Pilih! Hidup Fana atau Sama Sekali Tak Ada? 13
Senin, 8 Feb '10 13:08
Jika ditanya dan ditawari dua pilihan, mana yang akan kita pilih?
Dilahirkan ke bumi untuk kemudian mengetahui bahwa ternyata hidup tak selalu mudah, untuk mengetahui bahwa kita menemukan orang-orang yang kita cintai untuk kemudian kelak direnggutkan darinya, dan untuk mengetahui kenyataan bahwa hidup tak abadi?
Atau yang kedua, memilih untuk tak pernah dilahirkan atau menjadi eksis hingga tak perlu merasakan kepedihan-kepedihan itu?
Tentu saja pertanyaan ini fiksi belaka. Faktanya kita tidak pernah ditanya. Kenyataannya kita telah mewujud sebagai individu saat ini.
Namun, pertanyaan ini bukan pula tidak mempunyai arti sama sekali. Setidaknya ini akan mengingatkan bahwa sebagai individu, eksistensi kita saat ini telah melalui proses yang begitu ajaib.
Semua alur ternyata begitu pas tanpa ada satu variabel yang meleset. Bayangkan jika sperma yang membuahi ternyata bukan sel yang itu melainkan satu yang lain, mungkin individu yang akan terlahir merupakan individu yang lain pula.
Dengan mengetahui ini, semestinya semakin tebal rasa penghargaan kita terhadap hidup. Memang bumi tak lagi kekurangan penghuni dengan 6 milyar manusia, namun jumlah ini sangat mungkin merupakan porsi kecil melalui proses yang begitu rumit yang kemudian survive dan eksis dari tak terhingga kemungkinan .
Apalagi jika kemudian kita sampai pada kesadaran mendalam bahwa hidup ini suatu saat akan putus. Paling tidak ini akan mematrikan semangat untuk melakukan segala sesuatunya sebaiknya, karena apa yang telah lewat hanya bisa ditengok melainkan tak bisa dipanggil kembali.
Apapun kondisinya sekarang, fakta tak terpungkiri menunjukkan bahwa kita telah eksis. Ternyata kita tak pernah diberikan kesempatan memilih. Ini tak menyisakan banyak opsi selain berusaha sekuat mungkin untuk menghargai hidup ini.
Tidak hanya hidup milik sendiri, melainkan juga individu-individu lain yang diberi kesempatan yang sama. Selain mengejar kepuasan sendiri, sesungguhnya kita memiliki tugas mengurangi penderitaan orang lain sekecil apapun itu, yang jikapun tak sanggup, setidaknya dengan tidak menambah rusuh.
Hidup semestinya dijalani dengan menghilangkan sekat dan batas. Standar yang kita gunakan semestinya adalah standar kemanusian, bukan agama, suku, kebangsaan, atau lainnya. Baik atau buruk seharusnya ditimbang akan manfaat atau mudharat sesuatu terhadap kemanusiaan secara universal.
Sudah seharusnya, menjadi tugas semua untuk menjadikan bumi ini tempat yang semakin baik dan ramah. Bagian terbesar masalah adalah buatan manusia, dan seharusnya dapat diselesaikan oleh manusia.
Kenyataan bahwa kita menjadi yang terpilih untuk eksis dan bahwa tak ada eksistensi abadi seharusnya jadi penggerak untuk memperlakukan hidup sebagai 'our most precious'.[]
Tag: sengsara, agama, Suku, hidup, kemanusiaan, Manusia, Eksistensi, abadi, eksis, fana, kesengsaraan, manfaat, sekat, standar
Terkait:
-
Pascal's Wager: Bertaruh akan Eksistensi Tuhan
Selasa, 19 Jan '10 12:51 -
Isu Agama dan Suku dalam Pemilihan Presiden
Senin, 29 Jun '09 12:31 -
Jangan Kawin Beda Agama
Rabu, 15 Apr '09 21:46
Media Terkait:
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
kinanthi: Menarik
-
Wonggantenk: Menarik
-
anti-fenomena: Menarik
-
Harlan Eryandi: Menarik
-
Olas: Menarik



KRMT Roy Suryo Notodiprojo, Anggota Komisi I DPR RI

Komentar:
Agar ayah dan ibu kita ada, harus ada 4 orang (kakek-nenek) yang bertahan hidup sampai mereka menikah dan melahirkan ayah-ibu kita.
Agar kakek-nenek kita ada, harus ada 8 orang.. dst.. dst...
Jadi, kalau rata-rata orang menikah dan melahirkan pada usia 20 tahun, maka selama 200 tahun sebelum kelahiran kita, harus ada 2.046 orang yang hidup sampai usia 20 tahun untuk menikah dan melahirkan keturunannya.
Jika salah satu dari orang-orang itu meninggal sebelum melahirkan keturunannya, maka eksistensi kita pun lenyap.
Dan sampai 50 tahun yg lalu, hidup sampai umur 20 tahun atau lebiih adalah sebuah karunia besar.
yang kedua mati muda.
paling sial umur tua.
iloenx: sptnya om dar termasuk yang sial ini
paling sial kawin tua.
paling sial kawin tua
Red-White Eagle: Darsina: Afrie: anti-fenomena: The happiest man is the one who doesn't have to worry about those at all..
Silahkan login untuk memberikan pendapat