Memahami pesan JK 39
Rabu, 3 Feb '10 12:04
Disebuah mailing list, terlibat membicarakan berita tentang sebuah cerita yang disampaikan JK ketika menghadiri acara tahlil, tujuh hari wafatnya almarhum Gus Dur, Selasa malam Rabu (5/1).
Jusuf Kalla bercerita, saat Gus Dur menjadi Presiden, dia diangkat menjadi Menteri Perindustrian.
Dalam suasana yang penuh ketegangan politik dan gaya kepemimpinan Gus Dur yang kontroversi, JK mengaku bahwa dia mempunyai kenangan yang tidak terlupakan. Salah satunya, dia pernah membohongi Gus Dur.
"Gus Dur doyan sekali memecat menteri. Setiap dua bulan sekali, Gus Dur memecat menteri. Sebenarnya, waktu itu saya sudah mau dipecat dua kali. Tapi, saya berhasil selamat," ujarnya.
Nah, JK punya pengalaman tentang ini. Kata JK, waktu itu dia dipanggil Gus Dur ketika sedang berada di luar negeri. Tiba-tiba, Gus Dur memerintahkannya untuk kembali ke Tanah Air, segera. Tanpa pikir panjang, JK pulang, dan segera menghadap atasannya. Dia berpikir ada masalah yang gawat.
"Anda sudah tidak bisa diajak bekerjasama lagi," begitu kenang JK mengutip ucapan Gus Dur ketika itu. Dengan penuh tanda tanya, JK mempertanyakan mengapa.
"Anda pergi ke luar negeri tanpa izin," kata JK yang mantan Ketua Umum Golkar ini, menirukan pernyataan Gus Dur seperti dilansir inilah.com.
Mendengar itu, JK langsung berpikir panjang, bagaimana agar dirinya tidak dipecat. Entah darimana idenya, tiba-tiba saja terlintas di pikirannya untuk menipu Gus Dur.
Lalu, JK mengeluarkan sebuah kertas. Dengan percaya diri, JK menyerahkan lembar kertas itu pada Gus Dur dan bilang: "Ini surat izin dari Setneg".
"Gus Dur tidak melihat. Nah, karena saya tipu itu, saya selamat dari pemecatan. Tapi, pas sebulan kemudian, saya dipanggil lagi. Dan, kali itu, saya dipecat betulan," kata JK disambut gelak tawa para hadirin. (mad)
Sumber: NU Online
Beberapa tanggapan/komentar antara lain,
- Lucu yaaaaahhh, Seorang yang mengaku pejabat tapi menipu orang cacat...
- Mungkin JK merasa bangga bisa menipu GD, tetapi menurut saya hal ini tidak layak untuk diceritakan saat tahlilan GD bahkan sampai kapan pun.
- Mungkin sebenarnya dibawah sadar pikiran beliau, JK hanya ingin meminta maaf sama Gus Dur, walaupun hanya didepan jazad-nya.
- Andaikan Anda harus memilih dua capres, Capres yang berpikir matang sebelum berbicara, dan capres JK yang berbicara sebelum berpikir matang2, langsung tabrak begitu, kira2 capres yang mana yng akan anda pilih ?
- Saya hanya mengulas dada, seorang menteri (waktu itu JK menjadi menteri) melakukan penipuan terhadap presidennya yang kebetulan mempunyai keterbatasan.
- Saya mengira itu hanya kelakar saja walau tidak tepat suasananya. Sekiranya benarpun saya bisa menghargai orang yang masih berani terbuka dengan kesalahan masa lalunya sebab problem di negeri ini sekarang justeru terlalu banyak orang yang lebih memilih menutup rapat-rapat rahasia sendiri dan kelompoknya supaya terkesan jejaknya bagus dimata publik padahal penuh kepalsuan, rekayasa dan tipu-daya. Banyak yang lebih memilih membiarkan publik tersesat selamanya daripada harus buka kartu yang sebenarnya.
Tampak disini para pemberi komentar/tanggapan belum dapat menyerap pesan sesungguhnya dari cerita ini.
Kata kuncinya adalah ucapan alm Gus Dur yang diceritakan, yakni,
"Anda sudah tidak bisa diajak bekerjasama lagi,"
Ucapan inilah yang menerangkan keadaan/suasana ketika itu.
JK sangat memegang teguh pendirian sehingga kadang pihak lain menilainya dengan “tidak bisa diajak bekerjasama lagi”.
JK ikhlas/rela/legowo melepaskan jabatan menteri dikarenakan memegang teguh pendirian dan beliau tidak "mencari" jabatan.
Benarlah, pendirian JK, setelah beberapa bulan JK “dipecat” kemudian GD dilengserkan. Sedangkan JK meningkat menjadi menko pada kabinet berikutnya.
Begitu pula dengan presiden SBY, yang telah “bersama” JK dari 2004 s/d 2009.
Diakhir periode kebersamaan, SBY pun terlihat menilai JK sudah “tidak bisa diajak bekerjasama lagi”. Sehingga ketika pilpres ada suatu kemungkinan cawapres dari Golkar namun asal bukan JK.
Salah satu pendirian teguh JK adalah untuk tidak membail-out bank Century dan beliau belajar dari peristiwa 1998 dimana rakyat menanggung akibatnya sampai sekarang dan kedepan. Kasus bank century dapat dijelaskan kepada masyarakat adalah dikarenakan "perampokan" semata, sehingga dapat mengurangi kekhawatiran masyarakat akan pengaruh krisis keuangan.
Benarlah, pendirian JK, selama 100 hari masa kepemimpinan SBY-BOEDIONO disibukkan dengan kasus Century dan kasus-kasus terkait.
Tag: SBY, jk, kabinet, menteri, gus dur, pecat, gd
Terkait:
-
Menanti Pelantikan Presiden SBY
Sabtu, 17 Okt '09 11:44 -
Mengapa Harus JK bukan MJK (baca: MCK)
Selasa, 2 Mar '10 21:59 -
Kritik itu Membangun Untuk Perubahan
Rabu, 16 Des '09 11:10
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Ibnu Muslim: Menarik
-
conscientizacao: Biasa
-
ndableg: Biasa
-
Harlan Eryandi: Biasa
-
olive: Menarik
-
Olas: Bagus
-
krisnov: Bagus
-
Paul Oneil Simon: Biasa
-
syafatain: Bagus


KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
Politik itu kejam, Pak Guru...
pertanyaan saya:
Kalau JK begitu tidak setuju-nya dengan bailout BC, kenapa sesudah pengambilan keputusan itu, dia tidak melakukan apa-apa, selain nyuruh robert tantular ditangkap?
Kok dia harus nunggu SBY milih cawapres lain dulu?
Kok nunggu kalah pilpres dulu, baru teriak2?
Minta mundur, kek, minta SM dipecat, kek...
NO POLITICIAN IS TO BE TRUSTED. That's the very first commandment of being a sane citizen.
Tanggapan saya cuma melihat yang terakhir saja yakni ketika mas menanyakan,
dan kemudian nunggu dilamar SBY buat wapres berikut?
Padahal sebelumnya sudah ada pertanyaan dan teratas lagi.
Kalo gak setuju kok gak mundur dari tahun 2008 ya..
Apakah mundur sebagai pemecahan masalah ?
Namun, jujur saya belum tahu alasan beliau kenapa tidak mengungkapkan semuanya ketika itu.
Kemungkinan untuk "menjaga" dan "menghormati" kepemimpinan SBY.
[Apakah mundur sebagai pemecahan masalah ?]
Iya!
Kalau anda ada dalam partnership, dan anda sudah sangat tidak sepakat dalam hal besar yg prinsipil (saya berasumsi JK menganggap masalah BC adalah hal besar dan prinsipil, dan secara lateral berseberangan dengan SBY) dengan mitra anda, serta anda tidak bisa mengubah kebijakan karena putusan akhir memang wewenang mitra anda, satu2nya langkah paling masuk akal adalah mundur.
[Kemungkinan untuk "menjaga" dan "menghormati" kepemimpinan SBY.]
dan kemudian membantai SBY, sesudah JK tidak jadi wakil SBY.
Jadi mikir, coba JK dijadikan wapres oleh SBY, apakah JK akan teriak2? Dari pola di atas, amat diragukan.
"teriak2"nya tentu tidak akan terlihat ke masyarakat yang dipimpin mereka berdua.
Sebagai kenek angkot, kalo angkot dirasa mau ke jurang, JK harusnya teriakin sopir, kalo sopir gak peduli, teriak ke penumpang, atau loncat dari mobil.
Dan tidak perlu nunggu angkot sampai terminal.
Bukan begitu?
HE IS A POLITICIAN.
Sudahlah, mari kita lihat bersama-sama apa "akibat" yang ditimbulkan dari kasus century.
Kita doakan saja "kebenaran" yang akan tegak jangan lagi "pencitraan".
Yang menganggap para pemimpin adalah orang tua dan rakyat adalah anak yang tidak perlu tahu apa2 adalah khas orde baru atau orde tiran lainnya!
[NO POLITICIAN IS TO BE TRUSTED. That's the very first commandment of being a sane citizen.
HE IS A POLITICIAN.]
In order to be sane, I must not believe the story in this article.
Pendapat anda berdua benar adanya. Namun seperti kita ketahui belum ada kesiapan dan kedewasaan dari rakyat pemilih.
Buktinya dengan upaya "pencitraan", "good looking", "pengarahan opini" bisa mendapatkan hasil yang seperti kita ketahui.
Saya pribadi, sesungguhnya masih belum setuju / belum waktunya dengan pilpres langsung oleh rakyat pemilih.
Saya masih setuju dipilih oleh para ahli nya.
dan para ahlinya dipilih oleh rakyat per wilayah/area yang "mengenal" mereka.
Saya pribadi
Yang menganggap rakyat belum siap, bodoh, dan sebagainya adalah khas orde baru.
Kalimat anda persis yang diucapkan oleh soeharto dan para tiran lainnya.
Jadi, JK tidak siap untuk pemilihan langsung, begitu?
Silahkan saja anda tidak percaya namun saya sudah menyampaikan yang sesungguhnya walaupun sebagian orang merasa getir menerima kenyataan ini.
Jadi JK menyimpan protesnya atas BC agar bisa menang pilpres, begitu?
Wah, kekuasaan ternyata memang memabukkan...
Our people are not stupid. Even in the days of Soeharto they were not stupid. You only need to listen to the grass-root chats to see it.
Tidak, saya tidak pernah mengatakan rakyat kita bodoh. Namun kenyataannya biaya pendidikan semakin mahal di negeri kami.
Kenyataan sesungguhnya, yang saya tahu, sampai akhir masa "kebersamaan" dengan SBY, JK tidak berkeinginan untuk meraih kekuasaan RI1.
Pendirian beliau bahwa kekuasaan bukanlah sesuatu yang dicari namun kebutuhan untuk dipimpinlah yang menggerakan beliau untuk memimpin.
Sebagai contoh, ketika beliau bisa menjabat ketua umum golkar, sesungguhnya hanya karena beliau sebagai wapres.
Namun entah mengapa kemudian timbul "skenario" dan "arahan" yang mengakibatkan beliau "diminta" untuk mencalonkan diri sebagai capres. Padahal beliau sudah menyadari elektabilitas yang tidak memadai dan beliau adalah tipe "bekerja" saja bukan tipe "seolah bekerja".
Terhadap kasus BC, awal "seolah" protes yang dilontarkan JK sesungguhnya secara tidak sengaja ditimbulkan oleh kekeliruan SM menyebutkan "tanggal pelaporan" kepada JK.
Andaikan saja, SM tidak keliru, kemungkinan JK masih "menyimpan" dan "membiarkan" pada proses hukum yang berlaku
But I still believe that our people are mature enough to despise SBY's constant whining.
Namun masih banyak yang tidak peduli dengan arti "5 menit menentukan 5 tahun kedepan" bahkan banyak yang memahami namun kenyataan nya mereka menggunakan hak untuk tidak memilih (Golput).
Ini sesuai dengan apa yang telah saya tulis bulan nov '09
http://politikana…/11/19/lelah
Siapa mereka ?
Seperti yang disampaikan oleh para "penghitung" / jajak pendapat, rakyat yang mengerti dan mengeluh terhadap kepemimpinan SBY adalah mereka yang dapat menerima informasi seperti pemirsa setia berita di tv, pendengar berita di radio, pengguna internet, pembaca suratkabar dan majalah berita dll.
Namun banyak rakyat yang penggemar sinetron, infotainment atau yang tidak memiliki media informasi sama sekali, atau tidak memiliki waktu sama sekali, semata-mata perjuangan hidup mereka tidak memahaminya karena tidak pernah sampai berita itu
They know. They simply don't care anymore.
They maybe simply don't care anymore.
Mungkin mereka lebih peduli,
"apakah mereka masih bisa makan esok"
atau
"apakah mereka makan apa esok"
atau
"dimanakah mereka makan dimana esok"
Menurut penilitian teman tentang pengaruh bahan kimia terhadap perilaku masyarkat, menyimpulkan bahwa memasyarakatkan MSG (vetsin) mempengaruhi tingkat kepedulian masyarakat. Juga pengaruh "gemar" merokok terhadap tingkat kepedulian masyarakat.
Karena pengaruh MSG (vetsin) dan merokok pada seputar atau paparan pada bidang syaraf .
Wallahu a'lam
masa alasan sesederhana itu...langsung mau dipecat?.....wah begitu berbahaynya ... para pembisik presiden......
Silahkan login untuk memberikan pendapat