Mem"buddha"kan Gus Dur 15
Sabtu, 20 Mar '10 01:18, dibaca 156 kali
Kontroversi Gus Dur Bapak Pluralisme Indonesia masih berlanjut, meski Gus Dur sudah berpulang. Beberapa seniman asal Jawa Tengah menyambut gelar Gus Dur Bapak Pluralisme yang disematkan oleh Presiden SBY di Pesantren Tebuireng, Jombang, dengan memahat patung Budha berkepala Gus Dur.
Ide “membudhakan” Gus Dur dalam bentuk patung itu bermula dari keinginan para seniman pahat untuk menghormati dan mengenang mendiang Gus Dur sebagai pejuang pluralisme Indonesia. Dari ide itulah, Cipto Purnomo, aktivis Komunitas Seniman Borobudur Indonesia membuat patung Budha berkepala Gus Dur yang diberi tema “Sinar Hati Gus Dur.”
Pematung Gus Dur: Saya Tak Berniat Lecehkan Buddha
Meski patung Gus Dur yang menyerupai Buddha diprotes oleh umat Buddha, namun sang pematung, Cipto Purnomo, mengaku tidak berniat melecehkan Buddha.
"Saya saat menciptakan patung itu melihat bahwa patung itu adalah bentuk simbolis. Bukan maksud dan tujuan saya untuk melecehkan agama tertentu," tegas Cipto di rumahnya, di Desa Blangkunan, Muntilan.
Cipto berkilah bahwa apa yang dilakukannya bukanlah pelecehan kepada Budha, tapi justru bentuk pujian kepada Budha, karena dia melihat adanya nilai-nilai kebaikan yang sama-sama muncul dari Buddha dan sosok Gus Dur.
"Gus Dur seperti kita ketahui, dengan umat lain tidak memusuhi, malah terjalin hubungan yang baik. Apalagi di negara kita banyak agama dan kepercayaan yang bisa diterima," tegas Cipto.
Kekaguman Cipto terhadap Budha memang tak perlu diragukan lagi. Tahun 2009 lalu, Cipto adalah meraih rekor MURI sebagai pembuat patung Buddha terkecil di Indonesia berukuran 8x4x5 mm dari emas.
Cipto menceritakan, awal mulai membuat patung ini adalah ajakan dari pemilik Studio Mendhut, Sutanto, dalam rangka memperingati 40 hari wafatnya Gus Dur. "Seminggu sebelum acara dilangsungkan di Studio Mendut, saya dihubungi Pak Tanto untuk membuat patung," tegas guru SMP Muhammadiyah 1 ini.
Setelah memperoleh ide dan imajinasi, dia memilih sosok Buddha. Menurutnya, karya seni tercipta secara subjektif dari seniman itu berdasarkan imajinasi dan hasil pengamatan di lingkungannya.
"Saya dekat dan dibesarkan di lingkungan Candi Borobudur. Siapa yang tidak kenal dan tidak mengaguminya," tegas Cipto.
Keluarga dan pendukung Gus Dur tak keberatan Gus Dur di”Budha”kan
Meski patung Gus Dur Budha itu kontroversial, namun keluarga Gus Dur sama sekali tidak keberatan dan bisa memakluminya sebagai bentuk ekspresi seni.
"Kita tangkap itu sebagai bentuk kecintaan seniman kepada Gus Dur," kata menantu Gus Dur, Dhohir Farisi.
Memang diakui Dhohir, tidak ada dari panitia atau seniman yang bersangkutan meminta izin mau membuat patung tersebut. Namun keluarga tidak mempermasalahkan.
Suami Yenny Wahid menambahkan, sudah diinformasikan oleh para seniman, mereka akan kembali mengadakan kegiatan serupa di Magelang untuk memperingati 100 hari wafatnya Gus Dur. Menurutnya, publik masih belum banyak tahu kalau Gus Dur juga dekat dengan komunitas seni.
Bagaimana tanggapan Yenny Wahid soal patung Gus Dur itu? "Yenny juga sudah lihat gambarnya. Kita ketawa saja, ada patung Gus Dur pakai peci putih dll. Inilah ekspresi seni," pungkasnya.
Resiko tokoh Islam berpaham Pluralisme
Menengahi kontroversi patung Gus Dur Budha tersebut, Abdurrahman Yusuf Chodori mengatakan, berbagai cara telah dilakukan masyarakat untuk tetap menghidupkan nilai-nilai yang diajarkan Gus Dur. Antara lain pluralisme, humanisme dan kebangsaan.
"Melalui para seniman, mencoba menuangkan ide kreatif tersebut melalui seni rupa dan patung," kata Yusuf.
Yusuf menjelaskan bahwa para seniman sama sekali tidak bermaksud melecehkan Budha, tapi hanya mengabadikan pluralisme Gus Dur dalam bentuk patung.
"Sebetulnya niatan dari teman-teman seniman Magelang itu untuk menggambarkan tentang betapa sangat pluralisnya Gus Dur tanpa maksud lebih dari itu," kata Gus Yusuf.
"Waktu itu saya dimintai komentar dan saya pun menjawab Gus Dur tidak hanya milik orang Islam dan jika dilihat dari ekspresi seni itu wajar dan sah-sah saja," lanjut dia.
Meski para pemahat patung itu tidak menjelaskan secara detil tentang paham pluralisme, tapi mungkin mereka ingin menunjukkan nilai humanis dan kebaikan ternyata masih ada pada manusia.
Terkait:
-
Politik itu Kreativitas
Selasa, 27 Apr '10 06:06 -
Gitu Saja Kok Repot?!
Rabu, 14 Apr '10 14:44 -
Loyalitas Jurnalisme Kepada Publik
Senin, 5 Apr '10 19:55
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Kaboel: Menarik
-
Delpazir: Penting
-
GaraMata: Menarik
-
Veuillez entrer:
-
krisnov:
-
BRAM'S: Menarik
-
lila: Menarik
-
ndableg: Bagus
-
Harlan Eryandi: Menarik

Komentar:
jangan jangan besok ada lagi patung Yesus bermuka Gusdur...
Kalo Rasulullah Muhammad jelas tidak boleh divisualisasikan dalam bentuk apapun, termasuk patung dan lukisan. Kurang kerjaan !
http://www.nassau…/ironman.jpg
mem·ber·ha·la·kan v memuja dan mendewakan, pemahaman & penggunaan kata di http://politikana…mment-186543 tidak tepat?
Ngaku2..
Silahkan login untuk memberikan pendapat