Kapan Jadi Tuan!? 10
Kamis, 4 Feb '10 20:37
Kalau kita hubungkan demokrasi di Indonesia dengan fenomena kebebasan, maka ada semacam ketergantungan antar keduanya, semacam ketidakpastian seseorang atau masyarakat untuk berfungsi untuk, dari dan oleh demi bebas dan kebebasan. Jangan khawatir, saya tidak sedang meniadakan segala jerih payah bangsa kita dalam mengisi kemerdekaan. Rakyat telah bekerja amat keras, pemimpin sudah kerja seoptimal kemampuan, semua komponen bangsa telah berfungsi dengan baik untuk kesejahteraan maupun karena suatu hal untuk tetap memilih sengsara.
Tapi kritik saya, adalah barangkali akan bisa menumbuhkan kesadaran dan keberanian lebih dalam merintis ketidaksengsaraan, apabia pada tahap tertentu kita bersedia mempertanyakan seberapa jauh fungsi dan kerja keras kita. Kita tidak berputar-putar dalam bingkai hirarki budak-tuan. Seberapa jauh kita telah berusaha menerobosnya, baik dalam keseharian praktis maupun dalam tatanan dan system yang kita terapkan di segala bidang. Seberapa jauh kita bukan bercita-cita menjadi tuan dan karena itu kita tak mau diperbudak. Seberapa jauh kita telah menemukan rasa adil dalam kehiduapan social budaya, ekonomi, politik maupun bidang lainnya.
Jelas untuk berfungsi dan aktual dalam kebebasan, tak gampang. Kebebasan ada jodohnya: wawasan!. Bahkan kalau mau ideal, mesti poligami, yaitu kematangan. Matang dalam memilih dan memilah. Dan sayangnya kita adalah anak-anak narapidana yang malang itu. Penjara politik, structural, pendidikan, tuan, budak, guru, status. Ditambah penjara barang-barang impor yang kita kagumi, penjara budaya-budaya sampah yang kita gauli, penjara-penjara yang tak nampak sebagai penjara yang kita dekap erat. Kita masih terlalu mentah untuk bisa memilih dan memilah sebuah produk ideology. Akibatnya kita menjadi budak dan bukan tuan.
Dalam system nilai lingkungan yang terlampau berorentasi kepada loyalitas semu, kepatuhan semu, control semu, panutan semu dan persetujuan semu, anak-anak bangsa tidak punya cukup ruang untuk memroses kematangannya. Apalagi di bawah cuaca otoritas politik yang terlalu mesra mendekap sehingga kita hampir tak bisa bergerak dan bernafas. Di bawah kultur pendidikan formal yang terlalu men”tuhan”kan status. Lalu masyarakat umum dididik dan dicekokin oleh industry kebudayaan pop yang menggusur nilai-nilai religius yang menimpuki dan menimbuni bangsa. Maka, sesungguhnya kita sedang dibimbing untuk berkembang menjadi robot-robot dan budak-budak. Tak ada ruang dan peluang bagi kita menjadi tuan, yang ada hanyalah bahwa kita adalah budak. Ya, budak dari budaya sampah dan ideologi yang sejatinya adalah produk gagal di negaranya sana.
Tag: politik, demokrasi, birokrasi, nasional
Terkait:
-
Nasib Pemerintahan “Orange” George Soros di Ukraina
Jumat, 5 Mar '10 17:49 -
George Soros dan Bargain!?
Kamis, 4 Mar '10 17:11 -
Diskusi Lek Shomad
Rabu, 3 Mar '10 16:43
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Agus PW: Menarik
-
iloenx: Keren
-
Harlan Eryandi: Menarik
-
syafatain: Bagus
-
Wonggantenk: Penting
-
pujangga: Penting
-
botaksakti: Penting
-
ndableg: Menarik
-
dizzman: Menarik
-
yusro: Menarik
-
linus: Inspiratif
-
conscientizacao: Menarik



KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
Memang, kalo dipikir lebih jernih, betapa absurd pilihan manusia yang menyerahkan kebudakannya kepada sesuatu yang diciptakan manusia itu sendiri, apalagi sesuatu itu terbukti gagal di negeri di mana sesuatu itu diciptakan. Absurd tapi nyata.....
http://politikana…-tanpa-kelas
http://politikana…ukang-perahu
Harlan Eryandi: Iya prof, nampaknya kita terlalu bangga dengan kesulitan itu prof..... hehehehe
Wonggantenk: Yup.
Dh2L: Tuhan selesai= semunya selesai. http://politikana…u-objek.html
botaksakti: Waduh,.... met sore pak .....
yusro: Wah, sayang sekali pak yusro: nggak ada garansinya, makanya nggak di tarik produsennya, hehhehehe
conscientizacao: Sedang menikmati linknya conscientizacao: . Matur nuwun.
pall:
Silahkan login untuk memberikan pendapat