Saya Muslim,Saya Gay 215
Sabtu, 31 Jul '10 12:31, dibaca 522 kali
Oleh : Hartoyo Seorang Gay Muslim dan Sekretaris Umum Ourvoice (www.ourvoice.or.id)
Konferensi International Gay Lesbian Association (ILGA) Asia ke-4 batal dilaksanakan 26- 28 Maret 2010 di Surabaya Jawa Timur akibat tekanan dari kelompok garis keras yang tergabung dalam FUI dan FPI. Padahal Konferensi itu telah mendapat rekomendasi dari Kepolisian Daerah Jatim Wilayah Kota Besar Resor Surabaya Selatan REKOM/67/III/ 2010/POLRES tanggal 3 Maret 2010. Anehnya polisi memilih tunduk pada intimidasi kelompok garis keras dibandingkan mempertahankan rekomendasi yang mereka keluarkan sendiri.
Ini menunjukkan kegagalan kepolisian dalam melindungi setiap warga negaranya untuk berkumpul dan berekspresi. Hak kami sebagai warga negara yang diatur dalam UUD 45 telah dikalahkan oleh kelompok garis keras. Tindakan mereka jelas-jelas melanggar hukum telah memaksakan kehendak pada orang lain dengan menggunakan kekerasan. Sulit dipikirkan mengapa polisi sebagai aparat negara telah kehilangan wibawa dan kekuatan di hadapan kelompok pelaku kekerasan. Bahkan Menteri Agama RI Surya Dharma Ali menyatakan pelaksana konferensi ILGA Asia dapat dipidanakan. Karena dapat dianggap sebagai bentuk penodaan agama dan pelecehan susila.
Tindakan pelarangan ini bukanlah yang pertama kali terjadi di Indonesia. Kita masih ingat pada tanggal 13 Februari 2010 para waria di Banda Aceh melakukan kegiatan malam sosial mendapatkan kecaman dari para ulama di Aceh. Menurut Sekjen Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) Tgk Faisal Ali di Banda Aceh bahwa “kegiatan itu telah menodai pelaksanaan syariat Islam di Aceh”. Demikian juga dengan kejadian di Tasikmalaya, yaitu ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tasikmalaya Achef Noor Mubarok akan melakukan pembinaan kepada 900 gay yang bekerjasama dengan Departemen Agama (Depag) dan Polisi Resort (Polres) Kota Tasikmalaya, dengan alasannya karena gay dianggap sebagai penyakit mental dan dinilai sebuah adzab.
Kekeliruan umum dalam memahami homoseksualitas di Indonesia masih sangat kuat. Meskipun tuduhan bahwa homoseksualitas itu sama dengan “penyakit mental” “kelainan jiwa” dan beberapa keliruan lainnya sebenarnya telah lama dianulir. Pada tahun 1973 American Psychiatric Association (APA) menghapus kategori homoseksual sebagai gangguan jiwa. Kemudian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tanggal 17 Mei 1990 secara resmi mengeluarkan homoseksual sebagai penyakit. Sehingga 17 Mei dijadikan momentum peringatan International Day Against Homophobia (IDAHO), hari melawan kebencian terhadap homoseksual.
Di Indonesia sendiri dalam buku Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa, Edisi II, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, tahun 1983 (PPDGJ II) dan (PPDGJ III) 1993, pada point F66 meyebutkan bahwa orientasi seksual (homoseksual, heteroseksual, biseksual) jangan dianggap sebagai suatu gangguan. PPDGJ I-III oleh Depkes ditetapkan sebagai acuan profesi kesehatan jiwa dan akademisi di seluruh Indoensia. Sehingga tuduhan oleh orang atau kelompok bahwa homoseksual selalu dikaitkan dengan gangguan jiwa ataupun penyakit hanya sebuah asumsi dan tuduhan yang tidak berasalan.
Saya pribadi adalah seorang gay yang hingga saat ini terus menghayati keislaman saya. Saya dibesarkan di keluarga dan masyarakat muslim Muhammadiyah. Saya muslim yang meyakini ajaran yang diperintahkan oleh Allah Swt dan Rasul-Nya: Muhammad Saw seperti sholat, puasa dan juga berbuat baik pada orang lain. Tidak ada perbedaan ritual ibadah yang saya lakukan dengan umat Islam pada umumnya. Keyakinan Islam saya bukanlah seperti keyakinan yang dituduh “sesat” oleh ulama, seperti Ahmadiyah, Lia Eden, Syiah.
Pertanyaan yang sering mengganggu saya adalah mengapa kebencian sebagian ulama yang dalam hal ini diwakili kelompok garis keras sangat besar kepada homoseksual? Tak hanya sebagian ulama yang memiliki kebencian terhadap homoseksual, tetapi juga pemerintah. Hampir semua peraturan daerah tentang pelacuran, maksiat, perbuatan asusila memasukan kelompok homoseksual sama dengan pelacuran. Seperti yang terdapat pada Perda Kota Palembang Nomor 2 Tahun 2004 Tentang Pemberantasan Pelacuran, pasal 8 ayat 1 dan 2 meyebutkan bahwa: Pelacuran adalah perbuatan yang dilakukan setiap orang dan atau sekelompok orang dengan sadar bertujuan mencari kepuasan syahwat di luar ikatan pernikahan yang sah dengan atau tanpa menerima imbalan, baik berupa uang maupun bentuk lainnya. Yang termasuk dalam perbuatan pelacuran adalah a. homoseks; b. lesbian;
Pandangan keagamaan dan peraturan di atas mengingatkan saya ketika belajar agama pada masa saya kecil bahwa Allah Swt menjanjikan surga bagi seorang muslim. Rasulullah Saw bersabda melalui Abu Dzar: “Jibril berkata kepadaku, ‘Barangsiapa meninggal dalam keadaan tidak mempersekutukan sesuatu kepada Allah maka dia pasti masuk surga atau tidak masuk neraka” (HR. Bukhari). Di dalam Al-Quran sendiri terdapat teks yang tertulis: “Adapun orang – orang yang kafir dan mendustakan ayat – ayat kami, mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya” (QS Al Baqarah: 39)
“Orang kafir” dalam pemahaman yang saya adalah orang-orang yang tidak percaya kepada ajaran Allah Swt dan Muhammad Saw. Artinya kalau dikaji secara sederhana walau saya seorang gay tetapi sepanjang saya beriman saya tetap bersangka baik pada Allah bahwa saya termasuk yang dijanjikan masuk surga. Walau doktrin surga yang dijanjikan selama ini tidak begitu menarik bagi saya. Surga yang digambarkan dengan bidadari-bidadari yang cantik dan awet muda. Padahal saya tidak ada ketertarikan sama sekali dengan perempuan. Surga yang terbayangkan oleh saya adalah surga yang berisi laki-laki dewasa yang ganteng dan baik-baik.
Sesuatu hal yang sangat sulit dan mungkin mustahil kalau saya harus meninggalkan rasa cinta dan ketertarikan kepada laki-laki. Sama sulitnya ketika saya harus meninggalkan Islam sebagai agama yang saya yakini. Dua hal ini tak mungkin dilepaskan dari saya meskipun dengan paksaan, kekerasan hingga kehilangan jiwa. Dalam situasi ini apakah kemudian saya akan meyalahkan Allah Swt yang telah menciptakan saya sebagai seorang gay?
Mengapa non-muslim yang katanya “kafir” jauh dipandang lebih “baik” oleh para ulama dan masyarakat muslim di Indonesia dibanding kami: kalangan homoseksual yang masih beriman? Meskipun saya sadari tidak sepenuhnya teman-teman non muslim mendapatkan hak-hak yang sama, tetapi minimal jauh lebih baik dibandingkan dengan saya sebagai seorang gay. Teman-teman non muslim masih memiliki perlindungan hukum yang jelas, baik di ruang politik maupun ekonomi.
Bahkan sudah banyak kebijakan nasional maupun international yang menghargai dan melindungi perbedaan karena keyakinan agamanya, tetapi nasib ini belum berlaku untuk kami sebagai homoseksual. Jangankan dipenuhi dan dilindungi hak-haknya, malah mengkriminalkan homoseksual sebagai seorang pelacur, sakit jiwa dan tuduhan yang menyeramkan lainnya.
Mengapa hujatan dan hinaan terus dilekatkan kepada kami sebagai kelompok pendosa dan pembawa bencana bagi kehidupan manusia? Bukankah semua muslim bersaudara? Bukankah penghormatan kepada setiap orang adalah esensi dari ajaran Islam? pertanyaan-pertanyaan tadi terus berkecamuk dalam sanubari saya, tetapi saya percaya bahwa hanya Allah Swt yang paling berhak apakah homoseksual itu berdosa atau tidak.
Cat : Tulisan ini telah dimuat di Jakartaglobe pada 16 April 2010 dalam versi bahasa Inggris.
http://www.thejakartaglobe.com/opinion/longing-for-acceptance-homosexuals-in-indonesia-find-hatred-and-discrimination/369876
Tag: muslim, Homoseksual
Terkait:
-
Sebagai Sesama Muslim
Sabtu, 21 Agu '10 06:44 -
KH Husein Muhammad: Homoseksual Dalam Islam
Senin, 16 Agu '10 22:25 -
Ramadhan Tinggal Sehari, Mari Sejukkan Hati
Selasa, 10 Agu '10 13:00
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
zizix:
-
samsara: Penting
-
Carneira: Bagus
-
Yesterday is Today: Penting
-
Fight For The Future: Menarik
-
Striding Cloud: Penting
-
Subroto: Lucu
-
Kaboel: Menarik
-
ria dj: Biasa
-
Harlan Eryandi: Menarik
-
dhimasln:
-
Muhammad Tamim Pardede:
-
neilhoja:
-
kopisusu:
-
Sumarwoto Hadi: Bagus
-
edwardz25: Penting
-
jamur: Penting
-
vandhall:
-
boiga:
-
OddieBudiSantosa: Inspiratif
-
lailah mubarokah:
-
conscientizacao: Menarik
-
Delpazir:
-
The Crew: Penting
-
Wonggantenk:
-
vraybeta:

Komentar:
klau bner pdomanx quran mk slhkan bca ini :
Allah berfirman : Dan Luth ketika berkata kepada kaumnya: mengapa kalian mengerjakan perbuatan faahisyah (keji) yang belum pernah dilakukan oleh seorangpun sebelum kalian. Sesungguhnya kalian mendatangi laki-laki untuk melepaskan syahwat, bukan kepada wanita; malah kalian ini kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka dari kotamu ini, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri. Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.” [QS Al-A’raf:80-84].
agama dan seksualitas emang akan selalu konflik... susah lah...
Carneira: dongeng aj klo gtu
yg jd msalah dgn homoseksual adl kosa kata ini dmaknai sbagai hubungan klamin sesama jenis laki2x :
http://id.wikiped…oseksualitas
klau sdah hbungan badan dgn ssama ini namax skit jiwa, korsleting.
Sayangnya tafsir ulama-ulama itu sudah seperti melebihi alquran sendiri. Ulama yang punya kuasa soal itu. Ingat kata Foucault bahwa kekuasaan lah yang bisa melakukan penindasan. Walau kekuasaan membuat pihak lain bisa menjadi kritis.
Yang saya yakini, Allah SWT memerintahkan kita untuk belajar dan selalu kritis terhadap pandangan siapapun. Termasuk pandangan ulama ataupun saya. Karena tidak ada yang absolut dimuka bumi ini. Semua bisa dilakukan kritik.
Kalau saya simple saja bahwa beragama adalah urusan personal. Saya mau masuk surga atau neraka yang menentukan diriku sendiri. Tidak ulama tidak juga orang lain.
Jadi beragama yang penting cerdas dan selalu kritis dengan apa yang disajikan oleh ulama2. Itu jauh lebih penting, soal siapa yang benar atau salah, biarkan itu wewenang Tuhan.
Buktinya fatwa MUI sudah banyak tidak diindahkan oleh umat. Artinya umat sudah mulai cerdas karena berani menggunakan otak dan nalarnya atas keagamaannya sendiri. Begitu juga dalam konteks orientasi seksual. Saya juga harus berani "melawan" atas tafsir yang tidak adil bagi saya atau kami (kel.homoseksual). Karena ulama juga manusia yang pasti ada kesalahan dan kepentingan.
Inilah indahnya manusia, karena selalu berbeda. Tetapi tetap tenang dan menjaga perbedaan itu. Saling menghormati satu sama lain.
salam
toyo
trserah pd u ntuk mnjadi apa, n org lain jg pnya hak asasi ntuk mnghadapi org2x spt u
stiap kputusan psti bresiko, brsiaplah mnghadapi rsiko thdap kputusan yg u ambil, n jgn salahkan org lain klau ada apa2x
Kalau soal resiko semua orang ada resiko. Saya cuma sedih saja, kenapa bangsa ini selalu meyelesaikan masalah dengan kekerasan. Tidak setuju kemudian merusak dan memukul. Itu kan pola2 cara orang2 yang justru jauh dari ajaran agama.
Anda tidak harus setuju dengan apa yang saya sampaikan, karena masing2 orang punya hak dan nilai-nilai masing2. Tapi tidak harus perbedaan itu kemudian membenci pihak lain kan? belajarlah untuk saling menghormati dan mengasihi pihak yang berbeda dari kita. Karena itu substansi ajaran Tuhan.
salam
Toyo
y silahkan itu hak u bukan?
n hak q ntuk mnolak pndapat u ?
mang gax boleh nolak u ?
Kalau begitu sama saja OMDOG(omong doang).
salam
Toyo
Urusan haram tidak haram bukan wewenang anda sebagai manusia, Kecuali anda sudah merasa menjadi Tuhan dibumi ini.
Islam yang aku pahami berbeda dengan pandangan anda soal homoseksual.
Kamu punya Islam, gua juga Islam. Urusan benar salah, haram-pahala biarkan Tuhan yang menentukan. Jangan anda. Paham?
Anda tidak punya hak mengharamkan homoseksual karena anda bukan Tuhan.
Jangan pernah merasa diri paling suci dan benar, karena belum tentu kita lebih bersih dari orang lain. Belum tentu anda lebih baik daripada saya, begitu juga sebaliknya. Belajarlah untuk hormatilah dan hargailah pilihan orang lain.
salam
Toyo
Mungkin perlu dipertimbangkan kembali untuk mendirikan khalifah, dimana hak semua warga negaranya yg berbeda2 akan dilindungi.
Termasuk hak2 para kaum gay/lesbi
kan nabi luth jg Allah sama ngasih pilihan.. slahkan anda mau slamat atau tdk ?????
yg omong kan quran, yg ancam jg Allah
msalah u hombreng emang gw fikirin, capee dee
Mereka akan diberi ruang utk berekspresi dan berkembang tanpa diskriminasi dengan warga negara lainnya.
Ntah mksudnya berkembang nya di penjara atau tempat penyiksaan, wallahualam bissawab..
@Pak Subroto: setuju, benar bahwa ini negara demokrasi bukan negara Islam. Yang mayoritas memang cenderung menguasai yang lemah dan marginal.
bukan karena anda dan teman2 anda manusia kemudian menjadi alasan anda berhak dibiarkan semau anda, tdk ad itu.
pnyakit anda mnular dan brbahaya, contoh :
1. rian dr jombang
2. babe sodomer anak2
3. robot gedek
4. ... masih mau tambah? googling aja....
hati2, homosex cnderung sbgai pembunuh
Tak perlu mempersulit jalan keimanan, kalau susah diaplikasikan didepan publik ya bawa ke ranah privat .
Ketidak-tepatan menempatkan subyektivitas dan konteks selalu membuat opini kebalik-balik, benar jadi salah , salah jadi benar.
Menarik.
Kalau boleh bisa berbagi gimana pemahamannya terkait kisah Luth itu?
@ABCD....kamu baca coba jurnal perempuan edisi perempuan lesbian, nanti kalau dapat linknya aku kasih ya.
saya cuma heran apa sih yang membuat kita benci banget dgan homoseksual. tidak ada yang dirugikan, kenapa kita tidak komplain dgan yg poligami?
Kalau rian melakukan mutalis, langsung homoseksualnya yg dibawah. padahal mutilasi terjadi dimana2 baik hetero maupun homoseksual. org baik ada dimana2.
salam
Toyo
Saya terus terang ingin tahu bagaimana pemahaman yang berbeda tentang homoseksual tersebut.
Soal kebencian dst. itu agaknya tidak relevan (atau sekurangnya kurang relevan) dengan pertanyaan saya.
zizix: gak paham, ada kok homo yg kasih rating item....
[_ LCFR: boleh tanya, kenapa kasih rating penting? _]
Dengan tidak mencoba mewakili Yesterday is Today, Saya akan sebutkan alasan mengapa saya rating penting.
Bahwa bahkan dengan pilihan orientasi seksualnya yang berbeda dari orang kebanyakan pun, dan bahkan pula, ARGUABLY, menurut orang lain, tidak kompatibel dengan Islam,
Si penulis masih menganggap Islam sebagai iman terbaik untuknya pribadi dan memilih agama tersebut menjadi agamanya.
Nah! Kalau bagi orang lain fakta bahwa ia memilih Islam bukanlah hal yang penting, silahkan saja.
Namun bagi saya absurd sekali jika kerinduan seseorang akan hal-hal Ilahiah, terbatasi oleh pendapat orang lain soal di mana layaknya ia meletakkan kelaminnya.
Menurut Saya, terserah dia mau pilih nyembah Tuhan yang mana. Kalau orientasinya tidak sesuai dengan Tuhan pilihannya, itu urusan dia dengan Tuhannya.
http://www.facebo…=78065723515
abu ghazi:jadi anda kelompok Kafilah dong,kelompok HTI toh..jangan2 anda juga bagian kel.garis keras yang suka ancurkan gedung2.
Nah, kalow alasan pentingnya lain sih, ya boleh aja....
Oom Hartoyo, saya lebih memilih jika diskusi tentang topik sensitif diawali dari forum ahli dan terfokus. Dan topik yang diangkat oleh Anda ini memang sensitif dalam pandangan saya. Jika fokusnya di disiplin psikologi dan biologi medis, atau genetika, mungkin akan lebih bijak.
Karena, jika terbuka di forum maya, maka pengunjungnya pun punya latar belakang keahlian disiplin ilmu yang beragam, belum lagi jika benturannya terjadi dengan faktor iman, diskusi tidak akan berjalan dengan sehat.
Itu saja sih, saran saya.
*halah! salah forum gw pikir ini FB
salam
Toyo
salam
Toyo
Itu yang dibilang oleh kawan yang thesisnya soal Small World ( dunia kecil) virtual yang anonim.
Orang menganggap bahwa dengan anonimitas, maka bisa menjadi biadab tanpa ketahuan. Tapi, di sisi yang sebaliknya, jika ingin tahu bagaimana karakter sebuah "peradaban", maka lihatlah budaya diskusinya dalam forum yang anonim semacam P ini, apakah jauh beda antara offline dengan online ? Saya nggak yakin kalau kopi darat suasananya bakalan seperti di atas.
Begitu Gan ( merujuk ke kawan sih)...
Saya Straight. Saya Hetero. Tapi saya tidak homophobia.
Berhenti menyebar fitnah.
Logout dah Gan..Selamat berdebat semua....
Sedangkan Lesbian tidak sama sekali melakukan anal sex. terus apakah kemudian Lesbian boleh? karena tidak melakukan anal sex?
http://www.kabari…icleID=35236
Aih. Gelo. Ini Politikana Malem minggu jadi ajang suka-sukaan euy.
Waduh Sir.
Ndak ngerti saya.
Kenapa anda tidak mengajukan saja apa yang anda pahami ketika menuliskan [Islam yang aku pahami berbeda dengan pandangan anda soal homoseksual.]
Nyuruh saya mbaca tulisan MGR itu apa relevan dengan pertanyaan saya tentang "pemahaman anda"
Anda = MGR?
Terus terang nggak ngerti saya.
Saya menangkap dalam artikel anda dan reply-reply anda di atas terkandung semacam protes soal ketidakadilan. Tetapi ketika anda diberi kesempatan untuk berbicara secara fair, anda merujuk pada tulisan orang lain, yang belum tentu punya orientasi seksual sama dengan anda.
Agak sulit saya untuk mendiskusikan dengan anda soal tulisan MGR, karena pertanyaan saya awalnya adalah "pemahaman anda" bukan pemahaman MGR. Kalaupun saya ulas atau bahasa tentang tulisan MGR, saya kira anda tidak berada dalam posisi untuk menjadi wakil MGR di sini.
Dan saya tidak sedang ingin mendiskusikan/membahas/menganalisa tulisan MGR. Saya hanya ingin mendengar apa pemahaman anda. Sesederhana itu saja kok.
Tapi saya juga ndak maksa.
Hanya merasa aneh saja.
Ketika anda diberi kesempatan untuk mensosialisasikan apa yang ada di kepala anda yang anda sebut dengan "pemahaman islam tentang homoseksual" anda justru tidak menyambut kesempatan itu.
Saya kira mungkin kita harus sama-sama belajar lagi soal sederhana seperti : "fair"
Mohon maaf bila kata-kata saya tak berkenan.
Tapi itu perasaan dan apa yang saya pikirkan melihat jawaban anda.
Sentaby,
DBaonk
setuju ama mas Dbaonk, dari dulu saya cuma denger, pemahaman Islam kita itu beda.
nah, bedanya itu gimana? khusus untuk kasus ini, penafsiran anda soal kaum nabi luth gimana?
nah lo, tanya lagi... tafsir itu apa?
anda bilang, "saya muslim, saya gay"
boleh tahu, muslim itu apa?
Pripun mas "ourvoice" ... ?? monggo kulo entos dhawuhepun ....!!@@
opone seng dongeng ...?? endi buktine lee ...?? lah wong bukti sejarahe enek ko .....@@
:::matur nuwun:::
Bagiku kemerdekaan aku dalam memahami agama adalah otoritasku sepenuhnya.
Aku simple sekali, bagiku beragama adalah otoritas diriku.Kalau aku membaca pada pemikiran orang lain, itu sebagai rujukan. Keputusan ada pada diriku sendiri.
Ada banyak sekali orang2 yang lulusan pesantren atau universitas2 yg kajian agama. Tapi analisisi agamanya kaku dan menggunakan kaca mata kuda. Walau ada yang terbuka pemikirannya,tapi yang terbuka itu biasanya orang yang memang terbuka dengan pengetahuan lainnya. Jadi intinya kalau melihat teks2 Alquran menggunakan kaca mata kuda. Maka pemahamannya ya kayak kuda melihat, luruuuuuussssssssss dan hitam-putih saja. Dosa-pahala saja. Lama-lama ketabarak
Bagiku Muslim adalah nilai-nilai kasih dan hal-hal yang baik yang penuh dengan nilai-nilai kemanusiaa, anti kekerasan dan penuh adil. Itulah muslim menurutku.
Kalau ditanya sejarah Luth, bagiku sejarah Luth hanya sebatas cerita tentang pemusnahan umat. Itu terjadi juga bukan pada umat Luth saja, tetapi semua nabi2 sesudah atau sebelumnya. Bahkan masa Muhammad juga ada diperintahkan dimusnahkan. Walau dalam konteks Muhamamad diperangi bukan dimusnahkan spti pada nabi2 sebelumnya. Tapi esensinya sama.
Dan menurut pemahaman saya, soal sejarah Luth bahwa yang dibinasakan tindakan seksualitasnya yang tidak manusiawi. Bukan orientasi seksualnya. Kita harus bisa bedakan apa itu orientasi seksual dengan prilaku seksual yang bertanggungjawab. Kalau belum tahu membedakan apa itu orientasi seksual dan prilaku seksual, maka spti usul guntur belajar dulu seksualitas sebelum menghakimi sesuatu yang sama sekali tidak tahu. Kalau kata pepatah arab, manusia cenderung membenci sesuatu yang tidak diketahui.
Dalam konteks Luth, karena melakukan pemaksaan seksual kepada orang lain (tamu Luth). Itulah yang dilarang dan dikejam. Jadi apapun yang namanya pemaksaan seksual atau kekerasan kepada orang maka dilarang oleh ajaran Islam. Misalnya memperkosa, paedofil,poligami itu dilarang dalam Islam.
Tapi karena pelakunya adalah homoseksual (gay) kemudian yang mencuat atau dipahami oleh ulama kuno homoseksualnya yang dilarang. Padahal pemaksaan seksual juga terjadi dikel.heteroseksual juga.
Ini kan sama analoginya kayak kejadian kasus Ryan Jombang. Karena dia homoseksual kemudian melakukan mutilasi, semua orang mencap gay sama dengan pelaku mutilasi. Padahal pelaku mutilasi ada juga yang heteroseksual. Tapi selalu dibawah2 homoseksualnya. Ini jadi sama dengan konteks Luth, begitu menurut pendapatku. Mudah2an ini menambah pemahaman.
Tapi aku juga tahu, kalau sudah phobia terhadap homoseksual pasti apapun argumentasi yang aku sampaikan tetap saja benci. Karena memang sudah tidak mau belajar tentang seksualitas. Saya percaya pengetahuan semakin berkembang dimana-mana. Cara2 berpikir spti kuda maka akan ditinggalkan pelan2.
Yang demikian kiranya yang saya harapkan.
Ndak perlu risau saya akan mendebat atau sejenisnya.
Saya hanya penasaran bagaimana anda dengan latar belakang orientasi seksual anda memaknai kisah Luth.
Dan yang anda sampaikan sudah bisa memberikan gambaran.
Terimakasih banyak untuk itu.
Soal kacamata kuda dan lain sebagainya, menurut hemat saya itu ndak relevan dengan yang ingin saya ketahui.
Sentaby,
DBaonk
http://www.irshad…-Edition.pdf
Saya ada bukunya di rumah. Beli di Gramedia beberapa bulan lalu.
bagi saya, 3 + 3 = 100, karena menurut saya.. 100 itu lebih banyak dari 6. lebih banyak, lebih baik.
atau kasus lain,
bagi saya (pasien), kalau orang sakit radang tenggorokan, maka obatnya adalah cabe dan air es. biar seger...
dan agak aneh sebenarnya, ketika anda mengatakan orang-orang yang berdiri di atas pakem itu, seperti orang yang memakai kacamata kuda.
bagaimana dengan anda? anda sering bahkan tidak mengindahkan pendapat mereka? jadi, siapa yang berkacamata kuda?
sekarang, kita bicara simpel aja. menurut anda, mana yang harus saya dahulukan, pendapat bagi saya seorang pasien... atau dokter yang lebih tahu ilmunya?
pendapat bagi saya anda (yang bahasa arab saja ndak ngerti), atau pendapat ribuan ulama kapable di bidangnya?
Lalu kenapa anda2 sewot dan menghakimi mereka? Bukankah akan lebih baik jika kita membimbing mereka jika kita rasa mereka salah dan sesat?
Mengapa orang2 seperti Muhamamd Banci Pardede ini harus dibiarkan merusak ukhuwah Islamiyah kita?
Parahnya lagi, si Pardede ini seorang waria, dan anda2 ingin jadikan dia sebagai imam? Masya allah!
LOL. you always find a way to destroy the seriousness of your own argument.
*welcome to the jungle...
Jangan lg bawa kutipan2 ayat setanmu
Dengan menyebut nama Allah.. kami minta cukup...!!!
dan di tempat saya, ada yang jadi homo karena bagian dari sensasi. ada yang jadi homo karena emang udah kodratnya.
banyak yg bilang gay & lesbi hanya keperluan kepuasan batin. kalau gitu buat apa gay2 belanda dan inggris melabeli mereka gay daftar di catatan sipil.
ah Muhammad Tamim Pardede: , si Israel Pardede, selalu saja. :I
However, when people try to reason or seriously arguing with Muhammad Tamim Pardede and ki baraja (and now we have another one, zizix), I frowned.
Guys, ARE YOU REALLY THAT BORED?
[Islam agamaku, gay orientasi seksualku.
Bagiku kemerdekaan aku dalam memahami agama adalah otoritasku sepenuhnya]
dari tadi nunggu penjelasan tentang kisah Luth cuma dikasih penjelasan itu aja?
Ya Tuhan... Ternyata yang Engkau ceritakan terhadap Nabi Muhammad tentang kaum Luth itu sangat benar dan benar adanya... Bukan dongeng seperti yang disangkakan Quraisy di awal risalah Muhammad...
Dulu, 'mereka' mencoba membenarkan diri dengan menyebut Luth sebagai orang yang sok suci.... sekarang, mereka malah membawa2 agama-Mu yang Agung...
O Rab,
Jangan Kau timpakan Azab-Mu seperti yang pernah Engkau lakukan terhadap kaum Luth...
Sebab meski kami bukan golongan mereka, tapi kami ada di sekitar mereka, yang pasti terkena apesnya juga,,,,
Oh God...
Hamba Takut....
Tidak perlu heran bila praktek seks antara lelaki dengan lelaki tidak dimasukkan dalam kategori "perilaku seks menyimpang".
Sekarang memang wacananya memisahkan perilaku hub sesama jenis dengan perilaku seks menyimpang lain (dengan mayat, benda, binatang, etc)
Wikipedia punya laman sendiri untuk menyosialisasikan wacana ini. Paraphelia atau apa gitu istilahnya.
klo gitu, nanti saya berzina, klo diprotes tinggal bilang "yang ada larangannya itu hanya 'mendekati zina', dan kebebasan pemahaman agama mutlak hak saya"
blek..
silahkan berzina.... jangan lupa dividiokan yaa... dan .... **bagi-bagi.....
**biar tak sebarin!!!
Apa karena unsur suka sama sukanya (tak ada pemaksaan)?
Agak bias di poin ini.
Yes. I can see that.
Mau ketemu langsung? For? Gw nggak butuh konfrontasi fisik, gw nantangin lo dengan konfrontasi kekuatan tenaga dalam lo yang lo bangga-banggain. Kalo mau ketemu langsung tonjok-tonjokan sih bisa aja, cuma akhirnya apa?
Lo mau apa? Berantem tonjok-tonjokan?
Terus tenaga dalem lo itu apa? Lo bragging bisa ngebunuh gw tanpa perlu ketemu. Kalo lo ngajak tonjok-tonjokan apa yang lo bisa buktiin?
Lo bakal ngebuktiin kalo kekuatan ajaib lo itu nggak ada karena untuk ngebungkam gw aja perlu ketemuan.
Ngomong besar doang.
~dalam isu sensitif gini, "with" itu kok kesannya berbahaya..
jadi mending kaum gay terima kenyataan bahwa yang anti gay tidak melulu islam garis keras dan bahkan tidak melulu orang islam saja.
I'm straight, and I dislike homosexuality. However, I also think that what the homosexuals do among themselves are their own business. I dislike homosexuality, I don't dislike the homosexuals. As long as they don't try to make any advance to me or commit any crime, I don't have any reason to dislike them.
We have the same sentiment brother.
I'm not sure how God did that. But certain people now claim that they are the God, and re-execute the idea.
bwaakakakakak...... #commentoftheday!
hell, i dislike homosexuality, and if those homosexuals tend to expand their so-called-culture, i might choose to take a side..
"As long as they don't try to make any advance to me or commit any crime, I don't have any reason to dislike them."
This friend of mine is homosexual who's trying to be a good Muslim. As far as I know, he's a better Muslim than I can ever be.
Now, what do you say to that? It's a true story, but I can't give you his name.
we as moslems call it as liwath.
Fight For The Future: salute for your friend there..
-------------
How do you know that it's hard for him?
You know it's hard for ppl like him, but you keep on taunting them!
boiga: I can't imagine how hard. You and me, we're straight. It's easy to us. Him, he has to fight his homosexuality all his life. He's no bisexual, you see. He told me once that the only way he can do any sexual intercourse with his wife is by fantasizing to have sex with a man. He said that it's wrong, but at least he does it only in his fantasy.
[ sexual intercourse with his wife is by fantasizing to have sex with a man ]
That's so wrong. Worse than making a joke in a funeral. Wrong.
It's not fair for his wife, and I can't even imagine about her feeling to know the truth.
gw pernah begini waktu seorang teman meninggal. gw berdiri disamping bapaknya di atas liang lahat, & bapak tsb yg bener2 ngajak bercanda.. dia gak mau terlalu bersedih kehilangan anak & dia ingin menunjukkan bahwa kematian itu hal yg biasa..
Too bad if it isnt, coz i can think of several comebacks for that statement.
~Maap...maap. Saya bersimpati sepenuhnya.
Hanya pikiran jahil sering susah dikerangkeng~
~Jaga toko lagi sana!~
what?
Fight For The Future:
I see. For me it's fine if both of them are free - with free I mean 'freedom' - in their decision. Because that's the only way to respect humanity.
Theoretically saying
Him, he accepts his homosexuality as he accepts the color of his skin. Being a Muslim, he never gives in to his homosexuality. He's still a homosexual, but never a practicing one. And that's a choice he makes freely.
That takes more strength than I can ever have.
Tapi saya hanya akan menjawab yang menurut saya santun mau dialog.
@ABCDEF.........Memang benar mungkin argumentasi saya masih lemah atau mungkin butuh kajian lebih jauh lagi soal teks Luth. Saya sadar saya manusia biasa yang jelas punya keterbatasan memahami teks. Tapi minimal saya mencoba belajar dari apa yang saya pahami dan punya. Tidak tunduk saja dan menurut dengan pemahan yang sudah ada.
Kalau aku tetap yakin bahwa Allah SWT yang saya yakini tidak menghukum homoseksual. Tapi Allah SWT akan menghukum orang2 yang berbuat jahat atau meyakiti orang lain. Misalnya memperkosa atau merugikan pihak lain. Saya yakin sekali saya sebagai gay jauh disayang oleh Allah SWT daripada seorang koruptor yang merugikan banyak rakyat.
Yang penting saya selalu bersyukur apa yang Tuhan berikan kepada saya sebagai seorang gay. Tugas saya sebagai manusia adalah berlomba2 kebaikan untuk mahkluk lainnya (manusia, binatang dan tumbuhan). Tugas saya sebagai manusia mencintai ciptaannya. Soal apakah saya masuk surga atau neraka biarkan Allah yang tahu. Yang penting berbuat baik dan baik untuk orang lain. Dan tidak lupa belajar dan belajar lagi terutama soal seksualitas.
salam
Toyo
[Kalau aku tetap yakin bahwa Allah SWT yang saya yakini tidak menghukum homoseksual.]
yakin?
kalo berdasarkan keyakinan, ya gak usah protes kalo orang lain juga yakin menyebut kaum anda itu menyimpang.
Masih muda.
Fight For The Future:
LOL.
Nunggu agnes monica.
Saya hanya merasa agak lucu karena kita jadi kayak curhat gimana pengalaman pribadi kita menghadapi homoseksualitas di sekitar kita.
Dan sekilas yang terlintas di ingatan saya adegan group terapi di film Fight Club.
No. Saya bukan tak bersimpati. Saya sendiri punya pengalaman yang mungkin sejenis.
Tapi persoalannya, dalam wacana yang melebar ini pandangannya tetap sama, bahwa betapapun kita berusaha menerima kaum homo sbg manusia, tapi perilaku seksualnya tetap tidak diterima. Dalam konteks itu kayaknya tanpa diucapkan eksplisit sebenarnya kita condong pada pandangan pelaku homoseksual yang wajib diterapi psikologinya.
Bukankah jadi sedikit ajaib ketika dalam interaksi tanggapan ala group terapi ini justru sang pelaku devian malah tidak terlibat?
Btw, saya sendiri berusaha keras untuk bisa menerima kaum homo sebagai manusia.
Itu kenapa saya ingin mendengar mereka bicara. Tentang pemahaman-pemahaman mereka, dan mungkin dengan demikian saya bisa lebih memahami mereka.
Dalam kasus orang dg orientasi homoseks yang meninggalkan perilaku seksnya, saya kira penerimaan kita pasti jauh lebih mudah.
Tapi bukankah inti wacana terkait kehadiran Hartoyo ini justru bicara bagaimana kita mengelola sikap yang cukup bijak menerima mereka yang belum atau bahkan tidak meninggalkan perilaku homoseksualnya?
Ada persoalan penting dalam masalah ini, semisal dari argumentasi boiga yang merasa harus take a side ketika kaum homo "menyebarkan" perilaku seksnya di luar kalangan mereka, atau seperti sir Fight For The Future sendiri mengatakan poin take advance pada diri pribadi dan pelanggaran hukum.
Apakah perilaku itu bisa ditularkan? Ataukah memang ada semacam "bibit" potensial dalam diri kita sehingga kalo bibitnya ga ada, ya ngga akan jadi homo? Lalu bagaimana misalnya bila "take advance" itu dilakukan pada anggota masyarakat lain? Apakah tetap berpendapat yang sama? Sejauh tidak pada kita secara pribadi maka it's ok? Atau dimensi pelanggaran hukum masuk di situ?
I'm still waiting for your FCOTD.
Yang jadi masalah adalah mengambil atau menghilangkan hak-hak homoseksual sebagai warga negara. Itu yang menjadi masalah. Dan itu yang harus ditolak dan tidak bisa dibenarkan.
Anda boleh tidak setuju dengan homoseksual, tapi anda tidak boleh menutup hak-hak mereka sebagai warga negara. Apalagi sampai melakukan kekerasan kepada homoseksual.
@Boiga: saya juga melakukan itu, selalu membaca dan membaca. Tapi saya sadar bahwa saya manusia biasa yang punya keterbatasan. Karena tidak ada tafsir yg paling benar.
Saya memang harus akui, bahwa umumnya tafsir bahkan mungkin sangat kecil sekali tafsir yang membela homoseksual. Tapi apakah tafsir yang umum itu paling benar?tentu tidak. Ingat dulu juga tafsir untuk perempuan banyak yang misoginis dan partriaki, bahkan sampai sekarang juga masih banyak yang begitu.
Tapi kemudian ada banyak teolog2 feminis yang melakukan tafsir kembali. Sekarang faktanya banyak tafsir yang ramah terhadap perempuan. Misalnya melarang Poligami dan pernikahan anak dalam Islam.
Jadi, kalau soal tafsir itu soal kuasa dan siapa yang melakukannya. Kalau yang menafsirkannya orang2 yang gak tahu soal homoseksual atau benci homoseksual. Maka tafsir yang dilahirkan juga tafsir yang membenci homoseksual.
Ingat tafsir adalah karya dan cara pandang manusia terhadap teks alquran. tafsir bukan dari Tuhan, itu pengetahuan manusia. Sehingga sangat mungkin sekali tafsir itu punya banyak kepentingan dan ada unsur2 politik dan sosial yang bermain. saya tidak katakan bahwa semua tafsir itu buruk, pasti ada benar dan salahnya. Namanya juga manusia yang berpikir.
Tidak ada yang benar2 objektif.
Kalau Foucault bilang, pengetahuan melahirkan kekuasaan. Dan kekuasaan akan punya adil yang kuat untuk menghegomoni orang.
Sehingga menurut saya yang harus dilakukan adalah melakukan Retafsir kembali teks2 yang berkaitan homoseksual. Kembalikan pada ajaran Tuhan yang hakiki, cinta kasih. Karena itulah tugas manusia, saya yakin itu akan terjadi sesuatu saat. Sekarang saja sudah mulai ada beberapa tokoh agama melakukan itu. Yang menafsirkan kembali soal homoseksual. Sayangnya memang Islam selalu ketinggalan dengan Kristen. Karena Kristen sudah ada gereja yang membolehkan pernikahan homoseksual. Tapi gpp, ini adalah tantangan kemanusiaan dalam beragama.
Soal mana yang benar dan salah, itu bukan urusan kita. serahkan ama Tuhan saja. Yang penting esensinya tidak merugikan pihak manapun. Mestinya kita prihatin dengan praktek2 Poligami dan pernikahan anak, yang jelas2 merugikan perempuan dan anak. Tapi kok malah ulama2 sebagian mendukung itu. Saya benar2 gak habis pikir itu. Homoseksual yg tidak merugikan pihak manapun, malah ribut. aneh memang kadang cara orang memaknai agama.
salam
Toyo
http://politikana…ot-boss.html
Saya hetero, namun saya tidak homophobia.
Sepanjang Anda atau siapapun, regardless preferensi seksual, tidak menginvasi ruang pribadi saya, Saya tidak akan ambil pusing dengan apa yang Anda lakukan di ruang pribadi Anda sendiri.
Saya tidak akan mengkait2kan orientasi Anda tersebut, dengan masalah Tuhan mana yang Anda anggap paling benar.
Saya sepakat sepenuhnya, bahwa hak-hak politik Anda harus dijamin.
...tapi sesuai dengan tradisi, Nickname Anda layak mendapatkan rating -1 promosi diri.
Saran saya, hilangkanlah url dari nickname Anda, Anda sedang berada di politikana.com, bukan di ourvoice.co.id, taklah elok dan tak sopan rasanya secara netiket melakukan blatant advertising seperti itu.
Salam
Toyo
www.ourvoice.or.id
Rasanya tak bisa dinafikan juga bahwa dalam banyak hal, berkembangnya perilaku menjadi sebuah pola yang masif di dalam diri individu, disebabkan (atau disumbang besar oleh) pemahaman dan kebiasaan.
Dalam konteks perilaku seksual, masturbasi bisa jadi contoh. Dipahami sebagai "nggak pa-pa", dilakukan berulang-ulang, dinikmati sensasinya, lama-lama bisa jadi kebiasaan yang terpatri kuat. Sampai akhirnya, pada beberapa kasus, menikahpun tidak bisa menjadi jalan untuk mengurangi perilaku sekssual semacam itu.
Saya nggak tahu, Striding Cloud atau Delpazir mungkin bisa kasih penjabaran, sampai sejauh mana ilmu pengetahuan masa kini bisa menjelaskan fenomena ini dan menarik kesimpulan tegas.
Yang jelas, selama kita tidak juga bisa menentukan apakah ini behaviour, genetik, atau kombinasi keduanya, maka selama itu pula "kekhawatiran" bahwa perilaku homoseksualitas bisa menular akan tetap hidup.
Dan karenanya penolakan kepada kaum homoseksual, khususnya terhadap upaya eksistensi mereka --> yang dalam bahasa kaum homoseksual sebagai kaum minoritas akan diistilahkan "pengebirian hak-hak sebagai warga negara", akan selalu kuat.
Lucunya, ini mungkin ujungnya malah akan membuktikan teori selfish-gen atau kompetisi ala darwin : bahwa penolakan terhadap homoseksual sejatinya adalah soal persaingan hetero vs homo.
Btw, FCOTD itu First Copy Of The Day?
Ini baru pulang dari toko. Pegawai libur. Ngerekap stock ditemenin suster ngesot doang kita.
Buat saya, memahami kaum homoseksual justru untuk lebih mengerti apakah alasan-alasan saya (pribadi) menolak perilaku seksual mereka itu berangkat dari pijakan yang benar.
Dan seperti saya sebut di atas : saya belum ngerti juga. Ini masih bakar menyan untuk Striding Cloud & Delpazir. Siapa tahu beliau-beliau bisa bantu menjelaskan.
jika seandainya besok ada Nabi diturunkan untuk memvonis salah terhadap homoseksual, anda juga akan bilang: mereka kan sekedar nabi, bukan Tuhan, nabi itu manusia, bisa saja salah bicara.. manusia yang benar hanya Foucault
jadi, selesai saja sampai disini ya..
homoseksual tidak merugikan? memang iya, selama anda tidak berkoar2 meminta pewajaran terhadap penyimpangan anda.
sama seperti kasus ariel. perbuatan dosa selama dilakukan di ruang pribadi, itu urusan masing2. tapi kalau sudah dibawa ke ruang publik, ya harus siap menghadapi opini publik.
kaum islib seperti anda juga menolak agama di bawa ke ruang publik kan? karena otak anda sudah terbalik... menganggap agama seolah2 seperti dosa yang tidak boleh dibawa ke ruang publik, sedangkan yg betul2 dosa boleh sepuas2nya diekspos dan dipaksakan untuk diterima sebagai kewajaran.
It's been over a month since you last posted that series.
Kalo saya bilang sih, it's in my blood, hehehe. Freud pernah blg, setiap pria dan wanita punya kemungkinan utk menjadi biseks atau homosexual.
Ada kutipan ttg pendapat Freud tsb : "Freud maintained that bisexuality was a normal part of development. That all of us went through a period of bisexuality and that, in the end, most of us came out heterosexual but that the bisexual phase we traversed remained on some unconscious level, and was dealt with in other ways."
Oleh krn itu, banyak orang alergi thp homosexual krn ada rasa takut (yg tidak terjelaskan) jika mereka menerima kaum homosexual dlm komunitas mereka, sisi homo dalam alam bawah sadar mereka akan menampakkan diri.
Kenapa perlu konfirmasi keheteroseksualan Anda?
yang suka label2 gitu sih cemen kelas teri.
Saya juga beberapa kali mengkonfirmasi dan membantah tuduhan di atas sana.
Konfirmasi itu pagar yang ringkas terhadap reductio ad ridiculum.
Maka menjadi fair kan kalau orang meneliti homoseksual dan bagus juga kalau diteliti heteroseksual. Jadi biar tahu jawabannya apa sih sebenarnya orientasi seksual dan faktor apa yang mempengaruhinya orang menjadi heteroseksual, biseksual, querr dan homoseksual?
Sudah ratusan orang tanya kepada saya, ada dua pertanyaan yang menurut saya klise dan agak konyol setiap kali ketemu saya. Pertanyaan yang selalu ditanyakan kepada saya adalah :
1. Kapan kamu menjadi gay?
2. Apakah kamu punya trauma atau mengalami pelecehan seksual, atau kurang kasih sayang orang tua?
Jujur pertanyaan itu awalnya sulit sekali aku jawab, saya mencoba menjawab dari apa yang aku tidak tahu. Karena memang bingung jawabnya.
Tapi lama-lama aku berpikir lagi, kenapa gak saya balikkan saja pertanyaan kepada si penanya?
Aku akan tanya kembali sebelum menjawabnya,kamu heteroseksual? penanya akan jawab, IYA.Pasti, kalaupun homoseksual dia akan jawab heteroseksual
1. Kapan kamu menjadi seorang heteroseksual?
2. Apakah kamu pernah mendapatkan pelecehan seksual dari orang atau pernah diperkosa oleh perempuan atau kurang kasih sayang sehingga menjadi heteroseksual?
Pasti penanya akhirnya akan senyum2 malu dan bertanya, salah ya mas pertanyaan saya? hmmmmm. aku jawab saja, tidak salah kok, cuma kok heran kenapa orang demen sekali tanya itu ya?
Malah ada salah seorang wartawan TV wawancara saya. Bagaimana kalau pasangan gay berjalan? saya waktu itu bingung, sampai minta klarifikasi lagi maksud pertanyaannya. Kemudian wartawan mengulangnya lagi pertanyaannya, gimana pasangan gay kalau jalan2 di Mall misalnya.
Aku jawab lah dengan sambil guyon, ya kalau pasangan gay jalan2 di Mall, caranya kayak Susten Ngesot begitu lah
Raika:
Saya tidak akan teriak dan bersuara keras kalau hak-hak kelompok homoseksual tidak dihilangkan. Kelompok homoseksual dibungkam oleh negara atas nama agama atau dalil2 moral yang tidak jelas.
Karena dia waria, gay, Lesbian hak2 sebagai warga negara hilang. Itu yang sedang saya perjuangkan.
Karena saya yakin hak warga negara itu tidak datang dari langit, tapi harus diperjuangkan. Kalau negara meyediakan semua hak warga negara secara adil maka sudah tidak perlu lagi kami berjuang.
Kenapa petani, nelayan, orang miskin, perempuan, peyandang cacat, agama minoritas terus berteriak dan bersuara atas hak-hak nya? Itu karena hak-hak mereka dihilangkan oleh negara dengan alasan banyak hal.
Begitu juga kami, kelompok homoseksual sedang berjuang merebut hak-hak kami sebagai warga negara yang seharusnya disediakan oleh negara. Padahal kalau mau itung2an kami kelompok homoseksual, biseksual, waria berapa besar kontribusi sumberdaya kepada negara ini.
Kita tahu usaha kreatif, seperti seni, desainer, salon, restoran, pariwisata,musik bahkan sampai profesional, kebayang tidak berapa besar kontribusi kelompok homoseksual, waria didalam industri itu? Kain2 traditional dan segala kekayaan Indonesia terangkat dimata International banyak karena kreatif kelompok homoseksual. Berapa besar kontribusi sumberdaya kami, kelompok homoseksual kepada anggaran negara (APBN / APBD). Saya yakin sekali, disetiap perusahaan di Indonesia bahkan di dunia pasti ada kelompok homoseksualnya, tapi memang tidak banyak yang terbuka ke umum. Karena itu hak masing-masing orang.
Jadi kalau mau itung2 jasa kpd bangsa, gak bisa keitung. Saya berencana melakukan riset soal kontribusi kel. homoseksuald alam industri kreatif untuk sumberdaya APBN di Indonesia. Penelitian ini akan kerjasama dengan ahli ekonomi pembangunan di UI. Mudah2an nanti hasilnya bisa membuka mata kita, bahwa kami berkontribusi pada bangsa.
Sehingga menjadi relevan dan pantas kalau kamu menuntut hak kami sebagai warga negara.
Klampisireng: Teori Freud memang mengatakan itu, bahwa dasar nya manusia biseksual. Bisa jadi homo atau hetero. Lingkungan yang membentuknya. tetapi Freud sendiri dikritik oleh Lacan dan Kristeva, bahkan umumnya feminis mengkritik teori Freud. Tapi itu lah dinamika pengetahuan memang selalu berkembang.
Iya memang kalau kita sedang membahas homoseksual, saya pikir tidak usah kuatir dicap atau dituduh sebagai homoseksual. Kalau homoseksual juga tidak masalah, atau heteroseksual juga tidak masalah. Kita sedang bicara soal konsep dan argumentasi tentang homoseksual.
Saya kuatir jangan-jangan kita memang sangat Phobia terhadap homoseksual.
Saya jadi ingat seorang aktivis homoseksual, perempuan, dia meyatakan dirinya bukan Lesbian. Pada saat diatas panggung dalam acara Komnas Perempuan dengan pelapor khusus PBB untuk human right defender, aktivis itu menyatakan bahwa saya bukan Lesbian walau saya pejuang homoseksual.
Saya kaget banget, wow kenapa dia bilang begitu. Mau lesbian atau bukan tidak ada urusan, yang penting dia berjuang untuk homoseksual.
Menurut saya ini petunjuk bahwa begitu kerasnya sistem heteroseksual masuk dalam alam pikir manusia sampai sangat sulit sekali kita keluar dari sistem kontruksi itu. Sehingga kekuatir dituduh homoseksual luar biasa menakutkan sekali. Tapi inilah tantangannya kedepannya. Bagaimana kita bisa menghargai manusia bukan pada orientasi seksualnya, tapi karya nya. Saya yakin dialog ini akan ada manfaat, jika kita dihadapkan pada kenyataan real didepan kita. Misalnya anak kita, adik kita, kakak kita mengaku bahwa dia adalah homoseksual. Minimal dialog ini bisa menjadi renungan kita bersama. Kalaupun kita akan mengubahnya menjadi heteroseksual, minimal kita memperlakukannya dengan cara yang lebih manusiawi. Karena mau menjadi homoseksual ataupun heteroseksual adalah hak sepenuhnya individu. Makanya saya selalu mendukung seorang gay atau lesbian yang akan berubah menjadi seorang heteroseksual. karena itu pilihan dan hak merdeka manusia.
Saya sadar memilih menjadi homoseksual itu untuk di Indonesia sangat berat, ada banyak konsekuensi berat yang harus dihadapi pada sistem sosial politik dan masyarakat di Indonesia yang sangat heteroseksual berpikir. Contoh kecilnya bagaimana sikap warga di web ini ketika bicara homoseksual. Saya tahu itu juga sangat mungkin terjadi diluar sana, dimasyarakat.
Sehingga tidak banyak orang mampu menghadapi tantangan ini. Biasanya kalaupun tidak menikah biasanya akan memilih diam dan menjauh dengan keluarga. Memilih hidup sendiri. Walau berat, saya memutuskan pilihan sebagai homoseksual dan terus berjuang. Saya juga sadar apa yang saya lakukan ini akan panjang perjuangannya. Tapi minimal saya sudah mengungkapkan dan melawan.
Meminjam kata-kata Pramoedya Ananta Toer dalam novel Bumi Manusia, dialog Nyai Ontosoro dan Minke.
"Kita Kalah, Ma, bisik Minke pada Nyai Ontosoro"
" Kita telah melawan, Nak, jawab Nyai kepada minke.
"Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya."
Dialog itu memberikan inspirasi besar buat hidupku untuk terus melawan terhadap segala bentuk ketidakadilan.
Aku yakin, "Kemenangan bukan apa yang sudah kita dapatkan dari perjuangan ketidakadilan itu, "Tapi kemenangan adalah proses dari perjuangan melawan ketidakadilan itu"
Salam
Hartoyo
simple.. Mankind came in PAIR, man and woman, have you ever heard that?
[Sayangnya memang Islam selalu ketinggalan dengan Kristen. Karena Kristen sudah ada gereja yang membolehkan pernikahan homoseksual.]
I'm pissing myself laughing at your statement..
How dare you comparing one to another religion for your self pity amusement?
2. Apakah kamu pernah mendapatkan pelecehan seksual dari orang atau pernah diperkosa oleh perempuan atau kurang kasih sayang sehingga menjadi heteroseksual?
1. Sejak saya sadar kalau jenis kelamin yang dilahirkan kedunia itu cuma ada 2, laki dan perempuan.
2. Baca no 1.
Sampe bingung saya, kamu bertanya seperti itu sama siapa kok mereka ga bisa jawab? apa tingkat pendidikannya, umur berapa, jenis kelamin apa ratusan orang yang anda tanya balik itu?
Duh? Natural selection? Survival of the fittest? Evolution? Charles Darwin?
Ga pernah denger? Alamak.. keterlaluan kau!
[_ Homoseksual itu menentang aspirasi makhluk hidup untuk meneruskan keturunan secara alamiah _]
Kalau kita menganggap teori crichton soal biological fractal itu benar, maka kesimpulannya justru sebaliknya:
Homoseksualitas adalah ekspresi sistem biologis manusia untuk mencegah overpopulation yang justru bisa menyebabkan sistem biologis tersebut kolaps.
Kalau menggunakan logika pairing, homoseksualitas merupakan adaptasi sistem dalam menghadapi 'gangguan' dalam kestabilan sistem, yaitu mereka yang fahk ladies too much.
Kalau dari sisi statistik (tapi saya lupa membacanya di mana), homoseksualitas muncul ketika kesetimbangan populasi (1 wanita : 1.01 pria) terganggu, ketika rasio pria diatas 1.01, statistik pria homoseksual dalam sampel meningkat. Demikian pula ketika populasi wanita naik diatas rasio tersebut.
Bagaimana mekanisme itu bisa terjadi? bagaimana sistem bisa mengetahui ke arah mana ekspresi seksual? Still a mistery.
Mirip2 gaia hypothesis lah.
1. Perang
2. Hijrah
3. kanibal
4. epidemi
keong emas - keong emas
kamu memang keong emas...
baru kenal minta tidur....
You know them ?
You mean: 5. stupidity?
Yes, that works too.
ABCDEFGHIJKLMNOPRSTUVWXYZ:
Sistem biologis diketahui memiliki strategi multi chances dalam merespon keadaan.
Misalnya dalam strategi survival for the fittest antar spesies, di spesies satu muncul ekspresi sexual untuk shuffling dna antara 2 individu yang berbeda gene pool (yang menghasilkan multiple chances). Di spesies lain mereka brute forcing dengan membelah diri, namun mampu bermutasi.
Jika kita menganggap sistem biologis adalah peperangan antara sexual VS asexual, maka saya anggap wajar jika insting primitif manusia umumnya menolak homosexualitas, karena bisa jadi secara bawah sadar kita menganggap itu adalah kemenangan makhluk membelah diri.
.......
Sebenarnya konsep2 ini (Biological System, stabilizer, constant warring system) amat komprehensif dibahas dalam sebuah film dokumenter: The Matrix.
Silahkan login untuk memberikan pendapat