Alergi Sosialisme 129
Rabu, 3 Feb '10 15:57
Tulisan ini terinspirasi dari deklarasi gerakan Nasional Demokrat kemarin. Gerakan yang dimotori Surya Paloh dan kawan-kawan ini bermaksud untuk melakukan perubahan menuju kesejahteraan rakyat, mengingat selama masa reformasi ini belum terdapat perubahan signifikan terutama pada hal tersebut. Penulis tidak ingin membahas terlalu jauh gerakan tersebut, hanya ada sesuatu yang menarik bahwa selama ini, sejak PKI menjadi organisasi terlarang selamanya di bumi Nusantara, kata 'Sosialisme' ikut-ikutan menjadi lenyap.
Sosialisme sendiri sebagai suatu paham sudah ada sejak lama. Menurut wikipedia, sosialisme berawal dari pergolakan kaum buruh industri dan buruh tani pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20 berdasarkan prinsip solidaritas dan memperjuangkan masyarakat egalitarian yang dengan sistem ekonomi menurut mereka dapat melayani masyarakat banyak daripada hanya segelintir elite. Tidak ada yang salah dari sosialisme bila mendasarkan pada prinsip di atas. Namun dalam perjalanan waktu, sosialisme cenderung dianggap ke-kiri-kirian, mendekati komunisme, dan pada akhirnya berujung pada atheisme. Hal ini bertentangan dengan paham demokrasi, yang sebenarnya lebih dekat dengan kapitalisme.
Kembali ke laptop, sejak tahun 1965 hingga kini, jarang terdengar lagi paham sosialisme diangkat ke permukaan. Kalaupun ada yang mencoba mengangkat, gaungnya tak seheboh demokrasi karena orang masih trauma dengan komunisme yang dianggap dekat dengan sosialisme. Orang lebih suka menggunakan jargon 'Nasionalisme' untuk menggantikan kata 'Sosialisme'. Demikian pula kata 'Demokrasi' dan turunannya lebih disukai dan terkesan lebih ke kanan daripada 'Sosialisme'. Oleh karena itu tidaklah heran kalau para penggagas gerakan baru tersebut lebih senang menggunakan kalimat 'Nasional Demokrat' daripada misalnya 'Nasionalis Sosialis' atau sejenisnya. Kita masih alergi dengan kata 'Sosialisme', padahal dengan paham demokratis sekarang ini saja kesejahteraan tidak juga meningkat secara merata, hanya kepada kalangan tertentu saja peningkatan itu terjadi secara signifikan, terutama yang memiliki akses informasi baik dan dekat dengan kekuasaan. Sosialisme seolah menjadi terdakwa dalam sejarah negeri ini, padahal belum terbukti benar-benar bersalah.
Bila dicermati lebih jauh, paham demokrasi juga tak kalah bahayanya dengan paham sosialis. Demokrasi lebih dekat kepada paham kapitalisme, dimana yang kuat dan banyak akan menekan yang lemah dan sedikit, dan secara tidak sadar akan menindas orang-orang yang tidak sepaham namun tidak berdaya karena kalah kuat dari arus besar. Pemahaman yang sempit akan makna demokrasi dapat menimbulkan tirani baru bagi kelompok masyarakat yang terpinggirkan oleh kekuasaan. Jadi yang terpenting bukanlah semata pahamnya, tetapi bagaimana menggunakan paham tersebut untuk mencapai kesejahteraan rakyat, apapun bentuknya. Vietnam dan China telah membuktikan bahwa paham sosialis yang mereka anut tidak menghalangi langkah mereka untuk maju secara ekonomi meninggalkan negeri-negeri demokratis yang masih berkutat mencari bentuk terbaiknya.
Oleh karena itu, sudah saatnya alergi 'Sosialisme' disingkirkan, dan perlu diberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa 'sosialisme' tidak identik dengan komunisme, apalagi atheisme. Sosialisme dapat menjadi salah satu alternatif paham yang dapat dijalankan demi pemerataan kesejahteraan rakyat. Kita jangan hanya terpukau dengan kata 'demokrasi' dan turunannya, yang semakin membuat GR partai penguasa, bahwa merekalah yang paling benar. Apapun pahamnya tidaklah terlalu penting, yang penting adalah upaya bagaimana kesejahteraan merata dengan ketimpangan yang tidak terlalu jauh dalam masyarakat.
Tag: Demokrat, Nasionalisme, sosialisme
Terkait:
-
Rule of Law, Konstitusi, dan Pansus Century: Seberapa Utopia?
Senin, 15 Mar '10 12:15 -
Diplomasi Ranjang berbuah Koalisi Besar
Selasa, 9 Mar '10 12:27 -
Pengabdian PAN-PKB-PPP kepada Demokrat
Jumat, 5 Mar '10 19:12
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Icarus: Penting
-
kinanthi: Menarik
-
Red-White Eagle: Menarik
-
Ibnu Muslim: Menarik
-
Mbah Darmo: Bagus
-
yusro: Menarik
-
Harlan Eryandi: Menarik
-
FF Haq: Menarik
-
Logical Fallacy: Bagus
-
Yudiantoro: Menarik
-
em je: Inspiratif
-
NOS: Menarik
-
namasayaratih: Penting
-
Olas: Menarik
-
pall: Menarik
-
Paul Oneil Simon: Menarik
-
krisnov: Bagus
-
Marshall: Menarik
-
syafatain: Menarik
-
ndableg: Bagus
-
pujangga: Keren
-
doyan ngulet: Inspiratif
-
Agus PW: Menarik
-
botaksakti: Menarik
-
ki baraja: Inspiratif
-
iloenx: Menarik
-
Dh2L: Bagus


KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
* pertanyaan ini juga saya ajukan pada diri saya sendiri
Sebetulnya, selain yang alergi, yang SUKA pada 'kata2 pembungkus' itu paham nggak ya, apa isi di balik 'kata2 pembungkus' itu?
Di sini juga ada LSMnya http://www.unisosdem.org/
*bikin ORMAS juga ah "BUKAN NASIONAL DEMOKRAT", daftar yuuuk
nasionalisosialis: hush, jangan keras2, mending bikin nasionalis sosialis kayak ente
FF Haq: itulah om, negeri penuh kepentingan
Harlan Eryandi: yoi, biar ada alasan demo ya om
*
Jika Anda punya sapi, Anda perah susunya, lalu dijual ke pasar dengan harga sesuai penawaran dan permintaan, maka Anda hidup dalam sistem liberalisme
Jika Anda punya sapi, susunya diperah lalu dijual kepada negara dan selanjutnya negara mengatur harga dan distribusi susu, maka Anda hidup dalam sistem sosialisme
Jika sapi Anda diambil negara dan selanjutnya produksi dan distribusi susu diatur negara, maka Anda hidup dalam sistem komunisme
Jika sapi diambil negara dan Anda ditembak aparat negara, maka Anda hidup dalam sistem fasisme
Jika Anda bekerja keras, memelihara dan memerah susu, tapi harga susu rendah karena didikte tengkulak, lalu Anda berutang pada tengkulak, lalu bangkrut, lalu rumah disita dan akhirnya Anda tinggal di kandang sapi alias kumpul sapi, maka Anda hidup dalam sistem...
NOS: nyindir nih??
=============
Bagaimana dengan Khilafah ? Yang berada di tengah-tengah sosialisme dan kapitalisme.
Katanya, apapun pahamnya gak masalah, yang penting tercapainya kesejahteraan rakyat. he.he.he.
PRD, LMND, PMKRI, dan sebagainya, juga terang-terangan berorientasi sosialisme.
Saya kira ini cuma masalah dengan kalangan apa si penulis bergaul.
Saya khawatir ini persoalan teknis saja. Misalnya dalam hal Pemilu, penganut sosialis menolak proses 2009 kemarin yang dianggap belum beres.
Mustahil, kan, dengan isu Pemilu, Anda akan meneriakkan kami ingin sosialisme. Yang ada masyarakat gak mudeng.
Maka lebih mudah meneriakkan tuntutan yang sifatnya taktis.
Jika 'terang-terangan' yang Anda maksudkan adalah dalam formal organisasi, Anda bisa cek ke berbagai organisasi yagn tadi saya sebutkan. Saya yakin mereka juga terang2an mencantumkan ideologi sosialisme dalam konstitusi organisasi mereka.
Seperti PKS yang berideologi Islam tapi tak ada kata "islam" dalam namanya. Begitupun NU, Muhammadiyah, HTI, dan seterusnya... dan seterusnya...
Tapi bukan berarti orang alergi terhadap 'Islam', kan?
Sekitar pasca-reformasi orang menjadi berfoya-foya dengan segala jenis ideologi yang sebelumnya dilarang.
Saya punya tiga teman yang mengumumkan diri mereka atheis. Dan di saat yang sama wacana Marxisme menjadi seksi dan diminati.
Saya punya sederet nama organisasi beneran maupun taktis, dan juga orang-orang di Solo yang hingga saat ini masih aktif melakukan kaderisasi terhadap kegiatan berideologi sosialis.
Dari mereka saya tahu, bahwa mereka bisa dengan mudah mengadakan diskusi di ruang publik (sering di balai Soedjatmiko, maupun di banyak tempat lain). Infiltrasi terhadap organisasi mahasiswa internal kampus juga tak ada masalah.
Semuanya terang-terangan mengaku menyebarkan ideologi sosialis.
Kan saya tadi berpendapat bahwa penggunaan kata 'sosialis' dalam nama organisasi maupun komunitas, atau tidak, adalah persoalan teknis belaka.
Makanya saya mencontohkan tak adanya kata 'Islam' dalam nama Muhammadiyah atau NU, tak berarti orang alergi dengan kata 'Islam'.
Mengenai kemungkinan orang alergi pada sosialisme, sudah pula saya tanggapi di komentar sebelumnya
Ini misalnya: [ http://www.facebo…s/1563879864 ]
Soal Nasional Demokrat, kalau memang ideologinya bukan sosialisme, kenapa harus mencantumkan nama sosialisme.
Jarangnya organisasi yang dalam namanya menggunakan kata sosialisme, atau sedikitnya kelompok sosialis, mungkin hanya karena sosialisme tidak populer. Dan itu tidak selalu karena orang alergi.
Mungkin maksudnya dizzman, tidak ada organisasi berideologi sosialis yang terang-terangan mempromosikan ingin membentuk negara Indonesia sosialis misalnya.
Sama halnya dengan organisasi atau partai Islam yang sekedar label tapi takut memperjuangkan SI dan khilafah secara terang-terangan, juga menyusup kedalam tubuh demokrasi.
Kecuali HTI, yang terang-terangan memperjuangkan Khilafah, tidak main sembunyi-sembunyi.
Anda hanya membuat diskusi saya dan dizzman kembali ke titik awal.
[tidak ada organisasi berideologi sosialis yang terang-terangan mempromosikan ingin membentuk negara Indonesia sosialis misalnya]
Ada. Sudah saya sebutkan di atas. Tidak percaya, silakan dicek ke organisasinya.
[Karena orang sosialis merasa mayoritas rakyat Indonesia masih alergi dengan istilah sosialisme, ]
Saya sudah cerita bahwa para pegiat sosialis tak pernah merasa kesulitan mengkader. Apalagi merasa orang-orang alergi. Dengan kata lain, itu kata lo, bukan kata mereka.
[Khusus untuk HTI, setahu saya yang secara tegas dan terang-terangan mempromosikan syariah Islam dalam bingkai khilafah]
Baca lagi di atas. Contoh HTI keluar pada saat kami membicarakan soal penggunaan kata. Mengenai apa yang dipromosikan HTI, itu hanya sedikit relevansinya dengan diskusi ini.
wah kalo gitu serem dong yaa. karena kita udah capek-capek kerja, terus uang hasil kerja ditabung, tabungan udah punya 100jt terus dibeliin tanah, eh setelah punya tanah, tanahnya dibagi2 ama petani..
tapi sebenarnya usul nasakom dulu itu bagus juga,
jadi bagi yg berminat ikut "nas" ya monggo.. yg berminat ikut "a" ya monggo.. kemudian yg berminat ikut "kom" ya monggo..
terus kita lihat nas/a/kom yg bisa menyejahterakan kita..
sayang kata kom-nya sudah di"sakral"kan..
*pamit ya, selamat malam, selamat beristirahat, sampai ketemu lagi. bye.
krisnov: he3x... just kidding om..... (ini yang om-nya to?)
Lo kacau ya orangnya. Kita ngomongin sosialisme, bukan komunisme.
Lagian juga udah gw bilang liat ke atas, mousenya gak ada scroll-nya apa?
Tanya ke orang-orang PRD. Mereka mau bikin negara sosialisme atau khilafah.
Saya kira HoD bisa lebih jeli membaca komentar. Anda tidak. Sehabis saya minta anda cari di Google, saya sudah beri satu contoh. Mohon sedikit jeli membaca komentar orang.
Susah, memang, diskusi sama yang udah main pokoknya. *sigh.
Gerakan Mahasiswa Sosialis. Ini link yang ada di internet, jika Anda tak bisa hidup tanpa referensi:
[ http://www.facebo…s/1563879864 ]
http://www.unisosdem.org/
*sambil mengingatkan jangan terjebak dengan simbol-simbol...*
Oh, itu teman saya yang jadi anggotanya, bukan sekedar Google.
Dan jangan paksa saya untuk mengulangi argumen saya. Bahwa organisasi berhaluan sosialisme di Indonesia sedikit, bukan berarti karena orang alergi, tapi kurang populer. Itu saja.
Untuk meneruskan pembuktian, perlu dilakukan survei. Bukannya ujug-ujug mengambil kesimpulan.
Agus PW: iya om, gw lagi bahas kata2 aja. tapi gpp lah, biar seru diskusinya....
Apa sosialisme/komunisme melarang orang beragama? Mohon dikaji lagi.
Mengenai partai yang Anda buat, tolong ceritakan pada dizzman, bahwa kelompok semacam ini memang ada.
sekali lagi, saya cuma ingin ada yang berani bikin parpol atau ormas resmi dengan menggunakan kata 'sosialis'. kalo baru kata 'sosial' saya anggap masih malu2, apalagi ditambah kata 'demokrat', mengesankan sekali takut dibilang tidak demokratis kalo gak diembel2i kata 'demokrat'
Itu bukan malu-malu jeng. Tapi sosialis-demokrat itu memang ideologi sendiri. Ideologi ini gabungan kiri-kanan, disebut juga The Third Way.
organisasi dengan nama "Sosialis" tok gitu aja?
Lha emangnya sosialisme berseberangan dengan demokrasi sampai tidak bisa disandingkan?
Lha itu ada warga P yang pake nama nasionalisosialis:
bahkan saya punya tulisanya tentang pandangan sosialime-nya soekarno, ternyata lebih islami. begitu..
Link yang elo kasih itu kan bukan ormas atau parpol. Dan itu cuma sebuah gerakan yang tidak murni memperjuangkan sosialisme. he.he.he.
Kalo mau bukti masih ada alergi sosialisme atau enggak, tanya langsung tuh ke mas Agus PeWe, yang merasa udah diteror berkaitan dengan artikel palu aritnya tempo hari.
Dan anda bingung kalau ada yang menyamakan islam dengan terorisme.
Bagaimana dengan pendapat Agus Salim, kalau Nabi Muhammad mengajarkan sosialisme?
Tentang Islam akan menegakkan sosialisme, juga telah dikemukakan H. Agus Salim dalam Kongres Nasional VI SI, bulan Oktober 1921 di Surabaia. H. Agus Salim antara lain mengatakan: “Nabi Muhammad Saw sudah mengajarkan sosialisme, sejak 1200 tahun sebelum Karl Marx” (Sekneg: G 30-S Pemberontakan PKI”, 1994, hal: 11).
http://www.pk-sej…a/?page_id=7
Itu beda mbak. Sosialisme menekankan pada kesamaan akses pada faktor produksi bagi semua warga. Sementara komunisme lebih pada struktur politik dengan penghapusan kelas.
Mengenai link, itu dalam hal penggunaan kata. Sementara organisasi yang jelas-jelas dan terang-terangan, silakan silaturahmi dengan PRD.
Heh? Pegadaian? Informan Anda salah...
anda bilang tadi komunisme satu aliran sama sosialisme.
Terus anda sepakat nabi mengajarkan sosialisme.
Apakah berarti nabi mengajarkan komunisme?
Seperti yang dizzman bilang...PRD lagi-lagi bawa turunan demokrasi. Dan PRD saya kira tidak murni memperjuangkan sebuah negara sosialis, kalaupun tujuannya seperti itu, tetap dibungkus dalam nama turunan demokrasi.
Tidak seperti HTI, yang tegas, jelas, tidak main belakang, terang-terangan ingin mendirikan Khilafah, gak pake wadah demokrasi.
[Dan PRD saya kira tidak murni memperjuangkan sebuah negara sosialis]
Jangan mengira-ngira. Itu namanya asal njeplak. Saya sendiri bukan pendukung sosialisme, sehingga sering betul berdebat dengan orang-orang PRD ini untuk tahu betul bahwa mereka murni dan terang-terangan mendukung sosialisme.
Silakan saja kalau anda gak mengakui. Kalimat anda memang cara ngeles paling mudah.
Saya tinggal di daerah Manahan, pak. Tepatnya di Nggremet. Solopuccino masuk terus itu lho.
Soal 'D', itu kan preferensi mereka, intinya toh tak ada usaha sembunyi2 dalam mengkampanyekan sosialisme.
Tentang PKS, itu konstelasi politik Anda. Saya tak berkepentingan
PKI = Partai Komunis Indonesia atau PSI = Partai Sosialis Indonesia.
kinanthi:
----
pendukung khilafah konon anti partai karena partai identik dg demokrasi dan demokrasi itu haram.
Tapi mereka juga menggunakan cara2 demokratis untuk menegakkan khilafah. Jadi tujuan menghalalkkan cara juga ya?
Katanya dalam siyasah memang dihalalkan segala cara
Memang benar, pendukung Khilafah tidak buat partai tuh....cara-cara demokratis juga ada dalam Islam.
HTI misalnya, dia kan bukan partai politik peserta pemilu, jadi bagaimana bisa dibilang menghalalkan segala cara, lah wong masuk dalam lingkaran kekuasaan saja tidak mau kok.
PKS ? Apakah PKS memperjuangkan Khilafah ? Tidak.
Sebenernya itu bukan kata gw, tapi kata ketua Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kota Solo, waktu kami sedang diskusi.
But of course, diskusi beberapa tahun lalu itu tak bisa saya beri linknya di sini.
Ya udah...sampaikan salam kenal aja deh, he.he.he.
Dah..ah capek..
BTT aja, intinya menurut pendapat gw asumsinya ts gak salah, alergi itu masih ada. Titik.
Makasih ya pall, senang berdiskusi dengan dirimu, sampai ketemu di topik yang lain.
Silahkan login untuk memberikan pendapat