Pembredelan Akun di Web 2.0 40
Kamis, 1 Apr '10 02:45, dibaca 912 kali
Ternyata bukan kepala negara diktator saja yang main sensor kalau "kepentingannya" keserempet. Tapi tidak berarti juga kasus ini karena serempetannya mengenai pucuk pimpinan lembaga tempat bernaung media sosial yang senada dengan Politikana ini.
Kasus pembredelan, atau akun yang kena ban, di Politikana juga pernah terjadi. Tapi bisa dipastikan bukan karena menghina punggawa Politikana, karena di sini "menghina" hanyalah kata yang ingin dihindari, dan senang digantikan dangan kata mengkritik.
Kalau user-nya pundungan kayak pembantu, di sini juga sering terjadi, dan itu bisa dipastikan karena "kritikan" yang sudah sulit dibedakan dengan hinaan/celaan. Makanya lalu berkembang subtle sarcasm, sarkasme "diam-diam". Tapi kebalikan dari yang pundungan, di sini juga ada yang "anjing menggonggong kafilah berlalu", belagak budeg. Mau dikasih sarkasme model apa saja, kagak ngaruh!
Alhasil, kalau tidak kuat dicela dalam debat karena asal njeplak, biasanya langsung mental. Kecuali yang memang kuat mental, atau memang sedikit 'budeg'. Lha wong salah nulis kata saja bisa kena semprit! Apalagi asal njeplak tanpa argumen. Yang pake argumen saja bisa diatur supaya argumennya jadi salah, atau dipancing supaya keluar argumen yang kemudian jadi sasaran empuk buat ditimpuk dengan argumen balasan yang lain.
Saya jadi kepikiran untuk usul, slogan P diganti saja ala Tuvok, ""Kalau takut pedas, jangan makan cabe". Tapi ada juga sisi baiknya, saya jadi jarang menulis tanpa mengumpulkan bahan terlebih dahulu. Jarang komen asal njeplak, kecuali terpaksa.
Kembali ke topik. Kasus pembredelan ini terjadi di Kompasiana. Seorang user kena ban admin, yang diduga karena si user menulis sesuatu berkenaan dengan nama pejabat besar di jajaran pemilik media itu. Jakob Oetama. Artikel yang disinyalir menjadi biang kerok pembredelan akun itu berjudul " Jacob Oetama Bukan Guru Bangsa (06)".
Artikel itu jelas sudah tidak bisa lagi dibaca di sana, tapi bisa dibaca dari sini. Artikel itu sejatinya respon terhadap artikel lain, yang berjudul “Jacob Oetama Guru Bangsa Indonesia”. Berikut adalah kutipan dari artikel yang disinyalir bermasalah itu:
Namun, selama 45 tahun mengambil posisi diam dalam mencermati sepak terjang Kompas adalah mustahil. Sebagai koran terkemuka di tanah air, yang memiliki peran strategis di ruang publik, Kompas patut diberi apresiasi. Media ini telah teruji tampil mewakili aneka ragam pendapat yang kaya akan informasi dan pengetahuan. Karena itu, Kompas dan berbagai peristiwa nasional memiliki hubungan yang saling terkait. Dalam pengertian penyaluran informasi dan komunikasi kepada khalayak ramai, termasuk faktor-faktor kepentingan di dalamnya.
-------
Dari pijak itu, saya memandang bahwa, Jacob Oetama bukanlah guru bangsa, namun ia lebih tepat disebut sebagai “konglomerat pers”. Sebuah julukan yang sesungguhnya sejalan dengan keberhasilan Kompas sebagai sebuah media berbasis komersial (industri pers kapitalisme).
Pembredelan itu jelas menimbulkan respon dari user lain. Bahkan si "tersangka" kembali dengan kloningan, yang juga tetap kena "sensor" admin, karena isinya jadi misoh-misoh dan mulai menyerang satu pihak. Karena keberadaan media sosial dengan platform citizen journalism tampaknya tidak pernah dianggap serius oleh para jurnalis kawakan (karena dianggap karyanya amatiran, bukan karya jurnalistik melainkan hanya opini, dan seringkali mengabaikan etika jurnalistik), maka si user ini tampaknya juga tidak akan dapat perlindungan dewan pers. "Maaf, Anda hanyalah seorang amatiran", begitu mungkin jawaban Dewan Pers.
Pertanyaannya, apakah benar artikel yang nyerempet nama besar itu yang membuatnya kena gusur? Apakah karena tulisan seperti itu, kebebasan berpendapat bisa diberangus? Apakah ini bukan arogansi korporasi, yang karena punya kekuasaan atas tombol-tombol penting, maka ketika terjadi konflik, pencet saja tombol saktinya. Atau dia cuma korban admin galau yang sudah seminggu nggak kebagian jatah?
Ah, sudahlah. Sudah ngantuk saya. Mau tidur dulu ah.
Foto: Dari sini.
Tag: kebebasan berpendapat, Kompasiana, politikana trivia, demokrasi 2 0
Terkait:
-
Jangan Percaya Media Sosial.... Loh?
Rabu, 22 Jun '11 20:38 -
P & K : Politikana Segeralah Berbenah
Kamis, 6 Jan '11 13:02 -
Bukan Agen Ganda
Senin, 22 Nov '10 09:13
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
NOS: Penting
-
alakazam: Penting
-
Black Horse: Penting
-
Cicak Bin kadal: Penting
-
anti-fenomena: Penting
-
xvader: Penting
-
hamatamu: Penting
-
em je: Penting
-
botaksakti: Penting
-
yusro: Penting
-
GusBushTom: Penting
-
kopisusu: Penting
-
Nazil: Penting
-
Ibnu Muslim: Penting
-
Rakai Mamrati: Penting
-
enda: Penting
-
l. wiji widodo: Penting
-
Icarus: Penting
-
jamur: Penting
-
ndableg: Penting
-
Yudiantoro: Penting
-
iloenx: Penting
-
vlisa: Menarik
-
Coulrophobia: Penting
-
krisnov: Bagus
-
boiga: Penting
-
ipool: Menarik
-
pradaksina: Penting
-
namasayaratih: Menarik
-
LCFR: Penting
-
Harlan Eryandi: Penting
-
Striding Cloud: Penting
-
curiosity: Penting
-
neilhoja: Penting

Komentar:
Sebutlah, sejak 32 tahun Orde baru berkuasa, pengertian kritis dari sisi pendekatan media publik yang dipraktekkan Kompas, cenderung menempatkan posisinya sebagai relasi kekuasaan. Hasilnya, Kompas tampil sebagai industri media raksasa, yang kemudian menjadi kekuatan yang diperhitungkan di era reformasi saat ini.
Dari proses itulah, Jacob Oetama bangkit sebagai konglomerasi media dengan jubah industri pers bernama: Jurnalisme damai. Yakni, kemampuannya dalam mengantarkan kejayaan 32 tahun Orde Baru dan sekaligus mengawal dan meraup keuntungan dari 12 tahun perubahan reformasi.
Masih ada kalau yang artikel asli, yang positif...
he.e.
tp menarik memang
"Warga AS bercerita pada temen "sovyetnya", kami masyarakat Amerika Serikat punya kebebasan dalam berpendapat, kami bisa memaki-maki presiden tanpa takut ditangkap. Temannya "sovyet"-nya menjawab, "kami juga bebas memaki-maki presiden AS tanpa ketakutan ditangkap dan diinterogasi oleh KGB"
*kang conscientizacao punya account di kompasiana?
No way! I feel like I betrayed P if I did that...
Awalnya saya dapat kabar ini dari teman di kantor, yang warga K...
The Crow: Kapee
*loginnyasalahjuga™
Mimin kompasiana suruh main di Politikana...belajar menghargai perbedaan setajam dan separah apapun.
Politikana emang paling woke !
*pengen rasain di ban
Setahu saya banyak user lain di K yang membuat artikel pembelaan atas beliau. Cek aja dulu Uda...
"Kalau takut pedas, jangan makan cabe"
Mari kita tunggu pencerahan dari beliau...
hahaha... alasan yang sama denganku. meski ga sampe berbulan-bulan, tapi cukuplah buat pending beberapa tulisan...
Jacob Oetama Bukan Guru Bangsa
http://visibaru.c…og&Itemid=80
makasih bang conscientizacao yang telah mengurai pendapat saya dgn jernih dan menarik... salam kenal
Faizal Assegaf
Silahkan login untuk memberikan pendapat