Pancasila Belum Lahir 11
Selasa, 1 Jun '10 15:45, dibaca 629 kali
Seperti tahun-tahun sebelumnya, hari ini, 1 Juni, diperingati oleh bangsa Indonesia sebagai hari kelahiran Pancasila. Peringatan hari lahir Pancasila 1 Juni ini kembali diperingati pasca runtuhnya rezim Orde Baru. Dahulu saat Orde Baru masih berkuasa, peringatan 1 Juni ini dilarang.
Tepatnya sejak 1 Juni 1970, Kopkamtib melarang peringatan lahirnya Pancasila. Menurut Sejarawan LIPI Asvi Warman Adam, rekayasa sejarah lahirnya Pancasila berlangsung sejak awal Orde Baru dengan terbitnya buku tipis Nugroho Notosusanto berjudul "Naskah Proklamasi jang otentik dan Rumusan Pancasila jang otentik" (Pusat Sejarah ABRI, Departemen Pertahanan-Keamanan, 1971).
Dalam buku itu, Nugroho mengatakan bahwa ada empat rumusan Pancasila. Yaitu, yang disampaikan Muh. Yamin (29 Mei 1945), Soekarno (1 Juni 1945), berdasar hasil kerja Tim Sembilan yang dikenal sebagai Piagam Jakarta (22 Juni 1945), dan sebagaimana termaktub dalam UUD 1945 (18 Agustus 1945). Menurut Nugroho, rumusan Pancasila yang otentik adalah rumusan 18 Agustus 1945 karena Pancasila yang termasuk dalam pembukaan UUD 1945 itu dilahirkan secara sah (yakni berlandaskan proklamasi) pada 18 Agustus 1945.
Tujuan rekayasa Orde Baru adalah untuk mengecilkan jasa Soekarno dan melebih-lebihkan peran Soeharto. Selain memberi legitimasi historis kepada Jenderal Soeharto, itu dilakukan untuk menghilangkan peluang bagi pendukung (ajaran) Soekarno tampil di kancah politik nasional.
Nah, sekarang Pancasila sudah kembali diperingati 1 Juni. Lalu selesaikah sampai di sini? Tentu saja belum. Bahkan saya setuju dengan pernyataan “Pancasila belum lahir”. Anda pasti kaget dan bertanya, lho kok bisa?! Jadi begini, pernyataan “Pancasila belum lahir” itu dikatakan oleh guru saya di Filsafat UGM Prof Damardjati Supadjar. Dalam setiap kuliah Pancasila, Pak Damar yang dulu peneliti Pusat Studi Pancasila UGM ini selalu mengatakan Pancasila belum lahir karena Pancasila masih “batin”.
Bagi yang pertama mendengarnya pasti akan mengaku puyeng dan mengatakan, tesis gila filsafat macam apa lagi ini?! Hal itu yang dikatakan mahasiswa beliau dulu. Tapi sebenarnya itu tidaklah terlalu abstrak dan melangit seperti pemikiran filsafat kebanyakan. Simpel saja penjelasannya. Pancasila belum “lahir” itu artinya dia belum aktual di kehidupan. Pancasila baru sebatas konsep di dalam pemikiran atau “batin”. Lahir kan lawannya batin.
Ini tentu bukan argumen mengada-ada, Pak Damardjati yakin Pancasila belum teraktualisasi. Buktinya adalah belum dilaksanakannya sila ke lima pancasila: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Silahkan anda pikirkan, sudah adakah keadilan sosial di negeri ini? Sudah berjalan baikkah hukum sebagai instrument keadilan di sini? Jawabannya pasti tidak? Dan itu nyata terlihat di sekitar kita. Kesewenangan dan diskriminasi juga makin merajalela.
Saya masih hafal betul, Pak Damardjati mengatakan Pancasila di awali dengan Sila Pertama: Ketuhanan yang Maha Esa, yang merupakan entitas “batin” dan diakhiri dengan Sila ke Lima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, yang merupakan entitas lahir. Ideal sekali memang ideologi Pancasila ini, seperti konsep Al Quran di mana diawali dengan Surat Al Fatihah yang mencerminkan entitas batin, dan diakhiri dengan Surat An Nas, surat manusia, yang mencerminkan entitas lahir.
Keadilan memang suatu prasyarat kokohnya negara. Dalam Islam, prasyarat kokohnya negara adalah keadilan. Nabi Muhammad pernah bersabda: negara akan bisa tetap berdiri walau pemimpinnya kafir, tapi negara itu akan hancur jika pemimpinnya tidak adil. Jadi kalau ada yang mengatakan Pancasila bertentangan dengan Islam, sebagaimana sering diisukan aktivis pro negara Islam, saya kira mereka perlu belajar lebih dalam lagi. Maka saya tetap mengamini pendapat bahwa Pancasila belum Lahir.
Lalu yang diperingati pada 1 Juni ini apa? Itu hanyalah peringatan lahirnya Pancasila secara konsep saja alias “Pancasila Batin”. Selama keadilan sosial yang menjadi cita-cita Pancasila masih belum tegak, maka Pancasila belum lahir. Selama Pancasila belum lahir, dia hanya akan menjadi sebuah konsep yang menjadi bahan hafalan anak-anak sekolah.
tulisan lainnya bisa dibaca di http://dianwidiyanarko.com
Tag: Pancasila, keadilan, ideologi
Terkait:
-
PKS Bantah Mau Impor Revolusi dari Ikhwanul Muslimin Mesir
Kamis, 3 Feb '11 17:33 -
Pancasila Tidak Sakti atau Bangsanya(sedang)Sakit ?
Jumat, 1 Okt '10 10:44 -
Bahaya Laten Atheis-Komunis (?)
Jumat, 17 Sep '10 09:18
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
The Crow: Menarik
-
losun: Menarik
-
Samz: Menarik
-
Frost: Menarik
-
Black Horse: Menarik
-
botaksakti: Penting
-
jamur: Menarik
-
yusro: Menarik
-
GusBushTom: Menarik
-
Harlan Eryandi: Menarik

Komentar:
Kalo sekarang belum lahir, masih ada harapan umurnya masih lama/panjang. Coba kalo sudah lahir, dan sekarang sdh tua, berarti bentar lagi mati.
1. Ketuhanan: masih banyak orang yang rajin beribadah (ke pura, gereja, masjid, dsb)
2. Kemanusiaan: rasa kemanusiaan orang Indonesia masih tinggi. Contoh, jika ada bencana, bantuan dan relawan dari orang per orang masih banyak. Bahkan kasus Prita pun dapat perhatian sangat besar dari masyarakat karena rasa kemanusiaan.
3. Persatuan: walau Indonesia masih tertinggal secara ekonomi dibanding bbrp negara tetangga, tapi kita masih bersatu. Jika pun toh pernah ada yang mau memisahkan diri, tapi akhirnya tetap bersatu dalam Indonesia.
4. Kerakyatan/demokrasi?: sekarang sudah lebih baik, rakyat bisa memilih langsung wakil dan pemimpinnya.
5. Keadilan: kayaknya belum terwujud. Tapi apakah di masa lalu, ketika Pancasila banyak disebut, keadilan sudah terwujud?
Lagi badai, Bang! Ga keliatan... Kejaohan itu! Butuhnya sekarang mercu suar.
*cukup subtle ga ya?*
like this (FB mode on)
Silahkan login untuk memberikan pendapat