Ganti Menkominfo! 38
Minggu, 21 Feb '10 22:33, dibaca 563 kali
Tulisan ini tidak bermaksud latah terhadap RPM Konten Multimedia atau sejenisnya, tidak juga karena benci atau tidak suka Pak Menteri, tetapi lebih kepada refleksi diri bahwa untuk menjadi pejabat publik perlu wawasan yang luas, termasuk intrik-intrik yang terjadi di dalamnya. Justru saya menulis ini karena sayang dengan citra Pak Tifatul yang baik menjadi tercoreng hanya karena kekurang cermatan membaca situasi. Saya percaya sekali bahwa Pak Tifatul orang baik dan cukup pandai, namun belum cukup mengenal kondisi birokrasi terutama di dalam Kementerian yang dipimpinnya. Beliau sendiri juga mungkin belum terlalu memahami seluk beluk dunia teknologi informasi dan komunikasi (TIK), apalagi trik-trik nakal dan culas yang biasa dilakukan dalam dunia birokrasi.
Dunia TIK baru belakangan ini menjadi perhatian pemerintah, sehingga menjadi semacam mainan baru bagi oknum pengusaha TIK untuk memperlebar sayap bisnisnya, mumpung aparatur pemerintah masih belum paham benar sehingga bisa disetir sesuai dengan keinginan oknum pengusaha tersebut. Mereka berlindung dibalik kata 'hak cipta' untuk melindungi proyek-proyek jangka panjang di pemerintahan, padahal mereka sudah dibayar dan untuk itu menjadi hak pemerintah untuk memiliki 'source code'nya. Aplikasi yang digunakan tidak interoperable dengan aplikasi lain sehingga terjadi pemborosan anggaran hanya untuk mengintegrasikan antar aplikasi. Aparatur pemerintah dibuat ketergantungan update dan pemeliharaan pada vendor tertentu, sehingga terjadi monopoli terselubung yang dibungkus oleh 'hak cipta' tadi.
Kembali ke laptop, dimunculkannya kembali beberapa RPM seperti Penyadapan dan Konten Multimedia yang konon telah dipersiapkan sejak tahun 2006, menunjukkan betapa lemahnya beliau membaca situasi dan percaya begitu saja kepada aparatur di bawahnya. Dua menteri sebelumnya mungkin sudah bisa membaca situasi sehingga RPM tersebut diendapkan begitu saja, sementara di kalangan birokrasi di bawah terus bergerilya untuk mengangkat kembali topik tersebut, dan menemukan momen yang tepat saat pergantian menteri. Mumpung masih baru dan belum mengenal situasi, dengan alasan sudah banyak menghabiskan anggaran untuk pembahasan dan perlu sosialisasi serta masukan, maka dikeluarkanlah RPM tersebut, yang hasilnya sudah kita ketahui bersama.
Ada dua kemungkinan mengapa RPM tersebut tetap dipaksakan keluar. Hudznudzhon saya, anggaran pembahasan RPM tersebut sudah keluar, dan tentu harus ada hasilnya kalau tidak ingin diincar oleh KPK. Jadilah apapun yang terjadi, output dikeluarkan, walaupun dengan outcome yang diluar keinginan. Su'udzhon saya, biasanya sih ada free rider yang selalu memanfaatkan momen tertentu untuk mengangkat kembali isu tersebut sekaligus mengambil keuntungan dari kisruh pembahasan RPM tersebut, minimal kalau berhasil dialah yang akan memeroleh manfaat terbesarnya. Saya yakin, niat dari peluncuran RPM itu baik, tapi selama ada free rider yang memanfaatkan RPM tersebut untuk membuat mulitafsirnya itu yang dikhawatirkan oleh kita semua.
Akhir kata, sebaiknya Bapak mengundurkan diri saja daripada kebaikan Bapak selama ini tercoreng hanya karena ketidakcermatan Bapak mengawasi pekerjaan bawahan. Bila masih betah dengan alasan tidak ada undang-undang yang mengatur pengunduran diri, manfaatkan waktu tersisa untuk bekerja keras mengenali bawahan Anda secara cermat. Perhatikan mana bawahan yang ABS, yang idealis, yang diam-diam ingin mengatur Bapak, dan sebagainya. Salah memilih orang kepercayaan, cepat atau lambat dapat menjerumuskan Bapak ke dalam jurang yang paling dalam.
gambar diambil dari: http://www.arrahmah.com/index.php/news/read/4570/pks-tidak-berniat-paksa-orang-pakai-jilbab
Tag: PKS, Tifatul Sembiring, kominfo
Terkait:
-
Salaman ala Sunda
Jumat, 12 Nov '10 01:33 -
Menteri Penggati dari PKS
Sabtu, 20 Feb '10 21:04 -
Apa Kabar Pak Tifatul Sembiring ?
Senin, 1 Feb '10 09:11
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
botaksakti: Bagus
-
ipool: Menarik
-
Xaliber von Reginhild: Menarik
-
Tunjung: Bagus
-
ndableg: Bagus
-
lila: Bagus
-
anti-fenomena: Menarik
-
NOS: Menarik
-
Harlan Eryandi: Menarik
-
Smart: Menarik
-
Ibnu Muslim: Bagus
-
missmaharrani: Penting
-
yusro: Menarik
-
Yudiantoro: Menarik
-
em je: Penting
-
ataufani: Menarik
-
Har: Menarik
-
Mihael Ellinsworth: Menarik
-
conscientizacao: Menarik
-
Black Horse: Menarik
-
RETROVIRUS: Menarik
-
Mr Blues: Penting
-
Sobruto: Bagus

Komentar:
tifsembiring: Baru dr LN saya tanya sopir,"min bgmn soal rpm,
katanya rame?". Min:"Nggak pak, bagus kok jalannya". Yaaah, maxudnya rpm mobil !!???
9:40 PM Feb 19th from UberTwitter
tifsembiring: Ini dulu,"Min, siapa yg ttd naskah proklamasi".
Min,"Bukan saya pak, sy cuma masukan brkas2 ke tas bpk". Kdg2 ada hiburan, tdk suka jngan bc
8:59 PM Feb 20th from UberTwitter
usul ganti, siapa gantinya bung?...
Di lingkungan PNS meski kerja banting tulang, lembur sampai jungkir-balik kalo bukan jenis pekerjaan yg ABS tidak akan dinilai krn yg menilai memang atasannya.
Saya melihat pak mentri sebenarnya kebinggungan dengan tugas yang diberikan padanya..dan ga tahu apa yang harus diperbuat...tapi tuntutan kerja tetap harus ada "hasil"..jadinya gini..deh
jadi wajar aja menteri tidak tahu rpp. dan benar, RPP di bahas menggunakan dana. dan biasanya tidak selesai satu tahun. salahnya tif adalah membela rpp itu di barcelona, padahal dia belum baca.
[...hak pemerintah untuk memiliki 'source code'nya...], ini tergantung negosiasi dan kesepakatan awalnya....
[...sebaiknya Bapak mengundurkan diri saja...],
Mengundurkan diri adalah sikap yang lari dari tanggung jawab, maka apapun masalahnya... dipertanggung jawabkanlah...
Ahhh kiraen serius, SBY cuman gertak sambel doang
Tunjung: keliatannya begitu, bingung karena banyak masalah yang harus dihadapi
NOS: yoi bos
gulu toklek: he3x... ketauan lagi konco sejenis
Ning: memang awalnya begitu, tapi pengalaman saya mengatakan, setelah jadi, mereka ogah2an ngasih code nya dengan alasan klise, padahal mereka lupa kita yang bayar lho!!!
ini bukan masalah lari dari tanggung jawab, tapi daripada mempertanggungjawabkan perbuatan orang lain yang tidak dipahami benar oleh beliau, lebih baik mundur daripada terus menerus jadi bemper orang2 di belakangnya yang punya kepentingan tertentu
Mr Tiffi suruh jadi uztadz + tukang pijit istana aja. Beres.
TS saya yakin bukan orang "bodoh". Pasti ia bisa mikir. Kalau ia mau saja menuruti sesuatu yang ia tahu tidak baik, saya berkesimpulan ia bukan orang yang tepat menjadi pemimpin.
Pemimpin harus berani ambil risiko. Jelek ya jelek. Bagus ya bagus. Jangan lempar tanggung jawab.
BTW, kemane aje pak? Lama ya kita tak ngobrol...
Istri: Ayah, tifatul itu masih muda ya? Trus orangnya keliatan simpatik. Kasian juga dari kemaren di 'hajar' terus sama orang2. Sama kamu juga. Dia kan susah juga jadi pemimpin.. bla bla bla bla....
Gue: Dia istrinya lebih dari satu *sambil nyetir*
Istri: WTF??!!!! *langsung berkicau against him*
*Mission accomplished*
"Klarifikasi ini perlu disampaikan, dengan tujuan untuk memberikan kejelasan secara utuh bahwa sama sekali tidak ada substansi yang pernah dipertentangkan, karena kami tidak mungkin mengatakan apapun informasinya kepada para wartawan pada khususnya dan masyarakat pada umumnya yang bertentangan dengan Menteri Kominfo pada khususnya dan para pejabat Kementerian Kominfo pada umumnya."
Ok. Bagaimana "cara" memahaminya ya?
conscientizacao: tambah gak mudeng ane, dasar ABS!
saya sangat ikhlas kok..!!
saya rekomendasiin free7 aja.. he..he..
conscientizacao: doh! mumet
RETROVIRUS: ah ane kan tidak dalam posisi diganti atau tidak diganti, kebijakannya saja diperjelas dan 'dipercerdas' drpd diganti ama RS? Modyar
Silahkan login untuk memberikan pendapat