Tukang Cukur 18
Kamis, 28 Jan '10 18:01
Saudaraku™, profesi yang sangat terhormat dan disegani, kembali dilecehkan. Di panggung orasi, di depan istana itu, seorang mantan anggota dewan – dengan tampang berewok dan mulut berbuih – pria bersorban itu berteriak lancang: “Leadership dia lemah, seperti tukang cukur!”
Disadari atau tidak, kalimat ini sesungguhnya mengandung daya pancing amarah yang tinggi, setidaknya amarah saya! Coba bayangkan, saya yang tidak berprofesi sebagai tukang cukur saja begitu tersinggung mendengarnya, apalagi mereka yang tukang cukur beneran.
Bagaimana tidak tersinggung dan marah, tukang cukur adalah profesi yang sangat berjasa bagi dunia ini. Tanpa tukang cukur, saya tak mampu membayangkan, akan jadi apa dunia ini. Dialah salah satu profesi yang paling disegani oleh siapa pun yang merasa memiliki rambut. Dia pulalah satu-satunya pihak yang berhak dan legal memegang kepala siapa pun, sesukanya, tak peduli seberapa tinggi kehormatan predikat duniawi si pemilik kepala itu.
Tukang cukur tentu sangat layak tersinggung (dan bahkan marah) dengan konten orasi yang sungguh tendensius itu. Yang tegas-tegas menyatakan bahwa tukang cukur adalah sosok yang tidak memiliki leadership. Dari mana mulut nakal berbuih itu bisa menyimpulkan? Barangkali dia lupa, leadership tidak ditentukan oleh tinggi rendah strata kemuliaan sebuah profesi.
Bagi saya, tukang cukur adalah contoh sosok yang memiliki leadership yang paling tegas. Ia berani memegang kepala siapa pun, membuat potongan rambut dengan model apa pun, tanpa khawatir melanggar norma etika dan bahkan undang-undang. Ia juga kalis dari segala dosa akibat memperlakukan kepala manusia seperti layaknya menimang sebutir kelapa.
Tukang cukur, di saat yang tepat menjadi figur yang sangat disegani, bahkan ditakuti. Dengan sebilah pisau Solingen™ yang tajam mingis mengkilat, dengan mudah ia membuat ciut nyali lawan. Sekali saja meronta, maka leher, pipi, dan dagu menjadi taruhannya. Maka, pesan saya, janganlah sekali-sekali Anda berani meronta di saat tukang cukur sedang membelai cambang dan janggutmu dengan pisau tajamnya.
Jika leadership diartikan sebagai jiwa “kepemimpinan”, tukang cukur pulalah jawara yang sebenarnya. Memang, ia tidak memimpin dalam arti menjadi tetua organisasi formal, tetapi ingat bahwa tukang cukurlah yang mampu memimpin dunia ini untuk senantiasa tampil rapi. Bayangkan, jika dunia ini dipenuhi oleh orang-orang gondrong dan berewokan, pasti sangat tidak sedap dipandang mata. Karena Tuhan tidak mengaruniai semua orang di dunia ini dengan tampang yang cocok untuk berambut gondrong dan berwajah berewok.
Tukang cukur pulalah yang membuat dunia bisa berhemat. Setidaknya, berhemat dari anggaran belanja shampoo dan deterjen setiap bulan. Tanpa tukang cukur, pabrik shampoo tentu akan kewalahan untuk memenuhi permintaan. Jika permintaan itu tidak dapat dipenuhi, maka hukum ekonomi akan berjalan, harga shampoo akan melambung dan ini tentu berakibat pada kegelisahan.
Tukang cukur juga pahlawan lingkungan, jika semua orang berambut gondrong maka dipastikan pencemaran lingkungan pun akan semakin besar, karena begitu banyaknya limbah deterjen shampoo yang dibuang bebas mencemari perairan. Bersyukurlah, bahwa eksistensi tukang cukur ternyata juga mampu menekan cemarnya lingkungan dan pemanasan global.
Saya bayangkan, jika semua tukang cukur melakukan aksi mogok tidak mencukur, maka banyak orang akan sibuk – dengan berat hati – menggantikan kedudukannya. Kita akan saling mencukur, dan merelakan diri untuk disebut sebagai tukang cukur dadakan, sebagaimana sering terjadi di sejumlah rumah kos-kosan.
Nampaknya, mantan anggota dewan itu lupa, bahwa meskipun ia mencaci, ternyata selama ini ia juga menjalankan laku sebagaimana layaknya seorang tukang cukur sejati. Mencukur apa saja yang dihadapi, semua kesempatan dicukur dengan habisnya. Hingga akhirnya beberapa koleganya telah sukses masuk penjara, karena usahanya yang gagal dan ketahuan dalam adegan cukur-mencukur, colong-mencolong duit negara.
Akhirnya, sudah sepantasnya jika kau – wahai mantan wakil rakyat itu – harus segera mencabut kata-katamu. Jika tidak, maka kami semua siap untuk segera mengutuk dan mensomasimu. Bersatulah wahai para tukang cukur Indonesia, inilah saatnya kita tunjukkan, bahwa cukur-mencukur adalah hak dan profesi kebanggaan kita. Sudah terbukti nyata, jika urusan cukur-mencukur itu jatuh ke tangannya, maka uang rakyat jualah yang menjadi taruhannya. ***
Yogyakarta, 28 Januari 2010.
Foto appear courtesy: beritamusi.com
Tautan: http://nasional.vivanews.com/news/read/125097-_kepemimpinan_sby_seperti_tukang_cukur_
Tag: brewok, parodi tukang cukur, ngabalin
Terkait:
-
watch your name
Senin, 20 Jul '09 06:20
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
mpokb: Bagus
-
yusro: Bagus
-
Apprayo: Menarik
-
Harlan Eryandi: Menarik
-
Red-White Eagle: Keren
-
FF Haq: Keren
-
Ibnu Muslim: Bagus
-
botaksakti: Bagus
-
Wonggantenk: Keren
-
krisnov: Bagus
-
ndableg: Menarik
-
LCFR: Menarik
-
boiga: Menarik
-
mimi item: Inspiratif
-
MR: Bagus
-
kinanthi: Bagus
-
Sri Kirana: Bagus
-
Logical Fallacy: Keren



KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
--
untung saya gondrong tanpa brewok.. kalo saya brewokan juga, berarti saya masuk dalam kalimat ini Mbah Darmo, dan berarti juga saya akan mensomasi anda Mbah Darmo!
* lebih dramatis dengan penambahan ini
*disambit kelapa*
Ini teh bongkar aib?
Erh, emangnya jaman nabi dulu ada sampo ya?
Keramasnya kan pake minyak wangi....?
udah untung kupingnya ga disilet pas cukur entar
Silahkan login untuk memberikan pendapat