Revolusi? Memangnya Gampang? 26
Jumat, 21 Jan '11 09:42, dibaca 586 kali
Hari ini, di media massa terbetik kabar soal pernyataan Jenderal TNI (Purn.) Tyasno Sudarto -mantan KSAD- yang menyerukan revolusi. Meski dibungkus dengan kalimat diperhalus "Gerakan Revolusi Nurani", namun toh tetap ada kata "revolusi"nya. Bisa jadi, ia merupakan satu dari beberapa elemen yang merencanakan "Revolusi 2011". Mereka tidak ingin menunggu hingga Pemilu 2014 dengan berbagai alasan.
Terkait pernyataan Tyasno tadi, selain soal rekam-jejak sang jenderal, ada masalah lain. Yaitu sebuah pertanyaan besar: memangnya gampang mencetuskan revolusi? Ada banyak unsur kompleks saling terkait dalam revolusi. Tidak hanya pemerintah yang dianggap tidak kompeten, tapi juga reaksi massa terhadap ketidakkompetenan itu, kesiapan intelektual, peran gerakan penggalangan massa, fungsi kelompok penekan, bahkan -believe it or not- dana yang amat memadai. Dalam hal terakhir ini, peran kelompok oposisi atau pihak yang tidak sependapat dengan pemerintahan sekarang sangat dibutuhkan.
Karena itulah, harus diingat, meski hampir selalu mengatasnamakan "kepentingan rakyat" dan dalih "menyelamatkan negara", setiap revolusi selalu berujung pada perebutan kekuasaan. Baik itu revolusi damai atau kudeta berdarah, ujung-ujungnya adalah bergantinya pemerintahan. Pada kasus ekstrem memang sampai ada yang berujung pada perubahan konstitusi bahkan hancurnya sebuah negara. Sebutlah seperti revolusi Turki saat Mustafa Kemal Pasha "Attaturk" merebut kekuasaan negara dari Sultan Abdul Hamid II tahun 1923. Saat itu imperium kekhalifahan Islam terakhir Turki Otsmani hancur dan digantikan Republik Turki.
Revolusi memang hampir selalu dikaitkan dengan politik dan pemerintahan. Meski arti kata dasarnya adalah "perubahan secara cepat" sebagai antinomi dari "evolusi" atau "perubahan secara bertahap/gradual". Maka, bila muak dengan kondisi Indonesia, memang revolusi satu-satunya cara. Karena evolusi berarti akan makan waktu amat lama (ingat evolusi manusia ala Darwin?) dan bisa jadi hasilnya tidak sesuai harapan. Ini karena ada proses adaptasi sehingga bisa jadi ada penyiasatan dari mereka yang seharusnya tergusur.
Namun, dalam menyerukan revolusi, memang seharusnya ada prakondisi atau situasi sebelumnya yang seyogyanya dipenuhi. Sara Robinson menulis, setidaknya ada tujuh prasyarat menuju revolusi. (lengkapnya bisa dibaca di sini), yaitu:
- Membubung, Lalu Hancur
- Adanya Perang Kelas
- Intelektual yang diabaikan
- Pemerintah yang tidak kompeten
- Pengecut di Kelas Penguasa
- Ketidakbertanggungjawaban dalam Bidang Pajak
- Penggunaan Kekuatan Yang Tidak Konsisten
Sudahkah di Indonesia hal itu terpenuhi?
Tag: revolusi, Jenderal, Tyasno, prakondisi, Sara Robinson
Terkait:
-
BANDIT-BANDIT REVOLUSI
Senin, 2 Apr '12 17:29 -
Apa Pemicu Revolusi Indonesia?
Selasa, 2 Agu '11 16:34 -
Tak Ada Revolusi sampai dengan tahun 2014
Senin, 1 Agu '11 15:25
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
pras: Lucu
-
BocahnDeso: Menarik
-
Ibnu Muslim: Menarik
-
emina: Keren
-
mbah joebir: Menarik
-
Whispering Wind: Menarik
-
conscientizacao: Penting
-
Harlan Eryandi: Menarik
-
Black Horse: Menarik
-
rohanisyawaliah:

Komentar:
bila revolusi terjadi, siapa dan apa yang mau kita revolusi ? kepala negaranya kah ? atau DPR nya kah yang selama ini trouble maker, atau yudikative nya yang harus di revolusi krn keadilan yang sudah perdagangkan.
ingatlah bahwa, indonesia memiliki konstitusi di mana presiden tidak bisa mencampuri urusab legislative dan yudikative ( hukum )
nah, bila kita turunkan presiden, apa kita bisa jamin penggantinya tidak lebih parah ? akankah pengorbanan kita jai sia sia krn revolusi yang tak terarah ? sebelum lakukan, kita pikirkan di mana sumber masalahnya.
peace
revolusi itu gampang bung, gampang sekali
sang waktulah yang akan menentukan jika itu memang harus terjadi,
momentum bung, setiap revolusi menuntut adanya momentum, suatu keadaan yang menyebabkan semua bahan bakar untuk revolusi itu akan bersama-sama mencapai kematangannya dan akhirnya meledak
tapi momentum itu memang nggak bisa dirancang, dia akan menemukan jalannya sendiri untuk hadir dalam kekusutan ini
justru revolusi itu dirancang dengan rapi. tidak ada yang tidak. revolusi amerika vs inggris, revolusi prancis menggulingkan kekaisaran, bahkan hingga revolusi damai semacam revolusi tulip. massa di bawah memang memandangnya spontan karena tinggal ikut. padahal para pemimpin revolusi merencanakannya dg matang.
waspada bung, terhadap tanda-tanda jaman
hahahahahaha
nggak-nggak begitu, ada banyak faktor2 yang menggerakkan revolusi itu datang dengan sendirinya, tidak ada yang merancangnya, itu datang dari sono, kebobrokan dan kemunduran rezim siapa juga yang merancang, penindasan yang tak tertanggungkan lagi siapa juga yang merancangnya, bom atom Nagasaki dan Hiroshima juga bukan kaum revolusioner kita yang membuatnya
hahahahaha
itu lho mas maksudnya, kl masalah waktu mah kita juga tauu
Sumanto DJ mungkin lebih tahu apa itu revolusi. Dia kayaknya nggak akan muncul tuh, karena lagi sibuk bikin film dokumenter masyarakat sosialis Cina Benteng Pedalaman.
Itu kondisinya mas... bagaimana menindaklanjutinya yang penting. Revolusi -dalam arti konteks gerakan-nya itu dirancang. Kalau ada bom atom dijatuhkan -selain A.S. merancangnya dgn sengaja, kekaisaran Jepang pun menyerah dg pertimbangan matang- revolusi di Indonesia justru dirancang. Memangnya bikin proklamasi dsb tidak perlu dirancang?
Kalau kondisinya matang, akan makin memudahkan revolusi. Tapi kalau tidak, sudah banyak revolusi gagal bukan? Seperti "putch"-nya Hitler.
Monggo... dibaca dulu pelan-pelan. Semangat boleh, tapi jangan nafsu dulu. Sejarah mengajarkan kita banyak hal lho. Percuma kan revolusi kalau ujung2nya kita cuma dapat pemimpin seperti jenderal itu?
*kabur*
hahahahaha saya tdk nafsu bung, saya hanya mau bilang kalau itu akan terjadi maka terjadilah
namun saya juga setuju dengan BMH , bahwa revolusi harus di atur agar tidak tersisip oleh agenda2 yang di luar semangat revolusi.
nah bila mas bilang pemerintah bila akan menemukan titik hancurnya, pasti akan terjadi revolusi..itu memang benar..ini memang prinsip revolusi. tapi bagian mana yang mau di revolusi ? kita juga harus mencermati. sistem demokrasinya kah, pemerintahnya kah , legislative dan sistem partainya kah atau sistem hukumnya. maka disinilah perlu pengarahan revolusi agar tidak terjadi anarki yang cenderung gampng di boncengi. begitu lho mas.
silahkan di comment , tp jangan pake ketawa ya
Sebenarnya juga bukan soal sejahtera atau tidak. Kalau saja semua kalangan merasakan susah yg sama, rakyat mungkin bs toleran, semangat senasib sepenanggungan. Masalahnya, ketidakadilan begitu meluas, yg menyebabkan sakithati yg juga meluas.
Pemerintah saat ini sangat giat dan fokus pada: pengumpulan pajak, pengaturan bisnis supaya dapat bagian, dlsb yg orientasinya pd akumulasi kekayaan sepihak di pemerintahan.
Sementara urusan2 kemashalatan publik diabaikan. Yg kecil saja, spt pengurusan kebersihan lingkungan rumah, rakyat harus mandiri, bayar iuran dll. Di negara2 lain, hal2 spt ini msh mjd tanggungjawab pemerintahan.
lho setiap kelompok kepentingan akan hiruk pikuk menunggangi revolusi untuk tujuannya sendiri-sendiri, itu pasti akan terjadi secara otomatis, diam-diam atau terang-terangan, nggak bakalan bisa dicegah bung
soal anarki, banyak penyebabnya bung tergantung rasa ketidakpuasaan itu seberapa besarnya, juga tergantung reaksi kelompok pro status quo itu bagaimana wujudnya
kalau bisa dibikin revolusi yang manis, ya silakan, pro status quo dan anti status quo akhirnya salaman saling berpelukan tangis2an hahahahahaha
indahnya dunia
Tidak... revolusi tidak akan terjadi di Indonesia selama tidak ada kesadaran yang meluas di masyarakat (rakyat) bahwa pemerintan (rezim) yang berkuasa saat ini harus dilawan dan ditumbangkan. Yang terjadi sekarang ini rakyat baru mengeluh dan berteriak sambil tetap nrimo pada suratan nasib (takdir) atas kemelaratan dan kemiskinanannya. Mereka masih melihat derita kemiskinan saat ini sebagai takdir yang tak terelakan karena memang maunya Tuhan begitu............. Revolusi hanya akan terjadi pada masyarakat yang mau bangkit berjuang untuk menentukan takdirnya sendiri...... yang siap mati untuk memperjuangkan cita-cita sucinya melawan semua penyebab keterpurukan dan derita mereka selama ini...... yang mau mengorganisir gerakan perjuangannya itu dan merancangnya secara sistematis serta terarah ke satu tujuan yang telah mereka bayangkan untuk diwujudkan.
Revolusi tanpa pembenturan sistem nilai, ya omong kosong. Itu yang hakiki. Revolusi bisa saja tanpa pembenturan kelas seperti yang dilakukan di Rusia dan Cina, tapi revolusi tidak bisa berjalan tanpa sistem nilai.
Memahami revolusi itu nggak mudah, perlu ngobrak-abrik seabreg buku sejarah, dan kita hraus melihat segalanya dengan pisau analisis Marx. Alasannya, adalah Marx yang kali pertama melakukannya dan meletakan dasar teori Revolusi.
Kita bisa saja mengatakan kita abaikan itu istilah perjuangan kelas. Tapi kita tidak bisa mengabaikan bahwa sebuah kelas memiliki sistem nilainya sendiri, yang berbeda dengan kelas lainnya. Sejarah manusia adalah konflik-konflik antarkelas, dan itu permanen sampai akhir zaman.
Menurut saya, yang terpenting bagi negeri ini adalah betapa buruknya sistem demokrasi di negara miskin.
Demokrasi itu mahal. AS harus 'menjajah' banyak bangsa untuk mendapatkan biaya bagi demokrasinya. AS harus mendirikan koloni-koloni pertambangan di sebanyak mungkin negara di muka bumi ini untk menyejaterkan rakyatnya dan demokrasi berjalan.
AS harus selalu memiliki wacana baru untuk mengontrol koloninya. Memaksakan kehendak akan HAM, mendorong-dorong negara lain untuk masuk pasar bebas, perdagangan bebas, tapi kelabakan bukan main ketika Cina melamar menjadi anggota WTO.
Anggaran Belanja Indonesia tampaknya habis untuk membiayai demokrasi. Buktinya, tidak banyak infrastruktur ekonomi yang dibangun sejak kita mendenungkan demokrasi banyak partai.
Kini ada gagasan untuk revolusi. Dari mana anggarannya? Rakyat? Justru rakyat akan menjadikan revolusi sebagai peluang merampok orang kaya, bagaimana mungkin dimintai uang untuk biaya revolusi.
Bisa saja sih revolusi dibiayai AS, tapi tampaknya Paman Sam masih akan mengelus-elus SBY. Jika SBY nakal, seperti Soeharto saat merangkul ICMI, AS pasti mau membiayai penggulingan SBY.
Namun apakah itu namanya revolusi?
Ha ha ha ha ha ha.
kalau akhirnya kesadaran itu meluas?
hahahahaha terjadi juga kan? hahahahaha
hahahahaha you ngingetin ada inisiator asing dlm tiap revolusi hahahahaha
makin menarik saja nih hahahaha
soal anarki, banyak penyebabnya bung tergantung rasa ketidakpuasaan itu seberapa besarnya, juga tergantung reaksi kelompok pro status quo itu bagaimana wujudnya
kalau bisa dibikin revolusi yang manis, ya silakan, pro status quo dan anti status quo akhirnya salaman saling berpelukan tangis2an hahahahahaha
indahnya dunia )
anehnya gw setuju sama pendapat mas marjukie, kenapa aneh ? krn gak setuju sama ketawanya aja
kenapa pake ketawa juga toooh , kl gitu gw ikutan deh hahahahaha
Oh ya? Wah ini menarik. Tapi yang dimaksud "kayak anda" itu dalam hal apa ya? Mudah-mudahan ada secercah kebenaran yang memercik dan terlihat oleh anda dan itu dapat menjadi refleksi bagi siapa saja bahwa pada diri setiap orang berakal hal itu niscaya adanya. Ya..... sampai sejauh ini saya terus mencoba mendaya-gunakan akal saya semampu yang saya bisa --juga sambil belajar kepada siapa saja agar lebih tercerahkan dan lebih menjamin kepada keselamatan dunia dan ahirat.
Salam akhi BRAM'S:
Silahkan login untuk memberikan pendapat