Sebar Uang 9
Kamis, 4 Feb '10 17:40
Saudaraku™, beberapa jam lalu saya terjebak dalam kemacetan hebat di atas fly over Semanggi menuju arah Grogol. Penyebabnya, ternyata, adalah hamburan uang tunai yang disebar seseorang, persis di depan pintu gerbang utama Gedung DPR-MPR. Para pedagang asongan berhamburan karenanya. Jalanan pun jadi macet total.
Apa yang dikehendaki dari pelaku penyebar uang di depan Gedung DPR Senayan tadi siang? Gelap. Tak ada seorang pun yang tahu, bahkan konon massa perebut itu pun tak sempat melihat ciri fisik sang dermawan “kurang ajar” itu, saking sibuknya mereka berebut hamburan uang, hingga lupa mengamati sang pelaku.
Kelakuan sang penyebar uang itu tentu saja menimbulkan banyak tanda tanya. Misi apakah kira-kira yang diperankannya, hingga untuk melakukan derma saja harus dengan cara-cara yang teramat atraktif seperti itu.
Begitu banyak sisi yang bisa digunakan untuk menganalisis perilaku sebar uang itu. Bagi Anda yang begitu konsentrasi dengan masalah politik, tentu akan segera menghubungkan dengan lokasi di mana uang itu disebarkan. Ya, uang itu disebar tepat di depan gedung yang telah menjadi lambang supermasi dan episentrum berbagai bentuk kegenitan politik yang melanda negeri ini.
Penyebar uang itu pasti sudah memperhitungkan dengan cermat. Bahwa menebar uang di lokasi strategis itu pasti akan menimbulkan daya sensasi yang tinggi. Ibarat memancing ikan, lokasi itu adalah semacam lubuk di mana setiap pemancing selalu berharap akan mendapatkan ikan sebanyak-banyaknya. Dalam konteks ini, tujuan itu sudah berhasil. Media massa telah menyebarkan kehebohan itu secara instant.
Masih dalam kerangka analisis politik othak athik gathuk, barangkali saja penebar itu sengaja melancarkan sindiran kepada para penghuni gedung megah itu. Bahwa yang diperlukan oleh rakyat kini adalah uang, sebagai metafora dari kebutuhan hidup. Bukan hanya sekadar sajian melodrama percekcokan yang terus-menerus menjejal dan (tentu saja) tak mengenyangkan.
Lain halnya jika analisis didudukkan dalam kerangka psikologi. Seorang psikolog pasti segera akan menuduh bahwa si penebar uang itu adalah penderita ”kelainan jiwa”. Sikap kedermawanan yang dilakukan dengan cara seperti itu jelas-jelas menyimpang dari aksioma perilaku seseorang yang berpredikat ”waras”. Mudahnya, ia adalah orang ”gila” yang sedang mencari perhatian.
Masih dalam bingkai analisis yang sama, psikolog juga akan mengatakan bahwa pemilihan lokasi penebaran uang itu mengandung maksud agar daya sensasi yang ditimbulkan relatif lebih meruyak dibandingkan kalau ia menebarnya di pasar tradisional. Semakin heboh dampak yang ditimbulkan, maka makin puaslah sang psikopat itu. Sesungguhnya, ini tidak jauh berbeda dengan perilaku seorang eksebisionis yang akan merasa sangat puas jika korbannya begitu kalut atas kelakuan yang ditunjukkannya.
Lantas bagaimana pendapat seorang yang memiliki kedekatan dengan dunia rohani. Kelakuan itu pasti dinilai sebagai hal yang berlebihan, jika memang tujuan sang penebar adalah untuk berderma. Dari sisi lain, bisa jadi sang penebar telah memiliki semacam nazar untuk menebar uang jika suatu tujuan tertentu telah dikabulkan Tuhan.
Bagi seorang ekonom, analisisnya pasti berbeda. Sebenarnya ada yang luput dari perhitungan si penebar uang yaitu adanya eksternalitas negatif. Maksudnya, ada semacam beban biaya (cost) yang harus ditanggung oleh pengguna jalan arteri itu. Taruhlah, uang yang disebar berjumlah Rp 1 juta, maka hal ini harus diperhitungkan dengan berapa kerugian yang ditimbulkan akibat kemacetan jalan itu.
Biaya kemacetan yang paling mudah dihitung dari keborosan bahan bakar yang ditimbulkan oleh macetnya arus lalu-lintas. Selain itu, jika diperhitungkan pula oportunity cost setiap individu pengguna jalan, dapat dipastikan bahwa uang Rp 1 juta itu tidaklah ada artinya. Kita tentu dapat menduga betapa berharganya ’waktu” di kota yang kapitalistik seperti Jakarta ini.
Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari peristiwa itu, setidaknya kita jadi tahu bahwa ada rakyat jelata – yang direpresentasikan oleh para pedagang asongan itu – tidak membutuhkan percekcokan. Ada pula pengguna jalan yang terpaksa harus telat menghadiri rapat-rapat penting.
Kedermawanan yang dilakukan dengan cara-cara yang tidak beradab, hasilnya hanyalah kemacetan jalan dan publisitas murahan semata. Wahai wakil rakyat yang menghuni gedung megah itu, tangkaplah pesan tersembunyi itu, sadarlah bahwa di luar gedung nan sejuk (yang selalu memancing munculnya kantuk) itu ada kehebohan sistemik. Bukalah mata dan telingamu lebar-lebar. ***
Jakarta, 4 Februari 2010.
Foto appear courtesy: bandung.detik.com
Terkait:
-
KPK di Ujung Tanduk...
Jumat, 19 Mar '10 17:54 -
Dokter pun Bisa Sakit, Bagaimana....?
Rabu, 10 Mar '10 08:59 -
trus apalagi?
Selasa, 9 Mar '10 17:50
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
em je: Bagus
-
yusro: Menarik
-
krisnov: Menarik
-
iloenx: Menarik
-
Logical Fallacy: Bagus
-
Harlan Eryandi: Bagus
-
syafatain: Bagus
-
Wonggantenk: Inspiratif
-
Icarus: Menarik
-
NOS: Menarik



KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
begitu ya mbah?
Kedua, sialnya saya tidak ada disitu pada saat orang tersebut bagi2 uang :hammer:
bukan kah kebenaran bisa diperdebatkan/ sekaligus bisa diperjual belikan di **pengadilan** hehehe
Silahkan login untuk memberikan pendapat