Adil Dalam Pendidikan 26
Rabu, 3 Feb '10 09:41
Mohon maaf apabila saya mengetengahkan lagi masalah pendidikan. Saya tahu beberapa komen di sini, banyak kawan yang sudah menganggap hal ini sesuatu yang lumrah, sesuatu yang biasa, bahkan cenderung membosakan dan tidak penting untuk diketengahkan kembali. Sekali saya menghargai penilaian itu.
Harus diakui memang, kompleksitas dalam mendidik sangat beragam, baik dari faktor internal maupun eksternal. Salah satu contoh dari dalam adalah adanya guru yang bikin emosi, seperti kemarin. Bagi saya ada banyak cara ntuk menyelesaikan masalah ini, hanya bukan maksud tulisan ini saya buat. Kali ini saya ingin berbagi pengalaman tentang kompleksitas mendidik dari faktor eksternal. Saya persempit batasannya adalah pada problem keluarga.
Mendidik anak di sekolah tidak hanya terbatas pada sempitnya ruang kelas dan terbatasnya jam mengajar. Ada banyak faktor jika kita ingin mengungkapkannya. Jangan terburu menyimpulkan bahwa gagalnya anak dalam pelajaran karena ia malas belajar dan bodoh. Lihatlah di luar itu. Cobalah untuk mengerti sebenarnya keinginan anak tersebut.
Saya punya beberapa pengalaman menghadapi problem anak bermasalah. Di sekolah kami ada namanya home visit (kunjungan rumah) ke siswa bermasalah. Setiap 2 hari anak tidak masuk tanpa keterangan, langsung kita kunjungi ke rumahnya. Kita cros cek kebenaran anak, apakah ia sakit benar atau justru dia bolos sekolah. Mayoritas adalah anak justru main di luar. Kemudian hari selanjutnya itu kami panggil. Nah, dari acara kunjungan dan memanggil anak inilah saya temukan berbagai kompleksitas masalah anak.
Dari hasil kunjungan saya, rata-rata anak yang bermasalah di atas adalah berasal dari masyarakat kurang mampu. Dengan kondisi rumah yang sangat sederhana, apa adanya. Data yang lain adalah rata-rata anak tersebut broken home, tidak ada ayah/ibu (ditinggal menjadi TKI), yatim, cerai, ia hanya ikut saudaranya sedangkan ortu berada di rantau, dan lain sebagainya.
Kondisi keluarga yang tidak lengkap memang faktor yang sangat dominan dalam mempengaruhi anak. Anak cenderung semaunya mengatur diri tatkala ia tidak didampingi kedua orangtuanya. Ia tidak berangkat sekolah tidak ada yang mengingatkan, ia mau main di luar tidak ada yang memantau, sedangkan ketika ia mau belajar tak ada yang membimbing, dan sebagainya. Apalagi di dalam keluarga tidak ada yang ditakuti. Kasus ini sering saya temukan pada anak-anak yang orangtuanya sedang dalam proses cerai, sudah cerai dan anak yang dititipkan pada saudaranya.
Maka sekali lagi, ketika kita temukan anak susah diatur di sekolah atau di rumah, silahkan lihat permasalahan di luar itu. Sebagai guru sekali lagi jangan mudah puas jika hanya melihat anak mudah diatur untuk duduk tenang di kelas, atau anak mudah disuruh apapun. Apalagi ketika kita temukan anak bandel, berontak, tidak bisa mengikuti pelajaran, kemudian kita menyimpulkan bahwa anak tersebut nakal dan bodoh. Kita telah berlaku tidak adil dalam hal ini. Di luar itu kita akan menemukan monster-monster yang menakuti anak-anak kita, yang siap untuk melumatnya dan menghancurkan masa depannya. Kita harus ikut menghadapi dan melawannya. Dan kita akan menemukan keasyikan dalam perlawanan itu. Mari!
*Sesungguhnya hal ini saya sampaikan tidak hanya untuk kalangan pendidik saja. Anda pun yang bukan pendidik bisa ikut andil asal anda peduli dan mau.
Tag: pendidikan
Terkait:
-
Ibu Guru Cantik
Kamis, 18 Mar '10 04:52 -
PENDIDKAN UNTUK RAKYAT ? NONSENS
Rabu, 3 Mar '10 21:37 -
Sekolah berlabel "Agama"
Senin, 1 Mar '10 15:33
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
free7: Keren
-
kinanthi: Bagus
-
Icarus: Penting
-
yusro: Menarik
-
Ibnu Muslim: Menarik
-
Red-White Eagle: Penting
-
ndableg: Bagus
-
Harlan Eryandi: Bagus
-
Olas: Menarik



KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
Atau jangan bikin anak kalau merasa belum mampu
Nah yang sudah terlanjur??
yang dah terlanjur ya bilangin aja gini, "wooyy..elo jangan mau enak bikinnya aja , kalo cuma bikin ayam juga pinter, dan semua orang juga ingin anaknya baik, pinter..etc, mestinya intropeksi dimana masalahnya jika anak tumbuh tidak sesuai yg diharapkan"
Atau perlu diusulkan untuk menambah kalimat warning di buku nikah "Sudah siapkah anda mendidik anak dg segala konsekuensinya"
Isinya apakah sekedar tentang agama atau sampai bagaimana mendidik anak yg baik, saya kurang tahu. Tapi ini bisa jadi bibit untuk ke arah sana.
Mungkin ini yang dijadikan contoh depag untuk membuat program semacam ini untuk umat islam, yg karena modelnya up to down dan infrastruktur yg belum siap, saya agak mengkhawatirkan hasilnya.
free7: Agus PW: Mending mungut anak terlantar. Kalo dia "rusak" sebagai tanda kegagalan orang tua dalam mendidik, ga ada beban moral.
Icarus: WO ngurusin sampe katakumennya?
Kawinnya maen tubruk aja pasti!
[WO ngurusin sampe katakumennya?]
Iya, karena pre-requisite. Gereja ga bisa menikahkan pasangan yang belom ikut katakumen.
Masalahnya, ini program suka ditaruh pagi sekali dalam jadwal pendeta; menyebalkan, buat penggemar tidur kayak saya.
Icarus: Kasus yang dihadapi pasangan yang bercerai selalu menomor-duakan kepentingan anak. Ini saya sering temukan pada obrolan dengan anak-anak...
Icarus: yg saya tahu kok bisa sampe berhari2 gitu... beda maksud kali ya? Penangkapanku katakumen 'cuma' bagian dari ritual, mirip2 khotbah nikah itu kalo di islam.
Ya iyalah, Pak! Kalo menomorsatukan anak, ga mungkin mereka cerai.
Ya boleh juga dianggap khotbah nikah, wong cuma 15 menit...
Wah malah jadi pr nih buat ngedumel ama bp4...
Betul. Itu karena pendeta bukan sekedar memberikan wejangan dan konsultasi pra-nikah, tetapi juga mengajarkan ritual-ritual tertentu yang perlu diketahui pasutri secara bertahap.
makanya, di sini mungkin bisa dimasukkan hal2 yg berkaitan dengan pendidikan anak, bukan hanya secara religius, tapi ke psikologis, medis, dll.
[menarik di gereja katolik, kalo ga salah semua pasangan yg akan menikah mendapatkan semacam pendidikan tentang pernikahan.]
Namanya kursus persiapan pernikahan, formatnya semacam seminar, di Jakarta peserta bisa mencapai 100 pasangan lebih. Bisa dua kali pertemuan (sehari penuh), atau empat kali pertemuan, tergantung penyelenggaranya.
isinya 'hanya' bersifat religius atau termasuk juga hal-hal di luar agama, pak? misal kesehatan, psikologi, dll.
Katolik konsisten dalam menjadikan perkawinan sebagai komitmen seumur hidup: ga bisa brenti, ga bisa ganti, ga bisa buka cabang. Jadi, dari pondasinya sudah lebih kuat dan lebih mengikat dari sekedar himbauan.
*mikir konsep sembari bikin proposal*
*mikir konsep sembari bikin proposal*
aha, kita punya misi yang sama ternyata...
Agus PW: Enak aja! Konsep ini dipikir doang, proposalnya buat makelarin anak orang. Ga sama, dong...
Silahkan login untuk memberikan pendapat