Bank Sumsel: Menolak Pajak 8

Rabu, 17 Feb '10 12:05, dibaca 118 kali

Harusnya tuturan ini kuposting di Publikana. Namun kupikir untuk "menggempur" birokrasi "Jalur Politik" masih lebih afdol dari "Jalur Publik". (Iya apa iya, sih?)

Tersinggung

Sebagai TC (Temporary Calo) aku tersinggung ketika memasuki ranah Samsat Kota Palembang, sebab ada papan pengumuman dan spanduk yang menyarankan agar para Wajib Pajak tidak berurusan dengan Calo. Mengurus Sendiiri Lebih Cepat.

Aku kesana untuk membayar Pajak Kendaraan Bermotor kepunyaan Bos.

Namun agaknya tidak mudah menjadi warga negara yang baik, teladan dan taat sekaligus bijak. Jatuh tempo 2 (dua) hari lagi, tapi sebagai pebisnis bos ndak mau terlambat. Keinginan itu tidak didukung oleh para keparat aparat Pelayan Adimnistrasi Satu Atap itu.

Karena mesti ambil Bukti Kepemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB) dulu ke kantor Leasing, jadinya ke Samsat setelah jadual istirahat. Pukul 13 teng, loket dibuka kembali, pukul 13 lewat 16 berkasku masuk. Untuk diproses dan diteliti.

Apa nyana? Berkas itu diteliti hingga pukul 14 lewat 15, sangat lama ku rasa, untuk sebuah kendaraan yang baru 2 (dua) tahun dipakai.Mungkin karena kinerja karyawan tertanggu oleh para Calo yang sangat bebas memasuki ruang kerja mereka. Sementara aku antri menunggu panggilan.

Begitu Resi Pembayaranku terpanggil dan diterima, Aku pun buru-buru ke loket Pembayaran di Kantor Kas Bank Sumsel.

Menolak Terima Pajak.

Sekali lagi, apa nyana? Ternyata loket sudah TUTUP. Walau disitu tertera masa pelayanan hingga 14.30. Penunjuk waktu di HaPeku, masih 14 lewat 16 (automatic time on: Telkomsel) sementara jam dinding di ruang Pekerja Bank Sumsel memang sudah 14 lewat 30.

Aku dan beberapa Wajib Pajak lain yang juga "diterlambatkan" terpaksa menunda Bayar Pajak hingga esok. Kami ada sekitar 20-30 orang, dengan nominal pembayaran rata-rata 1 hingga 3 juta rupiah.

Walaupun "dikeroyok" agar tetap melayani pembayaran pajak kami, petugas Bank Sumsel keukeh tidak mau melayani. Karena kami melihat, beberapa orang yang ditengarai Calo masih dilayani.

Usaha gagal. Yo, wis... balik bae...!

Cuma 30 Detik.

Esok harinya (hari ini) kembali lagi ke Bank Sumsel itu, dan eh, ternyata untuk melayani pembayaran cuma butuh 30 detik saja. Artinya, kalau kemaren itu dilayani dengan memanfaatkan waktu 15 menit, ada Penerimaan Negara sekitar 30 hingga 50 juta yang bisa masuk ke Kas Negara. Artinya lagi, Penerimaan Negara itu TERTUNDA.

Nah, walaupun sudah dibayar ternyata Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) tidak bisa selesai hari ini juga. Mesti menunggu besok. Halah.... (balik deui...?, males...!)

Karena urusan "bakul" bukan hanya untuk bolak-balik ke kantor Samsat itu, sebagai Mantan Calo + Bodrek™ di IbuKota (baca: Polda MetroJaya) dan beberapa kantor Departemen di seputaran Jalan Merdeka, akhirnya, jurus lama yang sudah lama diendapkan pelan-pelan naik kembali ke permukaan.

Pintu Belakang

Kebelet??? Solusinya, mesti masuk "Pintu Belakang" dengan peluru "selipan" hanya 2 (dua) lembar kertas bergambar Sultan Mahmud Badaruddin II, dalam rentang 30 menit urusan selesai. STNK pun dicetak. (Ya... amplop...!)

Ampuh dan (masih) Mangkus juga Jurus itu, ternyata!

Saran: Walaupun anda bukan Calo, sempatkanlah Belajar untuk Menjadi Calo

Akhirul kalam, hehehehehehehehe..... heks! [ keselek :( ]


Tag: pajak, Palembang, CALO, Samsat, Bank Sumsel, Dispenda, STNK

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

botaksakti 0 0
dan bagi mereka (keparat) aparat itu, postingan ini diterjemahkan sebagai pujian......: D btw....gimana nulis dicoret begitu ???kasih tahu caranya dong,Kang...
kang tutur 0 0
botaksakti: lewat halaman HTML

[ Coret ]

aku jg coba-coba ajah tadi, e bisa ; ))
kang tutur 0 0
:O

< strike > Coret < / strike>

klo gak nongo jg, nanya admin deh : ((
Fight For The Future 0 0
kang tutur: That wouldn't work in the comment box, I assume?
kang tutur 0 0
Fight For The Future:

< strike > Mari kita Coba < /strike >

Mari kita Coba

... ?
kang tutur 0 0
Fight For The Future: Yes, it's not work : ((
Fight For The Future 0 0
kang tutur: If HTML is allowed in the comment box, well, there'd be heavier task for the server. Everybody would potentially try to use their own emoticon, their own stylish texts, their own pictures, and any other kind of bandwith killer. : D
kang tutur 0 0
Fight For The Future: betul betul betul...

#jadi inget prenster ; ))

Silahkan login untuk memberikan pendapat