Homoseksual Dalam Wacana Teks 66
Sabtu, 31 Jul '10 21:11, dibaca 191 kali
Oleh : Hartoyo*
Tulisan ini merupakan ringkasan dari diskusi bulanan Jaringan Islam Liberal (JIL), 26 Juli 2010. Tema diskusi kali ini berbeda dari diskusi sebelumnya, bahkan kali pertama JIL mengambil tema yang dianggap banyak orang sangat kontroversial, Homoseksual dalam Kitab Suci. Diakui oleh moderator diskusi yang juga “pentolan” JIL Abdul Moqsit yang mengatakan bahwa ini pertama sekali tema homoseksual diangkat dalam diskusi JIL. Menjadi sejarah sendiri bagi JIL maupun gerakan pembaharuan agama khususnya Islam dan Kristen dalam melihat persoalan seksualitas (baca: homoseksual). Mungkin pandangan banyak orang bahwa diskusi kali dengan kesimpulan bahwa homoseksual tidak dikaitkan dengan agama, artinya jika ingin bicara soal “kebenaran” homoseksual tidak dihadapkan pada teks-teks suci. Tetapi diskusi kali ini justru membongkar wacana teks kitab suci dalam konteks “keberpihakan” pada hak-hak kelompok homoseksual.
Diskusi kali membahas dari dua pandangan agama (Kristen dan Islam), dengan menghadirkan Bapak Ioanes Rahmat (Kristen) dan Mohamad Guntur Romli (Islam). Ioanes Rahmat sendiri berawal sebagai seorang pendeta dan juga pendidikan pada sekolah Tinggi Teologi Jakarta. Akhirnya dia mengidentifikasikan dirinya sebagai pengkritik pemikiran Teolog Kristen. Dia banyak menghasilkan beberapa tulisan dan buku. Salah satu tulisannya dapat diakses dalam blog pribadi bapak Ioanes Rahmat di http://www.ioanesrakhmat.com/. Sedangkan Mohamad Guntur Romli adalah pemikir muda NU yang juga aktivis pluralisme di Indonesia. Dia juga aktif menulis dan mengkaji Islam dalam konteks nilai-nilai kemanusiaan. Buku yang sudah dihasilkan diantaranya ; Ustad, Saya Sudah Di Surga dan yang terbaru Muslim Feminis. Untuk mengetahui pemikirannya dapat diakses dalam di http://guntur.name/. Diskusi kali ini di moderatori oleh Abdul Moqsith Ghazali, seorang dosen UIN Jakarta dan juga salah satu aktivis JIL.
Guntur menegaskan sebelum diskusi soal homoseksual, sebaiknya membongkar dan mempelajari dulu seksualitas. Guntur memberikan kritikan pada pemikiran sebelumnya soal pendidikan keadilan gender. Kajian gender selama ini masih sangat berwarna heterosentris, karena “hanya’ membahas soal relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan saja. Sudah banyak kajian-kajian gender dalam Islam seperti yang ditulis oleh Nasarudin Umar, Fatima Mernisi dan Leila Ahmad. Tetapi lagi-lagi pembahasannya masih seputar pembahasan soal hubungan laki-laki dan perempuan. Wacana seksualitas yang lebih luas masih belum dikaji,seperti persoalan identitas gender dan orientasi seksual.
Sehingga yang harus dilakukan menurut Guntur adalah ;
Pertama; membongkar kembali wacana teks-teks alquran mengenai persoalan seksualitas yang didalamnya persoalan homoseksual Kedua; Mengkritik dan memberikan wacana baru soal konsep gender yang masih sangat heteronormativitas (kebenaran pada heteroseksual), Ketiga ; menghentikan semua kemunafikan berpikir tentang seksualitas oleh dalam memahami teks-teks Alquran. Karena sebenarnya Alquran sendiri sangat terbuka dalam wacana seksualitas, walau masih sangat pada pijakan heteroseksual.
Guntur menegaskan bahwa selama ini pemahanan soal agama selalu berpusat pada Fiqih, tetapi nalar filsafat tidak berkembang. Sehingga cara pandang yang sangat kaku dalam melihat homoseksual. Sebenarnya kalau mau melihat teks-teks Alquran ada “cela” dalam persoalan homoseksual. Misalnya pada Q.S. Ali Imran 14, bahwa mencintai syahwat adalah perhiasan bagi manusia. Kemudian pada dikatakan bahwa orang mukmin (laki-laki) masuk surga selain ditemani bidadari (QS.Al Waqiah : 22, Al-Dukhan: 54) juga akan ditemani oleh perjaka-perjaka belia yang tidak pernah jadi tua seperti :“ Perjaka belia yang tidak pernah jadi tua” (QS. Al Waqiah : 17), “ Perjaka belia untuk mereka (laki-laki) yang bagaimakan mutiara tersimpan rapi (QS. Thur : 24), “ Pemuda-pemuda yang tetap muda usia, bila kau melihatnya kau kira mutiara bertaburan (QS. Al Dahr : 19).
Ayat-ayat itu selain sangat bias heteroksesual tetapi pada sisi lain sangat bias tua. Artinya bahwa kenikmatan seksual hanya dapat dirasakan dengan pasangan anak muda. Kalau dalam konteks sekarang brondong (anak laki-laki muda). Ayat itu justru menjelaskan ada ruang hubungan seksualitas selain heteroseksual dan satu lagi sangat terbukanya wacana seksualitas dalam Islam.
Berbeda dengan Guntur Romli, jutsru Iaones rahmat bicara lebih “radikal”. Dalam ini Ioanes justru menjelaskan bahwa teks-teks dalam alkitab yang bicara soal homoseksual tidak ada yang secara jelas mengutuk atau melarangan homoseksual. Terdapat 20 rujukan teks dalam perjanjian lama dan baru. Dari teks itu ada tujuh teks yang bicara secara jelas soal homoseksual. Dari pandangan kelompok konservatif (evangelikal) melarang dan mengutuk homoseksual. Tetapi pandangan itu ditolak oleh kelompok Kristen Liberal (Progresif) dan mengajukan tafsir yang berbeda dari ke-7 teks tersebut. Ketujuh teks itu adalah,Kejadian 19,Imamat 18:22,20:13, Roma 1:26-27,1 Korintus 6:9-10,1 Timotius 1:9-10,Yudas 1:7.
Teks-teks itu tidak mengutuk homoseksual sebagai orientasi seksual tetapi jutsru yang dikutuk adalah tindakan atau prilaku pada masa itu yang diluar nilai-nilai kemanusiaan. Misalnya gambaran sejarah pada saat itu, adanya orang yang melakukan pemaksaan hubungan sex kepada anak laki-laki atau melakukan sex anal dengan cara pemaksaan atas nama Tuhan. Tindakan-tindakan yang tidak menghargai anak dan adanya unsur pemaksaan inilah yang ditolak keras dalam teks-teks alkitab tersebut.
Menurut Ioanes rahmat bahwa apapun orientasi seksualnya manusia (baik heteroseksual maupun heteroseksual) selagi dilakukan hubungan yang setara, adil, tanpa kekerasan dan penuh cinta kasih. Maka Tuhan akan hadir dalam hubungan kasih itu. Amin.
*Sekretaris Umum Ourvoice
Mampang, 29 Juli 2010
Tag: Alkitab, Homoseksual
Terkait:
-
KH Husein Muhammad: Homoseksual Dalam Islam
Senin, 16 Agu '10 22:25 -
Homoseksual Bukan Bawaan Lahir
Jumat, 6 Agu '10 10:00 -
Saya Muslim,Saya Gay
Sabtu, 31 Jul '10 12:31
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
free7: Terkini
-
zizix:
-
Muhammad Tamim Pardede: Biasa
-
neilhoja:
-
bung jopi: Bagus
-
edwardz25: Menarik
-
vandhall:
-
lailah mubarokah:
-
Delpazir:

Komentar:
Hehe...hidup Politikana!
* Pring mentul pucuk, kolojengking ngantup tu*uk *
Menggali fiqih, jika didasari kerendahan dan keikhlasan hati, biasanya akan semakin menguatkan iman dan ketauhidan . Jika didasari emosi kebalikannya, biasanya akan memproduksi fanatisme membabi-buta dan anarkis adalah salah satu efek sampingnya.
Menggali filsafat atau teologi filsafat, jika dilandasi kerendahan hati dan keihlasan, biasanya akan akan mencapai pencerahan tingkat tinggi, tapi akan tetap melalui perjalanan berat karena bisansanya pikiran akan cenderung diajak berdialektika dengan sains . Jika dilandasi emosi kebalikannya, cenderung mengarah pada buta hati....
Menurut saya gitu...sekedar opini...
Point saya, cara pandang yang kaku dalammelihat homoseksual bukan dikarenakan orang belajar-tidaknya tentang fiqih dan filsafat . Kenyataan dilapangan banyak orang bijak menyingkapi hal itu meski tak ngeri fiqih dan filsafat.
Untuk argumen berikut [Guntur menegaskan bahwa selama ini pemahanan soal agama selalu berpusat pada Fiqih, tetapi nalar filsafat tidak berkembang. Sehingga cara pandang yang sangat kaku dalam melihat homoseksual.]
Tapi sptinya Guntur ingin menekankan bahwa filsafat membantu orang untuk memahami teks2 alquran dan hadist.
maksudnya ini saran untuk Muhammad Tamim Pardede: ya?
kedua, saya tidak menangkap pengertian hubungan seksual dalam ayat yang anda kutip, khususnya ayat 17 surat al-Waqiah.
bisa dijelaskan, kalimat mana dalam Al-Quran yang menjelaskan bahwa wildan di situ adalah pengertian bagi hubungan seksual?
Tapi kalau dimaknai dengan cinta kasih maka akan melahirkan makna kasih. Tapi alquran sendiri memang berisi teks2 saja, tidak lebih. Dia akan bermakna ketika ada intervensi manusia.
Kalau soal teks bahasa arab, wah itu kamu tanya langsung tanya saja ama yang menyatakan itu,saudara guntur. Mungkin anda bisa ketemu dia atau email dia diskusi lebih jauh.Karena gua bukan ahli bahasa arab jadi gak paham apa yang anda maksud. Tulisan itu posisinya ringkasan dari apa yang aku dapat dalam diskusi itu. Justru ketidaksetujuan anda mengklarifikasi dengan pendapat itu akan menjadi lebih bagus. Memperkaya pemahaman lagi.
[Tapi sptinya Guntur ingin menekankan bahwa filsafat membantu orang untuk memahami...]
Saya paham point Guntur, tapi rendah hati dan ikhlas adalah substansi dasarnya (pondasi) , para pemburu pengetahuan yang minim dari dua moralitas tersebut akan berat mencapai pencerahan . Analoginya : mengapa orang belajar beladiri? , jawab untuk keamanan atau kesehatah/olahraga, So,..Tak mesti belajar beladiri untuk memperoleh keamanan dan kesehatan, artinya disesuakan dengan kondisi atau intensitas kebutuhan orang yang berkepentingan.
Makanya saya katakan belajar-tidaknya tentang fiqih dan filsafat bukan penyebab (banyak jalan menuju roma, cari yang mudah dan tebaik sesuai kondisi)
1. dari sini saja kita sudah berbeda. dari pemahaman anda, bahwa al-Quran adalah teks mati. pertanyaan saya, apa gunanya Rasulullah diutus ke dunia, kalau semua orang bebas mengartikan wahyu (al-Quran) semaunya sendiri?
dalam kajian ilmu kalam (teologi), ulum Quran, dll, para ulama mendefiniskan al-Quran sebagai kalamullah (wahyu), bukan teks (fisik).
2. anda ini aneh, diajak diskusi nyuruhnya orang lain. mana tanggungjawab anda ngutip tulisan dia?
jangan seperti orang yang didoktrin, alur pemikirannya taqlidu al-a'ma.. alias apa kata babeh guwe aja.... anda wajib tahu apa yang sedang anda kutip. ini namanya tanggungjawab ilmiah...
atau sekalian, ditafsirkan.....
Pertanyaan pak, karena sepertinya Anda yang ahli tanpa harus resort pada menjelek2an atau memfitnah (tidak seperti 'ahli' yang lain), faktor-faktor apa lagi selain orientasi seksual, yang menghilangkan keislaman seseorang?
Tadi malam saya berdiskusi dengan rekan saya, kesimpulan kami cukup lucu: cara tercepat amerika untuk memenangkan perang melawan al qaida, adalah dengan mengembangkan gay bomb.
dalam Islam, mengkafirkan seseorang itu sangat99x sejauh mungkin dihindari... karena sangat berat konsekuensinya.
akan tetapi, hukuman bagi pelakunya adalah dibunuh, dan para ulama sepakat dalam hal ini. jadi bukan dikafirkan, atau keluar dari Islam...
2. kalau soal apa saja yang bisa menyebabkan seseorang itu keluar dari Islam, seperti mengingkari dengan jelas (bukan cuma dilihat dari perbuatan2, tapi juga pernyataan dia)
jamur: Apanya bos yang perlu dijelaskan?
Astaga, jadi karena itu MTP ngebet pengen ke afghanistan?
Itu dulu funding penelitian tahun 94, katanya dihentikan. Tapi tau sendirilah project kaya gitu di amrik seringkali pura2 dihentikan.
Bulan lalu, ada publikasi yang mengindikasikan bahwa "gay bomb" itu sebenarnya feasible untuk dibuat, dan ironinya, justru akan amat efektif pada prajurit/pejuang.
[_ http://www.telegr…e-enemy.html _]
Metode simplenya mungkin adalah dengan menginfeksi lahan pertanian afghanistan, dengan zat2 yang menginduksi oxytocin secara berlebihan.
adapun soal pelaksanaan hukumannya, sangat erat kaitannya dengan konsep negara dalam Islam. dalam hal ini, para ulama berbeda-beda. karena, pelaksanaan hudud (hukuman-hukuman berat dalam Islam) hanya bisa dilakukan oleh pemerintah (hukumah).
akan tetapi yang jelas, tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama soal hukuman bagi pelaku homoseksual, yaitu dibunuh.
Buset. Sampai segitu itu upayanya? Tapi kalau love each other dan hate the enemy, bukannya jadi makin beringas terhadap musuh? Perang jadi makin sering?
gimana kuliah ekonominya? pengen ikut lagi nih...
Tergantung pada dosis pak.
Kalau secara alami, dosis oxytocin akan memberikan efek semacam siege mentality [ ref. http://en.wikiped…ge_mentality ], yang kemudian mengakibat suatu wilayah sulit diokupasi.
Tapi jika dioverdosiskan, lain lagi ceritanya. Apalagi jika dikombinasikan dengan sistem sosio-kultur-religius di mana kaum gay harus dibunuh.
Dari sudut pandang strategi perang machiavelian sederhana, sebenarnya USSA tidak punya pilihan lain yang lebih aman dan lebih bernurani apalagi jika dibandingkan dengan metode delivery timah yang selama ini dipakai.
O yea. Bagi penonton "300" yang tersepona dengan six pack dan heroism King Leonidas, seharusnya berpikir ulang. Tentara Sparta itu pelaku homo (atau setidaknya biseksual)
Alternatifnya, pemikiran prophet rogan dibawah ini juga menarik:
[ http://www.youtub…=zwmU_SU-EEM ]
---
O... anda belajar agama dari situ toh??
Wah, edan tenan.
Sekarang nabi Muhammad sudah wafat, ada banyak persoalan manusia yang tidak bisa 'dijawab" oleh alquran dan hadist seluruhnya. Manusia diciptakan oleh Tuhan untuk berpikir dan punya otak, disitulah pengetahuan yang lain digunakan.
kalau saya merujuk pada beberapa pemikiran JIL itu juga hak saya. Karena tafsir adalah otoritas saya. Tapi apakah saya semua setuju dengan JIL, tentu jawabnya tidak.
Kita boleh membaca pemikiran siapa saja, tapi otoritas sepenuhnya milik individu. Apapun tafsirnya. Seburuk apapun. Karena manusia bertanggungjawab pada uUhannya masing-masing. Tidak ada satu orangpun atau lembaga yang berhak atas kuasa pada teks2 alquran dan hadist selain individu yang meyakini dirinya sendiri. MUI boleh buat fatwa 1 juta fatwa, tapi keyakinan dikembalikan pada individu masing2. Kalau saya dalam memahami agama harus ada unsur, keadilan, pluralisme, penghormatan, cinta kasih, non kekerasan.
Aku jadi ingat dengan buku diary dari seorang anak muda bernama Ahmad Wahid (ditulis sekitar umur 30 tahun, 1969):
"Aku belum tahu apakah Islam itu sebenarnya,aku baru tahu Islam menurut Hamka,Islam menurut Natsir, Islam menurut Abduh,Islam menurut ulama-ulama kuno,Islam menurut Djohan, Islam menurut Subki,Islam menurut yang lain-lain. Dan terus terang aku tidak puas. yang kucari belum ketemu, belum terdapat, yaitu Islam menurut Allah SWT, pembuatnya.
Pernyataan itu menegaskan kepada umat untuk berani mencari dan terus mencari tentang makna teks-teks alkitab sesuai dengan apa yang kita tahu dan mampu. Tidak ada batas dan syarat khusus untuk memahami teks2 itu.
Termasuk saya mencari terus tentang teks2 soal homoseksual yang rahmat dan penuh kasih. Karena itu esensi ajaran Islam. Tentu saya yakin bahwa apa yang saya pahami tidak 100% benar, karena kebenaran itu milik Allah SWT. Tapi minimal saya sudah menggunakan otak dan pikiranku yang diberikan oleh Allah SWT.
Btw, saya termasuk meyakini bahwa Islam menolak kekerasan dalam bentuk apapun. termasuk hukuman mati, rajam dan cambuk. Menurutku hukuman itu sudah tidak kontekstual dalam kondisi sekarang. Saya tetap yakin islam penuh dengan cinta kasih, Islam yang damai pada semua orang, tanpa kebencian dan kemarahan. Itulah Islam yang aku yakini?
Apakah itu perlu teks2 Alquran dan hadist ya? jawabnya Tidak perlu, bagiku Islam ada dalam hatiku, nuraniku, hidupku.
Ajaran Allah SWT menyatu dalam diriku. Tanpa harus paham bahasa Arab. Bagiku Islam adalah Kemanusiaan. Itu lah Islam yang aku yakini sampai sekarang ini.
salam
Toyo
Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadapa mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman, (QS. 9:14)
yang ini bukan ajaran untuk keras? hanya perlu berkasih sayang aja?
nh sbl d sksa sm Allah rupax lo mmlih d sksa sm wrga P ? y dah kl siap d sksa dg skarela lo prgi ke laut aj tggelamin diri gih sono
salah satunya soal redenominasi barusan.
kopisusu: mungkin jelasnya, tidak belajar ngaji al-Quran ke dukun.
Silahkan login untuk memberikan pendapat