#NasDem: Revolusi Tanpa Mimpi 11

Selasa, 2 Feb '10 03:17


Hari ini ada deklarasi Nasional Demokrat – disingkat NasDem – dan huru haranya terdengar dimana mana karena pendirinya kebetulan punya stasiun tivi. Daftar hadirnya seperti barisan sakit hati karena isinya semua mereka yang pernah kalah, malah ada yang beberapa kali.

Megawati Soekarnoputri, mantan Presiden dan mantan calon Presiden dari PDI-P hadir. Muarar Sirait, kader PDI-P yang lagi naik daun juga hadir dan tampak bahagia. Ali Muchtar Ngabalin, mantan anggota dewan hadir lengkap dengan kostumnya. Ada anggota yang dari Gerindra itu - saya lupa namanya tapi dia selalu berusaha terlihat cerdas - permintaannya sekarang supaya memakzulkan Presiden Yudhoyono untuk suatu sebab yang masih dia pelajari.

Bambang Soesatyo (Golkar) – anggota Pansus favorit - saya tanya di Twitter tapi katanya dia tidak diundang. Pestanya NasDem kelihatan seperti acara menghibur diri diantara mereka yang kecewa.

Secara ideologis, semuanya sama hambar tapi semua mirip kadar radikalisasi intelektualnya: mirip mirip pelacur tapi tanpa argumen moral. Dalam semangat oposisi yang sama, semua memilih untuk menikmati makanan kecil dan sama kehilangan giginya. Seperti sekolah dihari pertama saat semua orang pakai sepatu baru dan tidak kenal guru baru.

Surya Paloh, yang barusan kalah dalam kompetisi Ketua Umum Partai Golkar, menyatakan harapan untuk “Indonesia yang lebih baik.” Di bawah logonya, Nasional Demokrat bergaris “Restorasi Indonesia.”  

Seragamnya tampak seperti sengaja dipilih biru, Poempida Hidayatullah dari Golkar sempat berkomentar bahwa warna birunya tidak seperti teman lain, “yang sedang kelu dan bersedih.

Kalau peta Nasionalisnya bisa ditebak mudah – elemen Demokratnya seperti absen, mungkin karena memang masih gagasan. Kalau kita tidak tau mau jadi apa – paling sedikit kami bukan dia – secara ideologi ini mirip mirip Fir’aun.

Kalau saya Presiden Yudhoyono mungkin saya agak gerah. Presiden terpilih dengan suara terbanyak dalam sejarah demokrasi baru sadar ternyata pendukungnya tidak seperti waktu kampanye dulu.

Legitimasinya limbung dan seringkali ditebak linglung, karena tidak sadar kalau dia sudah jadi Presiden. Kalau mau disusur lebih jauh, sekarang judulnya pun dicuri. Nasional Demokrat itu sepertinya lebih lengkap dari Demokrat Saja, kalaupun ternyata substansinya sama sama bingung.  

Aburizal Bakrie, juaranya Golkar dan juragan paling sukses di Indonesia bisa jadi juga agak gerah. Dalam sejarah Golkar ini mungkin ancaman perpecahan yang paling serius. Arogansi para tokoh yang masuk kamar orang – tapi tetap berdiri atas nama Golkar – bisa dilihat sebagai pembangkangan fraksi tapi boleh juga dilihat sebagai perpanjangan tangan mesin yang siap membayari acak ulang politik nasional - karena demokrasi ternyata kurang memuaskan.

Ujungnya semua memang uang – antara Aburizal Bakrie dan pemerintahan Presiden Yudhoyono ada terlalu banyak kepentingan yang sesudah lima tahun satu tempat tidur – harganya ternyata terlalu mahal.

Kelompok Bakrie punya problem pajak dan sekaligus punya uang terlalu banyak. Kalau yang lain memilih lari, taipan yang satu ini memilih berdiri dan merubah anginnya. Paling sedikit lumpurnya masih harus dibersihkan.

Guru baru toh biasanya lebih culun.

Di sebuah seminar tadi malam, Eep Syaifulloh Fatah berhitung bahwa Bakrie tidak punya “perlengkapan politik untuk menang.” Di sebuah makan malam lain di hotel yang berbeda, pembicaraanya bukan tentang perlengkapan politik, tetapi apa betul Presiden Yudhoyono tahu caranya menggunakan perlengkapan yang katanya dia punya.

Carut marutnya urusan Century ini sudah jauh melebihi proporsi dan harganya sudah bukan 6.7 trilyun seperti yang diberitakan, atau 10 trilyun seperti potensi problem pajak Bakrie, atau berapapun yang mungkin bisa dihitung sebagai kekayaan negara. Berapa harganya belajar ulang demokrasi?

DPR – seperti deskripsinya almarhum Gus Dur – betulan terlihat seperti anak TK yang bergaya depan televisi seperti audisi murahan. Kalau ini Wakil Rakyat, kami malu jadi rakyat.

Presidennya tidak becus dan bingung mengurus kaki tangannya karena kebijaksanaannya untuk tidak mengintervensi kebijakan pemerintahannya sendiri. Ada Tim 5, 8, 9 dan jumlahnya bertambah terus setiap seratus hari.

Aburizal Bakrie dan Surya Paloh dua dua punya televisi dan jadi penonton nasibnya tidak lebih baik. Yang paham nggak bicara, yang bicara nggak paham.

Mobilisasi mereka yang kalah, militansi kekuasaan yang niscaya hanya karena mereka bisa. Rasionalisasi gagasan untuk sebuah tujuan – persetan harus tidur sama siapa.

Rakyatnya bingung karena setiap kali interpretasi ulang makna dan tujuannya bernegara, hasil akhirnya sama mengecewakan dan tidak sama dengan harapan.

Bunyinya seperti pelacuran masal tapi terdengarnya akan terlalu kasar.
Bilang “bongkar” jauh lebih gampang.

Jadi saya main di twitter. Mungkin nanti bapak bapak dengar.

Hari ini, jadi rakyat, semua kalah. Kita semua jadi barisan sakit hati sama revolusi tanpa mimpi.


Tag: bukan pemerintah

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Media Terkait:

    Siapa saja yang merating artikel ini:

    Komentar:

    Aba Jelos 0 0
    Politikus selalu berjanji akan membuat jembatan walau sungai yang akan di lewati jembatan itu tidak ada......
    Nasional Demokrat lahir dari para politikus, obral statemen selalu untuk kesejahteraan rakyat padahal ada kepentingan politik mereka yg tersembunyi...
    jamur 0 0
    sesuai teori demokratisasi..
    makin demokratis/legitimate pemerintah dari rakyat, makin kuat resistensi dari elit.

    cuma bisa Mimpi tentang Sebuah Revolusi...
    ndableg 0 0
    yang menarik, si gondess fello citizen selalu menggunakan tag 'bukan pemerintah' di setiap artikel-nya..

    *keplok-keplok*
    yusro 0 0
    Merestorasi Indonesia untuk menuju Indonesia yang lebih baik, sepertinya cukup dengan mulut: teriak-teriak : ))
    Dh2L 0 0
    yusro: Setujuuuuuuuuuuuu,hasil di dapat kebangetan bagusnya
    aroon 0 0
    Nasdem punya cita-cita mau merestorasi Indonesia, tapi deklarasinya saja bak pesta pora. Restorasi macam apa yang bisa diharapkan dari organisasi yang lebih mementingkan hura-hura ketimbang karya nyata.
    wacan bocah 0 0
    Sebagai orang bebas, melekat pada Surya Paloh (juga orang lain) hak untuk bikin ormas, partai, LSM, atau apalah. Wong pake duitnya sendiri. Kalau pejabat bikin ormas (atau yayasan) dengan manfaatkan jabatan baru perlu dipermasalahkan
    fello citizen 0 0
    ndableg: gondess?

    LOL
    fello citizen 0 0
    yusro:

    pakai mars dan seragam juga mas, jangan lupa.
    Leksa 0 0
    Ini post paling bagus setelah lama ndak nengok politikana ! : D

    Nice. Very nice, om!
    conscientizacao 0 0
    fello citizen: "Hari ini, jadi rakyat, semua kalah. Kita semua jadi barisan sakit hati sama revolusi tanpa mimpi."

    Kalau begitu, kita nyaru saja, tapi jadi apa ya? : D

    Silahkan login untuk memberikan pendapat