory and thus the Mahābhārata is inscribed or written. Ganapati could not cope up with Vyasa's speed and he misses many words or even stanzas."

    Read the original Mahabharata, and you'll see it. You can find the English translation by Kisari Mohan Ganguli quite easily.

    I'm not sure which Begawan Abiyasa you meant, but the fact remains that the Indian Mahabharata stated that Vyasa the author was also Vyasa the grandfather of the Pandavas and the Kauravas.

    So, I didn't imagine it, and I didn't invent. I read it in the original text. Have you ever read the original Indian Mahabharata, by the way? The whole 18 parvas? Plus the the 19th non-canon parva?
    Red-White Eagle 0 0
    goesha51: [but the fact is most people stand in the reality that Pandawa are better than Kurawa, not in a level or equal like you've said.] As I've said before, victors write history. Losers write secret history.

    Victors represent dharma, and losers represent angkara.
    Red-White Eagle 0 0
    goesha51: [ditelikungnya Prabu Salya oleh tipu muslihat, sebenarnya prabu salya pengen bela pandawa tapi karena si dodol duryudana itu menghasut prabu salya [dengan memakai alasan putri si salya sakit minta ditengok] jadi ga jadi bela pandawa deeh] Indonesian version? In Indian version, Shalya was on the way to aid the Pandavas. When he reached Duryodhana's camp he was treated hospitably, and thus he swore to help the host to win the war, thinking that the host was the Pandavas.

    No deceit, no trickery. Simply Shalya's own carelessness.
    Red-White Eagle 0 0
    goesha51: [walopun si Pandawa masuk neraka juga, tapi itu cuma sebentar, dibanding si Kurawa yang tanpa waktu tak terbatas dipanggang di kawah candradimuka] Indonesian version. In Indian version, they all entered nirvana in the end. No hell, no paradise, just nirvana.
    conscientizacao 0 0
    Red-White Eagle: Wow... : D
    Red-White Eagle 1 suka | 0
    Khrisna's last words to the dying Duryodhana was something like this: "No man is so virtuous as without evil, and no man is so evil as without virtue. For your virtues, Duryodhana, I salute you."

    And he bowed before the dying Duryodhana, and the Pandavas followed suit.
    conscientizacao 0 0
    anna': "seperti alasan US jatuhkan bom atom, gitu ya mas?"

    Sekarang kita bisa coba kriminalisasikan keputusan bom atom itu, dengan mengatakan: Apakah dunia akan lebih baik dengan Jepang sebagai "pemimpinnya"? APakah dunia sekarang lebih buruk karena Amerika terlalu dominan?

    : D
    Red-White Eagle 0 0
    conscientizacao: [Wow...] : D Can't help it, Boss. When one talks about Mahabharata and Ramayana, one should remember the original story, not the one adjusted for the local culture. : D
    conscientizacao 0 0
    Red-White Eagle: No problem... I am wondering it will be a great new thread from you... about the real Mahabharata... : D
    Red-White Eagle 0 0
    goesha51: [Piciknya si Aswatama, dimana dia membunuh banyak pahlawan-pahlawan perang bharatayudha pada saat mereka sedang tertidur pulas setelah perang itu usai..] Asvatama did it to avenged his father, who was killed by deceit and trickery from Pandavas' part. It doesn't justify his act of murdering Shikandhi, Drestajumna, and Pancavala, but his evil deed didn't erase Pandavas deceitful act on Drona either.
    Red-White Eagle 0 0
    conscientizacao: You know I've written a brief lamenting story of Duryodhana in the other place, don't you? : D
    anna' 0 0
    conscientizacao: hus, kata bapak kebijakan itu nggak bisa dikriminalisasi : ))
    Red-White Eagle 0 0
    conscientizacao: [Apakah dunia akan lebih baik dengan Jepang sebagai "pemimpinnya"?] Hey, I thought the Japs' defeat was only a matter of time before before the two atomic bombs were dropped. The bombs only sped up the defeat, not ensure it.
    Logical Fallacy 0 0
    conscientizacao: I guest will never find out. : ))
    Logical Fallacy 0 0
    Red-White Eagle: I saw the tv series of it. ANTV if I remember correctly.
    Logical Fallacy 0 0
    Eh salah ya... guess... : ))
    Red-White Eagle 1 suka | 0
    Logical Fallacy: The future generations will be the judge of that. And each generation might judge differently. Today we know Trunojoyo as a national hero. Back in the 1930s, every ketoprak performance who performed the story of Trunojoyo with the title "Brandal Trunojoyo", in which Trunojoyo was depicted as a red-faced loudmouthed bully, the way today's ketoprak depicts Aryo Penangsang.
    Red-White Eagle 0 0
    Logical Fallacy: TPI
    Logical Fallacy 0 0
    Red-White Eagle: Oh TPI ternyata. Ya, soal makna sepertinya tergantung siapa, di mana, dan kapan memaknainya. : )
    Red-White Eagle 1 suka | 0
    Logical Fallacy: Agree, and I choose to see Mahabharata as a reminder that, as Khrisna said to Duryodhana, "No man is so virtuous as without evil, and no man is so evil as without virtue."
    conscientizacao 0 0
    Red-White Eagle: Yeah.. I've saw that one... Great work!

    "Hey, I thought the Japs' defeat was only a matter of time before before the two atomic bombs were dropped."

    Was it? ; )) Indeed, that's what military analyst said to Truman... But what about the Jap's troops had demonstrated that they could fight and inflict heavy casualties even when the outlook was hopeless... ; ))
    goesha51 0 0
    Red-White Eagle: that's the way i told that your reality is different my reality.. I didn't tell you that u dont know everything and also you didn't tell that i dont know everything, but your truth is not always true for me.. it is depend on [@Logical Fallacy said] who, when and how the people give the meaning for that story.. i have never heard that Pandawa have an equal good deeds or an equal dirtiness with kurawa, Either in 18parva, RA Kosasih novel, Anteve, or TPI.. i know the story truth that kurawa are bandits and pandawa are angel.. : )
    cynical 0 0
    setidaknya thank's to those atomic bomb, kita punya waktu untuk memproklamasikan kemerdekaan kita.
    Red-White Eagle 1 suka | 0
    conscientizacao: Yeah, I know. I remember Iwo Jima, too. By speeding up the defeat, they prevent further wasteful deaths on both sides, right?

    What about those deaths in Hiroshima and Nagasaki? Some 70,000–80,000 people, about 30% of the population of Hiroshima were killed immediately, and 70,000 badly injured. Even the survivors had to suffer cancer for the rest of their lives. In Nagasaki, immediate deaths range from 40,000 to 75,000 and thousand others injured, with total deaths by the end of 1945 reaching 80,000. That includes some POWs, which means they dropped the bombs anyway, knowing that it would also kill their own men.

    That was a cold decision. Something that Skynet would have done.
    Red-White Eagle 1 suka | 0
    goesha51: [i know the story truth] Know? Like beyond any shadow of doubt? I believe 'think' would be a more appropriate word.

    [that kurawa are bandits and pandawa are angel..] Tell that to the people of Kumaon, Uttarakhand.

    I never said that Pandavas are the evil ones and that the Kauravas are the good ones, or vice-versa. Read again.

    [never heard that Pandawa have an equal good deeds or an equal dirtiness with kurawa] That's your problem, not mine. I never said that they're equal anyway. I said that Pandavas were no better than the Kauravas. Don't try to twist my statement.

    However, as Khrisna said, "No man is so virtuous as without evil, and no man is so evil as without virtue." And that's my point.
    Red-White Eagle 0 0
    goesha51: By the way, I'd like to recommend you to watch Peter Brook's "Mahabharata", if you haven't done so. That's a real good interpretation of the epic. I think you're gonna like it.
    goesha51 0 0
    Red-White Eagle: ahaay.. i'll accept ur last point.. however i still haven't got ur point about pandava were not better with kurava? [with "t", in ur 1st statement, read again] what does the statement "were not better" stand for? did you mean equal or what? i was wondering if u could give a more clear, not ambigous, explanation.. : )
    goesha51 0 0
    Red-White Eagle: thank you, i will.. is there any e-book of that so i can read easily? if u have the link please inform me.. : )
    conscientizacao 0 0
    Red-White Eagle: "That was a cold decision..."

    Yes, I agree. And Truman also his military staffs knew the cost of using the atomic bomb. But the decision was have been made... by Truman and his alone to take the responsibility... even He leaned heavily on the advice of his senior and most trusted advisers...

    They won, and here we are now... : D
    Red-White Eagle 0 0
    goesha51: Oh, that. Two wrongs do not make it right. The end never justifies the means.
    Peter Brook's "Mahabharata" is not a book. It's a theatrical performance turned into a movie. I have the DVD. You want a copy?
    goesha51 0 0
    Red-White Eagle: oh great if you dont mind.. how could I get that copy?
    Red-White Eagle 0 0
    goesha51: Just give me your address and I'll have a copy sent to you.
    iloenx 0 0
    PakBodong: [Ingat sobat yang namanya manusia itu walaupun dia itu seorang nabi sekalipun pasti berfbuat dosa ]
    ===
    maksud anda semua nabi berdosa? Bisakah itu Anda buktikan untuk nabi Muhammad saw? Apa dosa beliau saw? Saya keberatan atas kesimpulan Anda yg ngaco ini ; ))
    alakazam 0 0
    iloenx: sepertinya ada juga manusia yg gak punya dosa selain nabi Muhammad, ada bayi yang meninggal sesaat setelah dilahirkan tadi siang, apakah dia juga punya dosa....

    ah, sepertinya teori PakBodong : [Ingat sobat yang namanya manusia itu walaupun dia itu seorang nabi sekalipun pasti berfbuat dosa ] terlalu banyak celah....
    klampisireng 0 0
    Red-White Eagle: Wah, sepertinya bung sudah banyak menonton dan membaca tentang epos Mahabharata ya, hehe. Btw setahu saya anak2 Pandu lah yang terlebih dahulu lahir. Memang istri Destarasta dan istri Pandu hamil saat yang bersamaan. Supaya anaknya lahir lebih dulu, istri Destarata (Dewi Gandari) meremas perutnya yg hamil besar sehingga yang keluar gumpalan darah besar (bukan bayi), dan gumpalan itu tak bisa disebut anak. Setelah lahirnya gumpalan darah itu, istri Pandu (Dewi Kunti) menyusul melahirkan Yudistira. Merasa kecewa, dewi Gandari membanting gumpalan itu hingga pecah menjadi 101 bagian. Setelah didiamkan beberapa hari gumpalan darah itu berubah menjadi 100 bayi laki2 dan 1 bayi perempuan.

    Btw, epos Mahabharata di Indonesia memang telah mengalami banyak modifikasi. Banyak parwa (bagian) yang telah diubah oleh para dalang di Nusantara zaman kerajaan dahulu untuk menyesuaikan dengan situasi sosial dan politik saat itu (tak jarang dalang juga mengubah kisah Mahabharata karena titipan penguasa saat itu).

    Mahabharata aslinya itu adalah bagian dari tubuh Weda, pustaka suci Hindu. Lebih tepatnya lagi Mahabharata (dan epos Ramayana) adalah Itihasa, epos kepahlawan. Itihasa sendiri berarti demikianlah terjadinya (peristiwa) itu. Karena itu, epos Mahabharata tak bisa mutlak dipandang secara hitam putih. Diperlukan penalaran dan perenungan untuk memetik pesan moral dan nilai2 filsafat dalam kisah Mahabharata. Tak bisa menelan bulat-bulat setiap kisahnya begitu saja.
    Red-White Eagle 0 0
    klampisireng: [Diperlukan penalaran dan perenungan untuk memetik pesan moral dan nilai2 filsafat dalam kisah Mahabharata. Tak bisa menelan bulat-bulat setiap kisahnya begitu saja.] True. The most important thing taught in Mahabharata is not truly good vs evil. It's KARMA.
    Red-White Eagle 0 0
    goesha51: Peter Brook's Mahabharata DVD sent to your address this afternoon.
    Red-White Eagle 0 0
    klampisireng: [setahu saya anak2 Pandu lah yang terlebih dahulu lahir.] Yes, in most versions, the Pandavas were born earlier. About the Kauravas birth, some version says they were the result of Gandari's prayer to Shiva for a hundred sons, another says that they were a boon granted by the sage Vyasa as a token of appreciation on Gandari's virtue and hospitality.
    Logical Fallacy 0 0
    Red-White Eagle: I personally think it's about this:
    http://www.fengsh…yin_yang.gif
    klampisireng 0 0
    Red-White Eagle: right dude, it's about Karma Phala
    Red-White Eagle 0 0
    klampisireng: Logical Fallacy: Yes, the key to the universal equilibrium.
    besoksaja 0 0
    Red-White Eagle: [a historical study on some tantric tradition might be the explanation for that son of gods status, but this is not the place to discuss it]

    I would really love to follow a discussion on that topic. Or perhaps an article.
    Red-White Eagle 0 0
    besoksaja: Some other time. Not now and definitely not here. : )
    Red-White Eagle 0 0
    besoksaja: I'd suggest you read Iravati Karve's book "Yuganta", for a slightly different theory of who actually fathered the Pandavas.
    Bee 0 0
    Red-White Eagle: Yakin om, adaptasi Brook sesuai dgn Mahabharata? Banyak orang India yg bilang itu filem gak sesuai loh. Sentuhan baratnya terlalu kental dan banyak menghilangkan hal2 penting dalam kisah Mahabharata. Ada kritikan lumayan keras dari beberapa budayawan India atas film tsb. Gimana tuh?
    Red-White Eagle 0 0
    Bee: I never said that. Read again.

    Silahkan login untuk memberikan pendapat