Lebih Penting Mana: Merasa Benar atau Tanggung Jawab? 148
Jumat, 2 Apr '10 04:18, dibaca 966 kali
Artikel conscientizacao tentang lapak sebelah di sini, memicu pertanyaan di atas. Apalagi dari comment2 yg ada, saya menangkap ada nuansa kecaman terhadap tindakan admin Kompasiana. Saya sendiri termasuk yg menyemangati Faizal Assegaf, secara memang pernah bertemu langsung beberapa kali.
Dalam artikel saya di Kompasiana (baca di sini), saya sendiri menganggap penyematan titel "guru bangsa" itu sebagai:
agak terlalu menyanjung dan melebih-lebihkan
namun mencoba tetap proporsional mengingat konteks tulisan saya adalah liputan kejadian dari sudut pandang orang biasa atau jurnalisme warga. Kalau kita pernah belajar teori jurnalistik, harus diakui tulisan Faizal yang diduga memicu pem-ban-an ybs (tulisannya yang di Kompasiana sudah dihapus admin, tapi masih ada di sini) murni opini kritis ybs, sayangnya tanpa landasan argumen yg memadai. Tapi saya tetap tidak sependapat bila tulisan itu dianggap "keras" apalagi mengkritik boss Kompas itu. Maka, tak layak bila hanya karena tulisan itu Faizal di-ban. Apalagi cuma karena menolak titel "guru bangsa" sembari menyematkan titel lain yaitu "konglomerat pers".
Setelah saya amati, tampaknya sudut pandang "Kompasianer" vis a vis secara frontal dengan "Warga P". Di sana, yg namanya "harmoni" lebih dikedepankan. Maka, jangan harap diskusi "die-hard" ala P bisa muncul di sana. Akan tetapi, ada sebuah hal positif pula yg terbangun, yaitu rasa saling menghormati, apalagi dengan cukup seringnya diadakan kopdar. Ini bisa muncul karena ada yg namanya "tanggung jawab", yaitu sebagian besar Kompasianer mencantumkan jati diri aslinya. Sementara di P, justru anonimitas yg dibela habis. Tulisan pertama saya di P misalnya (baca lagi di sini), mendapatkan reaksi penolakan yg luar biasa, apalagi saat itu jadi headline.
Sementara di P, sebagai media yang mengklaim sebagai "sarana untuk belajar demokrasi", mempertahankan pendapatnya sendiri sebagai benar tampaknya dianggap penting sekali. Sehingga, kerapkali terjadi perdebatan yang "die-hard" tadi. Karena kerasnya argumentasi, bahkan kerap informasinya "off the record" dan "A-1", maka "tanggung jawab" berupa pencantuman identitas asli pun menjadi nomor sejuta alias tidak dianggap penting. Karena ternyata dianggap lebih penting melindungi diri dari "tangan-tangan jahil" yang mungkin tersinggung atas nama hukum kita yang mengakomodir "pencemaran nama baik" dan "tindakan tidak menyenangkan".
Saya lantas menyadari perbedaan karakter "warga P" dengan "Kompasianer". Maka, sejak itu saya mempelajari jenis tulisan di dua lapak ini. Dan, jadi jarang mem-publish (cross posting) tulisan yang sama di keduanya, kecuali tentu yang saya anggap cocok misalnya seperti tulisan tentang Gus Dur ini.
Karena itu, saya kembali pada pertanyaan yang menjadi judul:
"Lebih Penting Mana: Merasa Benar atau Tanggung Jawab?"
Tag: politikana, kompas, harmoni, identitas, Kompasiana, anonimitas, Faizal Assegaf, jati diri
Terkait:
-
P & K : Politikana Segeralah Berbenah
Kamis, 6 Jan '11 13:02 -
Bukan Agen Ganda
Senin, 22 Nov '10 09:13 -
Pendatang Baru Mencoba Berbagi
Minggu, 24 Okt '10 11:05
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
conscientizacao: Menarik
-
anti-fenomena: Menarik
-
GusBushTom: Menarik
-
Black Horse: Menarik
-
Wonggantenk: Keren
-
Harlan Eryandi: Menarik
-
faizal assegaf: Menarik
-
neilhoja: Menarik
-
Ibnu Muslim: Menarik
-
krisnov:
-
boiga: Menarik
-
ndableg: Menarik
-
RD: Lucu
-
hamatamu:
-
iloenx:
-
rohanisyawaliah:

Komentar:
With your nickname covering your identity, shows you have no brave to reveal yourself & take responsibility like grown-up man.
Buat saya bukan pilihan. Web 2.0 is about responsibility. User Generated Content, artinya penulis lah yang harus bertanggung jawab. Thus, di sana ada hak jawab. Kalau ada yang tidak suka/setuju, tanyakan saja, protes saja.
Buat saya, konflik adalah sesuatu yang harus dikelola, bukan dihindari. Saya menolak pembredelan gagasan, se ekstrim apapun itu, karena semakin dibredel, justru menutup peluang untuk dikritisi. Padahal untuk mengkritisi sebuah gagasan, kita harus pahami dulu apa sebenarnya gagasan tersebut, dan apa pula konteks di baliknya.
Kecaman terhadap admin di rumah tetangga, silakan dijawab kalau dianggap tidak nyaman. Silakan gugat pengecamnya, kenapa bisa begitu. Diskusikan, saling pahami gagasan orang lain, semoga kita bisa menjadi lebih toleran karena berusaha memahami masing-masing gagasan.
salam
Omjay
Artikel saya pun bertanya soal itu:
"Tapi tidak berarti juga kasus ini karena serempetannya mengenai pucuk pimpinan..."
"Pertanyaannya, apakah benar artikel yang nyerempet nama besar itu yang membuatnya kena gusur? Apakah karena tulisan seperti itu, kebebasan berpendapat bisa diberangus? Apakah ini bukan arogansi korporasi, yang karena punya kekuasaan atas tombol-tombol penting, maka ketika terjadi konflik, pencet saja tombol saktinya. Atau dia cuma korban admin galau yang sudah seminggu nggak kebagian jatah?"
Itu semua adalah pertanyaan, karena saya sendiri tidak tahu jawabannya apa.
salam
Omjay
salam
Omjay
If you care enough to read the comment by hamatamu. in the said article of yours, you'd realize that the headline status of that article was part of the in-joke.
And by the way, I'm not that anonymous. If you care enough to read most of the other articles here, my identity is clear enough.
Kopdar is a good pastime, when I have the time. It's not an obligation. And nobody has the right to make it an obligation to attend it, or to make it an indicator of one's integrity.
If you don't like the way it is in Politikana, what the hell are you doing here anyway?
You think Kompasiana is better? Fine, you have every right to think so. Just like I have the right to choose Politikana and never even consider signing up to Kompasiana.
Funny english.
'brave' is not a noun. So the correct term is perhaps 'braveness', or even better: "courage".
...And of course, Edwin AKA The Crow AKA Red-White Eagle is not an anonymous. He's that feodalistic old-man ...err.... old-boy(?) from jogjakarta.
Sure.
You can always say that you are better because you are not anonymous.
But since you have that BIG political background, and involved in that-particular-party, supporting wiranto and all.... I prefer to be worse than you...
When dealing with people like you, courage is less preferable than safety.
Old man? Old boy? I prefer 'young senior citizen'.
[_Hey, don't take over the responsibility from pall! : D_]
Only quid pro quo, he talked about forex first!!! That supposed to be my thang!
[_Old man? Old boy? I prefer 'young senior citizen'._]
OK. Zhou Botong.
...
On the side note, the GajahWong and that other-one-that-serves-1.5 million- meal - whatsitsname, Do they have/oblige dress-code? coz u know, i dont want to add another faux pas into my collection.
Some pretentious-ass-holic-restaurants do that.
Unless of course Striding Cloud is disguising his true English. That would make him even better than pall and I combined.
#suddenlybacktoanonymously
btw gue pernah gabung ama Kompasiana tp males lanjut cos kurang greget.
nah kalo di mari nie
enak....
anonim lagi...
eitt *salahloginlagi*
Me and my twisted mind. I never learn.
Sometimes, it's a part of makin it HL, so everybody notice... Dunno if it so interesting for you...
But I think pall learned and improved her English academically.
her?
*Should I put the # thing to make it clearly? Oh, NVM, just like Striding Cloud said.
wha? whats wrong with my highschool grade engrish?
[ And if you think that Striding Cloud is pall, think again ]
But I don't know why it happened many times. In fact, it definitely clear that I was more polite and of course, never been so sarcastic as Striding Cloud is
Sama halnya persepsi orang tentang JO. Ada yang menjuluki Guru Bangsa ada yang menjuluki Konglomerat Media. Keduanya sah-sah aja, tak bisa dibandingkan dan tak perlu dibandingkan.
Begitu pula persepsi Anda bahwa di sana, yg namanya "harmoni" lebih dikedepankan, sedang di sini mempertahankan pendapatnya sendiri sebagai benar, itu sah adanya.
Diluar itu semua, tak ada pula hubungannya dengan anonimitas (Saya lebih suka menggunakan istilah nama pena). Toh orang yang berbicara keras tidak selalu orang yang nama penanya tidak sama dengan nama aslinya. Dan jangan lupa banyak orang menggunakan nama pena sebagai brand di dunia maya. Nrorokakung, misalnya, nama itu sama sekali tidak dimaksudkan untuk menghindari tanggungjawab Wicaksono, sebagai pemilik brand.
Oh ya, satu lagi, kalo nurut sampean Lebih Penting Mana: Merasa Benar atau Tanggung Jawab?
So you are actually saying that im not polite?
NICE. Youve finally lost your subtlety.
yusro:
Kadang anonimitas memang diperlukan, untuk menggali suatu posisi yang tidak sejalan dengan pandangan identitas riil di dunia nyata.
Sebagai latihan menjadi manusia yang adil.
Misalnya, katakanlah saya pro GM disini, tapi kenyataannya di dunia nyata bisa jadi pandangan saya sering bertabrakan dengan GM.
Pandangan pro-GM disini dapat saja saya pakai sebagai latihan menggali lebih jauh kesahihan posisi saya di dunia nyata.
Dari sudut itu, 'merasa benar' seringkali bukanlah posisi emosional, tapi posisi pilihan.
Saya memang mengikuti ketiga blok kroyokan yaitu Kompasiana.com, Politikana.com dan Publikana.com.
Ketiganya tidak dapat di generalisasikan... ada ciri ciri khusus masing masing blog. Salam Politikana.
*halahsalahloginlagi*
I haven't decided to end my anonymity. So I'm not going to conform or deny anything including sex
[ Misalnya, katakanlah saya pro GM disini, tapi kenyataannya di dunia nyata bisa jadi pandangan saya sering bertabrakan dengan GM. ]
Termasuk saat Anda terlihat seperti pro-SBY?
tapi aku heran, merasa benar, konsep itu bisa kutangkap. tapi soal tanggungjawab?
mungkin lebih tepatnya disebut mengedepankan harmoni kali ya..
but lately, i must confess, "Welcom to Politikana!"
Sure. He's not A saint. I donated on his campaign, not becoz hes great, but only becoz hes running against my personal enemy.
Hes not smart, sure. But when people went ballistic on every single thing he did, i sensed a niche controversy to reap.
SBY LAKNATULLAHHH!!
*bukankloningansilahkanditelusuri*
Buat saya tanggung jawab penulis itu nomor satu, tetapi dalam negara demokrasi perlu adanya kesempatan berbeda pendapat. Jadi bersilang pendapat seharusnya boleh saja terjadi.
Untung juga saya mampir di sini, karena saya juga mengira masalah tulisan JO tersebut yang membuat FA tidak diperkenankan log in lagi di sana. Terima kasih Omjay...memantau juga rupanya...
Nama saya juga berbeda dengan nama di KTP, tapi ini asli nama panggilan saya. Secara umum saya lebih suka nama yang memiliki relasi langsung dengan penulisnya. Kopdar merupakan ajang untuk lebih mengenal orang di balik nama penanya. Menurut saya dengan menghilangkan sifat anonim dari nama pena akan membantu penulis ataupun komentator untuk lebih bertanggung jawab atas tulisan maupun komentarnya. Kalau benar mengapa takut bertanggung jawab?!
Sesungguhnya, pagi dini hari saya menulis dalam sebuah catatan harian saya di blog pribadi saya berjudul:
Menjadi Bloger Sejati...
Usai jabat tangan dan foto bersama dengan Jacob Oetama (JO), Omjay membawa pulang sepetong kalimat pujian : “Jacob Oetama Guru Bangsa Indonesia…” Ada yang berbisik, kalimat itu titipan Taufik H. Mihardja, bos Kompas online.
Rupanya di ujung jari Omjay, klaim itu dianggap pantas untuk ditulis dan disuarakan. Bukan hanya laki-laki berpeci putih itu yang menundukan kepala kepada konglomerat pers. Namun bakat serupa juga datang dari Linda Djalil, mantan wartawati Tempo. Ia melayangkan sepucuk surat terbuka kepada JO. Isinya memutar cerita usang, kemudian dengan lembut kata-katanya merayap, menghamba pada kebesaran JO.
Penampilan konglomerat dan penguasa sering kali menyihir perasaan budak di hati dan pikiran mereka yang menghamba kepada materi. Kata Omjay, “…mampu membaca peluang tentang pak Jakob dari sisi yg berbeda.” Saya menafsirnya, “sisi yg berbeda” dimaksud adalah manut untuk mengais peluang.
Sejatinya seorang bloger adalah mereka yang bersikap kritis, tegas dan berpihak pada perasaan kaum yang lemah. Karena bloger itu lahir dari akibat tersumbatnya suara aspirasi di ruang publik. Maka tak heran, pendapat atau gagasan seorang bloger selalu mengambil jarak dengan berita dan opini yang diciptakan oleh mesin pers kapitalis.
Tepatnya, suara aspirasi bloger bertujuan mencerdaskan, membangkitkan jiwa yang bermartabat dan cinta keadilan. Bukan sebaliknya tenggelam dalam pujian atau manut pada konglomerat dan penguasa. Di situ letak perbedaan kita...!
salam hormat
Faizal Assegaf
contohnya, kalau anda bicara benar yang memberatkan para mafia, dengan efek keluarga anda semua mati. apa yang akan anda lakukan?
dan terkadang, dengan anonim, kita bisa lebih adil dalam melihat tulisan. tidak terpaku pada siapa yang bicara.
bukankah Ali sendiri bilang, "unzhur ma qoola wala tanzhur man qala"? perhatikanlah pada apa yang diucapkan, bukan siapa yang mengucapkan.
meskipun tentu, dalam kajian ilmiah.. rujukan nama tetaplah penting.
tapi, bukankah web 2.0, khususnya politikana bukan arena kajian ilmiah?
Nope.
I supported megawati when he supported SBY, then i supported SBY when he supported wiranto.
Hes actually on the same side as you are. You ORBA™!!!
Salut buat anda yang memiliki kepekaan dan kritis dalam melihat permasalahan. Tetapi sayang anda tak menggunakan pepatah "tak kenal maka tak sayang". sehingga terlalu berburuk sangka kepada orang lain yang belum tentu benar.
Sikap seperti itu tidak dianjurkan dalam agama manapun di dunia. Termasuk agama Islam yang saya anut.
Apalagi anda mengatakan bahwa saya menulis karena titipan bos kompas.com, hahahahaha. Lucu sekali anda ini. Rasanya itu fitnah yang tidak benar dan saya tak pernah mendapatkan titipan dari siapapun. Semua itu keluar dari hati saya yang terdalam.
Sebaiknya kita harus sering bersilahturahim dalam kopdar agar berburuk sangka itu sirna dalam bayangan mimpi anda.
Kemarin, saya menunggu anda untuk hadir di bebek ginyo, tapi sayang anda tak hadir. Padahal banyak teman-teman loh yang ingin juga berkenalan dan menyapa anda bukan hanya dalam ranah maya tetapi juga alam nyata.
Semoga Allah membersihkan hati anda dari berburuk sangka dan tidak melihat orang dari penampilan belaka.
Salam Blogger Persahabatan
Omjay
Saya tidak sepakat dengan Anda berdua.
Saya tidak sepakat bahwa JO sudah layak dipanggil "guru bangsa" oleh SAYA pribadi.
Sedemikian pula saya tidak sepakat bahwa "Sejatinya seorang bloger adalah mereka yang bersikap kritis, tegas dan berpihak pada perasaan kaum yang lemah".
Sekedar berbeda, sekedar pokoknya kritis, hanyalah sebuah sikap 'cute', bukan jiwa yang benar-benar kritis.
Apalagi jika isi "kritis"-nya berbau-bau fitnah.
Sdr faizal assegaf, tolong tunjukkan kepada saya bukti kata-kata Anda bahwa: "kalimat itu titipan Taufik H. Mihardja, bos Kompas online".
...dan terakhir, saya juga tidak sepakat dengan kompasiana membreidel Anda hanya karena istilah "konglomerat".
Seandainya saya dan rekan politikana lain main2 di kompasiana sedari dulu, tentunya Anda tidak akan dibreidel, tapi sekedar "dibantai" karena AsalNjeplak™.
maaf, klu bicara soal kejujuran mengapa artikel saya di hapus, judul2nya di ubah, dan lucunya ada sebuah artikel teman pun yg judulnya menulis nama saya kenapa di ganti oleh admin...?
Klu soal bisikan bos kompas online itu sebuah bisikan yg tersirat... bukankah sebelum omjay menulis judul Jacob Otama Guru Bangsa sama dengan usulan bos kompas online...?
Saya sudah pertanyakan kepada Pepieh melalui HP apa alasan mrk menutup akses login akun saya... tapi tidak ada jawaban tuh... banyak teman2 yg mempertanyakan hal itu namun sampai sekarang tidak ada komentar dari admin... Apa yg terjadi disitu membutuhkan kejujuran pikiran dan hati Omjay utk menjawabnya....
Kalau soal pernyataan Omjay yg menyanjung Jacob Oetama itu adalah hal Omjay... Tapi knp saya mengkritik JO lantas saya di bredel...?
Soal hubungan manusia dengan Tuhan itu hubungan pribadi... Dan bicara soal hati adalah kembali kpd sikap kita masing2
Salam FA
"...Ayo segera daftarkan untuk bertemu langsung dengan tokoh pers nasional, yang oleh sebagian masyarakat sering disebut sebagai salah seorang “guru bangsa...”.
________________________
ini pertanyaan saya ke beliu yg tdk dibalas olehnya:
“guru bangsa”…. hihihihi maaf boleh koreksi ya bang, tepatnya “konglomerat pers”… klu ikut bisa dikasih kesempatan untuk sampaikan kritik ke pak Jacob Utama ga…?
http://blog.kompa…edah-kompas/
oke ya saya mau jalan dulu, ntar kita diskusi lagi
salam FA
Terimakasih sudah ditunjukkan linknya.
Jika kemudian Taufik itu mengkultuskan seorang JO, lalu kenapa?
Lalu jika kemudian kompasiana membreidel Anda, mengapa pula yang dijadikan sasaran keluhan oleh Anda, adalah wijaya kusumah?
Apakah wijaya kusumah merupakan instrumen kompasiana?
Guru bangsa ni ye ! Artikel ABS apa lebay ya ?
dan terkadang kita juga bisa memperdebatkan setiap gelar yg diraih seseorang....
saya kira sah-sah saja jikalau ada yg menjuluki JO sbg guru bangsa.......
terminologi "guru" itu sangat interpretatif dan tentunya subjektif juga..........
*halahsalahlogintapiakubukankl oninganloh*
*ngelirik faizal assegaf sm wijaya kusumah*
*Langsung mules nih perut...
boring.
org bule aja gak pernah tuh ngurusin grammar. yg penting pesannya sampai dan gak ada misanderstending.
lagian ngapain sih ngomong inggris sama sesama org indonesia kalo gak ada konteks keperluannya? di forum berbahasa indonesia pula.
last-last indon ni jadi macam malaysia la plak. huehuhe
jangan2 wabah inferior gitu juga udah berjangkit di sini.
Nah lebih lucu lagi ngomentarin orang yang ngomentarin komentar orang lain di halaman komentar
Kalau menurut loe, menggunakan bahasa enggrish salah, ya pakai saja bahasa indonesia. Mau siapa juga pake bahasa inggris, loe tetep ngendonesia, sah-sah aja kok. Pusing amat.
Soal ngoreksi grammar, konteksnya adalah running-jokes yang sedang berlangsung. Si pall playgroundnya khan grammar, gw playgroundnya forex.
Waktu dia nyebrang ngomongin forex, quid pro quonya, gw nyebrang ngomongin grammar. Menurut loe salah? Fine, gw minta maaf.
Secara pribadi, menggunakan bahasa inggris mencegah gw maki2 kasar. Amat membantu.
[Bosan....kapan sih artikel ini ngilang dari HL ? ]
(setuju) setelah 24 jam bung.
*guiltypleasurebyenjoyingit*
*buka2 kamus*
menurut gua sih ngomentarin orang yang ngomentarin komentar orang lain di halaman komentar tuh udah bener.
kalo gua ngomentarin orang yang ngomentarin komentar orang lain di halaman depan rumah, boleh lah lu bilang lucu.
trus playground gua apa dong?
No one swears better than the Spics, and I'm sure the old friend of Dhanis would agree with me.
Candi.
The Crow:
[_My old line?_]
Thats becoz i agree with you.
Saya akui, kemampuan bahasa inggris saya memang buruk(selain matematika,semua ipa, ips, ppkn,bhs indonesia, agama, IT, jyah... kok banyak), padahal yo wis belajar dari kelas 3 sd, tetep aja! Thanks to translate google, I can't live without you (bener ga nih inggrisnya?)
[ Thanks to translate google, I can't live without you ]
Ora mesti. Mbok iki digoleki neng google translate nganti tuwek yo ra bakalan ono terjemahane
Trust me, he's a genius. Ask Wonggantenk and Marshall Rommel if you can't take my word on it.
The Crow: Makjang... saya disuruh belajar dari pak Dh2L? saya aja ga mudeng dengan tulisan dan komen2 beliau!
gpp mbak(?), tetap semangat. org jepang juga pake google translate kok, malah buat bikin kontrak bisnis segala.
bahasa inggris cuman alat, tujuan akhirnya mencapai target2 MDG. *halahh*
The Crow: Python opo meneh? Haish, tambah ga mudeng!
still HL....
lanjutkan (upss bukan nya salahlogin tp salahucap)
*pengen rasanya misoh2 dikompasiana
This is 'Hello World' in Assembly:
SECTION .data
msg db "Hello, world!",0xa ;
len equ $ - msg
SECTION .text
global main
main:
mov eax,4 ; write system call
mov ebx,1 ; file (stdou)
mov ecx,msg ; string
mov edx,len ; strlen
int 0x80 ; call kernel
mov eax,1 ; exit system call
mov ebx,0
int 0x80 ; call kernel
And this ise 'Hello World' in Python:
print "Hello World"
Notice the difference?
Maksudnya GusBushTom: yg ini kali
Plus links to other interesting articles (whether related or not). Articles in Politikana.
*sotoymie
eh, siapa itu di atas tadi? oiya, Rakai Mamrati! apa gak bisa nyari2 celah buat belajar enggrish dari teman2 yang lain ya? lumayan lho..
komentar sebanyak ini, si penulis baru nanggepin satu biji doang
*summoning The Crow *
no what-what ...
gua musti nyari2 celah buat belajar inggris dari teman2 yg lain di sini?
gak minat ah. di sinikan tempat bicara politik indonesia.
soal ngomong inggris, di kantor gua ada satu orang rekan dan 2 orang bos bule kok. tapi yg gua pikirin malah gimana caranya supaya mereka MAU belajar bhs indonesia.
mari jadikan bahasa indonesia sebagai tuan di negerinya sendiri.
Rakai Mamrati: Btw, in terms of typing on mobile, English is much helpful... And I know, my English is not the best...
waiting for HL again.
Neof Ana: T9 ya? T9 bhs indo juga udah ada lho.
http://m.kompasia…40&commented
*baru bangkit pascaterkapar karena flu*
Hanjakal kuring tinggaleun....
sori tdk langsung balas, krn seperti Fadjroel, sy jg tidak mantengin P atau K atau apapun tiap hari. cuma tulis, posting, tunggu bentar, dan kembali ke real world... paling baru balik beberapa wkt kemudian, yg bisa berarti berhari2
btw, sy sdh pernah hadir kopdar P pertama. waktu itu sy ngobrol paling lama dg Pak Didi, smp tamu lain sdh pada pulang. terus terang sy lebih tertarik pd aspek bisnis keluarga SalingSilang daripada gopol (gosip politik) yg bagi sy relatif lebih mudah didpt. kalau blm sempat kenal yg lain, mgkn krn keterbatasan waktu saja.
btw, anonimitas di sini adalah di identitas penulis, bukan di dunia nyata. kita bisa saja tahu siapa sebenarnya pemakai nickname tertentu di dunia nyata. tapi di tulisannya yg opini, ia tetap anonim. ini tdk sesuai dg kaidah jurnalistik. maka, bila ada masalah dg tulisan dan ada tuntutan hukum, pengurus P harus memilih antara menggunakan hak tolak -berarti harus siap dipenjara- atau menyerahkan saja identitas asli penulis bernickname. so, ini lebih ke soal tanggungjawab tadi. tdk masalah di dunia nyata warga P saling kenal, pembaca P tetap tdk tahu siapa gerangan penulis opini2 'die-hard' di P ini...
so, cukup sampai di sini. btw, buat faizal assegaf, dijadiin bahan tulisan malah cengengesan! dasar!
[pengurus P harus memilih antara menggunakan hak tolak -berarti harus siap dipenjara- atau menyerahkan saja identitas asli penulis bernickname] Have you ever read this? Really reading it? Between the lines? http://politikana…tentuan.html
In addition, the author is death!
#hey what we're doing in this expired article.
=======
Wah, anda memberi opsi yg terlalu sempit untuk punggawa P. padahal mereka punya opsi yg lebih baik jauh sebelum opsi Anda, sebagaimana komentar burung di atas yg menautkan syarat & ketentuan P.....
Di luar itu, saya kira artikel Anda itu sepantasnya ditujukan untuk DIRI ANDA sendiri dulu, sebelum ditujukan kepada warga di mari. Kenapa, implisit dalam artikel dan komentar Anda, Anda sudah lebih dulu MERASA BENAR, dan pada saat yang sama ketika ada banyak kritik atas artikel itu Anda tak sepenuhnya BISA atau MAU MEMPERTANGGUNGJAWABKANNYA. alasan Anda "....krn seperti Fadjroel, sy jg tidak mantengin P atau K atau apapun tiap hari. cuma tulis, posting, tunggu bentar, dan kembali ke real world..."
Ya, itu yg Anda mau klaim sebagai TANGGUNGJAWAB?????? menyamakan diri anda dg FR (wah setenar dan sibuk FR anda rupanya), dan implisit menuduh sebagian warga di sini tidak "kembali ke real world" seperti yng anda lakukan????? Mereka juga kembali ke real world tetapi mereka TETAP MEMPERTANGGNGJAWABKAN artikel mereka terhadap kritik dan sorotan warga lainnya, tahu.......
Dan, sekali lagi, sadar-atau-tidak-sadar, sengaja-tidak-sengaja, Anda sudah merasa benar sendiri dengan memposting artikel "Lebih-penting-mana-merasa-benar-atau-tanggung -jawab" ini di mari.........
Silahkan login untuk memberikan pendapat