Membaca Arah Bola Video Papua 21
Minggu, 24 Okt '10 10:09, dibaca 708 kali
Hari Kamis (21/10) lalu saya dikejutkan dengan message di Facebook dari seorang wartawan senior. Beliau menjawab pertanyaan saya mengapa postingnya di note Facebook tentang transkrip video interogasi dua orang Papua dihapus. Intinya, ia mengatakan kuatir keselamatan jiwanya terancam. Ia juga meminta agar namanya yang saya sebutkan di postingan blog dihapus. Saya heran juga, mengapa wartawan senior seperti dia yang merupakan koresponden berbagai media luar negeri harus merasa kuatir.
Saya merasa, justru transkrip itu harus disebar-luaskan dengan perspektif berbeda. Seperti saya tulis di pengantar, penyebarluasan video itu justru untuk menjaga nama baik TNI dan negara kita. Maka, pada hari itu juga saya posting transkrip itu di blog.
Meski begitu, saya sempat kuatir juga. Saya mencoba 'menenangkan diri' dengan mengirim sms kepada 'mentor' saya, seorang mantan pejabat tinggi negara yang kini lebih menyenangi peran sebagai "king maker". Dalam 5 menit, beliau segera membalas yang intinya mengatakan: "everything is ok." Bahasa militernya: "aman terkendali". Legalah saya.
Makin lega saya ketika hari Jum'at (22/10)-nya ada berita bahwa TNI mengakui kebenaran video Papua (kompas.com). Menurut Menko Polhukam Djoko Suyanto, Presiden SBY juga sudah mengetahui hal itu. Di hari Jum'at itu pula digelar rapat khusus para menteri bidang politik, hukum dan keamanan. (vivanews.com). Pernyataan resmi pemerintah itu membantah 'analisa pakar IT' Roy Suryo yang sebelumnya meragukan isi video itu.
Akankah para pelaku dalam video itu ditangkap? Bagaimana dengan perbedaan nama korban? Pemerintah -dan Komnas HAM- menyebut warga Papua yang diinterogasi dengan siksaan itu adalah Kindeman Gire. Sementara Aliansi Mahasiswa Papua menyebutkannya sebagai Tunaliwor Kiwo dan Telangga Gire. Apakah kedua nama Gire itu sama?
Semua itu masih tanda tanya. Mungkin menunggu 'petunjuk' dari Pentagon, atau bagaimana. Yang jelas, Obama tampaknya hampir pasti datang tanggal 7 November 2010 mendatang. Lalu akan ada bantuan militer A.S. untuk kita yang rencananya ditandatangani Obama bulan depan setelah bulan Juli lalu diumumkan Menhan A.S. (U.S. Secretary of Defense) Robert Gates.
Bagaimana membaca arah bola video Papua? Akankah Papua lepas dari pangkuan bumi Pertiwi? Justru kalau membaca 'sinergi' A.S. dengan pemerintahan SBY, tampaknya malah akan 'aman terkendali'. Tampaknya, setelah euforia kunjungan Obama dan beliau pulang ke negerinya, kasus ini akan terkubur. Sama seperti kasus-kasus lainnya yang masih jadi "dark number".
Bagaimana menurut Anda?
Tag: SBY, pemerintah, tni, video, Papua, Menko Polhukam, A S
Terkait:
-
Usir Freeport dari Tanah Papua, Tarik Pasukan Non-Organik TNI/Polri!
Kamis, 17 Nov '11 02:28 -
Iklan kemerdekaan Papua
Senin, 14 Nov '11 12:41 -
Keajaiban dunia
Senin, 7 Nov '11 07:08
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Last Man Standing: Terkini
-
BocahnDeso: Penting
-
Black Horse: Penting
-
IB: Bagus
-
l. wiji widodo: Penting
-
jokka kapigi: Menarik
-
Ibnu Muslim: Menarik
-
yusro: Menarik
-
amril zal: Penting
-
hamatamu: Biasa
-
krisnov: Penting
-
jamur: Penting
-
ipool: Menarik
-
Harlan Eryandi: Menarik
-
rohanisyawaliah:

Komentar:
Maksud hati membela pemerintah malah dibantah simpulan analisisnya. Lagi pula bukan video pornografi, kenapa minta analisis ke Roy...
amril zal:
sepertinya begitu, ini akan jadi senjata Amrik untuk menekan SBY.........tapi bisa juga jadi senjatanya SBY untuk mengendalikan TNI lho......
Soal Papua lepas atau tidak itu tergantung bagaimana dari kalkulasi BCR (Benefit Cost Ratio)......kalkulasi dalam perbandingan biaya yg dikeluarkan oleh Freeport, dimana lebih murah mana antara biaya untuk memelihara pejabat pemerintah RI (Papua masih dibawah RI) dengan biaya untuk memelihara pejabat pemerintah Papua Merdeka (Papua dimerdekakan)....
Nah, berlomba-lombalah mengajukan proposal kepada tuannya, Paman Sam.......
Proposal pertama : Pemerintah RI akan mengajukan proposal kepada Amrik agar mendukung Papua tetap dibawah RI dengan rincian kompensasi benefit yg diberikan kepada Freeport dan dilampiri ongkos yang dibutuhkan oleh para pejabat negaranya (untuk membiayai mesin politiknya, membiayai keluarganya, sisanya disetorkan kepada kas negara)....
lalu jajaran tokoh yg mungkin berpeluang jadi pejabat di Pemerintahan Papua Merdeka pun juga akan mengajukan proposal serupa kepada Amrik agar mendukung Papua lepas dari RI lalu menjadi Negara Papua Merdeka, dengan rincian kompensasi benefit yg diberikan kepada Freeport dan dilampiri ongkos yang dibutuhkan oleh para pejabat negaranya (untuk membiayai mesin politiknya, biaya perjuangan meraih kemerdekaannya, sisanya disetorkan kepada kas negara)....
Kira2 ceritanya seperti begitu itu nggak ya ?.
Ahsantum . . . .
Bargain . . . .
ya ndak apa2, toh nanti pejabat ri pun jg akan menandinginya dg memberikan diskon harga khusus bagi paman sam....ya dg resikonya, terpaksa deh biaya untuk mesin parpolnya lengkap dg fee konsultan media itu harus dicarikan sumber pembiayaan dari yg lainnya....ya tapi harus gimana lagi, harus begitu daripada papua menjadi merdeka maka artinya setoran ke katung saku dirinya juga menjadi berhenti....ya toh ?...
BocahnDeso: Mmm, gampangnya emang gitu. Soalnya dari kasus Timtim, salah satu yg terlihat jelas adalah segera dieksplorasinya minyak di Celah Timor setelah provinsi ke-27 kita itu merdeka. Padahal selama Timtim terintegrasi dengan Indonesia, negosiasi dengan Australia selalu buntu.
jokka kapigi: hihihi, justru biar tambah eneg...
BMH:
Hmmm, kalau begitu, di Timtim itu, para tuan ndoro tauke bule menilai proposalnya para pejabat RI itu BCR-nya
BMH:
Hmmm, kalau begitu, di Timtim itu, para tuan ndoro tauke bule menilai proposalnya para pejabat RI itu tak layak bisnis karena terlalu mahal biaya yg diminta oleh para pejabat RI , ataukah karena terlalu murah besarannya biaya yg diajukan oleh para (calon) pejabat negara (calon) pemerintahan Timtim merdeka ?
krisnov:
demi kepentingan (negaranya) Obama dan demi kepentingan kelangsungan kekuasaannya para pejabat negara (antek) bonekanya USA di Indonesia ?
BMH:
realitanya menjadi jauh lebih kompleks karena para elit politik dan pejabat pemerintahan negara RI banyak yg nggak rela, yg nggak relanya bukan karena motivasi ingin mempertahankan NKRI, namun lebih karena karena di tempat2 itulah ada sumber2 kekayaan alam yg dapat dikonsesikan kepada ndoro tuan tauke bule dimana aliran uangnya dapat untuk membiayai mesin politiknya dan menopang keberlangsungan tahta kekuasaannya, begitu khan ya ?.
amril zal:
hehehe....jangan dong, karena nantinya biaya untuk menggerakkan mesin politiknya para elit politik dan penguasa negara itu akan didapatnya dari mana ?...
Selama populasi dan kekuatan Islam bisa mengimbangi populasi kristen di Maluku dan Papua, maka Papua dan Maluku gak bakal lepas dari Indonesia.
krisnov:
waduh...sebuah statement yg sangat berani, walau jujur seperti itulah realitas kenyataannya....
Silahkan login untuk memberikan pendapat