Mumpung 42
Jumat, 30 Jul '10 15:07, dibaca 257 kali
SaudarakuTM, tempo hari, ada pelajaran yang sangat indah yang saya peroleh dari sosok Mbah Mangun. Usianya sekitar 80 tahun, meski berjalan sambil terbungkuk-bungkuk, dari sana masih terbaca tegas sisa-sisa kegagahan fisiknya yang telah renta dimakan usia.
Sore itu, di saat saya sedang menikmati kembali hobi yang sudah lama saya tinggalkan, memotret. Di sebuah tegalan, di tebing sungai sebelah kampung, saya berpapasan dengannya. Tangannya yang legam mencangking dua buah cikal kelapa yang telah tumbuh tunasnya.
Mbah Mangun, memikul cangkul, berjalan tertatih sembari mendaki tebing sungai, jalan setapak yang tak begitu curam itu pun disisirnya dengan ringan. Ketika kutanya mau ke mana, ia menjawab dengan tegas: "menanam bibit kelapa di tegalan, mumpung masih tersisa tenaga untuk mengangkat cangkul, untuk ninggali anak putu," katanya dengan enteng.
Meski langit senja sudah memerah, dan momentum itu yang saya tunggu demi beberapa frame foto siluet, saya justru tidak segera menyiapkan kamera dan tripod. Semangat orang tua itulah yang telah memaksa saya untuk merenungkannya.
Betapa hebatnya semangat Mbah Mangun, orang yang sudah se-sepuh itu masih ingin menanam kelapa untuk kepentingan anak cucunya kelak. Kalimatnya terasa begitu menghujam, "mumpung masih punya sisa tenaga". Tentu bukan soal tanam-menanam bibit kelapa itu, tetapi semangat dan simbolisasi yang menyertainya.
Dalam pertemuan singkat itu, saya menangkap dengan jelas setidaknya ada dua kearifan yang muncul dari jasad kakek yang renta itu. Pertama, kearifan bahwa sesungguhnya kehidupan ini haruslah terjadi regenerasi secara adil.
Secara sosiologis, semangatnya merupakan kesadaran tingkat tinggi akan sebuah keniscayaan: hak generasi mendatang untuk mendapatkan sumber daya kehidupan secara layak dan semestinya.
Kedua, kearifan bahwa generasi tua wajib memiliki "semangat memberi" kepada generasi sesudahnya. Yang telah diberikan Mbah Mangun bukan sekadar sebatang pohon kelapa, tetapi ia telah memberi jalan lapang kepada anak cucunya. Ringkasnya, generasi tua harus menjadi generasi yang beradab yang bisa mewariskan kemudahan berupa tradisi, tata nilai kemasyarakatan yang lebih adil dan efektif.
Meskipun generasi tua ini memiliki hak untuk memanfaatkan peluang serta sumber-sumber kehidupan demi kesejahteraan hidup mereka sendiri, ternyata mereka tidak lupa akan hal yang juga dimiliki oleh generasi penerusnya.
Sejenak renungan saya melayang pada apa yang terjadi di sekujur kampung ini. Generasi tua, biasa memiliki sebidang tanah yang sering disebut dengan lemah gantungan (tanah yang menggantung). Yaitu sebidang tanah yang sebagai cadangan untuk dijual sebagai biaya penguburan dan selamatan jenazahnya nanti.
Artinya, orang tua seperti Mbah Mangun itu ternyata berpikiran sangat visioner, bahwa ia tidak ingin menyusahkan dan meninggalkan beban kepada anak cucunya kelak jika ia sudah meninggal. Ia tidak ingin mewariskan persoalan bagi generasi penerusnya.
Antitesa dari lamunan saya ternyata datang dari seorang sahabat. Ia berbalik bertanya: bagaimana dengan para pejabat negeri ini yang tengah sibuk menumpuk kekayaan dengan segala cara, tak peduli halal atau haram? Bukankah ia juga bermaksud memakmurkan anak cucu bahkan sampai cicitnya kelak? Lalu apa bedanya dengan Mbah Mangun yang menanam cikal kelapa itu?
Lha, kunci sebenarnya bukan pada harta yang dia tinggalkan, tetapi pada sikap dan asketisme dari perilaku mewariskan itu yang utama. Mbah Mangun mewariskan kemudahan dalam tata nilai yang adil dan efektif. Sementara itu, sepak terjang pejabat yang gedandapan (zig-zag) itu adalah kejahatan yang merusak tata nilai yang menjaga keserasian kehidupan. Kita harus percaya, bahwa kejahatan - meski dikemas dalam bungkus apa pun - tetap saja kejahatan.
Sampai di sini, saya masih tetap kagum dengan kata "mumpung" yang diucapkan Mbah Mangun itu. Tidak seperti orang lain yang memanfaatkan aji mumpung untuk memperkaya diri. Mbah Mangun justru memberi makna "mumpung" sebagai saat-saat akhir untuk mewariskan kebaikan.
Saya menghela napas panjang, ketika menyadari dan menyaksikan kenyataan yang terjadi di masyarakat metropolis kapitalistik ini. Alangkah banyak kewajiban kita terhadap generasi mendatang yang belum kita tunaikan. Alangkah banyaknya hak mereka yang belum kita wariskan berupa tradisi, tata nilai dan sistem kemasyarakatan yang adil dan manusiawi.
Begitu asyiknya saya tenggelam dalam pelajaran ini, sampai-sampai tidak saya sadari, matahari telah terbenam dan langit pun telah gelap, menghitam. ***
Yogyakarta, 30 Juli 2010.
Foto appear courtesy: herylink.blogspot.com
Tag: FILSAFAT
Terkait:
-
Siwaratri Kalpa dan Lailatulkadar
Selasa, 31 Agu '10 11:24 -
Shalawat
Jumat, 6 Agu '10 14:11 -
Tangis
Jumat, 30 Jul '10 07:46
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Maximillian: Keren
-
The Crew: Bagus
-
besok saja: Inspiratif
-
Fight For The Future: Inspiratif
-
Sadik: Inspiratif
-
Striding Cloud: Inspiratif
-
free7: Biasa
-
aridhaprassetya: Menarik
-
yusro: Menarik
-
Harlan Eryandi: Menarik
-
Moonlight: Menarik
-
anti-fenomena: Inspiratif
-
ndableg: Keren
-
Sukrosono: Inspiratif
-
Delpazir: Inspiratif
-
isnan: Menarik
-
em je: Inspiratif
-
zizix:
-
jamur: Keren
-
bung jopi: Inspiratif
-
kopisusu: Inspiratif

Komentar:
Sekali sekali, dituliskan lah Mbah, profilnya Ki Ageng, jejak langkah beliau nampaknya sangat keren buat dipelajari manusia jawa seusia saya ini, sekalian menapak akar kakek moyang saya.
Matur nuwon.
Salam keren
Nha, itulah yang mau saya konfirmasi ke Simbah Darmo, kabarnya beliau ini kenal dekat dengan pengikutnya Ki Ageng Suryomentaram, begitu.
walo saya bacanya sedikit mumet
Oh, ada ya ? Genealoginya masih punya artefak hidup ? Weits, keknya harus ikutan kajiannya nih.
Nais inpoh Gan. Cendol buat Agan....
Oh, ada ya ? Genealoginya masih punya artefak hidup ? Weits, keknya harus ikutan kajiannya nih.
Nais inpoh Gan. Cendol buat Agan....
Ooh......
Maximillian: Dulu beberapa kali masuk artikel psikologi di tabloid kesehatan. Coba saya cari yang online ada nggak...
Fight For The Future: Trah?
Lhah... khan... Mbah Darmo katanya adeknya Prof. Darmanto Jatman ?
Loe satu trah juga ya?
Yah pantesan sama2 punya sinar ningrat gitu...
rrrr.... whats the term.... teja?
I believe that there is certain DNA traits interpreted by some people as a sign of nobility.
It doesnt mean that i believe those who has em can instantaneously govern nor that its their birthright to rule.
I think those DNA traits were infused by anunaki...
*salahloginakut
Nyuwun pintungewu, mau rating isnpiratif, kepencet biasa, mouse agak error.... kejadian sering, abis "opsi biasa" persis di depan on click mouse .. hehe
Wahaha...MILF thought of the day detected..
I mean, from the lens of Javanese culture
Trah : genealogy
Some people think some gene contain nobility, including Hitler and the gangs.
But, the picture of Mbah Darmo: is similar with Prof. Darmanto Jatman, twin ?
Silahkan login untuk memberikan pendapat