Kutunggu janjimu Di Kursi Goyangmu!! 0
Jumat, 12 Feb '10 16:40, dibaca 70 kali
Kata – kata diatas itulah, mungkin yang sekarang ada dibenak pikiran dan angan – angan seluruh rakyat Indonesia, pasca pilpres 08 Juli 2009 lalu. Mudah – mudahan, ada jawaban dan respond positif yang akan didapat oleh rakyat Indonesia. Rakyat berharap banyak pada pemimpin yang jadi saat ini, rakyat menaruh harapan, dan perubahan besar pada bangsa Indonesia ini.
Oleh sebab itu, saat ini adalah saat dimana rakyat menunggu janji dari sang pemimpin. Maka sudah saatnya pula untuk mereka, (pemimpin) mendengarkan aspirasi rakyat yang telah ikut mengantarkan mereka pada tampuk kepemimpinan. Sadar atau tidak pada diri masysarakatlah mereka dapat duduk di parlement maupun kursi kasta teringgi di Indonesia ini. Rakyat harus lebih kritis menanggapi janji – janji pada waktu kampanye. Dan kita harus terus memantau janji mereka. Karakter manusia yang pada dasarnya selfish, mementingkan dirinya sendiri. Saat kepentingan diri mulai tercapai, seseorang meninggalkan kenyataan bahwa hidup sebagai inter hominem esse (berada diantara manusia).
Rakyat harus segera memerangi karakter pemimpin yang mementingkan dirinya sendiri. Hanya rakyat, dari rakyat, untuk, rakyat dan kembali pada rakyatlah yang ditunggu oleh rakyat saat ini. Maka sudah saatnya pemimpin rakyat saat ini melakukan apa yang dikatakan dari rakyat untuk rakyat, dan kembali kepada pada rakyat.
“Menyemai Kembali Arti Sebuah Janji”
Janji bisa diartikan pada sebuah pulau ditengah – tengah lautan ketidak pastian. Maka janji tanpa ada pasti hanyalah “suoro tanpo rupo” (suara tanpa ada bentuk) . Ketidak pastian janji memang sangat tidak dihormati oleh manusia. Ada unen – unen jawa Aji ning Dhiri Ana Lathi yang artinya harga diri terletak pada ucapan. Ketika kita ingkar janji kepada orang lain, maka disitulah orang akan hilang kepercayaan terhadap pengobral janji, beda dengan orang yang selalu menepati janjinya, maka orang tersebut akan selalu dihormati. Apalah arti sebuah janji bilamana hanya kata – kata yang tanpa terealisasi atau terbukti
Sebelum pilpres akan dilaksanakan pada tanggal 08 Juli 2009 lalu, semua pasangan capres dan cawapres mendapat kesempatan untuk unjuk gigi atau yang lebih kita kenal dengan sebutan kampanye. Kampanye tidak lepas dari kata - kata janji, maka dengan ini kampanye bisa diartikan sebagai salah satu janji. Pandangan filsafat moral menguatkan janji itu di ibaratkan sebagai " harapan untuk menemukan pulau - pulau kepastian di tengah lautan ketidak pastian". Jadi sebuah janji akan jauh dari harapan kepastian, karena mencari harapan janji bagaikan mencari harapan ditengah - tengah ketidakpastian. (Kompas, 16/07/09)
Perlu adanya tombak tajam dibelakang mereka ketika mengingkari janji tersebut. Maksudnya adalah sanksi hukum bagi orang – orang yang hobi mengobral janji. Di Thailand, publik pernah mengajukan petisi ke pengadilan saat sang pejabat dianggap mengingkari janji – janjinya. Lewat pengadilan itu sang pejabat bisa di beri sanksi berupa kehilangan jabatan. Di negeri kita sejumlah lembaga mulai melakukan hal serupa. Pernah Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) melaporkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke polisi karena dinilai telah gagal mewujudkan sebagian janji politiknya. Perkara laporan itu belum berbuah, itu adalah hal lain. (Kompas 16/07/09).
Namun langkah yang dilakukan oleh LPI tersebut telah memberikan shock terapy, bagi para penjanji (politik) yang lainnya. Dan mudah – mudahan langkah yang dilakukan oleh LPI ini dapat menjadi budaya yang menjadi alat penagih janji (politik) yang hampir sudah menjadi budaya di Indonesia. Dari hal ini kita dapat memantau perkembagan realisasi dari janji tersebut. Lemahnya budaya penagih janji politik di Indonesia menjadi salah satu terwujudnya janji – janji yang tanpa pasti – pasti.
Sekarang bangsa kita memiliki pemimpin baru, sudah saatnya kita mengasah tombak untuk menjadikan senjata yang akan memburu para pengobral janji. Kita catat janji – janji mereka pada waktu kampanye, dan kita pantau pada realisasinya. Bila mereka telah mengingkari janji, maka mereka harus siap ketika tombak hukum memburu dan mengadilinya. Kita tidak boleh membiarkan karakter pemimpin kita yang selalu enggan mewujudkan janji – janji (politik) pada waktu kampanye. Rakyat akan selalu merindukan dan akan mencari kepastian di dalam bangsa ini. Sudah saatnya rakyat bergerak merdeka, diatas bumi demokrasi, yang konon artinya dari rakyat, untuk rakyat, dan kembali kepada rakyat. Dan rakyat akan menunggu dengan berkata “kutunggu janjimu dikursi goyangmu”
Tag: tag
Terkait:
-
Politik Transaksional
Kamis, 12 Agu '10 15:05 -
Perayaan Krisis Global
Selasa, 8 Sep '09 22:56 -
Tidak Tahulah...
Senin, 20 Jul '09 02:50
Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat