Ndablêg 14

Senin, 1 Feb '10 15:59

Saudaraku™, dalam terminologi Bahasa Jawa, kata “ndablêg” memiliki banyak pengertian. Secara leksikal, kata itu merupakan kata sifat (andablêg) yang berasal dari kata dasar dablêg. Kata ini sebenarnya bukanlah kata baku dalam Bahasa Jawa, tetapi lebih sebagai istilah umum yang sering digunakan dalam percakapan sehari-hari, yang menunjukkan perilaku seseorang dalam menyikapi suatu keadaan tertentu.

Sebagai kata sifat, ndablêg berarti perilaku cuek, semau gue, dan juga bisa diartikan sebagai sikap yang “tidak mempan oleh berbagai bujuk rayu”. Seseorang yang berperilaku ndablêg biasanya memiliki ego yang sangat tinggi, hanya mau berbuat atau melakukan sesuatu atas dasar kata hatinya.

Predikat ndablêg biasanya dilekatkan, jika seseorang tidak berperilaku sebagaimana umumnya orang-orang “normal” menyikapi keadaan. Misalnya, jika pada umumnya seseorang akan terkejut mendengar suatu berita, maka si ndablêg ini akan cuek saja menyikapi berita tersebut.

Dalam berbagai hal, sifat ndablêg mengandung banyak konsekuensi. Misalnya, jika ada nasihat mengenai aturan makan yang membatasi konsumsi jenis makanan tertentu, supaya tidak menimbulkan efek samping (kegemukan, asam urat, kolesterol, dll), maka orang yang memiliki sifat ndablêg biasanya akan mengesampingkan aturan-aturan itu. Ia tetap saja menerjang aksioma yang sudah diyakini banyak orang.

Hal yang paling menonjol dari sifat ndablêg adalah bahwa orang tersebut relatif sulit untuk mendengarkan argumentasi pihak lain. Ia lebih banyak menuruti kata hatinya, meskipun orang lain tidak sejalan dengan alur pikirannya.

Sikap untuk selalu menuruti kata hati ini biasanya juga dibarengi dengan sikap percaya diri (PD) yang tinggi. Akibatnya, jika muncul risiko akibat perilaku ini pun, maka si ndablêg tetap saja cuek dan menganggap risiko tersebut sebagai hal yang tidak perlu direspon secara berlebihan.

Ada kelemahan dan (tentu) kelebihan dari sifat seperti ini. Kelemahan yang paling mendasar adalah bahwa orang semacam ini biasanya kurang demokratis, relatif dengan sifat orang yang tidak ndablêg. Dengan demikian, jika tidak hati-hati, maka ia relatif lebih sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan.

Kelebihan dari sifat ini adalah bahwa ia memiliki tingkat percaya diri yang tinggi. Sikap ini tentu positif, jika ia berhadapan dengan suatu keadaan yang memaksanya untuk mengambil sikap. Meskipun dalam kondisi yang ”tertekan” sekali pun. Ia tetap tegar, dan tidak tergoyahkan hanya karena mayoritas opini yang tidak mendukungnya. Jika belakangan terbukti bahwa sikapnya merupakan hal yang benar, maka si ndablêg biasanya juga tidak jumawa.

Dalam perspektif aplikasi keseharian, cukup banyak peristiwa yang kita saksikan belakangan ini, yang mencerminkan betapa sikap ndablêg ini selalu terkesan menjengkelkan. Misalnya, ulah para politisi atau petinggi negara yang tidak mau mendengarkan suara publik.

Lihatlah Saudaraku, betapa banyak petinggi negara yang sedemikian ndablêg-nya, sehingga mayoritas opini yang menekan tidak segera direspon dengan proporsional. Kita tentu ingat betul, bahwa karena ndablêg-nya petinggi polisi yang tidak mau mendengar opini publik, telah memakan begitu banyak korban orang yang tidak berdosa.

Sikap ndablêg itu selalu beriringan dengan politik pencitraan dan upaya menjaga image (jaim) yang berlebihan. Ajaran mengenai sikap legawa, selalu menjadi antetesa yang sangat sulit untuk dikombinasikan, dalam situasi di mana sikap ndablêg masih mendominasi perilaku seseorang.

Para wakil rakyat yang terhormat pun juga tidak terlepas dari perilaku ndablêg ini. Coba Anda cermati, sudah puluhan (bahkan ratusan) foto yang dipajang di koran-koran atau laman internet, yang mempertontonkan adegan kepulasan mereka tertidur mendengkur di kursi empuk Senayan. Kenyataannya, kejadian itu selalu saja terulang, bukankah ini merupakan cermin sikap ndablêg yang tidak habis-habisnya?

Sikap ndablêg yang positif, semakin hari semakin sulit untuk ditemukan. Keteguhan seseorang yang memegang prinsip kebenaran, berdasarkan hati nurani dan ukuran kepantasan, kini sudah jarang ditemukan. Yang justru semakin banyak dipertontonkan adalah sikap ndablêg untuk terus menjual kekuasaan, mengobral murah keadilan atas nama penegakan hukum. Dan klaim pada keadilan pun semakin samar-samar diucapkan. Seperti berbisik. ****

 

Yogyakarta, 1 Februari 2010.

Foto by Yth. Mbah Darmo


Tag: DPR, ndableg, uasyu, tenan

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Media Terkait:

    Siapa saja yang merating artikel ini:

    Komentar:

    yusro 0 0
    Mbah Darmo: apakah ndableg yang ini termasuk ndablêg yang sampean maksud? : ))
    Mbah Darmo 0 0
    yusro: Temtunya bukan mas, aku ora wani, mundhak kuwalat, lha wong janji menehi DVD wae durung sempat kekirim sampai skrg.. maapkan aku sodaraku...
    Ibnu Muslim 0 0
    Mbah Darmo menulis tentang ndableg, ndableg bikinin kartun si Mbah Darmo : )

    *sebuah persahabatan yang indah
    Icarus 0 0
    Kalo ndableg, bukannya perlu dijewer, Mbah? ; ))
    z2-4 0 0
    inget lelucon zaman baheula... (kayaknya termasuk kategori nDablek)

    hikayat cerita:
    seorg tk.becak nyelonong nerobos lampu merah hampir tertabrak sedan mercy
    penumpang mercy langsung teriak : "Dasar tukang becak goblog!!!", serunya keras-keras...
    dengan nyantai tukang becaknya nyeletuk: "Kalo ndak goblog ndak bakalan ngebecak saya pak!"

    : D : D : D
    Mbah Darmo 0 0
    z2-4: Betul Dab, tukang becak (dengan seluruh warna dunianya) itu memang sumber inspirasi yang tiada habisnya.....
    Ibnu Muslim 0 0
    z2-4: : D
    krisnov 0 0
    Mas ndableg malah ora ndableg, mungkin memilih ID ndableg untuk menyindir teman bicaranya yang ndableg. he.he.he.

    Kalo pemimpin kita yang sudah di demo sana sini masih ndableg juga, berarti labelnya bukan cuma ndableg tapi juga gebleg, he.he.he.
    ndableg 0 0
    Mbah Darmo emang te-o-pe be-ge-te !!

    krisnov: @ndableg-nya sudah tersesat ke jalan yg benar, tante ; ))
    free7 0 0
    Apik "ndableg" timbang ngerti siji ngomong limo .. : D
    Agus PW 0 0
    Mbah Darmo, tapi sikap ndableg itu baik lho mbah...
    em je 0 0
    kalau "gitu aja kok repot"nya gusdur, seperti itu ndableg yang otoriter atau yang demokratis,

    mohon dijawab mbah darmo, hehe
    Dh2L 0 0
    Ibnu Muslim: Chain Our Heart ... free7: Why don't simple when you Crowdedem je:.... nya Tidak ???
    Logical Fallacy 0 0
    Mbah Darmo: Mungkin perlu tulisan tambahan soal perbedaan antara ndableg dengan teguh pendirian. Soalnya mungkin ada orang yang merasa sudah teguh memegang amanah, tapi ternyata tidak sadar sedang ndableg. : D

    Silahkan login untuk memberikan pendapat