Kebohongan Yudhistira 87
Selasa, 26 Jan '10 18:29
Kebohongan bolehkah digunakan untuk meraih kemenangan? Di padang Kurusetra para Pandawa gundah. Durna, senapati para Kurawa demikian hebat, kesaktiannya tak tertandingi. Puluhan ribu pasukan Pandawa telah dihancurkannya.
Arjuna, senapati Pandawa bertempur dengan gagah berani. Tetapi Krisna, kusir Arjuna tahu, jika Durna sudah membaca mantra Bramastra tak akan ada ksatria Pandawa yang mampu mengalahkannya. Maka Krisna mengajukan jalan keluar.
“Jika kita mengikuti tata krama perang dan setia pada dharma, kita tidak akan meraih kemenangan. Kita harus mengabarkan telah membunuh Aswatama, anak Durna. Dengan berita itu semangat bertempur Durna pasti akan lenyap”
Para Pandawa resah. Mengabarkan kebohongan artinya meninggalkan dharma ksatria. Tidak satu pun mereka pernah melanggar dharma. Namun mereka juga setuju jika tidak ada yang melakukannya maka kemenangan tidak akan menjadi milik mereka.
“Baiklah, aku akan melakukannya” tiba-tiba Yudhistira memecah keheningan. “Biarlah aku menanggung dosa ini”. Semuanya terkejut sekaligus sedih, ksatria Pandawa paling utama bersedia melakukan tindakan tercela. Pantaskah kehinaan ini nantinya?
Bima membantu Yudhistira. Seekor gajah besar bernama Aswatama ia pukul dengan gada. Sekali pukul kepala gajah itu remuk. Segera ia berlari ke medan perang, di dekat kereta Durna ia berteriak “Aswatama telah mati, aku telah membunuhnya”. Suaranya menggelegar, namun dada Bima sesak, telingga berdengung kencang dan tubuh tegapnya itu tiba-tiba lunglai.
Durna mendengar suara Bima, namun ia tidak percaya. Ia suruh kusirnya memutar kereta, mendatangi Yudhistira. “Benarkah ucapan Bima ? Katakanlah Yudhistira, engkau adalah putra Pandu yang paling utama. Engkau pasti mengatakan yang sebenarnya”.
Yudhistira menghentikan keretanya, menatap maha guru Durna. Mulutnya tercekat “Ya, Aswatama telah mati”. Dorna tersentak. Dengan lirih Yudhistira melanjutkan kalimatnya “Aswatama, gajah itu”. Tetapi kalimat ini tidak lagi terdengar oleh Durna. Saat itu hatinya telah remuk, ia menjerit dan melenguh sekuatnya.
Sesudah mengatakan kebohongan itu Yudhistira tertunduk lesu, tak sanggup lagi menatap padang Kurusetra. Keretanya yang sebelumnya melayang tiga depa dari atas tanah tiba-tiba melayang jatuh ke tanah. Kereta berguncang keras, Yudhistira pun hampir terjatuh.
Durna menghentikan kereta, membuang busurnya dan di atas kereta ia bersemedi. Drestajumena memanfaatkan situasi, ia melompat ke kereta, menghunus pedang dan sekali ayun kepala Durna terlepas dari lehernya jatuh berguling di tanah.
Bala pasukan Pandawa bersorak-sorai, tetapi semua ksatria Pandawa tertunduk lemah. Angin kencang berdebu menderu-deru menerpa ke arah mereka. Tubuh mereka penuh debu, wajah ksatria mereka kini menjadi kotor.
Cimacan, sore hari, 26 Januari 2010
Tag: wayang, kebohongan, ksatria
Terkait:
-
Janji Sugriwa
Rabu, 3 Feb '10 23:30 -
Dendam Aswatama
Kamis, 28 Jan '10 22:12 -
Pangeran Uttara
Senin, 25 Jan '10 03:18
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
ki baraja: Inspiratif
-
Red-White Eagle: Keren
-
miyamoto: Keren
-
Ibnu Muslim: Bagus
-
Olas: Keren
-
Harlan Eryandi: Bagus
-
boiga: Menarik
-
Forlorn Hermit: Keren
-
Paul Oneil Simon: Bagus
-
krisnov: Bagus
-
curiosity: Bagus
-
Sesat Timur: Inspiratif
-
conscientizacao: Keren
-
ndableg: Bagus
-
mpokb: Inspiratif
-
adi: Menarik
-
kinanthi: Keren
-
yusro: Bagus
-
Logical Fallacy: Bagus
-
Bocah nDeso: Keren
-
klampisireng: Bagus
-
Yudiantoro: Bagus
-
Sri Kirana: Bagus
-
Jayeng: Inspiratif
-
MR: Inspiratif
-
ambu: Bagus
-
doeh: Menarik
-
Marshall: Menarik
-
bona: Menarik


KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
Losers write secret history.
There are some places in India (such as Kumaon, Uttarakhand) where Duryodhana is still worshipped as a deity even today.
dan itu terjadi sampai hari ini.
batara kala yang terlahir dari nafsu dan ambisi batara guru harus menanggung malu dan dosa sang ayahanda ... dikucilkan dan difitnah sampai dijatuhkan ke setra gandamayit... salah apa batara kala ???
batara guru terlalu disucikan, terlalu dibenarkan, hakikat nya tidak terlihat, orang cenderung melihat bungkusannya... sama seperti satria2 pandawa.... terlalu disucikan, terlalu disimbolkan selalu dipihak yang benar...
padahal kebenaran hakiki bukan ada di pandawanya, atau di batara guru nya... mereka berpeluang juga melakukan kesalahan dan kebohongan.....
sama seperti para pejabat, ulama, guru, pastur, pra pemimpin agama lainnya di negri ini, mereka manusia yang berpeluang melakukan kesalahan
kita sering buta.
Saya baca, terus saya kisahkan lagi, agar konteks kekinian ada dan format lebih pendek.
Boleh kan ? Atau mesti harus saya label copas jg ?
nimbrung ya mbak..
kalo pendapat saya sih si Yudisthira ga berbohong..
Bima bilang “Aswatama telah mati, aku telah membunuhnya”
Durna bilang “Benarkah ucapan Bima ? Katakanlah Yudhistira, engkau adalah putra Pandu yang paling utama. Engkau pasti mengatakan yang sebenarnya”
Yudhistira bilang “Ya, Aswatama telah mati”. “Aswatama, gajah itu”
sebenarnya tanpa perlu lirih dan merasa berdosa dan ga perlu bilang "aswatama gajah itu" dia tetep ga berbohong kan? wong cuma ditanya apa bener perkataan Bima? si durna ga nanya tuh si aswatama yang mana.. anaknya ato si gajah..
kalau saya baca sadurannya dari buku India tng Mahabharata and juga komiknya karya eyang kosasih sih bukan si Yudhistira yang berkorban tapi disuruh ama si Krisna, n strateginya juga karangan si Krisna, ngebunuh si Bisma Dewabarata melalui tangannya Srikandi juga si Krisna.. jadi semua itu dalangnya Krisna.. siapa Krisna.. baca sendiri komiknya ya..
Tenkyu..
Red-White Eagle: how could you know and believe that Pandawa were not better than Kurawa?
kulitnya iya bener gak salah..... aswatama gajah itu
bajunya begitu.... kurungannya begitu...
tetapi esensinya jelas berbeda...
kesepakatan dan pemukatan nya jelas sangat berlainan dengan bajunya (kurungannya)...
lha, kalau mau bener-beneran kayak gitu apa bedanya sampeyan dengan para penghianat kekuasaan di negara ini ?????
mereka menggelembungkan anggaran belanja untuk proyek2 itu jelas dasar hukumnya mas...
jelas undang2 nya mas...
jelas bukti2, dokumentasi, serta syarat2 syah hukum sebuah proyek....
secara hukum mereka tidak melanggar mas... bener...benerrrr sekali....
tapi apakah itu memenuhi rasa keadilan dan kejuujuran bagi masyarakat ????.... oh jelas tidak... walaupun secara administratif KPK tidak bisa mengejar mereka, tetapi fakta sudah membuktikan kalau kelakuan seperti itu menyengsarakan rakyat !!!!
nah, pandangan anda sedang tertipu bungkusan kang mas.... memang bener, bener banget, nggak salah kok... itu maksudnya aswatama gajah.... tapi nilainya bukan di sana mas... bukan....
pandawa vs kurawa; kebenaran vs kebatilan [kata lontar Begawan Vyasa] dan Krisna ingin agar kebenaran menang lawan kebatilan shingga diciptakanlah cara2 untuk menang.. [niatnya positif]..
kalo kisanak mencoba memverifikasi cerita ini dgn realitas bobroknya mental para oknum pejabat di negeri ini ya tentu sangat berbeda.. kalo mungkin yg diceritakan diatas adalah bagaimana hastinapura dibawah komando duryudana menaikkan pajak di hastinapura dengan alasan menyejahterakan rakyat pdhl sbenarnya hanya utk foya2 oleh si dursasana dan saudara2nya, maka esensi yg kisanak tawarkan mkn lebih masuk akal.. apalagi klo cerita tng rakyat hastina yg mulai membandingkan indahnya negeri indraprasta dibawah komando yudistira dibandng negeri hastina, mungkin relatif lebih mirip lagi dgn situasi saat ini di negeri Indonesia..
trims..
Aku waktu SD sempat baca cerita komik pewayangan kalo gak salah judulnya MahaBharata karya R.A Kosasih.
Seingatku terlalu banyak intrik baik yang dilakukan oleh kubu Kurawa maupun Kubu Pandawa. Aku kecil kadang setuju dengan perbuatan Pandawa, kadang tidak setuju. Tapi secara umum memang kubu Kurawa lebih banyak melakukan keburukan atau kejahatan.
Ada banyak hal aneh yang bertentangan dengan keimananku dalam kisah Pandawa vs Kurawa.
Keputusan untuk menggunakan taktik "tercela" dengan menyebar berita bohong, sekarang jadi sangat biasa dalah praktek kontra intelijen. Kini taktik itu tidak dianggap "tercela" lagi...
Pandawa memutuskan sepakat untuk menggunakan taktik yang mencederai dharma mereka... demi kemenangan yang diyakininya bisa menghentikan penderitaan banyak orang akibat perang...
Which one is worth to defend? You decide then...
Losers write secret history.
------------------------------------- --
Sebagaimana kisah versi orba yg bilang, kalau PKI menang, akan terjadi banjir darah.
Dan bandingkan kemiripan srilanka dengan alengka.
Tempo hari ada gosip, Depp meninggal. Sebagai penduduk Indonesia, ada 2 hal yang perlu dicek:
1. Yang mati Johnny Depp ato Bucek Depp
2. Mati beneran ato ghosip (ghibah dipergosip)
*efek Tabali memang sip; nikmatnya awet*
Btw anna': Yudhistira bukan pembohong dong kalo gitu, kan dia uda bilang “Aswatama, gajah itu”, Drona lah yang kurang waspada. Uda tahu di pihak Pandawa ada Kresna yg ahli strategi, tapi ga waspada dan menelan semua gosip begitu aja
peace man V
Dharma? Victors represent dharma.
dizzman: ya mas, makasih sarannya
krisnov: tentu saja berbeda, tapi keutamaan yg sejati universal sifatnya, tp tergantung kita jg sih untuk mengupasnya
kinanthi: wah udah tak cari, belum ketemu nih
Logical Fallacy: ya ya, banyak yg setuju dgn hal itu
yusro: he3x, dapat testimoni dari senayan ya mas
Daeng Lalo: ya, mereka bisa jadi model bagi para politikus kita sekarang,semoga nanti ada yang semulia mereka, kita tunggu saja
Pada perang Bharatayuddha, Drona gugur karena terkena siasat oleh para Pandawa. Mereka berbohong bahwa Aswatama telah gugur, tetapi yang dimaksud bukan Aswatama manusia, melainkan seekor gajah yang bernama Hestitama (Hesti berarti "Gajah") namun terdengar seperti Aswatama.
1. persekongkolan duryudana dan saudaranya untuk mengeroyok dan membunuh Bima. mereka setelah itu membuang mayat Bima ke sungai
2. Persekongkolan Duryudana dan Sengkuni dalam kisah Bale Sigala-gala, dimana mereka berusaha membakar penginapan pandawa. untung ada paman Arya Widura.
3. pengusiran pandawa dari hastina oleh karena tipu muslihat kurawa, namun dengan jerih payah mereka, mereka dapat membangun kembali indraprasta.
4. eh udah punya hastinapura mau minta indraprasta lagi, maka bersekongkollah mereka (kurawa dan sangkuni) untuk merebut indraprasta dengan melihat kelemahan yudistira: JUDI
5. anjing juga punya harga diri, kalau dipukulin terus maka dia pasti gigit.. apalagi pandawa, sehingga ditawarinlah jalan damai oleh Krisna, agar indraprasta dibalikin.. tp karena kearoganan kurawa [merasa diri ber-100 + Bisma + Dorna + Karna] mereka PD aja nantangin pandawa perang.
6. ditelikungnya Prabu Salya oleh tipu muslihat, sebenarnya prabu salya pengen bela pandawa tapi karena si dodol duryudana itu menghasut prabu salya [dengan memakai alasan putri si salya sakit minta ditengok] jadi ga jadi bela pandawa deeh..
7. dikeroyoknya Abimanyu dalam perang Bharatayudha..
8. Piciknya si Aswatama, dimana dia membunuh banyak pahlawan-pahlawan perang bharatayudha pada saat mereka sedang tertidur pulas setelah perang itu usai..
haaaaa... banyak yaaa... masih belum puas?
ini adalah kisah akhirnya:
9. walopun si Pandawa masuk neraka juga, tapi itu cuma sebentar, dibanding si Kurawa yang tanpa waktu tak terbatas dipanggang di kawah candradimuka..
Selain itu saya punya pendapat berbeda tng kisah ini.. kisah ini bukan ditulis oleh Pandawa yang menceritakan kemenangannya [seperti suharto menggambarkan PKI].. dengan kata lain bukan dalam bingkai victors write history..
namun kisah ini merupakan hasil perekaan oleh Begawan Vyasa yang kesohor itu.. lagian dalam masyarakat India sendiri masih ragu apa kisah tersebut benar adanya atau hanya rekaan..
kalau dibilang bohong, bukti-bukti dan nama tempatnya masih ada..
kalau dibilang beneran, koq anak keturunannya ga bisa dideteksi yaa?? (seperti mendeteksi keturunan Majapahit)..
trims..
[kisah ini merupakan hasil perekaan oleh Begawan Vyasa yang kesohor itu] And who was Vyasa? He was the father of Pandu, Drhistharatha, and Vidura. Was he truly the one who wrote Mahabharata? No one really knows, but I doubt he still live that long until his grandchildren died and his great grandson Parakhsita reigned and died. One thing we know about the Mahabharata is that the story lived and grew through centuries. The very first form of Mahabharata was only a third as long as we know it today.
[kalau dibilang beneran, koq anak keturunannya ga bisa dideteksi yaa?] Who said we cannot trace it? Maybe we can't do it based on historical facts. But if you check the genealogy of the great king Chandragupta, you'd trace it all the way to the Pandavas. Of course, in such genealogy, myth and facts blend together. But even in myth we sometimes find historical truth.
Some recent astronomic study had even confirmed the authenticity of Kurukhsetra War, based on the description of the double eclipse combined with Chandragupta records. It happened in November some 5 thousand years ago (not during Iron Age India as some earlier historians said).
but the fact is most people stand in the reality that Pandawa are better than Kurawa, not in a level or equal like you've said.. [not better? what does it stand for?]..
an as I know, Begawan Vyasa is different with Begawan Abiyasa who been called by the twin to give them son [dhrestarata, pandu, vidura].. however Vyasa is the writer of this story.. sorry to let u know but that's the reality.. of course you could build or construct a reality from your own mind, u can believe that in your reality you are president, but you must understand that in order to justoy your reality/ world you must have support from another people..
"The Grandsire Brahma (creator of the universe) comes and tells Vyasa to get the help of Ganapati for his task. Ganapati writes down the stanzas recited by Vyasa from memory and thus the Mahābhārata is inscribed or written. Ganapati could not cope up with Vyasa's speed and he misses many words or even stanzas."
Read the original Mahabharata, and you'll see it. You can find the English translation by Kisari Mohan Ganguli quite easily.
I'm not sure which Begawan Abiyasa you meant, but the fact remains that the Indian Mahabharata stated that Vyasa the author was also Vyasa the grandfather of the Pandavas and the Kauravas.
So, I didn't imagine it, and I didn't invent. I read it in the original text. Have you ever read the original Indian Mahabharata, by the way? The whole 18 parvas? Plus the the 19th non-canon parva?
Victors represent dharma, and losers represent angkara.
No deceit, no trickery. Simply Shalya's own carelessness.
And he bowed before the dying Duryodhana, and the Pandavas followed suit.
Sekarang kita bisa coba kriminalisasikan keputusan bom atom itu, dengan mengatakan: Apakah dunia akan lebih baik dengan Jepang sebagai "pemimpinnya"? APakah dunia sekarang lebih buruk karena Amerika terlalu dominan?
"Hey, I thought the Japs' defeat was only a matter of time before before the two atomic bombs were dropped."
Was it?
What about those deaths in Hiroshima and Nagasaki? Some 70,000–80,000 people, about 30% of the population of Hiroshima were killed immediately, and 70,000 badly injured. Even the survivors had to suffer cancer for the rest of their lives. In Nagasaki, immediate deaths range from 40,000 to 75,000 and thousand others injured, with total deaths by the end of 1945 reaching 80,000. That includes some POWs, which means they dropped the bombs anyway, knowing that it would also kill their own men.
That was a cold decision. Something that Skynet would have done.
[that kurawa are bandits and pandawa are angel..] Tell that to the people of Kumaon, Uttarakhand.
I never said that Pandavas are the evil ones and that the Kauravas are the good ones, or vice-versa. Read again.
[never heard that Pandawa have an equal good deeds or an equal dirtiness with kurawa] That's your problem, not mine. I never said that they're equal anyway. I said that Pandavas were no better than the Kauravas. Don't try to twist my statement.
However, as Khrisna said, "No man is so virtuous as without evil, and no man is so evil as without virtue." And that's my point.
Yes, I agree. And Truman also his military staffs knew the cost of using the atomic bomb. But the decision was have been made... by Truman and his alone to take the responsibility... even He leaned heavily on the advice of his senior and most trusted advisers...
They won, and here we are now...
Peter Brook's "Mahabharata" is not a book. It's a theatrical performance turned into a movie. I have the DVD. You want a copy?
===
maksud anda semua nabi berdosa? Bisakah itu Anda buktikan untuk nabi Muhammad saw? Apa dosa beliau saw? Saya keberatan atas kesimpulan Anda yg ngaco ini
ah, sepertinya teori PakBodong : [Ingat sobat yang namanya manusia itu walaupun dia itu seorang nabi sekalipun pasti berfbuat dosa ] terlalu banyak celah....
Btw, epos Mahabharata di Indonesia memang telah mengalami banyak modifikasi. Banyak parwa (bagian) yang telah diubah oleh para dalang di Nusantara zaman kerajaan dahulu untuk menyesuaikan dengan situasi sosial dan politik saat itu (tak jarang dalang juga mengubah kisah Mahabharata karena titipan penguasa saat itu).
Mahabharata aslinya itu adalah bagian dari tubuh Weda, pustaka suci Hindu. Lebih tepatnya lagi Mahabharata (dan epos Ramayana) adalah Itihasa, epos kepahlawan. Itihasa sendiri berarti demikianlah terjadinya (peristiwa) itu. Karena itu, epos Mahabharata tak bisa mutlak dipandang secara hitam putih. Diperlukan penalaran dan perenungan untuk memetik pesan moral dan nilai2 filsafat dalam kisah Mahabharata. Tak bisa menelan bulat-bulat setiap kisahnya begitu saja.
http://www.fengsh…yin_yang.gif
I would really love to follow a discussion on that topic. Or perhaps an article.
Silahkan login untuk memberikan pendapat