Ketika Kami Harus Bertahan! 20
Minggu, 1 Agu '10 00:52, dibaca 125 kali
Oleh : Hartoyo*
Suamiku mantan aparat TNI yang ditahan selama 1 tahun karena Narkoba,aku menyuap aparat hukum 30 juta dari hasil menjual tubuhku dan usaha salonku untuk keringan tahanannya. Tapi mengapa saya selalu dipukul suamiku? Kekerasan demi kekerasan selalu aku alami,baik phisik maupun psikis. Mau cerai tapi suamiku mengancam akan bunuh aku. Sekarang tiap hari aku menjenguknya dipenjara dengan memberikan makanan dan uang 50 ribu/hari.(Pengakuan Pekerja Sex Perempuan di Aceh).
Umurku 30 tahun, aku menikah umur 16 tahun. Pada saat umur anakku 17 bulan, suamiku pergi untuk mencari kerja. Selama hampir 4 tahun menunggu dalam ketidakpastian akhirnya aku mendapatkan kabar bahwa dia telah menikah dengan perempuan lain. Jangankan nafkah, bertemu anaknya tidak dia lakukan. Untuk bertahan hidup demi orang tua dan anakku. Segala bentuk pekerjaan "halal" telah aku lakukan. Sekarang kedua orang tua saya sakit-sakitan permanen dan anak saya sedang sekolah di bangku SMP kelas 3. Akhirnya aku memutuskan untuk "menjual" tubuhku untuk memenuhi semua kebutuhan keluarga. Perobatan orang tua dan biaya sekolah anak. Apa yang aku lakukan semua aku ceritakan kepada anakku. Agar anakku tahu apa yang ibunya lakukan dan alasannya mengapa aku melakukan itu. Pekerjaan yang tidak pernah aku bayangi sebelumnya. (Pengakuan Pekerja Sex Perempuan dari Malang Jawa Timur).
Aku tidak tahan lagi kalau harus berhubungan sex untuk melayani dua orang, suamiku dan seorang Waria. Selama 2 tahun aku harus melakukan cara-cara hubungan sex yang diinginkan suamiku. Perbuatan yang menjijikan bagi diriku. Tidak ada pilihan bagi diriku saat ini atas perlakuan suamiku kepada tubuhku. Mneurut suamiku tidak bisa ereksi dan nafsu kalau tidak melakukan hubungan sex bersamaku dan waria. Sampai sekarang aku harus melayani nafsu biadab suamiku secara berulang-ulang. Tetapi pada sisi lain aku harus tidur dengan banyak laki-laki lagi untuk mencari nafkah. Suamiku tidak memberikan nafkah pada keluarga. Akibatnya saya menjadi benci dan marah kepada semua Waria yang aku kenal. Sampai kapan penderitaan ini akan berakhir? Tapi saya bersyukur karena 2 orang anakku telah menempuh kuliah di UGM Yogyakarta dari hasil jerih payahku. Aku sudah tua,aku selalu berharap kepada Allah SWT bahwa pengalaman ini tidak akan dialami oleh anak-anakku nanti. (Pengakuan seorang ibu 4 orang anak dan Perempuan Pekerja sex di Yogyakarta).
Tiga penggalan cerita diatas adalah gambaran pengalaman perempuan pekerja sex yang penulis temui dalam satu kegiatan pertemuan pekerja sex se-Indonesia di Jakarta. Kalau sudah begini siapa yang harus bertanggungjawab? Ironisnya negara terus mengkriminalkan pekerja sex dan menstigmanya sebagai orang yang tidak bermoral? Hanya kejujuran hati yang dapat melihatnya dari kenyataan ini.
*Sekretaris Umum Ourvoice www.ourvoice.or.id
Tag: pekerja sex

Komentar:
maksudnya antara pasrah sama berontak, gitu?
jangan pasrah, harus berontak, gitu?
ayo ngaku!
Haih, ini lagi mba2 satu
Gw, ga mau sesumbar juga ngomong masih banyak pekerjaan lain yang halal. Ntar gw yg disuruh cariin. Tapi, itu merupakan pilihan mereka dan mereka tau kalau ada pilihan selain pekerjaan tersebut.
*ngacrit, takut dilempar bakiak*
liwung: oalaah masih pada ronda ternyata.
" kalau disuruh jd suaminya?"
Gw maksudnya? *tolong hamba Ya Allah* *saya masih normal* *tok tok on the wood*
"andaikan mereka bertemu dgn laki2 baik2"
Amin... Eh, di sini tuh stoknya banyak kayaknya, eaaa!
Ini persoalan klasik.
Apakah pilihan itu secara fakta memang ada? maksudnya untuk manusia macam apapun pilihan yang terbantang di depan dia pasti akan sama-sama : Ada pilihan.
Atau keberadaan pilihan itu akan bergantung pada faktor-faktor di dalam dan di sekitar manusianya?
Maksudnya untuk manusia tipe A
- dengan latar belakang D
- tingkat pendidikan G
- wawasan moral J
- skil keterampilan M
maka ia (mungkin) akan punya pilihan P, R, S, T (empat pilihan).
Sedangkan untuk manusia tipe B
- dengan latar belakang E
- tingkat pendidikan H
- wawasan moral K
- skil keterampilan N
maka ia (mungkin) akan punya pilihan lebih sedikit : U, V, W (tiga pilihan).
Dan untuk manusia tipe C
- dengan latar belakang F
- tingkat pendidikan I
- wawasan moral L
- skil keterampilan O
maka ia (mungkin) akan punya pilihan lebih sedikit lagi : X, Y (dua pilihan).
Jika demikian, mungkinkah ada orang tipe tertentu dengan latar belakang, pendidikan, skill, tertentu yang akhirnya memang hanya punya satu pilihan Z?
wawajie: dapet kerjaan yang baik sj belum menjamin mereka dpt keluar dari lembah nista (fuih puitisnya), mereka juga harus dapet suami/laki2 baik2
prsoalan hdup smua mnusia bgtu2x jg, urusan mmpertahankan hidup n brkembang biak (alamiah itu) hnya sj yg kmudia mmbedakan kualitas hdup ssorg adl pd pilihn2x dia mnghadapi prsoalan hidup
kbutuhan cri makn sma d ksih, kbtuhan cri ilmu sama dkash, anggota tbuh sama diberi, lalu knapa ad yg jd maling? ad yg jd placur? ad yg jd pedagang? ad yg jadi pengusaha? ad yg jd penguasa?
jgn nylahin lingkungan, keadaan, apalgi nyalahin yg Maha Kuasa. u cma pngecut yg lari dr tanggung jwab dg pilihan hidup aja.
slahkan jd banci n ngamen di jln pling resiko tantib yg gruk lha itu wjar lah. rsiko hidup
s'ma jg plihan hdup bg koruptor, mrk sdh siap untuk brhadapan dgn hukum (dipnjara)
u kok cngeng jadi bncong? melas pngen dkasihani apa?. udah jlani sj hdp u n gak usah kaget klo bnyak pnolakan dri sana sini, wong itu hal yg lumrah kok (alamiah)
kita sepakat mbah wawajie: selalu ada pilihan, selalu!
maaph aye repost gan...
Teteup tanpa huruf Q.
Dari 3 cerita diatas, 2 adalah korban perdagangan orang yang dijual sebagai prostitusi. Sebelum mereka "memilih" menjual tubuhnya sendiri.
Sedangkan yang satu lagi adalah korban kekerasan dalam rumah tangga dari laki2 yang dulu menghamilinya. Sekedar info tambahan saja dari latar belakang 3 orang perempuan itu. Supaya kita bisa melihat persoalan pekerja sex jauh lebih jernih melihatnya. Tidak asal menghakimi saja.
Salam
Toyo
Silahkan login untuk memberikan pendapat