K e r b a u 43

Rabu, 3 Feb '10 10:08, dibaca 739 kali

Saudaraku™, sungguh hati saya tergelitik menyaksikan reaksi seorang priyagung yang tersinggung dengan ulah teatrikal yang diusung para demonstran, di Bundaran HI pada tanggal 28 Januari 2010. Episenter ketersinggungan itu tidak lain karena hadirnya sosok mamalia besar yang dilibatkan langsung dalam aksi itu. Ya, seekor kerbau, yang tubuhnya disemprot cat PILOX™ warna putih, hingga kelihatan begitu kontras dengan tubuh kerbau yang legam, yang menunjukkan inisial sang tokoh sentral negeri ini.

Dalam nada pidatonya yang – tumben – agak tinggi itu, sang priyagung mengecam para demonstran yang sengaja melibatkan kehadiran kerbau di tengah massa. Kerbau, di benak priyagung itu, telah diterjemahkan sebagai pancaran metafora yang menusuk. Badannya besar, bodoh, dan malas. Begitulah kira-kira ekspresi ketersinggungan itu dilontarkan, yang dibarengi dengan bahasa tubuh sedemikian rupa, hingga makin mempertegas ketersinggungan itu, ekspresif.

Sejenak lupakan peristiwa ketersinggungan sistemik itu. Cobalah tengok selintas eksistensi kerbau di negeri ini. Sesungguhnya keberadaan kerbau di negeri agraris ini, jauh lebih tua dari usia negeri itu sendiri. Kerbau, dalam peran sentralnya, telah menjadi salah satu saka guru yang menopang bagi suksesnya manusia dalam menggelorakan politik ketahanan pangan.

Jauh hari sebelum negeri ini lahir, kerbau telah lebih dahulu menunjukkan eksistensinya. Ia, dengan taat, tak pernah menolak – apalagi berontak – untuk diperas tenaganya, berkolaborasi dengan para petani untuk menggarap sawah ladang, tiada pernah lelah menarik garu dan bajak. Anda tentu bisa membayangkan, apa jadinya jika pada zaman pra-mekanisasi itu tidak ada kerbau di negeri ini. Para petani tentu akan menemukan berbagai kesulitan menjalankan tugas mulianya.

Kerbau juga telah menjadi pelaku sejarah. Dengan indah ia pernah berperan dalam mewarnai penggalan masa-masa kecil para tokoh besar. Lihat saja, Pak Harto misalnya, dengan bangganya selalu bercerita bahwa masa kecilnya tak pernah lepas dari eksistensi kerbau dengan segala dinamika yang mengikutinya.

Pengalaman menunggang kerbau di sawah, memandikannya di sungai, atau menyaksikan – dengan hati berdebar – bagaimana sulitnya petani melerai tatkala ada dua kerbau sedang bêrik. Semua itu telah menjadi catatan nostalgia yang teramat indah bagi orang-orang besar itu. Juga bagi kita yang pernah mengecap indahnya masa-masa kecil hidup di desa.

Kembali pada ketersinggungan sistemik itu. Nampaknya, tidak hanya priyagung yang bisa memonopoli ketersinggungan itu. Kerbau pun, jika ia mampu mencerna pidato agung itu, sudah selayaknya juga berhak menjadi pihak yang mengartikulasikan ketersinggungannya. Ia pasti akan melancarkan protes keras karena telah dituduh dengan semena-mena bahwa ia makhluk yang malas.

Sejarah telah membuktikan, bahwa kerbau bukanlah mamalia yang malas. Ia adalah sosok yang demikian menurut, selalu memberikan tenaga terbaiknya untuk menggarap lahan. Sudah demikian pun, nasibnya tak pernah beranjak. Setelah tenaganya diperas, balasan yang diterimanya hanyalah sekeranjang rumput, tidak lebih. Tentang nasib buruk kerbau ini, nampaknya juga selaras dengan nasib yang menimpa tuannya. Petani di negeri subur ini (entah sampai kapan) senantiasa menjadi tumbal di tengah lajunya gerak roda pembangunan.

Tak hanya sampai di situ, bahkan kotorannya pun telah nyata-nyata menyumbang bagi upaya manusia untuk menjaga kesuburan tanah. Ketika tenaganya sudah tidak lagi mampu dipersembahkan, ia dengan rela menjadi santapan manusia. Kulitnya yang legam senantiasa bisa menjadi sarana penghibur rakyat, setelah ditatah dan disungging menjadi wayang. Dan ia pun juga dengan suka rela mengorbankan segenap jiwa raganya atas nama ketaatan manusia dalam menjalankan syariat Tuhannya.

Sudah selayaknya kalau kerbau menjadi tersinggung, kebodohan manusia yang selalu dimetaforakan dengan sosoknya, adalah kekeliruan yang perlu dan harus diluruskan. Kerbau adalah binatang yang cerdas, relatif dengan binatang lain, tentunya. Bahkan dalam konteks tertentu, ia jauh lebih cerdas dari manusia terhormat sekali pun.

Lihatlah Saudaraku, sebodoh-bodohnya kerbau, ia tidak pernah melakukan korupsi, apalagi mempertontonkan adegan-adegan memalukan dalam forum-forum yang – seharusnya – menjadi ajang yang penuh dengan tata krama dan kesopanan. Ya, ulah para politisi itu, sesungguhnya, jauh lebih bodoh dibandingkan kerbau yang selalu taat dan patuh pada aturan kehidupan.

Janganlah kau salahkan kerbau, jangan kau ulangi lagi menuduh bahwa kerbau adalah mamalia yang bodoh dan malas. Bahwa ia bertubuh tambun, juga bukan hal yang jelek. Manusia jualah yang akhirnya akan menikmati ketambunan itu dalam bentuk lauk-pauk yang turut menyelamatkan umat manusia dari bahaya kekurangan gizi.

Kepada kerbau-kerbau di seluruh dunia, atas nama priyagung yang memimpin negeri ini, maafkanlah kami. Kiranya hanya kebodohan kamilah, manusia ini, yang tidak mampu menerjemahkan betapa peranmulah yang telah membantu kami, manusia ini, dari kepunahan akibat kelaparan dan kurang gizi. ***

 

Yogyakarta, 3 Februari 2010.

Foto appear courtesy: koleksirokok.blogspot.com


Tag: SBY, kerbau, tersinggung, ucapan

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Mbah Darmo 0 0
Oalah...saya keduluan upload oleh Saudaraku krisnov. Tak apalah, tulisan ini kuharap dapat melengkapi ide cerdas beliau.....
NOS 1 suka | 0
Kesimpulan subjektif saya atas tulisan ini: SBY harus bangga disamakan dengan kerbau..: )
Mbah Darmo 0 0
NOS: Seharusnya begitu Dab: ia telah dimetaforakan sebagai sosok yang bekerja keras, taat pada tuannya (rakyat), bertubuh tambun dan bermanfaat. Mengapa justru reaksi sebaliknya yang dia lontarkan? Sungguh tidak tahu diri.... ! (sambil idu). : D
krisnov 0 0
Mbah Darmo: Sepakat, maturnuwun.

yusro 0 0
fotonya itu malah bisa didimo masyarakat anti rokok : ))
krisnov 0 0
Mbah Darmo: mungkin karena malu, tidak serajin, secerdas dan sebermanfaat seperti kerbau, he.he.he.
NOS 0 0
Mbah Darmo: tapi mungkin ada yang mengganjal dalam benak SBY, yaitu kumpul kebo. Saya kira koalisi yg tak jelas, layak disebut kumpul kebo...: ) Apa istilah kumpul kebo perlu diganti?
Mbah Darmo 0 0
yusro: Hehehe...kebetulan saya juga merokok Kang, meski bukan "tjap Kerbau"....sumangga saja kalau mau demo, ini negeri merdeka kok...haha. : D
Nazil 0 0
Mbah Darmo:

( sulitnya petani melerai tatkala ada dua kerbau sedang bêrik. )

Berik artinya apa mBah? Kok dilerai?

*OOT* dahulu...
Mbah Darmo 0 0
Nazil: Nazil: Berik itu artinya kerbau yang sedang bertarung, biasanya di tengah sawah atau padang penggembalaan. Sangat susah dipisahkan....biasanya ada pawang khusus yang memiliki skill untuk itu.
Nazil 0 0
Mbah Darmo: lha kok ada yang mengartikan berik = Ciyak (dagadu) ; ))
Mbah Darmo 0 0
Nazil: Ya itu khan istilah idigenous, yang bisa berbeda2 antar daerah. Salah satu cara pawang melerai yg dulu pernah kulihat adalah dng membakar batang pisang (gedebog) hingga panas, lalu ditancapkan di tanduk kerbau yg berik. Karena kalau dicambuk malah menjadi semakin bersemangat berik-nya.
jangdesur 0 0
Artikel yang bagus Mas Dab..
Mbah Darmo 0 0
jangdesur: Matur nuwun, kalau dulu ada istilah "roman picisan", mungkin tulisan2 saya lebih tepat disebut sebagai "esai picisan", hahaha.... Ya nggak Mas Nazil: ?
ndableg 0 0
Mbah Darmo emang te-o-pe be-ge-te !!
Ibnu Muslim 0 0
Pengalihan perhatian "ala" SBY ; ))

*century buyar kerbau disasar : D
em je 0 0
kalau kerbau sudah tidak mampu memberi tenaga, maka daging nya bisa jadi jadikan lauk pauk dan kulitnya bila sudah ditatah dan disungging akan menjadi media yang bisa dimainkan untuk menjadi penghiburan bagi masyarakat.

kalau para priyagung sudah jompo dan menghembuskan nafas untuk yang terakhir kali, bukan daging, bukan kulit, melainkan kisah nya bisa dijadikan bagian cerita pewayangan yang mungkin akan di pentaskan oleh generasi yang akan datang.

Siapa tahu ada yang minat mem-pakelir-kan Indonesa hehehe

mbah darmo memang te op pe
The Crow 0 0
The picture reminds me of the jingle sung by Bimbo, back when I was a 5-year-old kid. "Rokok, rokok Kerbau yang baru. Unggul dalam mutu dan rasa. Di sini rokok Kerbau, di sana rokok Kerbau, dan yang ngisep juga Kerbau." : D
conscientizacao 0 0
Mbah Darmo: "Badannya besar, bodoh, dan malas..."

Saya juga bingung, kok bisa terjemahannya jadi begitu ya? ; ))
alakazam 0 0
__apa jadinya jika pada zaman pra-mekanisasi itu tidak ada kerbau di negeri ini. __

pakai sapi mbah.... : p
alakazam 0 0
moral of story, apapun hewan yang dibawa kemaren, jika sby tersinggung karena hewan itu, entah kadal, kodok, buaya, kijang, gajah atau perkutut, tetap akan muncul banyak artikel yang membela hewan2 tersebut....

: )) : )) : ))
The Crow 0 0
alakazam: Only if he described the animal wrongly. : D
Mbah Darmo 0 0
alakazam: Antara sapi dan kerbau itu tidak subtitut sempurna Dab... Lebih rosa kerbau (cuma nggak tahan panas matahari).... Kini sapi dan kerbau sama-sama diributkan, sungguh negeri celaka yang sangat fabelistis...
TRIMO 0 0
Sate Kebo juga enak lho....(gak nyambung yo)
TRIMO 0 0
Mbah Darmo: gudak-gudakan=berik
pradaksina 0 0
TRIMO: orang kudus ya? : D
Mbah Darmo 0 0
TRIMO: Betul Dab, kalau cuma sekadar gudak2an masih belum apa2, tapi kalau sdh berik keduanya akan lengket, angel dipisah....
Forlorn Hermit 0 0
Mbah, kalau saya bilang: "Mbah Darmo memang kerbau !"

Ndak boleh tersinggung berarti ya, karena menurut artikel sampean, ucapan itu berarti pujian : )
wastingtime 0 0
kerbau dan sapi ikut kebagian jadwal tenar, menyusul kawan sesama binatangnya yang tenar lebih dulu, si cicak dan si buaya.
Mbah Darmo 0 0
Forlorn Hermit: Sumangga saja, dengan senang hati, hehehe.. Toh tanpa disebut pun para sedulur sdh tahu kalao sifat saya memang sangat ngebo....haha : D
The Crow 0 0
Mbah Darmo: Hello, Mahesa Dharma : D
Mbah Darmo 0 0
The Crow: Kerbau memang Mahesa, tapi lihatlah di gambar rokok itu, sang pemilik pabrik nampaknya tidak tahu kalau "Nandi" itu artinya sapi alias lembu... Lucu sekali, Rokok cap Kerbau berjenis Sapi Mas.... sangat inspiratif.
Mbah Darmo 0 0
wastingtime: Besok lagi mungkin Tupai akan juga ikut menjadi tenar, ya Tupai alias Bajing(an), hahaha : D
pradaksina 0 0
Mbah Darmo: sepertinya kok malahan tahu, mbah.
Nandi Mas itu mestinya nama perusahaannya, dan cap kerbau adalah merknya.

Praktek yang sering dilakukan para pengusaha kayaknya, memberi nama merk dengan hal yg berkaitan (lembu dan kerbau sepupuan, kan? : D) dengan nama perusahaan.
Mbah Darmo 0 0
pradaksina: Sampean pasti salah, saya tahu persis pabrik rokok itu di Jl. Gremet Solo, namanya PT Rokok Kerbau Solo, jadi dapat dipastikan kalau "Nandi Mas" itu salah satu varian dari rokok tjap Kerbau. Dulu, varian lain ada Kerbau Agung dan Kerbau Merah. Ya...merek adagang yang sangat agraris.
pradaksina 0 0
Mbah Darmo: woo... gitu to mbah..
hmm... emang beda kalo rokok daerah agraris. kalau rokok pesisiran mereknya praoe lajar, djarum, bal tiga, sukun (eh, ini agraris juga)

Oya, di daerah pedalaman sepertinya rokok2 minoritas ginian cenderung lebih bisa bertahan dibanding si pesisir.
pradaksina 0 0
Mbah Darmo: belibet...

maksudnya:
Emang beda kalau rokok daerah pedalaman.
Kalau rokok pesisiran, merknya... dst
Mbah Darmo 0 0
pradaksina: Lebih asyik lagi kalau jalan2 di daerah transmigrasi, yang pernah saya temukan rokok aneh-aneh: Komandan, Abrams, Primagama, AdoBijang, Matrix, dll. Temanku, Butet Kartaredjasa salah satu kolektor rokok indie ini... Juga kalau Anda ke RM Mbah Jingkrak di Setiabudi Jakarta, di sana juga dipajang rokok2 indie itu...
sibulansebelas 0 0
..dan akhirnya, kerbau pun dicekal..

*geleng-geleng, pengalihan perhatian koq ya dzholim.. : p
Mbah Darmo 0 0
sibulansebelas: Saya kuwatir, giliran MUI nanti juga ikut berfatwa: membawa kerbau ke arena demo termasuk GHIBAH...hahaha.
sibulansebelas 0 0
Mbah Darmo: gak papa om, sekalian aja kerbau haram masuk gedung anggota dewan.. biarin biar enggak perlu pidato kenegaraan 100 hari sekalian. : p

eh yang ghibah atau haram semua 'kerbau' kan..? hehehe
The Crow 0 0
pradaksina: [praoe lajar,] Semarang, near Tawang railway station.
pradaksina 0 0
The Crow: yup

Silahkan login untuk memberikan pendapat