Karangan Bunga, Kado, atau Uang? 25
Jumat, 23 Jul '10 02:46, dibaca 981 kali
Iseng-iseng buka blog, ternyata saya punya draft artikel yang dibuat tanggal 25 Mei 2010 yang belum selesai. Berikut potongan draftnya
"Saat saya menulis, eh mengetik ini di TMP Kalibata Jakarta sedang berlangsung upacara pemakaman Alm. Hasri Ainun Habibie, istri B.J Habibie, Presiden ke-3 RI. Saya sendiri tidak begitu mengetahui sosok beliau dan baru lumayan agak tahu setelah profil beliau banyak ditayangkan media"
Waktu itu mungkin saya sedang ga mood nulis, jadilah dia teronggok dan terlupakan.
Sebenarnya, yang mau saya tulis bukan tentang Almarhumah, melainkan tentang pemberitahuan dari pihak keluarga bahwa jika ingin mengucapkan bela sungkawa tidak perlu dalam bentuk karangan bunga, melainkan dapat menyalurkan bantuan ke Yayasan yang didirikan oleh almarhumah. Hal ini sangat menarik perhatian saya, sehingga waktu itu saya cuma berpikir "orang mau berbelasungkawa kok ga boleh sesuai keinginan sih?"
Dan kemudian, saya mendapatkan pencerahan dari twitter tidak lama setelah itu.
Sebelumnya, kejadian ini sama dengan pengalaman saya waktu pertama kali melihat undangan pernikahan di mana di situ ada tambahan kalimat "Ucapan sebaiknya tidak dalam bentuk karangan bunga atau barang" atau ada gambar karangan bunga dan bingkisan kado yang dicoret. Waktu itu saya juga berpikir, matre amat nih yang mau nikah. Masa' orang ga boleh kasih bunga ata barang? Bolehnya kok cuma uang?
Seperti yang sudah saya tulis di atas, saya kemudian tercerahkan dan memperoleh jawaban atas pikiran salah saya selama ini. Bahwa bantuan berupa karangan bunga segede gaban itu tidak membawa manfaat bagi orang yang diberi ucapan baik sukacita maupun dukacita. Karangan bunga segede gaban itu, justru lebih memberi manfaat kepada si pengirim. Coba perhatikan karangan bunga segede gaban tersebut, selain ucapan suka/duka cita pasti juga dicantumkan nama pengirim yang tulisannya sebesar ucapannya. Sebagai contoh, ucapan selamat kepada sebuah perusahaan yang baru. Bagi si pengirim, karangan bunga segede gaban itu bisa menjadi sarana promosi bagi perusahaannya. Sedangkan untuk yang diberi ucapan? Ga ada, kecuali "oh... dapat ucapan selamat dari perusahaan X". Dan tentu saja nambah-nambahin sampah. Itu kalo perusahaan, nah kalo orang nikahan, di gedung pulak? Ya ga mungkinlah bawa pulang ke rumah karangan bunga segede gaban. Ngangkutnya susah dan cuma jadi sampah.
Berbeda kalo ucapan bela sungkawa itu dalam bentuk sumbangan kepada pihak yang membutuhkan, tentu lebih bermanfaat kepada pihak yang diberikan dan tentu saja tidak bikin banyak sampah. Oh iya, bukankah kalau tangan kanan memberi tangan kiri sebaiknya tidak usah tau?
Itu tentang karangan bunga. Bagaimana dengan 'gambar kado yang dicoret'??? Sebelumnya, ternyata terdapat perbedaan di tempat saya tinggal sekarang dengan kampung halaman saya. Sudah jadi kebiasaan di kampung halaman saya kalau memberi hadiah kepada pihak pengantin biasanya berupa amplop atau mentahan alias uang. Memberi kado pada pihak pengantin sangat tidak lazim, walau tidak dilarang. Berbeda dengan di sini yang sudah biasa memberikan hadiah untuk pihak pengantin dalam bentuk barang.
Dulu saya berpikir, kok matre banget kalo harus dalam bentuk uang? Bukankah barang juga bisa? Tapi, coba dibayangkan kalau semua orang memberikan hadiah dalam bentuk barang. Tea set, alat elektronik macam blender, mixer, juicer, kipas angin atau apalah, handuk, bed cover, tas, dan buanyak lagi. Bisa-bisa , ntar rumah pengantinnya penuh barang dan mereka terpaksa tidur di luar *halah*. Belum tentu juga barang yang diberikan memang merupakan barang yang dibutuhkan. Masa' barang pemberian mau dijual lagi? Huehehehehh. Mungkin ada yang berpendapat kalo bentuknya uang keliatan banget nominalnya, apalagi kalau sedikit, apalagi kalau sudah patungan sedikit pulak :P. Tapi sesedikit-dikitnya uang itu pasti tetap berguna lah ya...
Contoh lagi kalau kita menjenguk orang di rumah sakit? Siapa yang suka bawa buah? *ngacung* Lihat deh, biasanya oleh-olehnya bukan untuk orang sakit melainkan untuk yang nungguin. Akan lebih berguna kalau kita memberi bantuan berupa uang, apalagi kalo kita tahu yang mau kita jenguk dalam kondisi kekurangan.
Etapi, pintar-pintar liat kondisi juga. Jangan saat kita harus memberikan kado malah dikasih fresh money :D
Buat tukang bikin karangan bunga, maaf ya. Bukan maksud saya menurunkan barang dagangan Anda XD *dihajartukangkaranganbunga*
Cat: Artikel ini banyak mengambil bahan dari kultwit hotradero waktu itu. Ya maap-maap aja yang merasa pernah baca!
Tag: meracau di pagi buta, beginilah hasilnya
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Wonggantenk: Penting
-
botaksakti: Penting
-
anti-fenomena: Menarik
-
The Crow: Penting
-
Harlan Eryandi: Menarik
-
The 7: Inspiratif
-
Ibnu Muslim: Menarik
-
pradaksina: Lucu
-
Sun g: Menarik
-
pall: Menarik
-
jamur: Menarik
-
yusro: Menarik
-
parasit: Inspiratif
-
boiga: Bagus
-
TTTH: Menarik
-
Black Horse: Menarik
Komentar:
Jadi karena tujuannya adalah mengkonversi pemberian dalam bentuk uang, kita sebut: Teori Konversi.
Pas ultah, daripada kado/kue: mening duit. Pas pacaran, daripada bunga: mending duit. Pas selamatan, daripada nasi gak ada yang makan: mending duit.
Icarus? Daripada bagi-bagi kopi, mending bagi-bagi duit?
Seriously, I only give money gift for weddings and funerals. In the case of weddings, the money would come in handy for the newly wed couple. Contrary to romantic belief, the first years of married-life is a tough start, and monetary problem often makes it tougher.
In funerals, well, it's obvious enough. The money can't ease the pain, but it helps those left behind to deal with the funeral costs. And in the case where the deceased is the provider of the family, the money will help to lighten the family's financial burden, giving them some time to cope with it.
I never give money for any other occasion.
Either do I. But it's just after I screwed up with a wrong gift.
Everyone gives blankets and tea sets in weddings, that's too usual. And my friend is an Indonesian-Literature-graduated. So I gave her in her marriage a novel called Saman. Yes, THAT SAMAN
Unpredictably, her husband is a PKS member, who, of course, has a particular view upon the novel. So everything goes wrong now
Yes, in a strange way, money is free from ideology.
#apasihcurcol
Jelas, ideologinya neoliberal pemakan bunga riba!
Confirmed. Bahwa Anda adalah krisnov
The Crow: Di beberapa daerah, sumbangan (uang) dicatat, untuk kemudian 'dikembalikan' ketika yg bersangkutan bikin hajatan.
Tapi gak tahu ngitung inflasi apa enggak.
pall: Kata kelian banjar, dilarang memberikan sumbangan uang kepada anggota gepeng. Sebagai rakyat yang menjunjung taksu *huek!* saya turuti.
*mampir bentar, cabut ke Nusa Dua*
cukup 50.000 udah keliatan bawaannya, kalau dalam bentuk uang terlihat kecil sekali.
Itu kalo soal ngasih sumbangan. Kalo soal ngirim undangan gimana? Sekarang kan lagi tren ngasih undangan cuma via FB.
Padahal dulu gw ngirim undangan aja rapi jali, nama aja diketik spesial satu2, kalo tinggal si ibu ya ditulis ibu siapa (bukan direnteng Kepada Yth. Bp/Ibu/Sdr, gak dicoret pula).
#ikutancurcolbolehkan
--
blom lagi kalo ternyata yg menghadiahi tv ada 5, kulkas 3, repot urus tambah daya listrik ya..
Kalo ama temen2 si, foto undangan di masukin FB, ditag, udh cukup.
Tapi kayak gini sebenernya ada bahayanya juga. Kita gak bisa mendeteksi jumlah org yg datang. Kalo makanan sampe kurang kan gak enak. Kalo pake undangan model kuno kan, jumlah tamu bisa terdeteksi dg akurat.
Asal gak ngundang mahasiswa aja, undangan 1 yg dateng 5.
boiga: Waktu Menteri PU mantu, kabarnya udah bisa buka toko elektronik, karena TV, kulkas, kipas angin sampe puluhan.
Saya paham kalo jaman udah bergeser
Tapi kayaknya para sesepuh bakal ngomel2 kalo 'cuma' dikasih undangan elektronik.
Eit, berarti saya sudah termasuk sepuh dong
Kalau buat yg sepuh2 ya sebisa mungkin manual. Paling mentok email atau sms, tapi buat org dekat, ya jgn sms/email masal. Dibikin yg personal. Kalo saya si gitu.
Kata temen, kalo gak ada lagu baru yang kita suka, itu berarti kita udah mulai tua.
"cukup 50.000 udah keliatan bawaannya, kalau dalam bentuk uang terlihat kecil sekali.
ya memang, dan mungkin karna kita lebih ingin kelihatan, makanya kita pilih buah. Dan kebanyakan buah yg kita niatkan buat yg sakit biasanya dihabisin sama yg nunggu
Iya sih, sekarang banyak undangan yg via FB, dan menurut saya memang agak kurang sopan. Tapi itu tergantung kok masing2 orang sih. Tapi, kemarin saya dpt kiriman kartu undangan pernikahan teman di luar kota.
Silahkan login untuk memberikan pendapat