Cara "Gila" Membangun Indonesia: Pengalaman dari Tolikara 23
Jumat, 10 Des '10 10:18, dibaca 725 kali
Salam dari Jayapura! Kami bertiga baru saja keluar dari pedalaman Tolikara menyaksikan Olimpiade Astronomi se Asia-Pacific.Hasilnya? Pelajar2 Indonesia menduduki urutan ke-2 dari 9 negara, denganperolehan 1 medali emas, 2 perak dan 4 perunggu. Korea Selatan di urutanpertama dengan 2 emas. Indonesia berada diatas China, Rusia, Kazakshtan,Kyrgistan, Nepal, Cambodia, dan Bangladesh. Lebih mengejutkan lagi, 3 medaliperunggu Indonesia di raih oleh pelajar asal Tolikara, kabupaten terpencil diTolikara, yang selama ini mengalami keterbelakangan pendidikan dan SDM. DariTolikara, Indonesia belajar!Kisahnya dimulai dengan seorang "gila"bernama Yohanes Surya, pendiri Surya Institute dan salah satu aktivis olimpiadescience dunia, yang telah sukses mempromosikan banyak anak Indonesia ke ajang olimpiade science dunia, memprakarsai dilaksanakannya Olimpiade Astronomi AsiaPacific (APAO) di Indonesia.
Program ini ditawarkan ke berbagai pemda diIndonesia, namun tidak ada yang tertarik. Hingga suatu hari ...Yohanes Surya ketemu dengan seorang"gila" lainnya bernama John Tabo, orang Papua, Bupati Tolikara,pegunungan tengah Papua, kabupaten baru yang terisolir dan hanya bisa dicapaidengan naik pesawat kecil dari Jayapura ke Wamena disambung berkendaraanoff-road selama 4 jam, daerah dimana laki-laki tanpa celana dan perempuan tanpapenutup dada, ditemukan dimana-mana. John Tabo, tanpa diduga, bersedia menjadisponsor pelaksanaan APAO di Indonesia, selain menjadi tuan rumah, dia jugamendanai seluruh biaya persiapan tim olimpiade Indonesia yang datang dariberbagai daerah di Indonesia termasuk dari Papua, selama 1 tahun.
John Tabo membangun tempat khusus (hotel) untuk menjadi venue olimpiade ini. Orang yangberfikir normal pasti bilang, untuk apa John gila ini urusin Olimpiadeastronomi seperti ini? bukankah masih banyak persoalan internal kabupaten yangharus dia selesaikan? mulai dari pendidikan, kesehatan, ekonomi dan berbagaiinfrastruktur dasar? Cari kerjaan dan masalah saja!John Tabo melakukan terobosan "gila".
Dana diambil dari APBD, mau dari mana lagi? Dia tidak takut BPK atau BPKP yangakan menilainya salah prosedur. Untuk John Tabo, membangun adalah untuk rakyat,jangan dibatasi oleh hal-hal administratif. Yang penting misi dia untukmembangun SDM Tolikara yang mendunia dapat tercapai, dan itu"breakthrough" untuk mengatasi kemiskinan Tolikara, tidak perlumenunggu sampai infrastruktur jalan akses terbuka.Dikumpulkanlah 15 anak Indonesia sejak februari2010 di Karawaci untuk, kesemuanya "gila". 8 dari 15 anak tersebutdirekrut dari SMP/SMU Tolikara, yang semuanya memiliki kemampuan matematikayang rendah, menyelesaikan soal matematika tingkat kelas 4 SD saja tidak mampu.
Bahkan ada yang namanya Eko, ketika ditanya 1/5 + 1/2, langsung dijawab 1/7!Seorang anak dari Kalimantan Tengah, malah tidak diijinkan kepala sekolah dangurunya untuk mengikuti persiapan olimpiade ini.
Guru-gurunya mengatakan bahwaapa yang akan dia ikuti itu sia-sia saja. Dia melawan ini dan lari darisekolah!Ke-15 anak ini dilatih oleh pelatih2"gila", yang tidak bosan dan kesal melatih anak-anak ini. Dalam 10bulan ke-8 anak Tolikara ini mampu mengerjakan problem matematika paling sulit yangdiajarkan pada tingkat terakhir SMA atau tingkat awal universitas.
Pendekatan mengajarnya juga"gila". Astronomi adalah kumpulan dari berbagai ilmuscience: matematika, fisika, kimia dan biologi menjadi satu mempelajarifenomena jagad raya. Ini juga ilmu gila. Bayangkan seorang anak sepertiEko dari pedalaman Tolikara dapat menjadi salah seorang anak terpandai dibidangastronomi didunia hanya dalam waktu 10 bulan??!!
Urusan ijin ternyata juga "gila-gilaan".Ternyata even APAO ini tidak diakui oleh Kemdiknas. Akibatnya, untukmendatangkan peserta luar negeri, tidaklah mungkin mendapatkan fasilitas visadari negara. Pake prosedur normal ijin dari Pemerintah cq Mendiknas tidakkeluar. Entah gimana ceritanya ...Surya Institute akhirnya bertemu dengan seorang"gila" dari UKP4. Orang inilah yang mengetok Menteri Diknas, sehinggakemdiknas mau mengeluarkan ijin. Lalu orang ini memfasilitasi ijin visadisaat-saat terakhir, ketika semua sudah pasrah, bahkan orang ini mempertemukananak-anak Indonesia dengan wakil presiden RI.
Orang normal mungkin akanberfikir, apa urusannya astronomi dengan wapres??!!Lalu siorang gila dari UKP4 ini menugaskan 3 oranganggotanya yang kebetulan juga "agak gila" untuk datang menghadirikegiatan olimpiade di Tolikara. jadilah 3 orang itu sebagai satu2nya unsurpemerintah pusat dalam even Olimpiade di Tolikara. Lalu 3 orang inimembawa-bawa nama Wakil Presiden RI dan Kepala UKP4 untuk memotivasi anak2.
Dalam percakapan hati ke hati dengan 15 orang anak, semalam sebelum pengumuman,tidak kurang 7 orang anak terharu menangis, melihat begitu besarnya perhatianpemerintah RI kepada mereka, sesuatu yang tidak pernah mereka rasakan daripemerintah di Jakarta selama 10 bulan mereka di godok di Karawaci.
Datang danduduk bersama dengan mereka, ternyata lebih dari segalanya bagi anak-anak ini.Anak-anak Tolikara begitu terharu, menangis terisak, melihat ada orang Jakartamau datang melihat mereka di Tolikara.Apa hasil dari semua kegilaan ini?
Selainperolehan medali-medali diatas:1. Indonesia dikenal lewat Tolikara! Tolikara,meskipun tidak dikenal Indonesia, namun telah membuktikan kepada dunia bahwadari tempat yang sedikit sekali dijamah pembangunan, bisa lahir juara-juaraolimpiade science, yang akan mengharumkan nama Indonesia ditingkat dunia,2. Tolikara mulai membenahi sumber daya manusianyamenuju SDM berkualitas dunia.
Hasil olimpiade ini telah memotivasi semua anakTolikara bahwa keterbatasan fisik dan fasilitas bukanlah halangan bagi anakTolikara untuk menjadi SDM terbaik dunia. 8 anak Tolikara yang bersaingditingkat dunia menjadi saksi hidup bahwa SDM Tolikara dapat bersaing ditingkatdunia.3. Tolikara membuktikan bahwa mereka dapatmembangun "lebih cepat" jika cara berfikir "gila" iniditerapkan. Hanya dengan cara gila seperti ini pembangunan Papua dapatdipercepat.4. Kita perlu "A Tolikara Approach"untuk sebuah percepatan pembangunan Papua!
Pesan moral dari kisah ini: jadilah orang gilauntuk membangun Indonesia lebih baik! Never underestimate things! Kesempatan keTolikara telah memberikan pelajaran berharga bagi saya.
Belajar tidak harus selalu dari tokoh dunia. Dari seorang anak SMP yang tidak pernah diperhitungkandipelosok Tolikara, kita dapat belajar untuk berbuat yang terbaik bagiIndonesia dan dunia.
sumber: email milis jurnalisme
Tag: tolikara
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Whispering Wind: Inspiratif
-
jendela: Keren
-
GusBushTom: Inspiratif
-
Marshall Rommel: Inspiratif
-
wolfman: Inspiratif
-
TTTH: Keren
-
Topi Miring: Keren
-
jamur: Inspiratif
-
BocahnDeso: Bagus
-
boiga: Keren
-
The Crow: Keren
-
Last Man Standing: Menarik
-
emina: Keren
-
Harlan Eryandi: Inspiratif
-
Maximillian: Keren
-
Black Horse: Penting
-
conscientizacao: Inspiratif
-
susan susanto: Keren
Komentar:
*btw, sebelum posting mohon diperiksa dulu ejaan dan penggalan katanya, nice article, tapi agak pusing bacanya.
btw, kegilaan seperti itu biasanya akan berhadapan dengan "kegilaan" lain yang bertolak belakang: Gak sesuai kurikulum, kelas gak boleh ribut, dll,dll
kita memang butuh banyak kegilaanbotaksakti:
all: salam kenal ya
(mencoba membangkitkan emosi botaksakti
Andri Al-Fanshuri: salam kenal Andri Al-Fanshuri, moga betah di Politikana
Whispering Wind: terimakasih mbak. semoga saya dapat banyak belajar
Andri Al-Fanshuri: wah dosen ya? Saya jadi malu...
trus bisa jadi juara olimpiade dunia
wooooowwww
kayaknya banyak deh anak2 di dusun saya yang juga "punya bakat" untuk jadi juara dunia
saya sih nggak heran dengan hasilnya
di sekolah hal2 itu nggak ada
baik prof, nanti diperbaiki lagi
Dari sembilan negara, apakah masing-2 peserta kebagian medali? Kok indonesia dapat 4 perunggu berarti 4 kategori, sekurang-2nya tentu ada 12 medali.
Salut dengan usaha keras anak-2 Tolikara dalam belajar.
adik saya sudah mendapat medali emas Fisika Dunia di Singapura pada 2006 setelah itu diikuti banyak anak madura lain
bener2 sistem kita yg gak mendukung majunya anak bangsa...
makanya saya skr lagi mengumpulkan donatur untuk memberi beasiswa bagi mereka yg tak mampu tapi berbakat
Mereka yg berasal dari pegunungan, cenderung lambat memahami suatu perintah, tetapi kebersamaan, kekeluargaan dan loyalitasnya sangat bagus.
Sedangkan yg tinggal di pantai relatif cepat memahami ilmu baru, perintah dsb, namun kebersamaan cenderung kurang (individual).
Saya bertanya kpd mereka, "Makanan apa?" Jawabnya yg di pegunungan tak pernah makan ikan, yg di pantai setiap hari makan ikan.
Silahkan login untuk memberikan pendapat