Awas, Peminta Sumbangan Palsu! 10

Senin, 15 Nov '10 09:51, dibaca 636 kali

Bencana alam yang terjadi di Wasior, Mentawai dan terutama Gunung Merapi telah membuat kita terhenyak. Nurani kemanusiaan kita tersentuh. Namun, ternyata ada saja golongan masyarakat yang mencoba memanfaatkan dengan meminta sumbangan langsung di jalan-jalan. Memang, ada yang niatnya baik, namun justru saya mencurigai ada yang sejenis dengan "pebisnis kotak amal" yang tiap hari beredar di jalan, bus kota dan kereta api. Kita semua sama-sama tahu, mereka punya boss atau cukong yang mengkoordinir dan hampir bisa dipastikan kotal-kotak amal itu bukan berasal dari lembaga yang sah dan juga tidak memiliki izin penyelenggaraan kegiatan dari pemerintah.

Sebenarnya, meminta sumbangan di masyarakat tidak bisa seenaknya. Ada peraturan pemerintah yaitu U No 9 Tahun 1961 tentang Pengumpulan Uang atau Barang (PUB). Selain itu juga terdapat aturan tambahan yaitu Peraturan Pemerintah No 29 Tahun 1980 tentang Pelaksanaan Pengumpulan Sumbangan dan Kepmensos RI No 56/HUK/1996 tentang Pelaksanaan Pengumpulan Sumbangan oleh Masyarakat. Di situ, diatur bahwa setiap permintaan sumbangan selain harus dilakukan oleh organisasi berbadan hukum, juga mengantungi izin dari Kemensos. Bahkan peminta sumbangan juga harus membayar biaya penyelenggaraan PUB sebesar Rp 100 ribu/kegiatan seperti diatur dalam PP No 61 Tahun 2007 tertanggal 16 November 2007.

Menghadapi peminta sumbangan di jalan memang tak mungkin menanyakan izin segala. Maka pedoman saya cuma apakah peminta sumbangan itu jelas identitasnya, misalnya dari lembaga atau senat mahasiswa kampus tertentu. Kalau tidak, ya tidak usah diberi. Misalnya saja foto hasil jepretan saya di wilayah Jakarta Timur hari Jum'at (12/11) lalu, dimana para peminta sumbangan ini bahkan berpakaian ala "anak jalanan" tanpa identitas jelas. Karena memang mudah saja meminta sumbangan semacam ini. Tinggal bermodal kardus air mineral bekas, lalu ditempeli sehelai kertas yang ditulisi dengan spidol atau ballpoint -kalau punya modal lebih bisa diprint-, jadi deh. Tinggal 'mejeng' saja di jalan mencegat pengendara lewat. Memang semua kembali kepada kita sendiri sebagai warga, apakah masih mau memberi "nafkah" kepada para peminta sumbangan palsu ini, di saat pemerintah seperti tak berdaya atau malah tak peduli menertibkannya.


Tag: palsu, bencana, masyarakat, Sumbangan, mentawai, Merapi, wasior

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

botaksakti 0 0
Maksudnya minta "diut palsu", Bu????: D: D(kabor ah)
BMH 0 0
botaksakti: kok minta "diut palsu"?
#hayooo! jangan kabur! jelaskan dulu!
Whispering Wind 0 0
kasih aja duit palsu, itu lho duit2an yang ada di monopoli
itemkelem 0 0
OOT. pernah ada tukang warteg cerita bahwa sebelumnya ada pengemis datang ke wartegnya. sang pengemis dengan bangganya ngomong bahwa dia baru saja mendapat 1.2jt di hari itu.

dalam hati saya, 'anj***'

daripada ngurus 'pengemis dadakan' ini mendingan urus pengemis yang asli dulu deh.
sungguh meresahkan "mental" kaum pekerja & kaum yang usaha.
Whispering Wind 0 0
itemkelem: [daripada ngurus 'pengemis dadakan' ini mendingan urus pengemis yang asli dulu deh]

Ga usah pengemis dadakan, pengemis yang laen juga ada yang kaya (http://www.lintas…/go/763529).

Masalahnya ngebedain yang benar2 mengemis karena tidak mampu dan orang2 yang begini gimana cara
itemkelem 0 0
Whispering Wind: sebenernya kl saya sih tidak pernah bermasalah sama pengemis. karena pengemis tidak ada dalam kamus saya. saya cmn ngasih duit ke pengamen yang niat nyanyi (dan layak).

kl 'pengemis asli', harusnya sudah ga ada karena itu kewajiban pemerintah untuk ngurusnya. lagian bukankah udah di haramin ama MUI buat ngasih duit ke 'pengemis asli' itu?

[...ngebedain yang..] kalo kl pengen nyumbang ke lembaga yg terpercaya saja (pmi/kampus/dll) jangan lupa survey 'tampangnya'. meskipun itu gak jaminan bener jg.
botaksakti 0 0
sumbangan palsu: D
BMH 0 0
itemkelem: Yep... saya sering banget denger cerita semacam itu. Saya pernah pula npobrol dgn para pembawa kotak sumbangan itu yg dgn polosnya bilang lokasi bossnya ada di mana.
Whispering Wind: yeah... karena pemerintah kebanyakan urusan, makanya urusan begini yg dianggap remeh filternya ya kita sendiri.
Aryo Bimo 0 0
tipu daya kesempatan dalam kesempitan...
Rivan Mubaroq SH 0 0
BMH: bung, kayak orang yg pura2 tidak tahu atw bego saja hal seperti itu, mencari kesempatan dalam kesempitan, maling teriak maling..

Silahkan login untuk memberikan pendapat