Maunya Apa? 39
Selasa, 26 Jan '10 19:26
Pembicaraan hari hari ini lagi lagi soal gerakan rakyat. Seperti yang lalu, ini juga seruannya sama: Si Anu Mundur! Simbolisasinya juga sama – Gerakan Tanggal Segitu atau Segini – bahkan poster yang dibawa juga masih sama.
Pembicaraannya di televisi juga sama, berapa orang yang turun dan apa tuntuntannya. Sepuluh ribu, dua puluh ribu, akurasi tidak penting asal atas nama rakyat. Kata mereka, ini waktunya rakyat bicara.
Saya mau tanya kenapa? Rakyat yang mana? Bagaimana caranya?
Turun ke jalan, lalu apa?
Mau pemilu lagi tidak bisa karena kalaupun Presiden dan Pemerintah dimakzulkan, penggantinya harus diajukan partai pemenang Pemilu yang lalu untuk disetujui MPR. Tokoh Partai Demokrat sekarang Bang Ruhut, Roy Suryo dan Ibu Ani Yudhoyono. Mau?
Atau mungkin Indonesia mau pemerintah yang kuat – tegas dan representatif – buah rasa kesepakatan penguasa dan tata rasa orang orang kaya: sopan, tidak bertulang, besar dan mengangkang. Seperti yang lalu lalu juga.
Mungkin Wakil Presidennya sekarang mau dari Golkar?
Mungkin lebih baik kalau Menteri Keuangannya dari PDI-P dan mau ganti dengan ‘ekonomi kerakyatan’?
Ini semua karena katanya Wakil Rakyat yang ada di tivi itu katanya wakil mereka yang ada di jalan?
Terus terang, bingung.
Mungkin ada yang bisa bantu jawab?
Tag: bukan pemerintah
Terkait:
-
Permennya Tifatul Sembiring
Jumat, 12 Feb '10 18:55 -
#NasDem: Revolusi Tanpa Mimpi
Selasa, 2 Feb '10 03:17 -
Misoh Misoh Rakyat dan Pejabat
Selasa, 15 Des '09 05:34
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
boiga: Menarik
-
mpokb: Menarik
-
WESTBORN: Menarik
-
pall: Biasa
-
iloenx: Lucu
-
Wonggantenk: Lucu
-
Paul Oneil Simon: Menarik
-
curly of kinky: Menarik
-
conscientizacao: Penting
-
ndableg: Menarik
-
kinanthi: Menarik
-
yusro: Menarik
-
Ibnu Muslim: Menarik


KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
Udahlah Pokoknya Hidup SBY...
Padahal sederhana. Pemerintah mau bekerja ya bekerja, mau mempertahankan kekuasaan ya pertahankan. Ada kelompok yang mau memantau dan mengimbangi kekuasaan, ya lakukan.
Apa sudah pasti gerakan demo tersebut mewakili aspirasi seluruh rakyat?
Berita 1 orang aja bisa jadi rame kalo didukung media....
apalagi 100rb orang...
tapi kita lupa bahwa masih ada rakyat 230jt jiwa lagi yang mungkin punya pandangan berbeda....
jadi kita ga tau yang 230jt jiwa lagi itu pandangannya sama atau beda, atau ga berpandangan sama sekali.. kalo semuanya turun ke jalan baru jelas siapa memihak siapa..
Saya setuju sekali dengan semua premis untuk mengimbangi dan membatasi kekuasaan eksekutif. Problem - kebingungan - saya cukup spesifik pada isu pemakzulan.
Dalam konteks hari hari ini, isu pemakzulan itu berjalan dengan asumsi sekaligus: Presiden/Wapres plus MenKeu dalam tuntuan yang paling luas.
Ini bukang perimbangan - ini membubarkan pemerintahan yang sah.
Kalaupun gagasan ini mau diterima dan dianggap perlu, pertanyaan saya, lalu apa sesudah itu?
saya setuju semua gagasan besar tentang lembaga negara dan peran bernegaranya - turun kejalan itu biasanya demonstran bayaran dan anak sekolahan - bukan lembaga negara.
Pendidikan politik ini hasilnya cuma memberi ilusi rakyat bahwa politik - dan demokrasi - hanya bisa dilakukan dijalan - sementara politisi yang di Senayan berakrobat jalan mundur.
Ini bukan lembaga negara - itu rakus.
Saya yakin SBY bukan orang sembarangan, makanya dia bisa jadi presiden. Dia pasti punya rencana, yang saya mau tahu, dia punya rencana apa saja sih?
Kalau nggak punya rencana apa-apa, ngapain ngotot jadi presiden?
[Saya yakin SBY bukan orang sembarangan,]
Semua orang nggak mau dianggap sembarangan , apalagi menyangkut duit...hihihi
Saya bukan pendukung pemakzulan, tapi kadang saya menangkap bahwa upaya ini hanya cara, bukan tujuan.
SBY sudah terlampau sering memancing kecurigaan. Dalam kasus "cicak" namanya disebut, dan Anggodo bebas, misalnya. Dalam kasus Century, yang sebenarnya ia bisa bilang bertanggungjawab sejak awal, malah berputar-putar.
Sebuah gerakan frontal akan mengingatkan dia agar tidak begitu saja pesta pora dengan kekuasaan. Agar angka 60% tidak membuatnya terlena.
*backsound: terlenaaaa... ku... terleeenaa...
tsk..tsk..tsk...
"Pak SBY tidak perlu mundur atau dimakzulkan karena itu tidak bagus untuk "kesehatan" bangsa dan bisa mengakibatkan gangguan "hukum" yang serius
Atas nama saya sendiri,
Sebagai Rakyat Indonesia
*akan ada perang pawang, satu menginginkan hujan dan yang lain menginginkan tidak hujan. Sakti mana hayo? Kayaknya Pak Guru lebih sakti.
botaksakti: itu namanya "rangkap jabatan" pak
"saya menangkap bahwa upaya ini hanya cara, bukan tujuan."
Kalau tujuannya tidak jelas dan caranya salah - turun ke jalan itu tidak berada dalam sistem - maka bagaimana bisa ini kemudian di rasionalisasikan sebagai "pendewasaan' atau 'pendidikan' politik?
Caranya kontrol kekuasaan dan penegakan hukum kan sudah banyak - cukup banyak juga bisa diharapkan (KPK-Korupsi) - justru cara yang kebablasan macam ini akhirnya malah membuat kisruh mekanisme2 yang sudah ada - liat saja pansus sekarang yang ngawur asal2an seperti wayang orang.
Menurut saya tujuannya jelas, ialah untuk mengingatkan pemerintah. Terdengar sederhana dan naif, tapi tanpa terus menerus diingatkan, pemerintah akan lupa.
'Sistem', yang memungkinkan untuk evaluasi, seperti Pemilu dan legislasi, lebih sering menjadi ironi ketimbang lempang. Seperti kata Anda, anggota dewan dalam pansus itu, yang sebenarnya berada dalam 'sistem', lebih mirip wayang orang.
Maka cara turun ke jalan, atau cara lain, diperlukan. Sebab penegakan hukum juga perlu dukungan moral, seperti saat mengeluarkan Bibit-Chandra dari bui.
Mengingat betapa sulitnya 'bicara' dengan mereka yang di kursi kekuasaan, dan mengingat betapa 'mendengar' bukanlah keahlian mereka.
*ngaaciirr...*
Tapi saya kan sudah bilang setuju dengan cara reformasi.
*kejarrr...*
*ngumpeet*
Revolusi, seperti Revolusi Amerika, membubarkan semua institutusi sosial dari Old World. Sementara reformasi, seperti Reformasi Gereja, gerejanya tetep utuh tapi diubah relasinya.
*ngumpet aja sono*
Revolusi, dari "bawah". Reformasi dari "atas/tengah". Bisa begitu nggak?
Saya sih taunya reformasi dan revolusi berbeda dalam hal waktu dan sifat. Secara umum Reformasi lambat, Revolusi cepat. Meskipun ini dilematis dalam melihat Revolusi Industri yang berlangsung ratusan tahun.
Mengenai sifat, revolusi menyeluruh, reformasi cenderung pada struktur sosial dan politik tertentu. Ini definisi standar yang diulang-ulang dalam pelajaran sekolah atau kuliah, memang.
Tapi saya kira, kalau contohnya seperti Revolusi Amerika sih memang dari kelompok 'bawah', tapi Revolusi Industri kan lebih didominasi oleh gerakan kelompok 'tengah'?
Bisa Anda paparkan lebih jauh ide Anda?
meh.
Silahkan login untuk memberikan pendapat