Kritik Sebagai Obat 10

Selasa, 9 Feb '10 11:41

Lagi-lagi Presiden menanggapi berbagai kritikan yang ditujukan kepada pemerintah. Bagi beliau kritikan itu ibarat obat yang mampu menyebuhkan penyakit. Dengan dosis yang tepat dan dengan aturan yang sesuai petunjuk maka penyakit yang diobati tersebut dapat disembuhkan. Pernyataan tersebut beliau sampaikan dihadapan para peserta Rapimnas Polri di Mabes Polri, Senin, 8/2/2010.

Tidak salah memang menganggap kritik sebagai obat. Hanya mungkin pengandaian ini saya kira kurang pas jika seorang pemimpin yang menyampaikan. Pengandaian kritik sebagai obat bagi seorang pemimpin seharusnya adalah bahwa obat itu pahit dan harus ditelan manakala ingin sembuh. Lebih kepada proses. Bahwa seseorang yang menginginkan sembuh dari penyakit maka ia harus minum obat meskipun ia tahu bahwa obat itu pahit. Seorang pemimpin harus mau menerima kritik sepahit apapun manakala ia ingin keadaan negaranya baik dan tidak “sakit”.

Sebaliknya menganggap kritik itu obat yang mampu menyembuhkan lebih tepat diutarakan oleh rakyat.  Hal ini mengartikan akan sebuah pengharapan. Pengharapan akan adanya perubahan kondisi dari rasa sakit kepada kesembuhan penyakit. Orang yang sakit tentu mengharapkan akan adanya kondisi sembuh dan sehat. Dalam konteks sakit-nya pemerintahan tentu masyarakat punya keinginan akan “perbaikan kondisi”, siapa yang bisa menyembuhkan? Ya pemerintah sendiri.

Ibarat orang sakit, obat itu akan percuma diberikan manakala si sakit tidak mau merubah pola hidupnya. Seorang yang sedang sakit flu dan sudah minum obat maka ia tidak akan mengulang aktivitas yang menyebabkan ia sakit flu lagi. Maka pahitnya obat tentu memberikan pelajaran bahwa ia tidak akan mengulang kesalahan yang menyebabkan ia sakit agar ia tidak minum pahitnya sebuah obat. Orang sakit seperti ini adalah orang sakit yang tahu diri. Ia mempunyai kehati-hatian dalam mengatur hidupnya agar tidak setiap hari sakit dan tidak setiap hari pula ia harus menelan pahitnya obat.****

Berita : Disini


Tag: SBY, politik

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Media Terkait:

    Siapa saja yang merating artikel ini:

    Komentar:

    em je 0 0
    dimisalkan obat; obat pun banyak macam dan karakternya, ada yg bersifat analgesik, anti piretik, dekongestan, anti biotik, dll

    kalau bersifat analgesik ya hanya bereaksi ketika obat itu diberikan, setelahnya kambuh lagi, kalau antibiotik di konsumsi dengan cara tidak tepat ya bisa jadi penyakitnya malah jadi kebal, atau bila over dosis merusak sistem perlindungan tubuh si pasien

    entah pak beye menganalogikan sebagai jenis obat yg seperti apa
    botaksakti 0 0
    em je: menganalogikan sebagai es te em je...kali ???: D.....tapi hargailah Presiden, seperti himbauan gubernur sumsel kemarin.......: D
    Red-White Eagle 0 0
    em je: Yeah. Who knows, he might see it as "obat nyamuk bakar".... : D
    botaksakti 0 0
    Red-White Eagle: jadi dia sebenarnya mau ngomong kalau dia terbakar karena obat yang terus diuntalnya gitu : D???(adi guru meniko lho,kaliyan ndoro presiden kok "ngi(n)yek).....
    Agus PW 0 0
    botaksakti: dan Red-White Eagle: lha kalau yang diminum obat kuat gendong piye? : )) : D
    botaksakti 0 0
    Agus PW: gak ono, yang ada obat kuat "numpak"....aya-aya wae......: D
    Agus PW 0 0
    botaksakti: masalahnya kenapa obat kuat gendong? karena sekarang gendongannya udah mulai goyah tuh... mbok jamunya capek muter-muter gak laku-laku... : )) : ))
    botaksakti 0 0
    Agus PW: iki ngomongke op[o to iki ???ke mana adi guru tadi...???: D
    Agus PW 0 0
    botaksakti: ngomongke obat kuat buat pak BY. Piye to? Kang Red-White Eagle baru jualan obat di Denpasar... Kasihan dia panas-panas gak da yang mau beli ; ))
    em je 0 0
    botaksakti: Red-White Eagle: mengamati bagaimana pak beye beranalogi adalah bentuk saya menghargai beliau, saya tau membuat analogi yang bagus tidak mudah.

    saya jadi inget bagaimana pusing membuat analogi dari bahasan tesis agar seorang tukang becak menjadi jelas segamblang gamblang nya

    Red-White Eagle ; I think your translation is best reflect his analogy

    Silahkan login untuk memberikan pendapat