Toilet dan Peradaban 36
Jumat, 5 Feb '10 15:59
Dia melangkah dengan santai menuju salah satu kamar mandi yang tersedia di toilet umum milik warga Kampung Ngemplak Rejo, Situbondo. Ia tak menaikkan sarungnya, tak khawatir jika sarung itu bisa terperciki najis yang membuatnya tak suci lagi untuk digunakan shalat.
“Ndok kene mesti resik, Mas,” ungkapnya penuh keyakinan.
Sebuah toilet adalah sebuah dunia. Dari sana — barangkali– bisa terpantul sejumlah pokok soal yang lebih besar: ihwal perilaku, akses, juga perihal kesehatan yang mensyaratkan sistem sanitasi yang baik.
Sebuah jamban adalah sebuah dunia. Simaklah bagaimana sebuah artikel dari tahun 1927 yang muncul di koran “Soeloeh Indonesia” mengomentari soal toilet dan manusia Indonesia:
Di antara orang Indonesia, ujar sang penulis artikel, “Masih banyak yang lebih menyukai gubug daripada rumah, dan ada sejumlah pelayan Indonesia, bahkan, yang dapat mengotori WC ketika nyonya rumah tidak melihatnya.”
Benarkah itu tanda perilaku jorok warga bumiputera? Nanti dulu. Jorok atau tidak, untuk soal kutipan di atas, bisa jadi mengandung bias: siapa yang berhak menilai dan dengan standar apa jorok atau tidaknya diukur?
Frantz Fanon dan Mas Marco pasti bisa dengan sigap memberikan bantahan yang sama tajamnya.
Lagi pula, Londo-londo memang tak becus — juga tak niat — untuk memberikan fasilitas sanitasi bagi warga bumiputera yang sesuai dengan standar [dengan mengutip istilah Ivan Illich] “higienisme” Barat.
Bahkan hingga menjelang mampusnya rezim kolonial kulit putih itu, rasisme masih juga merembes pada soal buang hajat. Dalam sebuah laporan tertulis buatan tahun 1941 terbaca fakta seperti ini: “…Di bank-bank setempat, di pintu menuju jamban-jamban, ada empat papn yang digantung dengan pesan: 1. Pimpinan; 2. Staf [Kulit Putih]; 3. Orang Asia; [4] Juru tulis dan orang-orang lain.”
Kalimat Mas Marco ketika mengomentari persoalan jatah tempat duduk di kereta yang diskriminatif dan rasialis masih bisa digunakan untuk me-misuh-i situasi di atas: “Astaga, saudara-saudara! Bahkan di situasi semacam itu….!”
Artikel Soeloeh Indonesia terbitkan 1927 di atas sendiri sudah mengeluhkan tendensi diskriminasi macam itu. Sebagian dari kami yang mengenakan selendang asli [baca: sarung] atau kopiah Muslim, demikian tertulis, “…harus membuang hajat di jamban biasa.”
Pria itu, 83 tahun kemudian, juga bersarung dan berkopiah, tapi tidak lagi di jamban. Katanya, “Iki jenenge toilet, mas!”
Dan untuk soal yang terakhir itu, perkara toilet dan muatannya yang serius, silakan bertanya pada Slavoj Žižek.
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
kinanthi: Menarik
-
Striding Cloud: Menarik
-
lila: Menarik
-
yusro: Menarik
-
curiosity: Menarik
-
NOS: Menarik
-
empis2: Menarik
-
iloenx: Menarik
-
Harlan Eryandi: Menarik
-
Red-White Eagle: Menarik
-
pall: Bagus
-
mpokb: Menarik
-
Yudiantoro: Menarik
-
free7: Inspiratif
-
botaksakti: Menarik
-
krisnov: Menarik
-
ndableg: Menarik
-
syafatain: Bagus
-
namasayaratih: Menarik
-
jamur: Menarik
-
Agus PW: Menarik
-
Olas: Menarik



KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
http://ati.inias.…overview.php
seperti residen semarang yg sempat inspeksi jamban umum di masa kolonial
Jangan2 toilet itu masih sama dengan yang dipake soekarno, hatta, yamin dan yang lain saat rapat BPUPKI di Pejambon?
eh, kalangwan juga.........
Welvart Commisie. Wakakakaka.... para pejabat kolonial komisi kesejahteraan direndahkan dengan ditonjolkan akronimnya oleh Marco.
Dia memang jawara mempraktikkan bahasa sebagai aspal (anti) kolonial.
well hi, brader
Iku lak sopir, ya.....
*cuma sebentar kan...dan tetap OL dimari kan.
Pindah negara dan pindah karir jadi penyalur bantuan buat organisasi-organisasi india pendemo disana. Mayan, 20 persen per project demo.
..plus fasilitas buat expat disana lumayan oke lah.
sangat mulia. dan kita banyak sekali kosa kata untuk itu: toilet, closet, peturasan, jamban, kakus, jumblung, bla bla...
====
kalo soal organisasi yang mengerahkan pendemo, bukannya di sini juga marak?!....... bahkan komisinya bisa dinaikkan sak karepe dewe, gak cuman 20%, kali......
kalo soal fasilitas buat expat, pastilah bu krisnov gak suka....
antum mengatakan apa yang mau ana katakan. Akhwan ya akhi...
*gw ikut seneng deh kalo masa depan elo tambah oke.
@Darsina, gitu ya...lebih bela pall daripada gw, he.he.he.
@TS, sorry ye, pada ngebelet semua, jadi kemari, eh sampe sini masih antri toiletnya. he.he.he.
Ndak berlumuran darah kok.
Machiavelian aja, kalau warga mereka suka kirim agen bomber dan/atau nyalurin dana buat lsm demo di mari, warga kita sah-sah saja mengelola lsm pendemo di sana... apalagi kalau profitable
Kalau tetangga sampe kaco, khan oke banget, tapi kalau ndak pun, setidaknya dapet duit
krisnov: [@Darsina, gitu ya...lebih bela pall daripada gw, he.he.he]
===
bu krisnov, bukannya kali ini pall yang belain saya?
====
jauh lebih baik daripada mantan kiai atau pastor, ya bu krisnov. kali ini saya belain ukhti, lho... semoga kerasa.
Om Striding Cloud bikin analisis geopolitik terbaru dung..
mana tau ada input2 yg bisa dijadiin analisis baru
Silahkan login untuk memberikan pendapat